MasukSelamat berimajinasi.
Ledakan itu membutakan. Cahaya emas dan bayangan hitam meledak dari titik tempat Aelmon memeluk Elara. Gelombang energi menyapu aula, menghantam dinding batu hingga retak memanjang seperti urat hidup yang terluka. Beberapa anggota pack terlempar mundur. Rowan terseret beberapa langkah sebelum berhasil menancapkan cakarnya ke lantai batu, menahan diri. “Alpha!” teriaknya. Aelmon tidak menjawab. Ia berdiri di tengah pusaran cahaya dan kegelapan, tubuhnya menjadi perisai hidup. Bayangan dari kakinya menjalar ke seluruh ruangan, membentuk dinding gelap yang menahan sinar emas agar tidak menyentuh Elara lebih dalam. Namun cahaya itu bukan musuh biasa. Ia menembus. Sedikit demi sedikit. Elara merasakan panas di dadanya berubah menjadi nyeri. Bukan sakit fisik, lebih seperti sesuatu yang dipanggil pulang. Suara Eryndor bergema dari retakan emas di kubah. “Kau tidak bisa melindunginya dari dirinya sendiri, Alpha.” Aelmon mengangkat wajahnya, mata Hijaunya kini menyala penuh. Taringnya memanjang tanpa ia sadari. Elara tidak tahan lagi, dia tidak ingin melihat lebih banyak lagi. “Keluar dari wilayahku,” geramnya. Bayangan di sekelilingnya berubah menjadi serigala-serigala hitam transparan, melolong ke arah langit. Aura dominasi lunar menekan udara hingga sulit bernapas. Tetua Darian berteriak, “Simbol perlindungan hampir runtuh!” "Kau, karena mu..." Elara menatap mata permusuhan orang-orang yang telah mengambil wujud serigala. Dia merasa bersalah karena mendatangkan masalah di tanah mereka, "tapi aku juga tidak tahu apa-apa." batin Elara sedih. Lantai aula retak lebih dalam. Cahaya emas menyentuh kulit Elara yang terbuka di pergelangan tangan dan kali ini, ia tidak memudar, ia membalas. Cahaya matahari menyala dari dalam tubuhnya, mendorong balik bayangan Aelmon. Aelmon tersentak. “Elara ... kendalikan!” “Aku tidak tahu caranya!” suaranya pecah. Dia takut pada cahayanya sendiri, matanya bergerak tak beraturan. Kecemasan memenuhi pikirannya masih, bagaimana jika ia terbakar, bagaimana jika ia meledak? Untuk sepersekian detik, dunia seolah berhenti. Elara melihat kilasan, bukan dengan mata, tapi dengan sesuatu yang lebih dalam. Istana tinggi berkilau emas. Langit tanpa malam. Seseorang berdiri di sisinya, menggenggam tangannya dengan lembut. Eryndor. Rasa hangat yang berbeda dari sentuhan Aelmon menyebar di dadanya. Bukan liar atau posesif. Melainkan Tenang. Aelmon merasakan perubahan itu. Ikatan lunar mereka bergetar, tidak stabil. “Elara.” Suaranya lebih rendah sekarang. Bukan perintah tapi permohonan. Cahaya emas semakin kuat, membentuk lingkaran di sekitar tubuhnya. Rambutnya terangkat tertiup energi tak terlihat. Para anggota pack mundur ketakutan. Lira berbisik gemetar, “Itu bukan sekadar darah matahari…” Retakan di kubah melebar, dan sosok Eryndor kini terlihat jelas dari atas, melayang di balik celah dimensi, tangannya terulur. “Datanglah,” katanya lembut. “Kau tidak diciptakan untuk hidup dalam bayangan.” Aelmon merasakan sesuatu retak di dalam dirinya. Ia menarik Elara lebih erat, refleks, bukan perhitungan. Sentuhan itu membuat cahaya dan bayangan bertabrakan lagi, kali ini lebih dalam. Energi mereka tidak lagi hanya bertentangan, ia mulai… bercampur. Simbol di lantai berubah warna, dari hijau menjadi keemasan pucat. Tetua Maereth ternganga. “Tidak mungkin…” Rowan memandang pemandangan itu dengan ngeri dan takjub. “Ikatan mereka… berubah.” Elara menatap Aelmon. Di tengah kekacauan, hanya wajahnya yang terlihat jelas. “Lepaskan aku,” bisiknya. Kalimat itu lebih menyakitkan daripada cahaya dewa. Arlmon tidak langsung menjawab. Bayangannya bergetar, ragu. “Jika aku lepaskan,” katanya pelan, nyaris tenggelam oleh gemuruh energi, “dia akan membawamu pergi.” Elara terdiam. "Ukh!" Rasa sakit merayap di sekitar tubuhnya. Ia menoleh ke arah retakan emas, merasakan panggilan itu semakin kuat. Tapi di saat yang sama, detak jantung Aelmon yang berirama di dadanya terasa nyata. Hangat. Seperti perasaan yang tidak akan Elara dapatkan di tempat lain, meski ragu. Tapi akan mencoba. Tatapannya semakin dalam ketika menatap Aelmon. “Aku tidak ingin pergi,” katanya akhirnya, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun. Cahaya di sekelilingnya bergetar. Eryndor menyipitkan mata. “Kau ragu.” Alis Elara menyatu, “Aku bingung!” Elara berteriak. “Aku tidak mengenal dunia kalian!” Energi melonjak liar. Retakan di kubah tiba-tiba melebar lebih dari sebelumnya. Bukan hanya emas, di balik cahaya itu… ada sesuatu yang lebih gelap bergerak. Eryndor menoleh cepat, ekspresinya berubah untuk pertama kalinya. “Kau membangunkannya terlalu