Share

Chapter 1

Author: Rayana Lovely
last update publish date: 2021-08-02 21:47:56

"Rekapitulasi data pengeluaran dan pemasukan perusahaan sudah aku selesaikan. Kau hanya tinggal menandatangani ini!"

Pria berjas hitam bernama Miko itu memberikan map yang berisi beberapa berkas laporan kepada lawan bicaranya yang bernama Tristan. Mereka duduk berhadapan. Hanya sebuah meja kerja yang membatasi jarak keduanya.

Tristan Satria Adinata adalah seorang pria yang merupakan atasan Miko. Dia menjabat sebagai  Chief Executive Officer (CEO) di perusahaan yang dia pimpin, dan Miko adalah sekretaris kepercayaannya. Tak ada panggilan khusus untuk Tristan bagi Miko. Mereka saling memanggil dengan sebutan nama. Sebab mereka adalah sahabat sejati sejak duduk di bangku kuliah.

Miko sempat memanggil Tristan dengan sebutan Tuan, tapi Tristan menentangnya. Tristan tidak setuju Miko memanggilnya dengan sebutan itu. Sebab Tristan tidak ingin keakraban di antara mereka menjadi kaku hanya karena sebuah kedudukan yang berbeda. Hanya ketika mereka sedang menghadapi orang-orang penting saja barulah Tristan meminta Miko untuk memanggilnya dengan panggilan Tuan. Dan Miko menyetujuinya. Karena bagaimanapun, dia harus tetap bersikap profesional dalam pekerjaannya.

Tristan adalah seorang laki-laki tampan berusia tiga puluh lima tahun, berperawakan tinggi besar dengan lengan yang berotot.  Bulu-bulu cambang yang menghiasi rahangnya membuat dirinya semakin terlihat jantan. Di usianya yang cukup matang, pria itu sama sekali belum mempunyai pasangan. Lain halnya dengan Miko yang sudah menikah dan memiliki seorang anak dari wanita yang dia nikahi. 

Begitu tegasnya suara Miko tadi, namun sepertinya Tristan tidak menggubris apa yang diutarakan oleh Miko. Tristan malah fokus memandang ke luar pintu ruangan dengan tangan yang sibuk memutar-mutar bolpoin di samping dagu. Kebetulan pintu ruangan Tristan terbuat dari kaca. Pintu itu dapat melihat aktivitas di luar, tapi kalau dari luar, pintu kaca itu tidak dapat menembus pandang ke dalam.

"Tristan?" Miko menegur heran. Mengamati wajah Tristan dengan seksama.

Tristan tetap saja bergeming. Pandangannya lurus mengarah ke pintu. Matanya sama sekali tak berkedip. Dan itu membuat Miko penasaran. Memaksanya untuk mengikuti arah pandangan bosnya. Miko menoleh ke belakang. Mencari tahu apa yang dilihat oleh bosnya itu. Mencebik ketika melihat apa yang ada di luar ruangan.

Seorang gadis belia, berambut lurus sebahu dengan sebuah nampan di tangannya yang berisi beberapa cup minuman, tampak sibuk memberikan satu persatu minuman itu kepada karyawan yang sibuk di layar komputernya masing-masing. Gadis imut itu tersenyum manis kepada mereka yang mengucapkan terima kasih kepadanya.

Miko menghela nafas. Kembali ke posisi awal. Memandang Tristan yang masih termangu menyaksikan gerak gerik gadis belia itu dari balik pintu kaca. Miko  menyeringai sambil menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan sikap Tristan yang demikian. Miko tahu segalanya tentang Tristan. Begitu juga dengan Tristan. Diantara mereka tidak ada yang saling disembunyikan. Apapun itu.

"Apa kau masih merasakan hal yang sama seperti sebelumnya?" tanya Miko. Berharap Tristan tersentak dari lamunannya dan menjawab 'Tidak'.

"Ya!" jawab Tristan tanpa menoleh ke Miko. 

Miko sampai terkesiap mendengar jawaban Tristan. Karena meskipun Tristan terlihat seperti orang yang sedang melamun, tapi dia dapat merespon apa yang Miko ucapkan. Tristan ternyata sadar. Dia tidak sedang berada di awang-awang.

"Lalu? Apa yang akan kau lakukan?" Miko bertanya lagi.

Tristan menilik rekan kerjanya tersebut. Sebab gadis yang dia perhatikan tadi sudah berlalu pergi. Pandangannya tak lagi mengarah ke pintu. Kini beralih pada dua bola mata Miko yang menatapnya penuh tanya. Terbit seringai tajam dari sudut bibir Tristan.

