LOGIN“Lo ngapain?”
Carlos hanya tersenyum kecil, lalu kembali menatap layar seolah tidak terjadi apa-apa.
Azalea menghela napas panjang dan kembali mencoba fokus ke film. Namun tidak sampai lima menit kemudian, lagi.
Kali ini di bibir. Azalea langsung menegang. Carlos cuma tertawa kecil tapi dia tidak berhenti. Ternyata ada alasan lain ia memilih bangku paling atas dan
Carlos membanting map laporan ke atas meja rapat. Suara benturannya membuat seluruh ruangan mendadak sunyi. Para direktur yang duduk mengelilingi meja saling melirik satu sama lain."Jadi ini penjelasan kalian?" tanya Carlos dingin.Salah satu direktur berdeham pelan."Pak Carlos, kami hanya berpikir lebih baik perusahaan mundur dari proyek Bali sebelum kerugiannya semakin besar."Carlos menatap pria itu tajam."Mundur?"Direktur itu mengangguk."Situasi di lapangan nggak memungkinkan untuk dilanjutkan."Carlos menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya satu per satu menyapu seluruh ruangan."Lalu siapa yang akan membayar kerugian puluhan miliar yang sudah keluar?"Tak ada yang menjawab. Carlos tertawa pendek. Tawa yang sama sekali tidak terdengar senang."Astaga ... klian benar-benar luar biasa."Ia membuka kembali laporan yang ada di depannya."Di sini tertulis proyek gagal."Carlos m
Azalea baru saja keluar dari kelas terakhirnya ketika seseorang memanggil namanya."Azalea."Ia menoleh dan langsung menghela napas saat melihat Leon berdiri di ujung koridor."Kalau ini tentang Mike, gue nggak mau dengar," ucap Azalea tanpa basa-basi.Leon memasukkan kedua tangannya ke saku celana."Tenang aja. Bukan soal Mike."Azalea menatapnya curiga.Sejak pertemuan mereka di restoran beberapa waktu lalu, Leon selalu membuatnya tidak nyaman."Apa?""Gue cuma mau bicara berdua."Awalnya Azalea ingin menolak. Namun melihat ekspresi Leon yang tampak serius, akhirnya ia mengangguk pelan."Sebentar aja."
Azalea menutup mata saat ciuman Carlos mulai membasahi tubuhnya. Carlos menarik kaki jenjang Azalea dan menciuminya dari ujung jempol kaki lalu perlahan naik hingga terdengar nyaring setiap ciuman itu berpindah.“Carlos ... Mike, nggak nyentuh gue kayak gini,” ucap Azalea lirih menahan geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya.Carlos berhenti sesaat lalu menatap Azalea dengan tajam, “Gue nggak peduli. Bagi gue, lo harus dibersihin,” jawabnya.Ia melanjutkan ciumannya yang perlahan hingga di bagian dalam paha Azalea. Saat ciuman itu tepat berada di area kewanitaannya, Azalea menarik rambut Carlos dengan kencang. Tapi Carlos tidak berhenti.Ciuman itu semakin liar, bahkan Carlos memainkan lidahnya pada kacang Azalea membuat kepala Azalea bergerak kanan kiri tak karuan.“Ahhh, Carlos ... gue .... gue keluar....” pekik Azalea saat cairan cintanya mengalir cukup deras.Carlos tersenyum kecil lalu kembali menciumi
Carlos baru saja kembali ke apartemen dengan langkah yang sedikit berat. Jasnya sudah sedikit berantakan, dasinya longgar, dan ekspresinya tampak lelah setelah seharian urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya.Begitu pintu apartemen terbuka, ia langsung berhenti sejenak. Di ruang tengah, Azalea tertidur di sofa.Posisinya miring sedikit, dengan hoodie kebesaran yang menutupi tubuhnya. Kotak makanan tampak sudah diletakkan di meja, dan suasana apartemen yang biasanya kosong kini terasa berbeda.Carlos menatapnya lama. Namun kemudian ia mendengus pelan, seolah mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan.Foto tadi… Azalea dan Mike, semua yang membuat dadanya terasa tidak nyaman sejak siang.“Berani-beraninya…” gumamnya pelan, lalu mengalihkan pandangan.Ia berjalan melewati ruang tengah. Namun saat melewati meja makan, hidungnya menangkap aroma makanan.Carlos berhenti. Di meja dapur, ada tudung saji yang sudah