cepat,” gumamnya, bukan pada Aelmon. Tapi pada Elara. Dari celah emas, tangan lain mulai. Tidak bercahaya, tidak juga bersinar. Melainkan hitam pekat, menyerap cahaya di sekitarnya. Elarq tertegun bingung, rasa dingin menembus tulangnya. Suhu di aula anjlok drastis. Aelmon langsung menempatkan dirinya sepenuhnya di depan Elara. “Apa itu?” Rowan berbisik. Eryndor tidak menjawab. Tatapannya kini bukan pada Aelmon, melainkan pada Elara. Energi aneh dapat dengan jelas Elara rasakan. Dan perasaannya saat ini sama seperti ketika ia menonton film bencana alam atau berita perang. “Ini belum waktunya,” katanya tajam. Deg! Tangan hitam itu meraih lebih jauh ke dunia Lunaris, Dan tepat saat menyentuh tepi retakan, seluruh langit senja Lunaris bergetar. Bersambung....Orang-orang selalu berkata...Matahari adalah lambang harapan. Bulan adalah lambang kesetiaan, namun tidak ada seorang pun yang pernah bertanya...Bagaimana rasanya dilahirkan dari dua legenda yang bahkan tidak mampu memiliki akhir yang bahagia?***"Apa kau percaya pada cerita itu?"Suara seorang anak laki-laki memecah keheningan. Ia duduk di atas dahan pohon tua, kedua kaki kecilnya bergoyang pelan mengikuti embusan angin.Di bawah pohon, seorang anak perempuan menutup buku tua yang telah lusuh dimakan usia.Bukh!"Aku tidak tahu."Jawabannya datar, tetapi sorot matanya tidak pernah meninggalkan halaman terakhir buku itu.Di sana tertulis sebuah kalimat, "Mereka saling mencintai hingga dunia memilih memisahkan mereka."Anak laki-laki itu mendengus pelan. "Cerita yang bodoh.""Kenapa?""Kalau benar saling mencintai... kenapa berakhir seperti itu?"Tak ada jawaban.Hanya desir angin yang meniup rumput-rumput liar di padang luas.Anak perempuan itu mengangkat kepalanya. Matanya yang ke
Selamat membaca.Beribu-ribu tahun kemudian...Halaman Terakhir Kitab Takdir Cahaya keemasan memenuhi seluruh penjuru langit, Takhta Matahari akhirnya memiliki penguasa baru.Di atas singgasana yang terbuat dari cahaya, Elara membuka matanya perlahan.Namun, mata itu bukan lagi mata seorang manusia. Tatapannya tenang.Hening. Tidak lagi menyimpan keraguan ataupun rasa takut.Eon menundukkan kepala. "Selamat datang kembali... Solaria." sambutnya.Perempuan itu memandang sekeliling.Tatapannya menyapu para dewa, para tetua, Rowan, Aurelion, hingga sosok Alpha yang berdiri paling depan.Lalu ia bertanya dengan suara lembut, "Siapa kalian?"Keheningan langsung menyelimuti ruangan.Rowan menahan napas.Tangannya mengepal begitu erat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri.Aurelion memejamkan mata. Sementara Aelmon hanya berdiri tanpa bergerak, solaria menatapnya
Ketika Matahari Memilih TenggelamKeheningan menyelimuti Ruang Takhta Matahari.Cahaya keemasan yang memenuhi langit seolah berhenti bergerak. Tidak ada desir angin. Tidak ada nyanyian burung. Bahkan waktu seperti menahan napas ketika sosok berjubah putih itu menutup kedua matanya.Eon membuka matanya perlahan.Tatapannya menyapu setiap wajah yang berdiri di hadapannya—Aelmon, Elara, Rowan, Aurelion, para tetua Lunaris, dan para dewa yang tersisa.Lalu ia berkata dengan suara tenang yang menggema ke seluruh penjuru langit."Mulai sekarang... yang akan menjadi musuh kalian bukan lagi para dewa, melainkan pilihan kalian sendiri."Semua orang terdiam.tap... tap... tap...Eon melangkah mendekati Takhta Matahari yang selama ribuan tahun tidak pernah diduduki siapa pun."Selama ini kalian mengira takdir adalah rantai yang mengikat kehidupan.""Tetapi kalian keliru."Ia mengangkat Kitab Takdir."Takdir hanyalah jalan.""Yang menentukan akhir perjalanan adalah pilihan yang dibuat setiap kali
"...adalah kesalahan pertama yang berhasil dibuat oleh seorang dewi."Kalimat itu jatuh begitu saja.Tidak keras. Namun cukup untuk membuat udara di sekitar mereka membeku.Srrtt...Angin dingin menyapu lantai marmer Singgasana Matahari. Ujung jubah Elara berkibar pelan, sementara rambut keemasannya menari perlahan di bawah cahaya yang mulai meredup.Aelmon menyipitkan mata. Bahunya menegang. Tanpa sadar, jemarinya meraih gagang pedang di pinggangnya."Apa maksudmu?" tanyanya datar. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari pria berambut perak itu.Pria itu tidak segera menjawab.Ia justru mengangkat kepalanya, menatap langit-langit istana yang dipenuhi cahaya keemasan."Hari ini masih sama."Senyum tipis terukir di bibirnya. "Cahaya Matahari tetap hangat.""Padahal pemiliknya sudah berubah."Elara mengernyit pelan. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya. "Kau mengenalku?"Pria itu menurunkan pandangannya perlahan. "Aku mengenal Solaria.""Lalu aku mengenal Elara.""Dan sekarang.