"Apa gadis itu sudah bisa aku nikahi?" celetuknya to the poin.

Kali ini Miko benar-benar ternganga. Tristan memang tidak pernah memikirkan terlebih dahulu apa yang ingin dia katakan. Tapi bukankah sifat temannya itu memang sudah seperti itu sejak dulu? Dan Miko tahu itu, sebab dia telah bersahabat dengan Tristan sejak lama.

"Jangan bercanda! Ini bukan lelucon!" pekik Miko dengan tegas.

Tristan menghempaskan tubuh ke senderan kursi kekuasaannya, lalu menghela nafas tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Miko.

"Apa kau pernah melihatku bercanda? Dan kapan aku pernah melayangkan lelucon kepadamu?" Tristan mengunci kedua bola mata Miko dengan tatapannya. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan meja kerjanya. Seakan sedang menunggu jawaban dari bibir Miko.

Miko menundukkan pandangan. Tidak dapat menjawab. Sebab dia tahu Tristan bukanlah pria yang suka membual. Apa yang keluar dari mulut Tristan itu adalah benar. Dan Miko tahu jika Tristan sudah punya keinginan dia pasti akan membulatkan tekatnya. Tristan pasti akan berusaha sebisa mungkin untuk mendapatkan segala keinginannya. Tak peduli dengan cara apapun, Tristan tetap akan bertindak. Dia akan melakukan apa saja dan tidak akan peduli dengan pandangan orang lain.

"Tristan, aku tau kau tidak sedang bercanda. Itu sebabnya aku takut kau akan membuktikan kata-katamu! Gimana pun juga kau harus sadar, dia itu bukan gadis yang cocok untukmu. Baik dari segi usia, maupun dari kasta. Kalian berbeda jauh!" tekan Miko mengingatkan.

"Pernyataanmu itu tidak berarti apa-apa bagiku! Aku akan tetap menikahinya!" Tristan menjawab tegas.

"Tristan! Kau sudah gila?! Usianya baru lima belas tahun! Dia masih duduk di bangku sekolah. Sedangkan kau? Ah! Kau adalah seorang pria berusia tiga puluh lima tahun. Jarak usia kalian sangat jauh! Kau tidak dapat menikahi gadis di bawah umur seperti dia. Dan, aku yakin, orang tuanya juga tidak akan setuju dengan keinginanmu! Jadi ku mohon, lupakan dia!" kecam Miko sangar.

Miko tahu kritik dan saran yang keluar dari mulutnya akan sia-sia. Tristan pasti akan mencekalnya. Bukan Tristan namanya kalau dia ciut hanya karena pendapatnya ditentang oleh orang lain.

"Kau tau kan? Tidak ada seorang pun yang bisa mencegahku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan!" jawab Tristan menantang.

"Ma-maksudmu? Kau ingin ...."

"Usianya memang jauh di bawahku. Dan aku tau dia masih sangat belia. Tapi, bukankah aku masih bisa menunggunya? Aku akan sabar menunggunya hingga dia benar-benar matang untuk aku nikahi."

Miko hanya bergeming mendengar penuturan bosnya itu. Dilihatnya Tristan yang  menyeringai tajam. Menandakan adanya ancaman di setiap ucapannya.

"Tris, tolong pikirkan lagi." Kali ini dengan nada yang sedikit melemah, Miko kembali menahan Tristan agar tidak bertindak di luar nalar.

"Kau ini kenapa?" balas Tristan ketus. "Aku hanya ingin gadis itu menjadi milikku. Niatku hanya ingin menikah dan memilikinya seutuhnya. Bukan untuk aku permainkan seperti wanita-wanita lain!" tekan Tristan.

"Tapi aku tidak yakin orang tuanya akan setuju! Kau terlalu tua untuk anak mereka!"

"Sudah aku katakan, tak ada siapapun yang bisa menolak keinginanku! Bahkan orang tuanya saja dari dulu sudah bersender di punggungku!" ucap Tristan dengan angkuhnya. Cukup membuat Miko tersadar dari ingatan kalau ; gadis manis penjaga kantin itu adalah anak dari pasangan pria dan wanita paruh baya yang dari dulu sudah  bekerja di kantin perusahaan yang Tristan pimpin. Dan dengan semua kenyataan yang ada, Miko sudah dapat menebak apa yang akan Tristan lakukan jika cintanya ditolak.

"Aku hanya mencoba menahanmu dari hasratmu yang aneh itu! Tris, kau bisa mendapatkan wanita manapun yang kau suka. Kenapa harus gadis belia itu yang kau kejar? Bahkan kau rela menunggunya sampai dia matang dan bisa kau pinang. Aku tidak habis pikir dengan sikapmu yang satu ini!"

