MasukSejak kecil, Elara pernah berjanji akan menikahi seekor anak serigala hitam yang ia selamatkan. Baginya itu hanya candaan. Bagi Aelmon yang ternyata adalah Alpha werewolf, itu adalah takdir. Bertahun-tahun kemudian, Aelmon datang menagih janji dan membawanya ke Lunaris, dunia serigala yang hidup dalam hukum ikatan mate. Namun Elara menolak menjadi Luna yang terkurung. Ia ingin hidup normal, mengejar mimpinya di dunia manusia. Segalanya berubah ketika darah Matahari Murni dalam dirinya bangkit. Elara adalah reinkarnasi Dewi Matahari, dan seorang dewa langit turun untuk merebutnya kembali. Terjebak antara Alpha yang mencintainya dengan obsesi dan dewa yang mengklaimnya sebagai takdir, Elara harus memilih... cinta, kebebasan, atau kekuatan yang bisa mengguncang tiga dunia. Karena kali ini, bukan takdir yang menentukan. Melainkan pilihannya.
Lihat lebih banyakSelamat berimajinasi.
Darah menetes ke tanah yang membeku. Elara tidak tahu kenapa ia berlari menuju suara geraman itu. Kakinya basah oleh lumpur, napasnya terengah, dan hutan di belakang rumahnya terasa lebih gelap dari biasanya. Bulan menggantung besar di langit, seolah mengawasi setiap langkahnya. Geraman itu terdengar lagi, lebih lemah, lebih marah. Ia menerobos semak berduri dan membeku di tempat. Seekor serigala hitam raksasa terbaring di tanah. Bulu gelapnya berkilau kebiruan di bawah sinar bulan, namun tubuhnya dipenuhi luka sayatan. Salah satu kakinya berdarah parah, dan napasnya terdengar berat. Mata hijaunya menyala tajam ketika melihat Elara. Ia seharusnya takut. Elara seharusnya lari seharusnya lari. Tapi Elara kecil, yang baru berusia sepuluh tahun, justru melangkah mendekat. “Tenang… aku tidak akan menyakitimu,” bisiknya, walau tangannya gemetar. Serigala itu berusaha bangkit dan menggeram pelan, memperlihatkan taringnya. Namun tubuhnya terlalu lemah. Ia kembali jatuh. Elara menelan ludah. “Kalau kau mau menggigitku, lakukan saja. Tapi kau akan mati kalau aku pergi.” Angin berhenti berhembus. Hening. Mata hijau itu menatapnya lama, terlalu lama untuk seekor binatang liar. Dengan hati-hati, Elara merobek bagian bawah gaunnya dan menekan kain itu pada luka di kaki serigala. Darah hangat membasahi jarinya. Aneh, ia tidak merasa jijik. Hanya ada rasa… sedih. Elara suka hewan sejak kecil, anehnya gadis berambut merah itu tidak akan menangis saat ada manusia yang terluka. Namun hatinya mudah robek oleh hewan yang terluka. “Siapa yang melakukan ini padamu?” Mana bisa serigala berbicara. Pikir Elara, mendengus kasihan menatap luka itu lagi. Serigala itu tidak menjawab, tentu saja. Tapi geramannya mereda. Saat jarinya menyentuh bulu hitam di kepalanya, sesuatu terjadi. Hangat. Bukan panas biasa. Hangat yang menyebar dari telapak tangannya ke dada serigala itu. Tiba-tiba, cahaya samar, keemasan, berkilau sesaat di antara jari-jarinya. Elara tersentak, tapi serigala itu justru terdiam. Matanya yang tajam perlahan melembut. Luka di kakinya berhenti mengucur deras. “Aneh…” bisiknya. Serigala itu mengangkat kepalanya dan mendekatkan moncongnya pada wajah Elara. Ia bisa melihat bayangannya di mata hijau itu. Satu yang Elara pikirkan saat melihat mata itu, "indah." akan tetapi Elara juga melihat sesuatu yang lain dari mata predator itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat binatang buas. Ia melihat, "kesepian." gumamnya dalam hati. Elara tersenyum kecil. “Kau sendirian, ya?” tanya Elara. Serigala itu mengeluarkan suara rendah, bukan geraman, bukan juga lolongan. Lebih seperti jawaban. Ia tertawa pelan. “Kalau kau manusia, aku akan menikahimu supaya kau tidak sendirian lagi.” Bulan terasa makin terang. Angin kembali berhembus, membawa aroma tanah dan sesuatu yang lebih tua… sesuatu yang mengamati! Serigala hitam itu menegang. Telinganya bergerak waspada. Elara tidak menyadarinya ketika ia menepuk kepalanya pelan. “Jangan mati, ya? Besok aku bawa makanan.” Ia bangkit berdiri berniat untuk kembali. Namun sebelum ia sempat melangkah pergi, serigala itu menggigit lembut ujung bajunya, menahannya. Mata hijau itu kini menyala lebih terang. Seolah mengukir sesuatu. Janji. Elara tertawa kecil. “Hei, aku serius. Kalau kau berubah jadi manusia nanti, kau harus mencariku, ya?” candanya. Serigala itu melepaskannya perlahan. Di kejauhan, terdengar lolongan panjang. Bukan satu tapi ada banyak. -Bayangan-bayangan