MasukTepat pada tahun kesepuluh sejak aku terlempar ke dunia modern tanpa sengaja, sistem akhirnya menyadari keberadaanku sebagai sebuah anomali. Sistem bersiap mengirimku kembali ke dinasti asalku dan memberiku waktu tiga hari untuk berpamitan. Pada hari pertama, Viona Limawan memintaku merelakan pernikahan kami demi sahabat masa kecilnya. Aku tidak menangis atau membuat keributan. Aku hanya tersenyum, melepas cincin pertunangan, lalu mengembalikannya kepadanya. Hari kedua, dia membawa sahabat masa kecilnya pulang dan berkata ingin memberinya tempat tinggal. Aku menerimanya dengan tenang dan memilih mengalah. Hari ketiga, dia ingin mengajak sahabat masa kecilnya berbulan madu ke Jianika, tempat yang selama ini paling ingin kukunjungi. Aku tetap membantunya mengatur semua persiapannya dengan sabar. Namun, saat kendaraan yang membawa mereka melaju menuju Jianika, aku justru berbalik dan melangkah menuju arah pulangku sendiri. Mimpi yang bertahan selama sepuluh tahun akhirnya benar-benar usai.
Lihat lebih banyak"Keenan ... di mana kamu? Kumohon, pulanglah!"Dia mulai menghubungi Keenan tanpa henti, namun teleponnya tak pernah tersambung, pesannya tak pernah terkirim. Perusahaan berkata Keenan sudah lama mengundurkan diri, sementara kata pemilik rumah, masa sewanya sudah berakhir dan Keenan tidak memperpanjangnya.Viona bahkan pergi ke kantor polisi, berharap mereka bisa membantunya menemukan Keenan. Namun setelah memeriksa semua data yang ada, polisi tetap tidak menemukan jejak apa pun tentang Keenan, seolah pria itu tidak pernah ada di dunia ini.Tak seorang pun tahu ke mana Keenan pergi.Seolah dia datang tanpa alasan, lalu menghilang tanpa meninggalkan apa pun.Melihat Viona yang mulai panik, Dion diam-diam mencibir. Namun di wajahnya tetap terpasang ekspresi lembut. "Viona, mungkin Kak Keenan sudah menerima kenyataan lalu pergi dari sini. Nggak usah khawatir."Namun, Viona langsung mendorongnya menjauh. Air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.Dia teringat pemuda yang sepuluh tahun
Melihat reaksinya, keraguan dalam hati Viona bukan hanya tidak menghilang, tetapi justru makin besar.Tiba-tiba dia teringat, selama ini Dion tidak pernah menunjukkan laporan diagnosis lengkap tentang penyakitnya. Pria itu juga tidak pernah mengajaknya pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.Dia juga teringat setiap kali penyakit Dion kambuh, Dion hanya batuk pelan beberapa kali dan wajahnya memang tampak pucat, tetapi tidak pernah benar-benar terlihat kesulitan bernapas ataupun menahan rasa sakit yang tak tertahankan.Sebuah dugaan mengerikan perlahan muncul di benaknya.Mungkinkah kanker Dion sebenarnya hanyalah kebohongan?Jangan-jangan Dion sengaja memalsukan hasil diagnosis demi menipunya, agar dia meninggalkan Keenan dan tetap berada di sisi Dion?"Dion."Suara Viona berubah dingin. Tatapannya penuh kecurigaan. "Jawab aku. Kankermu itu sebenarnya palsu, 'kan? Kamu sengaja bohongin aku, ya?"Wajah Dion langsung memucat. Tubuhnya bergetar sedikit, sementara panda
Menyadari ada yang tidak beres dengan Viona, Dion segera bertanya dengan cemas sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh dahinya. "Apa kamu merasa nggak enak badan? Apa kita perlu ke rumah sakit?"Setelah kembali ke penginapan, Viona beralasan dirinya kelelahan, lalu masuk ke kamar sendirian.Dia menutup pintu, bersandar di baliknya, dan akhirnya tidak mampu lagi menahan air matanya.Dia sendiri tidak mengerti kenapa menangis. Jelas-jelas dialah yang memilih Dion. Jelas-jelas dia yang menganggap Keenan hanya membuat masalah tanpa alasan. Namun kenapa setiap kali memikirkan Keenan, dadanya terasa sesak dan hatinya dipenuhi kegelisahan?Dia mengambil ponselnya. Tanpa sadar, jarinya membuka percakapan dengan Keenan dan ingin mengirim pesan, menanyakan apakah dia sudah makan dan beristirahat dengan baik. Namun setelah menunggu lama, tidak ada satu pun balasan.Rasa takut yang tidak bisa dijelaskan perlahan menyelimuti hatinya.Dia teringat kalimat terakhir Keenan, juga tatapannya saat itu
Inilah Jianika yang berkali-kali disebut Keenan, tempat yang pernah dia bilang pasti akan mereka kunjungi berdua setelah menikah."Viona, kenapa melamun?"Dion datang membawa secangkir teh hangat yang baru diseduh. Dia duduk di samping Viona dan hendak merangkul bahunya, tetapi Viona diam-diam menghindar.Senyum di wajah Dion sempat membeku sejenak, lalu dia kembali menunjukkan ekspresi lemah seperti orang sakit, lalu terbatuk pelan dua kali. "Apa karena hujan di sini turun terlalu lama, jadi udaranya agak pengap? Kalau kamu lelah, kita balik saja ke kamar untuk istirahat sebentar."Viona menggeleng. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela, sementara suaranya terdengar sedikit kosong. "Nggak. Hanya saja ... tempat ini nggak seperti yang kubayangkan.""Nggak seperti yang kamu bayangkan?"Ada sedikit kepanikan yang melintas di mata Dion, tetapi segera dia kembali tersenyum lembut. "Mana mungkin? Lihat jalan berbatu ini, lihat juga homestay di tepi sungai ini. Bukankah semuanya sesuai






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.