"Itu juga tergantung!" sambung Tristan tersenyum sinis.

"Maksudmu?" Miko mulai merasakan gelagat mencurigakan dari ucapan sahabatnya itu.

"Aku tidak tau entah sampai kapan aku bisa menahan gairahku ini!"

"Tristan!"

"Jika aku tidak dapat menahan hasratku padanya, maka aku akan langsung memintanya agar mau menjadi istriku!"

Miko terkejut. Matanya membulat sempurna.

"Tristan, apa yang baru saja kau katakan?! Dia masih belia! Kau ini seperti seorang ...."

"Pedofilia? Begitu?" sambung Tristan.

Miko tidak menjawab. Hanya memandang Tristan lekat-lekat. Sementara Tristan terlihat santai. Dari sorot mata Miko, Tristan dapat memastikan kalau pria itu membenarkan tebakannya.

"Aku rasa begitu!" ucapnya lagi.

"Ya, Tuhan ... Tristan!!"

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 24

    “Hei, tenanglah. Kau tidak perlu setegang itu. Aku hanya ingin berbicara santai denganmu.” Grizelle yang masih dikuasai rasa terkejut hanya mampu menatap Miko dalam diam. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, melintirnya berulang kali sebagai pelampiasan kegugupan. “Kemarilah,” ujar Miko sambil memberi isyarat dengan gerakan tangannya. Dengan ragu, Grizelle menarik kursi yang berada di hadapan pria itu. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Miko, meski kecanggungan masih begitu jelas terlihat dari sikapnya. “Kau tidak perlu takut,” kata Miko dengan nada menenangkan. “Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai hubunganmu dengan Tristan.” “Maaf, Tuan,” akhirnya Grizelle membuka suara. Ia menegakkan punggungnya sebelum melanjutkan, “Saya memang tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya.” Meskipun suaranya pelan, nada ketegasan dalam ucapannya tidak dapat disembunyikan. Miko mendadak merasa kikuk. Untuk kesekian kalinya, ia mera

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 23

    Grizelle berdiri sambil memandangi orang-orang di sekelilingnya. Seluruh pasang mata tampak tertuju kepadanya. Ia menatap satu per satu wajah yang berada di dalam kafe itu. Ketika pandangannya bertemu dengan wajah sang ibu, Grizelle menatapnya seolah meminta penjelasan. “Zel, ada apa?” tanya Bu Ambar dengan nada khawatir. Grizelle menyeringai canggung. Ia sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya, kejadian beberapa menit yang lalu hanyalah bunga tidur semata. Pengalaman bertemu dengan Tristan memang meninggalkan kesan yang begitu mendalam hingga membuat tidurnya tidak pernah benar-benar tenang. “Maaf…” gumamnya pelan. Perlahan, tubuhnya kembali melorot hingga ia duduk di kursi yang berada di belakangnya. Beberapa orang yang sempat terkejut oleh gerakan refleks Grizelle akhirnya kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Suasana kafe yang sempat hening pun perlahan kembali ramai oleh suara percakapan dan denting peralatan makan. “Zel.”

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 22

    Seperti hari-hari biasanya, selepas pulang dari sekolah, Grizelle datang menemui kakak dan ibunya di cafe perusahaan tempat mereka mencari pundi-pundi uang. Ia berharap hari ini tidak bertemu dengan Tristan. Jika pria arogan itu memesan secangkir kopi latte lagi, Grizelle tidak akan menyiapkan dan mengantarnya. Ia akan meminta sang ibu untuk yang melakukan hal itu, berhubung ibunya sudah bisa kembali lagi beraktivitas di cafe, sebab ayahnya sudah bisa ditinggal istirahat di rumah. Ia berjanji tak mau lagi berurusan dengan Tristan. Dia ingin menjauh dari pria itu. Akan tetapi, sepertinya keadaan tidak memungkinkan. Sebab, ia hampir setiap waktu mendatangi cafe perusahaan yang dipimpin oleh pria tempramental itu. Grizelle menghela nafas berat. Ia sudah tiba di depan pintu kafe—menatap bangunan itu dengan malas. Pintu kafe yang terbuat dari kaca ia dorong perlahan. Aroma kopi yang khas langsung menyambutnya, hangat dan menenangkan, seolah menjadi pelarian dari penatnya hari. Dari bal

