共有

Bab 14

last update 公開日: 2025-10-09 22:44:52

Langit sore telah memudar, namun sisa panas siang hari terasa menempel di kulit, enggan pergi. Di halaman belakang kampus, Raka duduk sendirian di bawah rindang pohon flamboyan yang bunganya mulai gugur. Tangannya memutar kaleng minuman kosong tanpa tujuan, sementara pandangannya kosong menatap rumputan yang layu.

“Kenapa sih dia jadi kayak gitu?” gumamnya pelan, sebuah pertanyaan yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

Saat di kantin tadi siang, Arion tiba-tiba berubah dingin. Ia nyaris tak
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Hasrat Kakak Tiri   131. Gairah Ini

    Apartemen itu mendadak sunyi.Hanya menyisakan detak jantung yang berpacu kencang di balik kesunyian yang mencekam. Arion merayap di atas lantai kayu.Mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris tak bersisa.Aroma parfum Shana yang manis bercampur dengan samar wangi hujan menguar.Memabukkan indra penciuman Arion.Arion mengulurkan tangannya.Menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga Shana. jemarinya sengaja menyentuh kulit leher yang halus dan hangat.Tatapan mereka terkunci, sarat akan kebutuhan yang tak lagi bisa ditahan."Shana," bisik Arion dengan suara serak,Tanpa sepatah kata pun Shana menjawab.Shana mencondongkan tubuhnya.membiarkan selimut yang sedari tadi menutupi bahunya melorot jatuh ke lantai.Membiarkan kulit bahunya terekspos udara dingin apartemen yang kontras dengan panas tubuh mereka.Napas mereka mulai memburu.Saling memburu oksigen yang kian menipis.Tangan Arion yang kasar menyusuri garis rahang Shana.Menekan lembut hingga Shana memejamkan mata semba

  • Hasrat Kakak Tiri   130. Siapa Arka Madya Raka

    Ruangan itu nyaris tak bersuara.Hanya dengung pendingin ruangan yang terdengar lirih.Pria tua itu mengangkat ponsel ke telinganya.Tatapannya tetap mengarah ke hamparan kota di balik dinding kaca.Ia tidak membuka percakapan.Menunggu.Karena ia tahu...orang di seberanglah yang selalu memulai.Beberapa detik berlalu.Lalu...suara berat seorang laki-laki terdengar dari speaker ponsel."Aku kira..."suara itu tenang."...kau sudah lupa cara mengangkat telepon."Sudut bibir pria tua itu terangkat tipis."Lama tidak bertemu.""Tidak."Suara itu langsung memotong."Kita hanya lama tidak berbicara."Jawaban singkat itu membuat ruangan terasa semakin dingin.Pria yang sejak tadi berdiri di belakang meja ikut menelan ludah.Ia tidak dapat mendengar isi percakapan dengan jelas.Namun...ia bisa merasakan perubahan ekspresi atasannya.Untuk pertama kalinya...orang yang selama ini tampak mengendalikan segalanya...terlihat berhati-hati.Pria tua itu berjalan pelan menuju meja.Mengambil seb

  • Hasrat Kakak Tiri   129. Orang Yang Punya Rencana Besar

    Ruangan itu kembali sunyi.Pria tua itu berdiri membelakangi semua orang.Tatapannya menembus kaca besar yang menghadap hamparan kota.Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu.Indah.Namun baginya...kota itu tak ubahnya papan catur raksasa.Dan setiap orang...hanyalah bidak."Apa laporan terakhir tentang Roy?"tanyanya tanpa menoleh.Pria di belakangnya segera membuka tablet yang sejak tadi ia bawa."Roy baru saja bertemu Damar."Alis pria tua itu bergerak tipis."Berapa lama?""Hampir satu jam.""Lalu?""Mereka sempat dikejutkan oleh seseorang yang mengawasi dari atas pohon."Pria tua itu mengangguk pelan.Seolah informasi itu memang sudah ia duga."Orang kita?""Bukan."Kini...barulah ia menoleh.Tatapannya berubah tajam."Bukan?""Bukan, Pak.""Identitasnya belum diketahui.""Orang itu kabur sebelum berhasil ditangkap."Ruangan kembali hening.Beberapa detik kemudian...pria tua itu justru tersenyum tipis."Akhirnya..."gumamnya."Mulai banyak pemain baru."Ia berjalan pe

  • Hasrat Kakak Tiri   128. "Kita Percepat"

    BRAAKK !!!Suara benturan keras mengguncang ruangan.Gelas di atas meja bergetar.Beberapa lembar dokumen yang tersusun rapi berhamburan ke lantai.Pria tua yang berdiri di balik meja besar itu baru saja menghantam permukaan kayu dengan kedua telapak tangannya.Wajahnya memerah.Ia murka.Karena sesuatu yang selama ini ia susun perlahan—kininmulai retak."Bagaimana bisa?"Suaranya rendah.Namun penuh tekanan.Di hadapannya, seorang pria lain berdiri diam.Kepala tertunduk dalam.Sama sekali tidak berani menatap langsung."Saya minta maaf, Pak.""Maaf?"Pria itu tertawa kecil.Tapi tidak ada sedikit pun rasa lucu di dalamnya."Rencana yang dibangun selama bertahun-tahun mulai berubah arah, dan jawabanmu hanya maaf? Kamu pikir ini lucu, hah?!"Ruangan itu kembali sunyi.Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.Di layar besar di belakangnya—terpampang beberapa foto.Foto Arion.Foto Alena.Foto keluarga Mahendra.Dan foto terbaru...Alena sedang duduk di sebuah kafe bersama

  • Hasrat Kakak Tiri   127, Apa Lagi

    Mobil hitam itu meringkuk di seberang jalan, menyatu dengan bayang-bayang malam yang pekat.Ia diam.Tak mencolok,Namun kehadirannya seperti predator yang sabar menunggu mangsa.Kaca di sisi pengemudi turun sedikit, membiarkan angin yang dingin menyelinap masuk, menyapu wajah pria di dalamnya.Suhu dingin itu tak mampu menembus fokusnya. Mata pria itu terkunci rapat pada satu titik di dalam kafe: meja tempat Alena duduk bersama Arka.Ponsel di genggamannya bergetar.Memecah keheningan kabin. Tanpa perlu melirik layar, ia mengangkatnya, matanya tetap tertuju pada interaksi di balik kaca kafe."Halo." Suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang ditekan."Lapor." Suara di seberang terdengar tajam dan singkat.Pria itu mengamati Alena yang sedang berbicara, dan Arka—pemuda itu—tengah bersandar ke depan, berusaha memancing tawa dari perempuan tersebut."Target bersama seseorang," lanjut suara di telepon.Pria itu terdiam, alisnya bertaut. "Siapa?""Belum diketahui.""Pria?""Iya."Suara

  • Hasrat Kakak Tiri   126. Belum menyadari

    Kafe itu tidak terlalu ramai.Hujan tipis di luar membuat suasana terasa lebih tenang dibanding biasanya.Lampu-lampu kuning temaram memantulkan cahaya hangat ke meja-meja kayu yang tersusun rapi.Aroma kopi memenuhi udara.Namun anehnya—semua itu gagal menenangkan pikiran Alena.Perempuan itu duduk diam di dekat jendela.Kedua telapak tangannya memeluk cangkir kopi yang sejak lima belas menit lalu bahkan belum sempat ia minum.Tatapannya kosong.Jauh.Masih tertinggal di depan pintu apartemen Arion.Masih tertinggal pada celah pintu yang sedikit terbuka.Masih tertinggal pada firasat buruk yang sejak tadi menolak pergi.Di seberangnya—Arka duduk dengan posisi yang jauh lebih gelisah.Kakinya bergerak-gerak sendiri di bawah meja.Sesekali ia melirik Alena.Sesekali menggaruk tengkuk.Sesekali berpura-pura sibuk melihat menu meski sejak tadi tidak membacanya sama sekali.Jujur saja—situasi ini jauh lebih menegangkan daripada saat ia menghadapi dosen penguji skripsi dulu.Karena Alen

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status