LOGINCarlos sedang duduk di restoran hotel mewah, jasnya rapi, ekspresinya tenang seperti biasa saat membahas bisnis dengan klien di depannya.
Di sampingnya, Sintia duduk sebagai sekretaris yang setia mendampingi. Ia sesekali mencatat, sesekali tersenyum profesional setiap kali Carlos berbicara.
Obrolan bisnis itu berlangsung lancar, sampai akhirnya klien mereka berdiri dan berjabat tangan.
“Kerja sama ini saya rasa akan sangat menguntungkan,” ucap klien itu.
<Azalea menutup mata saat ciuman Carlos mulai membasahi tubuhnya. Carlos menarik kaki jenjang Azalea dan menciuminya dari ujung jempol kaki lalu perlahan naik hingga terdengar nyaring setiap ciuman itu berpindah.“Carlos ... Mike, nggak nyentuh gue kayak gini,” ucap Azalea lirih menahan geli yang menjalar ke seluruh tubuhnya.Carlos berhenti sesaat lalu menatap Azalea dengan tajam, “Gue nggak peduli. Bagi gue, lo harus dibersihin,” jawabnya.Ia melanjutkan ciumannya yang perlahan hingga di bagian dalam paha Azalea. Saat ciuman itu tepat berada di area kewanitaannya, Azalea menarik rambut Carlos dengan kencang. Tapi Carlos tidak berhenti.Ciuman itu semakin liar, bahkan Carlos memainkan lidahnya pada kacang Azalea membuat kepala Azalea bergerak kanan kiri tak karuan.“Ahhh, Carlos ... gue .... gue keluar....” pekik Azalea saat cairan cintanya mengalir cukup deras.Carlos tersenyum kecil lalu kembali menciumi
Carlos baru saja kembali ke apartemen dengan langkah yang sedikit berat. Jasnya sudah sedikit berantakan, dasinya longgar, dan ekspresinya tampak lelah setelah seharian urusan pekerjaan yang tidak ada habisnya.Begitu pintu apartemen terbuka, ia langsung berhenti sejenak. Di ruang tengah, Azalea tertidur di sofa.Posisinya miring sedikit, dengan hoodie kebesaran yang menutupi tubuhnya. Kotak makanan tampak sudah diletakkan di meja, dan suasana apartemen yang biasanya kosong kini terasa berbeda.Carlos menatapnya lama. Namun kemudian ia mendengus pelan, seolah mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan.Foto tadi… Azalea dan Mike, semua yang membuat dadanya terasa tidak nyaman sejak siang.“Berani-beraninya…” gumamnya pelan, lalu mengalihkan pandangan.Ia berjalan melewati ruang tengah. Namun saat melewati meja makan, hidungnya menangkap aroma makanan.Carlos berhenti. Di meja dapur, ada tudung saji yang sudah
Mobil itu melaju pelan di jalanan kota yang mulai padat. Sintia duduk tegak di kursi depan, tangannya memegang dokumen kecil yang tadi ia bawa dari restoran. Matanya sesekali melirik ke arah Carlos yang duduk di belakang, tampak tenang seperti biasa.“Pak Carlos…” suara Sintia akhirnya terdengar hati-hati. “Tadi… benar mau memberikan pekerjaan untuk gadis itu?”Carlos tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela, seolah pikirannya berada di tempat lain.“Dia bukan dari lingkungan yang baik,” lanjut Sintia pelan, mencoba terdengar profesional, tapi jelas ada nada tidak setuju di sana.Carlos akhirnya menoleh sedikit. “Lo juga sama aja,” ucapnya datar.Sintia terdiam.“Jadi jangan banyak membantah apa yang gue perintahkan.”Kalimat itu membuat udara di dalam mobil langsung terasa kaku. Sintia mengepalkan tangannya di pangkuan, tapi ia hanya mengangguk