bergerak di antara pepohonan. Elara tidak tahu bahwa malam itu bukan kebetulan. Bahwa serigala di depannya bukan makhluk biasa. Dan bahwa janji polosnya telah mengikat jiwa seorang calon Alpha- Ketika ia berbalik untuk pulang, ia tidak melihat mata hijau itu berubah menjadi lebih dalam, lebih sadar. samar, namun Elara tidak melihat cahaya bulan yang berputar di sekitar tubuh besar itu. Suara berat berbisik di dalam heningnya hutan. Elara menggosok kupingnya yang tak gatal, kembali melanjutkan perjalanan tanpa menoleh. “Aku akan menagihnya.” Lalu tubuh serigala hitam itu mulai berubah. Bersambung....Elara tidak langsung bergerak. Kerumunan manusia terus mengalir di antara trotoar dan jalan raya, lampu lalu lintas berganti warna. Klakson terdengar dari kejauhan.Namun pikirannya tertinggal beberapa detik di belakang.Tepat pada sepasang mata giok yang baru saja melihatnya.Ia ditemukan. Bukan mungkin, bukan hampir, bukan dugaan. Ditemukan.Deg... deg...Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak takut, tapi perasaan itu sudah berubah sejak beberapa hari lalu. Kini yang muncul justru sesuatu yang lebih rumit, rasa bersalah, kerinduan dan sedikit kepanikan.Karena setelah semua waktu yang ia habiskan untuk menghindar, Apa yang harus ia katakan saat bertemu nanti?"Bagus." Suara Kaelum muncul dari belakang.Elara bahkan tidak terkejut lagi. "Kau benar-benar menyeramkan." gumamnya."Aku menganggap itu pujian."Elara menghela napas. Lalu menoleh, Raja bayangan itu berdiri santai di dekat pagar
Pagi datang bersama langit kelabu, bukan hujan. Hanya awan tipis yang menggantung rendah di atas kota.Udara terasa sejuk, dan jalanan mulai dipenuhi manusia yang berangkat bekerja.Elara keluar lebih awal hari itu. Ia sudah memutuskan sesuatu semalam, belum sepenuhnya, belum cukup berani untuk mengatakannya keras-keras.Namun setidaknya, Ia tidak lagi ingin bersembunyi. Bukan berarti ia akan langsung kembali ke Lunaris.Masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab.Masih ada ketakutan yang belum sepenuhnya hilang.Namun berlari terus-menerus juga melelahkan.Tap... tap...Langkahnya membawanya menuju pasar tua yang berada di dekat sungai.Tempat itu ramai. Suara pedagang saling bersahutan, aroma kopi, roti, dan makanan hangat bercampur memenuhi udara.Elara menyukai tempat seperti itu. Karena tidak ada yang mengenalnya, tidak ada yang memanggilnya Luna. Tidak ada yang melihatnya sebagai dewi, ia hany
Elara tidak langsung kembali. Keinginan untuk pulang muncul perlahan, seperti cahaya fajar yang merayap di balik cakrawala. Tidak mendadak, tidak juga menghapus semua kebingungan yang masih tersisa.Ia tetap tinggal di penginapan. Satu malam lagi lalu satu malam setelahnya.Namun sesuatu telah berubah. Ia tidak lagi berjalan tanpa tujuan, kini langkahnya sering berakhir di tempat-tempat yang mengingatkannya pada Lunaris.Toko roti yang menjual roti madu. Taman dengan danau kecil, jalan berbatu yang mirip jalur menuju hutan timur pack.Dan tanpa sadar—Pikirannya mulai dipenuhi orang-orang yang ditinggalkannya.Lyra yang selalu tampak galak saat menyuruhnya minum ramuan, padahal diam-diam begadang memastikan ia tidak demam.Lira yang akan menyangkal mati-matian kalau ia peduli.Rowan yang selalu menjadi penengah ketika semua orang mulai bertengkar.Sylas yang menyembunyikan perhatian di balik sindiran.
Hari ketiga. Lalu hari keempat, kota manusia tetap berjalan seperti biasa. Lampu lalu lintas berganti warna, kereta datang dan pergi. Orang-orang berangkat bekerja, pulang ke rumah, tertawa, bertengkar, jatuh cinta, lalu mengulangi semuanya keesokan harinya.Dunia tidak berhenti hanya karena satu orang menghilang.Namun bagi seseorang—Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat.Elara mulai memiliki rutinitas. Pagi hari ia turun membeli sarapan dari kios kecil di seberang jalan, siang hari ia berjalan tanpa tujuan jelas.Malam hari ia kembali ke kamar penginapan, sesederhana itu, dan justru kesederhanaan itulah yang dirindukannya.Tidak ada dewa. Tidak ada ramalan, rapat pack, pertengkaran antara Lira dan Asterion, tidak juga ada Lyra yang memaksa ramuan pahit ke mulutnya.Namun setiap kali melihat pasangan berjalan bergandengan tangan di trotoar—Pikirannya mengembara.Saat melihat seorang pria tinggi membungkuk untuk memasa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan