Share

Ini Enak, Om!

Author: Akuma Rei
last update publish date: 2026-06-19 01:09:48

Erika menatap pria di hadapannya tanpa ragu. Jemarinya perlahan menyentuh dada pria itu. Napasnya mulai berat, tapi dia tidak berhenti. Erika ingin Martin tahu betapa ia menginginkannya.

Martin menggenggam tangan Erika, menahan gerakan gadis polos yang kini —mulai berani itu. Gerakannya tegas, tetapi matanya berkata lain. Martin seperti pria kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

“Erika,” suaranya serak, penuh peringatan. “Kamu jangan —“

Suaranya terputus ketika jemari Erika mengusap ku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Di Ambang Batas

    “Ahhh….” Erika memejamkan mata, tubuhnya melengkung dengan kedua paha menyatu, menikmati sensasi yang membuatnya melayang sejenak. Sedang Martin, dia duduk di samping kursi penumpang, melepaskan gumpalan kenyal yang memenuhi mulutnya. “Om.. makasih..” bisik Erika, kedua matanya terbuka, menatap nanar ke arah Martin. Martin mencoba mengatur nafasnya. Perlahan ia menutupi kembali buah dada Erika yang beberapa detik lalu ia nikmati. Sesaat kemudian ia membantu Erika untuk duduk. “Sepertinya kamu sudah lebih tenang sekarang. Minum dulu..” Martin memberikan sebotol air mineral pada Erika. Erika meminum beberapa teguk lalu memeluk erat pria matang di hadapannya. Gadis itu terisak di bahu ayah sahabatnya itu. Martin membiarkan Erika meluapkan semua di bahunya. “Aku nggak tau— apa yang akan terjadi— kalau om nggak dateng…” isaknya. “Daren–pasti sudah–memperkosa—“ “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu Erika. Sekarang tenanglah. Kamu baik-baik saja.” Martin m

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Kegilaan Erika

    Erika mencoba memberontak, tapi tubuhnya lemas oleh panas yang membuatnya hampir tak berdaya. Daren tertawa kecil melihat hal itu. Tangannya yang bebas bergerak turun, menarik tali gaun tipis Erika hingga kain itu melorot turun, membiarkan udara malam menyentuh kulit bahu Erika yang terbakar oleh efek obat yang Daren berikan ke dalam minumannya tadi. Daren menatap Erika dengan mata yang membelalak puas, bersiap untuk merenggut segalanya di bawah kegelapan malam yang sunyi. Dunia Erika berputar hebat. Sentuhan Daren yang kasar di bahunya terasa seperti api yang membakar saraf-sarafnya. Tepat saat bibir Daren hampir menyentuh bibir Erika, sebuah dentuman keras terdengar. Pintu mobil dibuka paksa dengan satu hentakan brutal. Dalam hitungan detik, kerah kemeja Daren ditarik kasar dari belakang, membuat pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jatuh tersungkur ke aspal. Martin berdiri di sana. Wajahnya bukan lagi topeng tenang yang ia pakai saat makan malam tadi. Kini, yang

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Racun di balik keramahan

    “Erika, kamu harus ikut! Jangan menolak, ya?" Sandra merengek di ujung telepon dengan suara yang sangat bersemangat. "Akhir-akhir ini kita jarang keluar bareng. Jadi kali ini aku nggak mau menerima penolakan apapun.” Erika sempat ragu, namun desakan Sandra yang luar biasa membuatnya tidak punya pilihan. Lagi pula, dia merasa berhutang budi karena sudah sering berbohong pada sahabatnya itu. "Baiklah, San. Aku akan datang." Malam itu, Erika berdandan sederhana namun elegan. Ia menemui Sandra di sebuah restoran eksklusif. Restoran itu terasa sangat mewah, namun bagi Erika, suasananya terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di samping Sandra. Di seberang Sandra, duduk Daren, pria yang baru saja dikenal Erika kurang dari satu jam namun sudah menunjukkan ketertarikan yang terlalu agresif. "Erika, kamu harus coba wine ini," ujar Daren dengan senyum ceria. Matanya menatap Erika dengan binar yang membuat Erika makin tidak nyaman. Daren adalah tipikal pria yang tahu cara memikat wa