Carlos sedang duduk di restoran hotel mewah, jasnya rapi, ekspresinya tenang seperti biasa saat membahas bisnis dengan klien di depannya.Di sampingnya, Sintia duduk sebagai sekretaris yang setia mendampingi. Ia sesekali mencatat, sesekali tersenyum profesional setiap kali Carlos berbicara.Obrolan bisnis itu berlangsung lancar, sampai akhirnya klien mereka berdiri dan berjabat tangan.“Kerja sama ini saya rasa akan sangat menguntungkan,” ucap klien itu.Carlos mengangguk singkat. “Saya juga.”Tak lama, klien itu pun pergi meninggalkan meja mereka. Suasana langsung lebih santai. Sintia menoleh pada Carlos dengan senyum tipis.“Jadi… kita langsung pulang?” tanyanya pelan, lalu menambahkan dengan nada sedikit menggoda, “atau mau bermalam di sini?”Carlos tidak langsung menjawab.Tatapannya malah kosong sesaat, pikirannya melayang jauh.Sintia memperhatikan perubahan ek
Di sebuah mall yang cukup ramai, Azalea berdiri di dekat salah satu pintu masuk area kafe sambil sesekali melihat sekeliling.Tangannya menggenggam tali tas, matanya agak gelisah menunggu seseorang. Tidak lama kemudian, Mike muncul dari kejauhan.Di tangannya ada sebuah rangkaian bunga kecil yang sederhana, tapi rapi. Azalea langsung terdiam saat melihatnya.“Lo beneran bawa bunga?” tanyanya kaget begitu Mike mendekat.Mike mengangkat bunga itu sedikit, lalu tersenyum santai.“Kenapa? Berlebihan ya?”Azalea langsung menggeleng cepat. “Bukan… cuma… gue nggak nyangka aja.”Mike tertawa kecil, lalu menyerahkan bunga itu ke Azalea.Azalea menerimanya dengan ragu, lalu menatapnya sebentar. “Terima kasih…”Mike memasukkan tangan ke saku jaketnya.“Jadi, sekarang kita mau ke mana?”Azalea berpikir sebentar. “Ada tempat yang peng
“Carlos…”“Kenapa lo selalu beda?” suara Carlos kali ini lebih rendah. Hampir seperti retakan. “Kenapa cuma lo yang bikin gue… puas?”Azalea mencoba mendorongnya.“Gue bilang lepasin.”Tapi Carlos justru menahan lebih erat. Azalea mendongak, dan di saat itu ia melihatnya. Mata Carlos. Tidak seperti biasanya.Ada sesuatu yang basah di sana sesuatu yang hampir jatuh tapi ditahan sekuat mungkin. Dan itu membuat tangan Azalea berhenti.Seluruh kekuatannya seperti hilang begitu saja. Carlos menunduk sedikit, suaranya lebih pelan.“Jangan pergi lagi tanpa bilang gue.”Azalea terdiam.Tangannya yang tadi mendorong perlahan jatuh di sisi tubuhnya. Tatapan mereka saling bertemu, lalu Carlos pun langsung mencium bibir Azalea tanpa ijin. Tangannya meremas lengan Azalea dengan erat seolah takut kehilangan.Azalea tak
Azalea langsung nengok cepat. “Hah?”Carlos menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. “Tentang semalam.”Bug!Azalea langsung mukul lengan Carlos cukup keras.“Tentu aja gue keberatan!” protesnya kesal. “Inget ya, kita nikah kontrak. Bukan berarti lo bisa nyentuh gue seena
Perlahan, Carlos mengusap atas dada Azalea. Menyentuhnya pelan-pelan, menelusuri lekuk tubuhnya. Tubuh Azalea menegang, saat jemari Carlos mulai memutari titik sensitifnya. Azaela bergetar. Air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. Suara isak terdengar dari bibir Azalea membuat Carlos langsung berhe
Hari pernikahan pun tiba, Azalea duduk diam di depan meja rias dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya. Rambut pendeknya ditata, dan wajahnya dipoles makeup tipis yang membuat sisi feminin dalam dirinya terlihat semakin jelas. Namun, di balik penampilannya, pikirannya terasa kacau. Ucapa
Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa. Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukan