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 21

    “Hai, Tian. Lagi sendiri ya?”Gadis cantik berkulit putih dengan rambut ikal panjang itu mendekati Tian yang sedang duduk di taman sambil membaca sebuah buku.“Eh, iya, nih, Nin. Lagi asyik baca novel,” jawab Tian. Meski sempat terkejut atas kehadiran Nindi, ia berusaha tetap tersenyum.Langkah Nindi terhenti tepat di depan bangku kayu tempat Tian duduk. Tak lama, dua temannya menyusul, saling berbisik kecil sambil sesekali melirik ke arah Tian dengan senyum yang sulit disembunyikan. Suasana taman yang tadinya tenang mendadak terasa lebih ramai.“Sendirian aja? Ketua OSIS kok ngumpet di sini,” goda Nindi dengan nada suaranya yang ringan.Tian terkekeh pelan. “Bukan ngumpet, lagi cari suasana aja. Di kelas berisik.”“Atau lagi nunggu seseorang, nih?” Salah satu teman Nindi langsung menimpali.Tian menggeleng, senyumnya tetap terjaga meski dalam hati ia menghela napas kecil. Ia sudah cukup paham ke mana arah percakapan seperti ini biasanya berjalan. Sejak menjabat sebagai ketua OSIS, p

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 20

    “Jangan bicara seolah-olah dia penyebab semua ini. Perasaanmu itu tanggung jawabmu sendiri, Tris. Dia tidak bersalah dalam hal ini.” Tristan menoleh, tatapannya tajam. “Kau tidak akan mengerti.” “Kalau yang kau maksud adalah menyakitinya, aku sangat mengerti, dan itu salah.” Nada suara Miko kini tegas, tanpa kompromi. “Grizelle tidak berutang apa pun padamu.” Rahang Tristan kembali mengeras. Ia terdiam sesaat, seolah menimbang kata-kata yang ingin keluar. “Aku tidak bilang akan menyakitinya,” ujarnya akhirnya, tapi nada suaranya menggantung, tak sepenuhnya meyakinkan. “Lalu apa?” desak Miko. “Apa yang ada di kepalamu sekarang?” Tristan menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. “Aku hanya … ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Kebingungan. Kehilangan kendali. Ketidakpastian.” Ia menatap Miko lagi. “Agar dia tahu rasanya berada di posisi ini.” Miko menatap Tristan lekat, mencoba membaca batas antara emosi dan niat sebenarnya. “Itu tetap berbahaya, Tris. Perasaan

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Bab 19

    Di atas meja kerja yang rapi di dalam kamar mewah itu, dua telapak tangan Tristan mengepal kuat. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol, seolah menahan sesuatu yang hampir meledak. Ketegangan itu bahkan menjalar hingga ke leher dan wajahnya. Rahangnya mengeras, napasnya berat, dan sorot matanya terlihat tajam sekaligus gelap. Pria berwajah antagonis itu berdiri tegak di samping meja, tubuhnya kaku seperti patung yang dipenuhi amarah. Ia menatap keluar jendela kamar di lantai dua, memandangi jalanan di bawah sana tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya dipenuhi bayangan yang terus berulang—pemandangan yang sejak tadi menghantui dan memancing emosi yang sulit ia kendalikan. Ada rasa kesal, cemburu, dan sesuatu yang lebih dalam dari itu, bercampur menjadi satu. Di belakangnya, Miko berdiri dengan sikap tegap, namun wajahnya jelas menunjukkan kebingungan dan sedikit kekesalan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, berusaha menahan diri agar tidak langsung melon

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 13

    Desiran angin malam menyapa lembut wajah dan rambut Grizelle. Hingga rambut lurus sebahu itu terhembus melayang ke belakang karenanya. Kedua kelopak mata Grizelle urung berkedip, memaksa dua bola mata indah itu agar tetap membulat. Grizelle tercengang. Di hadapannya muncul sosok pria yang begitu

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 12

    Ceklek!"Tristan, malam i—"'Ya, Tuhan—'Miko tercegang. Membeku di tempat. Bagaimana tidak, retinanya menangkap jelas adegan Tristan dan Grizelle. Adegan romantis seperti yang terjadi di drama-drama di televisi.&nb

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 11

    Tik! Tik! Tik!Dentingan jarum jam terdengar begitu nyaring. Dalam ruangan yang sejuk itu, dua anak manusia yang berlawanan jenis saling beradu pandang dengan ekspresi yang sangat bertolak belakang.

  • Hasrat CEO Yang Mengancam   Chapter 8

    Kegelisahan yang luar biasa menyerang Grizelle. Ia benar-benar sedang merasa terancam. Bagaimana tidak, saat ini ia sedang bersama Tristan dalam satu mobil. Berdua dengan pria yang terkenal sangat arrogan dan dingin. Gadis itupun meronta-ronta bermohon pada Tristan agar ia menghentikan mobilnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status