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Impas

    Erika mendekat, menempelkan bibirnya pada bibir Martin. “Aku tau om bisa nahan diri, tapi aku menginginkannya…” Martin terdiam. Tatapannya masih tampak menimbang sesuatu yang sangat berat. Perlahan Erika mendorong tubuh Martin, membuat posisi mereka berbalik. Erika duduk di atas Martin yang berbaring telentang di atas ranjang. Martin terkesiap. Ia sempat mengangkat wajah, tapi sebelum mengatakan sepatah kata pun, Erika kembali mendaratkan ciuman ke bibir tebal pria itu. Mata Martin membelalak, tapi Erika tak peduli. Erika hanya ingin Martin merasakan apa yang ia rasakan. Erika kembali duduk dan mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Handuk yang masih menutupi tubuh bagian bawah pria itu bergerak seirama dengan gerakan Erika. “Kamu keras karena aku, Om..” ucap Erika pelan. “Kalau begitu biarkan aku bantu kamu sampai puas,ya.” “Erika…” Martin mengerang. Matanya terpejam, sementara rahangnya menegang. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Erika, tetapi tidak menahan ge

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Ini Enak, Om!

    Erika menatap pria di hadapannya tanpa ragu. Jemarinya perlahan menyentuh dada pria itu. Napasnya mulai berat, tapi dia tidak berhenti. Erika ingin Martin tahu betapa ia menginginkannya. Martin menggenggam tangan Erika, menahan gerakan gadis polos yang kini —mulai berani itu. Gerakannya tegas, tetapi matanya berkata lain. Martin seperti pria kehilangan kendali atas dirinya sendiri. “Erika,” suaranya serak, penuh peringatan. “Kamu jangan —“ Suaranya terputus ketika jemari Erika mengusap kulit perutnya. Martin menggeram, tubuhnya menegang lalu menghembuskan napas keras seolah telah kalah sepenuhnya. Tangan besarnya menarik pinggang Erika. Dalam sekali hentakan, tubuh Erika terangkat ke dalam pelukannya. Erika terkesiap lalu tersenyum. Tangannya melingkar erat pada leher Martin. Sekarang, Erika dapat mendengar dengan jelas detak jantung ayah sahabatnya itu. Seirama dengan detak jantungnya sendiri yang tak karuan. Martin membawa tubuh Erika keluar dari ruang wardrobe. Kulit Ma

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Ayo, lakukan Om..

    Martin meraih kedua lengan Erika, membawanya untuk berdiri. Jantung Erika berdentum tak karuan saat perut bagian bawahnya bergesekan dengan bagian tubuh Martin yang menonjol keras dibalik kain handuk. Perlahan Martin menarik tubuh Erika kemudian menekannya ke dinding kamar, tepat di samping kaca besar dengan tirai terbuka. Punggung Erika merasakan dinding kamar yang dingin, kontras dengan panas yang menjalar di antara mereka. Martin menunduk dan mulai mencium bibir ranum Erika. Kali ini bukan lagi ciuman bimbingan, tetapi sebuah ciuman yang menuntut. Lidah Martin menyapu lembut, memancing lidah Erika yang kaku untuk ikut bergerak, menariknya ke dalam ritme yang lebih dalam dan mendesak. Jika saja di bawah sana ada orang yang melintas melewati mansion mewah itu, Erika yakin mereka bisa melihat apa yang sedang Martin lakukan padanya saat ini. Namun, entah mengapa Erika sama sekali tak peduli. Ia tak takut diketahui orang lain. Gairahnya malah makin memuncak membayangkan orang

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Sisi Lain Sang Penguasa

    Erika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan. Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindan

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Jeratan di Balik Kaca Gelap

    Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar kos Erika, membawa serta realitas yang harus kembali ia hadapi. Dengan tubuh yang masih terasa letih dan kepala yang agak pening, Erika memaksakan diri untuk berangkat ke kampus. Namun, sepanjang kelas berlangsung, fokusnya benar-benar hancur.

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Dua Dunia yang Berbeda

    Dinginnya AC di dalam kabin sedan mewah ini perlahan mengikis rasa menggigil di tubuh Erika, digantikan oleh ketegangan lain yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Ini adalah pertama kalinya Erika duduk di dalam mobil semewah ini. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang tadi ia hirup di kamar hote

  • Hangatnya Jeratan Om Martin   Tawaran di Tengah Malam

    Suara Sandra dari seberang telepon masih terdengar cemas, memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu bagai hantaman gada yang telak ke dada Erika. Rasa bersalah kini sepenuhnya menggantikan sisa-sisa alkohol di kepalanya. Erik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status