Suara langkah itu terdengar pelan.Tok... tok... tok...Bukan tergesa-gesa.Bukan pula berat seperti langkah seorang prajurit yang hendak berperang.Sebaliknya, langkah itu tenang. Terlalu tenang hingga setiap gema yang dipantulkannya membuat dada siapa pun yang mendengar terasa semakin sesak.Angin berhenti berembus.Kelopak-kelopak bunga matahari yang sejak tadi beterbangan perlahan jatuh ke tanah tanpa sempat menari di udara.Seluruh tempat mendadak sunyi.Bahkan cahaya Singgasana Matahari meredup, seolah menghormati seseorang yang baru saja datang.Aurelion mengatupkan rahangnya. Jemarinya yang biasanya santai perlahan mengepal di balik lengan jubahnya. Untuk pertama kalinya, raut wajah Raja Dunia Bawah itu kehilangan ketenangannya."Itu... tidak mungkin." Suaranya rendah, hampir seperti berbicara kepada dirinya sendiri. Elara menangkap perubahan sekecil apa pun pada kakaknya. Alisnya berkerut. Ia belum pernah melihat Aurelion setegang ini."Kak...""Ada apa?"Aurelion tidak seger
"Siapa bilang... kisah ini telah berakhir?"Suara itu tidak keras.Namun gema langkahnya membuat Singgasana Matahari bergetar pelan. Cahaya keemasan yang baru saja kembali menyelimuti langit mendadak meredup sesaat, seolah dunia ikut menahan napas.Aelmon tanpa sadar melangkah ke depan, berdiri di antara Elara dan pintu kuno yang perlahan terbuka.Gerakan itu begitu alami, ia bahkan tidak perlu berpikir.Melindungi Elara telah menjadi naluri yang tumbuh jauh lebih dahulu daripada cintanya sendiri.Elara menatap punggung Alpha itu, punggung yang dipenuhi bekas luka, sebagian karena peperangan.Sebagian lagi karena keputusan-keputusan yang pernah mereka sesali bersama."Aelmon...""Aku di sini."Hanya tiga kata.Namun cukup membuat jantung Elara yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan kembali tenang.Ia tersenyum kecil.Dulu, ia menganggap ketenangan hanya dapat ditemukan di atas singgasana.Kini ia mengerti.Ternyata rumah tidak selalu berupa tempat.Kadang rumah adalah seseorang yang sel
Selamat membaca.Langit di atas atap kampus itu retak seperti kaca yang dipukul dari sisi lain.Seorang wanita muda tampak sedang memikirkan ujiannya di atap.Elara terhuyung mundur, napasnya tercekat. Angin berputar liar di sekelilingnya, membuat kertas-kertas catatan astronominya beterbangan. Ger
Selamat berimajinasi.Dua belas tahun kemudian. Langit Lunaris berwarna senja abadi ketika Aelmon Nightfang berdiri di tepi Danau Noctyra. Permukaannya berkilau biru, memantulkan dua bulan yang menggantung rendah di cakrawala.Di belakangnya, para anggota pack berlutut.“Alpha,” ucap Rowan, sang Be
Selamat berimajinasi.Darah menetes ke tanah yang membeku.Elara tidak tahu kenapa ia berlari menuju suara geraman itu. Kakinya basah oleh lumpur, napasnya terengah, dan hutan di belakang rumahnya terasa lebih gelap dari biasanya. Bulan menggantung besar di langit, seolah mengawasi setiap langkahny
Selamat membaca.Langit tidak lagi hanya retak. Ia berdenyut. Seperti sesuatu yang hidup, menunggu keputusan yang belum dibuat.Udara di Lunaris terasa semakin berat. Setiap tarikan napas membawa tekanan yang tidak kasat mata, namun nyata. Tanah di bawah kaki mereka retak halus, menyebar dari pusat







