เข้าสู่ระบบSelamat berimajinasi.
Dua belas tahun kemudian. Langit Lunaris berwarna senja abadi ketika Aelmon Nightfang berdiri di tepi Danau Noctyra. Permukaannya berkilau biru, memantulkan dua bulan yang menggantung rendah di cakrawala. Di belakangnya, para anggota pack berlutut. “Alpha,” ucap Rowan, sang Beta, menunduk hormat. “Dewan Taring menunggu keputusanmu.” Aelmon tidak menjawab. Matanya yang teduh, mata yang sama seperti malam itu, terarah pada permukaan air. Di sana, bukan bayangannya yang terlihat, melainkan seorang gadis. *** Rambutnya tertiup angin sore, wajahnya tertunduk di balik buku-buku tebal. Cahaya matahari dunia manusia menyentuh pipinya. Elara. "Hm, kenapa aku merasa panas ya. Seperti ada yang sedang membakarku." keluhnya sebelum ia mengakat kecuali bahunya singkat, kembali pada buku-bukunya. Pria selalu bisa melihatnya melalui ikatan tipis yang terjalin sejak malam itu. Aelmon mengepalkan tangannya. “Berapa lama lagi?” Rowan tahu maksudnya. “Dua belas tahun. Kau sudah menunggu dua belas tahun.” “Belum cukup.” Suara Aelmon tenang, tapi auranya membuat udara bergetar. Bayangan di sekitar kakinya bergerak liar, seolah hidup. Sejak ia naik menjadi Alpha tiga tahun lalu, kekuatannya tak pernah sepenuhnya stabil. Dominasi lunar dalam darahnya terlalu kuat. Tanpa pasangan mate, Alpha biasanya bisa mengendalikannya melalui ritual. Namun Aelmon menolak semua kandidat. Ia hanya punya satu, seorang manusia. Dewan Taring menentang, Pack berbisik-bisik. Tapi Aelmon tidak pernah goyah. “Dia hampir berusia dua puluh dua,” lanjut Rowan hati-hati. “Jika benar dia matemu, ikatan akan bangkit penuh saat purnama ketiga bulan ini.” Aelmon tersenyum tipis. “Aku tahu.” Ia berbalik. Angin senja mengibaskan mantel hitamnya. Tubuhnya tinggi, aura dominasinya membuat bahkan Gamma dan Delta menahan napas. “Siapkan Gerbang Noctyra.” Rowan tertegun. “Kau akan pergi sendiri?” tanyanya penasaran. “Ya.” “Alpha… dunia manusia bukan tempat kita masuk tanpa alasan. Jika kau memaksanya...,” “Aku tidak memaksa.” Jawaban itu cepat. Terlalu cepat, bayangan di tanah bergerak mengikuti detak jantungnya. Kael berjalan menjauh dari danau. Di setiap langkahnya, tanah Lunaris seolah tunduk. Ia mengingat malam itu dengan detail yang tak pernah pudar, tangan kecil yang menyentuh lukanya, cahaya hangat yang menenangkan sisi liarnya, dan janji polos yang diucapkan tanpa beban. Kalau kau manusia, aku akan menikahimu. Bagi Aelmon, itu bukan candaan. Itu pengakuan. Selama dua belas tahun, ia mengawasinya dari bayangan. Melihatnya belajar, tertawa, menangis, tumbuh. Ia tahu universitas yang ia pilih. Ia tahu mimpinya menjadi profesor astronomi. Ia tahu semua. Dan setiap kali Elara tersenyum pada pria lain, sisi serigalanya meraung. Mine. Kata itu bergema dalam jiwanya Rowan menyusulnya. “Dan jika dia menolak?” tanya Rowan ragu. Aelmon berhenti. Pertanyaan itu menggantung seperti kabut dingin. “Dia tidak akan,” jawabnya akhirnya. Namun untuk sepersekian detik, hanya sepersekia, keraguan melintas di matanya. Karena ia tahu satu hal yang pack tidak tahu. Beberapa bulan terakhir, ikatan itu mulai terasa berbeda. Bukan hanya lunar. Ada sesuatu yang lain. Hangat, Terang. Seperti cahaya matahari yang mencoba menembus senja Lunaris. Aelmon menekan dadanya. Rasa panas itu kembali muncul, halus tapi nyata. Setiap kali ia memikirkan Elara, jantungnya berdetak tidak seperti Alpha… melainkan seperti pria biasa. Ia tidak menyukainya. Ia menginginkannya. “Buka gerbangnya malam ini,” perintahnya. Rowan menunduk. “Baik, Alpha.” *** Di saat yang sama, jauh di dunia manusia, Elara berdiri di atap gedung kampusnya, memandangi gerhana bulan yang jarang terjadi. Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa sesak. Seolah sesuatu… atau seseorang… sedang mendekat. Angin berhembus lebih kencang. Langit yang seharusnya bersih tiba-tiba terbelah oleh retakan tipis kehijauan. Cahaya bulan berubah lebih gelap. Dan di balik celah itu, Sepasang mata neon menatap lurus ke arahnya. "Apa itu ...," Matanya membelalak, Elara tersentak mundur. Sebuah suara berat bergema di telinganya, bukan dari luar… tapi dari dalam dirinya. “Aku datang menagih janji itu, Elara.” Langit di atasnya pecah. Bersambung....Orang-orang selalu berkata...Matahari adalah lambang harapan. Bulan adalah lambang kesetiaan, namun tidak ada seorang pun yang pernah bertanya...Bagaimana rasanya dilahirkan dari dua legenda yang bahkan tidak mampu memiliki akhir yang bahagia?***"Apa kau percaya pada cerita itu?"Suara seorang anak laki-laki memecah keheningan. Ia duduk di atas dahan pohon tua, kedua kaki kecilnya bergoyang pelan mengikuti embusan angin.Di bawah pohon, seorang anak perempuan menutup buku tua yang telah lusuh dimakan usia.Bukh!"Aku tidak tahu."Jawabannya datar, tetapi sorot matanya tidak pernah meninggalkan halaman terakhir buku itu.Di sana tertulis sebuah kalimat, "Mereka saling mencintai hingga dunia memilih memisahkan mereka."Anak laki-laki itu mendengus pelan. "Cerita yang bodoh.""Kenapa?""Kalau benar saling mencintai... kenapa berakhir seperti itu?"Tak ada jawaban.Hanya desir angin yang meniup rumput-rumput liar di padang luas.Anak perempuan itu mengangkat kepalanya. Matanya yang ke
Selamat membaca.Beribu-ribu tahun kemudian...Halaman Terakhir Kitab Takdir Cahaya keemasan memenuhi seluruh penjuru langit, Takhta Matahari akhirnya memiliki penguasa baru.Di atas singgasana yang terbuat dari cahaya, Elara membuka matanya perlahan.Namun, mata itu bukan lagi mata seorang manusia. Tatapannya tenang.Hening. Tidak lagi menyimpan keraguan ataupun rasa takut.Eon menundukkan kepala. "Selamat datang kembali... Solaria." sambutnya.Perempuan itu memandang sekeliling.Tatapannya menyapu para dewa, para tetua, Rowan, Aurelion, hingga sosok Alpha yang berdiri paling depan.Lalu ia bertanya dengan suara lembut, "Siapa kalian?"Keheningan langsung menyelimuti ruangan.Rowan menahan napas.Tangannya mengepal begitu erat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri.Aurelion memejamkan mata. Sementara Aelmon hanya berdiri tanpa bergerak, solaria menatapnya
Ketika Matahari Memilih TenggelamKeheningan menyelimuti Ruang Takhta Matahari.Cahaya keemasan yang memenuhi langit seolah berhenti bergerak. Tidak ada desir angin. Tidak ada nyanyian burung. Bahkan waktu seperti menahan napas ketika sosok berjubah putih itu menutup kedua matanya.Eon membuka matanya perlahan.Tatapannya menyapu setiap wajah yang berdiri di hadapannya—Aelmon, Elara, Rowan, Aurelion, para tetua Lunaris, dan para dewa yang tersisa.Lalu ia berkata dengan suara tenang yang menggema ke seluruh penjuru langit."Mulai sekarang... yang akan menjadi musuh kalian bukan lagi para dewa, melainkan pilihan kalian sendiri."Semua orang terdiam.tap... tap... tap...Eon melangkah mendekati Takhta Matahari yang selama ribuan tahun tidak pernah diduduki siapa pun."Selama ini kalian mengira takdir adalah rantai yang mengikat kehidupan.""Tetapi kalian keliru."Ia mengangkat Kitab Takdir."Takdir hanyalah jalan.""Yang menentukan akhir perjalanan adalah pilihan yang dibuat setiap kali
"...adalah kesalahan pertama yang berhasil dibuat oleh seorang dewi."Kalimat itu jatuh begitu saja.Tidak keras. Namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka membeku.Srrtt...Angin dingin menyapu lantai marmer Singgasana Matahari. Ujung jubah Elara berkibar pelan, sementara rambut keemasannya menari perlahan di bawah cahaya yang mulai meredup.Aelmon menyipitkan mata. Bahunya menegang. Tanpa sadar, jemarinya meraih gagang pedang di pinggangnya."Apa maksudmu?" tanyanya datar. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari pria berambut perak itu.Pria itu tidak segera menjawab.Ia justru mengangkat kepalanya, menatap langit-langit istana yang dipenuhi cahaya keemasan."Hari ini masih sama."Senyum tipis terukir di bibirnya. "Cahaya Matahari tetap hangat.""Padahal pemiliknya sudah berubah."Elara mengernyit pelan. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya. "Kau mengenalku?"Pria itu menurunkan pandangannya perlahan. "Aku mengenal Solaria.""Lalu aku mengenal Elara.""Dan sekarang.
Suara langkah itu terdengar pelan.Tok... tok... tok...Bukan tergesa-gesa.Bukan pula berat seperti langkah seorang prajurit yang hendak berperang.Sebaliknya, langkah itu tenang. Terlalu tenang hingga setiap gema yang dipantulkannya membuat dada siapa pun yang mendengar terasa semakin sesak.Angin berhenti berembus.Kelopak-kelopak bunga matahari yang sejak tadi beterbangan perlahan jatuh ke tanah tanpa sempat menari di udara.Seluruh tempat mendadak sunyi.Bahkan cahaya Singgasana Matahari meredup, seolah menghormati seseorang yang baru saja datang.Aurelion mengatupkan rahangnya. Jemarinya yang biasanya santai perlahan mengepal di balik lengan jubahnya. Untuk pertama kalinya, raut wajah Raja Dunia Bawah itu kehilangan ketenangannya."Itu... tidak mungkin." Suaranya rendah, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Elara menangkap perubahan sekecil apa pun pada kakaknya. Alisnya berkerut. Ia belum pernah melihat Aurelion setegang ini."Kak...""Ada apa?"Aurelion tidak seger
"Siapa bilang... kisah ini telah berakhir?"Suara itu tidak keras.Namun gema langkahnya membuat Singgasana Matahari bergetar pelan. Cahaya keemasan yang baru saja kembali menyelimuti langit mendadak meredup sesaat, seolah dunia ikut menahan napas.Aelmon tanpa sadar melangkah ke depan, berdiri di antara Elara dan pintu kuno yang perlahan terbuka.Gerakan itu begitu alami, ia bahkan tidak perlu berpikir.Melindungi Elara telah menjadi naluri yang tumbuh jauh lebih dahulu daripada cintanya sendiri.Elara menatap punggung Alpha itu, punggung yang dipenuhi bekas luka, sebagian karena peperangan.Sebagian lagi karena keputusan-keputusan yang pernah mereka sesali bersama."Aelmon...""Aku di sini."Hanya tiga kata.Namun cukup membuat jantung Elara yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan kembali tenang.Ia tersenyum kecil.Dulu, ia menganggap ketenangan hanya dapat ditemukan di atas singgasana.Kini ia mengerti.Ternyata rumah tidak selalu berupa tempat.Kadang rumah adalah seseorang yang sel
Selamat membaca.Langit di atas atap kampus itu retak seperti kaca yang dipukul dari sisi lain.Seorang wanita muda tampak sedang memikirkan ujiannya di atap.Elara terhuyung mundur, napasnya tercekat. Angin berputar liar di sekelilingnya, membuat kertas-kertas catatan astronominya beterbangan. Ger
Selamat berimajinasi.Darah menetes ke tanah yang membeku.Elara tidak tahu kenapa ia berlari menuju suara geraman itu. Kakinya basah oleh lumpur, napasnya terengah, dan hutan di belakang rumahnya terasa lebih gelap dari biasanya. Bulan menggantung besar di langit, seolah mengawasi setiap langkahny
Selamat membaca.Langit tidak lagi hanya retak. Ia berdenyut. Seperti sesuatu yang hidup, menunggu keputusan yang belum dibuat.Udara di Lunaris terasa semakin berat. Setiap tarikan napas membawa tekanan yang tidak kasat mata, namun nyata. Tanah di bawah kaki mereka retak halus, menyebar dari pusat
Selamat membaca.Latihan tidak berhenti. Hari demi hari, Elara kembali ke lingkaran batu itu. Mengulang hal yang sama. Menghadapi hal yang sama. Dan setiap kali itu terjadi, Rasa sakitnya tidak pernah benar-benar berkurang.***“Fokus.”Suara Lyria tenang, namun tegas. Elara berdiri di tengah lingk