Mobil itu melaju pelan di jalanan kota yang mulai padat. Sintia duduk tegak di kursi depan, tangannya memegang dokumen kecil yang tadi ia bawa dari restoran. Matanya sesekali melirik ke arah Carlos yang duduk di belakang, tampak tenang seperti biasa.“Pak Carlos…” suara Sintia akhirnya terdengar hati-hati. “Tadi… benar mau memberikan pekerjaan untuk gadis itu?”Carlos tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela, seolah pikirannya berada di tempat lain.“Dia bukan dari lingkungan yang baik,” lanjut Sintia pelan, mencoba terdengar profesional, tapi jelas ada nada tidak setuju di sana.Carlos akhirnya menoleh sedikit. “Lo juga sama aja,” ucapnya datar.Sintia terdiam.“Jadi jangan banyak membantah apa yang gue perintahkan.”Kalimat itu membuat udara di dalam mobil langsung terasa kaku. Sintia mengepalkan tangannya di pangkuan, tapi ia hanya mengangguk
Carlos sedang duduk di restoran hotel mewah, jasnya rapi, ekspresinya tenang seperti biasa saat membahas bisnis dengan klien di depannya.Di sampingnya, Sintia duduk sebagai sekretaris yang setia mendampingi. Ia sesekali mencatat, sesekali tersenyum profesional setiap kali Carlos berbicara.Obrolan bisnis itu berlangsung lancar, sampai akhirnya klien mereka berdiri dan berjabat tangan.“Kerja sama ini saya rasa akan sangat menguntungkan,” ucap klien itu.Carlos mengangguk singkat. “Saya juga.”Tak lama, klien itu pun pergi meninggalkan meja mereka. Suasana langsung lebih santai. Sintia menoleh pada Carlos dengan senyum tipis.“Jadi… kita langsung pulang?” tanyanya pelan, lalu menambahkan dengan nada sedikit menggoda, “atau mau bermalam di sini?”Carlos tidak langsung menjawab.Tatapannya malah kosong sesaat, pikirannya melayang jauh.Sintia memperhatikan perubahan ek
Akhir pekan Carlos membawa Azalea ke area panjat tebing outdoor yang berada di pinggir tebing batu asli.Udara terasa sejuk dengan angin yang bertiup cukup kencang. Beberapa peserta lain terlihat sedang mempersiapkan alat pengaman mereka.Sementara Azalea menatap dinding batu ti
Pagi itu Carlos baru saja tiba di kantornya. Langkahnya tenang memasuki ruangan CEO yang luas dan elegan itu sambil melepas jas mahalnya. Tatapannya jatuh pada layar laptop dan tumpukan dokumen kerja. Tok tok tok. Suara
Azalea mencoba mendorong kepala Carlos, tapi Carlos melepaskan dasinya dan mengikat tangan Azalea ke belakang.“Jangan hentiin gue!” katanya dengan mata penuh amarah, “lo udah bikin gue marah malam ini, sekarang ... terima hukuman dari gue,” lanjutnya sambil menggendong Azalea dan mereba
Acara pesta masih berlangsung meriah dengan musik dan obrolan para tamu yang memenuhi ballroom.Namun karena waktu sudah cukup malam, Carlos akhirnya memutuskan untuk pulang lebih dulu bersama Azalea.Mereka berjalan keluar hotel bersama Mike yang ikut mengantar sampai depan lobby.







