Home / Romansa / Hello, Nanny! / 149. Mie Goreng Spesial

Share

149. Mie Goreng Spesial

last update publish date: 2026-05-02 17:30:28

“Sampai kapan kamu mau nangis terus?”

Mata Kalla bengkak, hidungnya merah, dan rambutnya berantakan. Penampilannya benar-benar kacau, tapi herannya Reyga suka melihat itu.

Wanita itu sekacau ini karena mengkhawatirkan dirinya, peduli padanya. Gimana Reyga tidak terharu? Semua ini artinya Kalla masih sayang padanya kan?

Dengan tangannya, Reyga mengusap pipi Kalla yang basah, sudut mata, bahkan hidungnya. Napas wanita itu masih tersengal-sengal, sesekali bahunya naik turun.

Reyga merangkum waj
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Masih nunggu 1000 berlian Kakkk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Beluuuum udah turut mengundang ajee wkwkwk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Spontan langsung uhuy
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.11. Yatim Piatu

    Kael memperhatikan Cade berinteraksi lumayan akrab dengan Rere saat adik papanya itu memesan minuman. Dia mengangkat alis tinggi saat akhirnya Cade menghampiri mejanya. “Udah lama nunggu?” tanya CEO Ganesha itu, begitu duduk di depan Kael. “Om kenal cewek itu?” Menengok ke arah pandang Kael, Cade mengerutkan kening. “Rere?” Saat Kael mengangguk, Cade kembali duduk dengan benar. “Dia kerja part time di kafe ini. Kenapa? Kamu naksir?” Mata Kael memandang malas. Hanya tanya tapi disangkut-pautkan dengan naksir. “Ini bukan kafe milik ortunya?” “Ngaco, ini kafe milik temen Om. Gimana ceritanya ortu punya kafe malah kerja part time?” “Siapa tau dia cuma iseng.” Cade menarik napas panjang. Lalu melirik meja cashier yang tampak sibuk. “Temen Om bilang terpaksa ngasih dia kerjaan, karena katanya dia butuh banget. Kalau nggak salah dia yatim-piatu deh. Sekarang tinggal sama neneknya.” Dua alis tebal yang membingkai sepasang mata remaja itu mengerut tajam. “Yatim piatu?” “Intinya ka

  • Hello, Nanny!   S2.10. Labuan Bajo

    “Kenapa kita nggak ke Bali aja?”“Iya loh, Pa. Orang-orang pada ke Bali liburan.” Melihat dua anaknya sedang membujuk papanya, Kalla mengulum senyum. Reyga sedang fokus bermain PS dengan putranya, membuat kedua bocah itu sukses dikacangin. “Ke Labuan Bajo aja lebih seru!” celetuk Lior. “Emang kamu tau Labuan Bajo itu di mana?” sahut kembarannya. “Taulah, di Papua kan?” Konsentrasi Reyga mulai goyah mendengar jawaban Lior. “Yeee, sok tau! Labuan Bajo itu di Sulawesi Utara tau!” Reyga sukses game over mendengar jawaban lebih ngaco Kaia. Sementara Kalla menyemburkan tawa yang sudah dia tahan sejak putri-putrinya itu berdebat. Ya Tuhan! Reyga berdiri meninggalkan permainan dan langsung menguyel-nguyel dua putri kembarnya. “Siapa guru IPAS kalian, hmm?” tanya Reyga, masing-masing ketiaknya mengapit Kaia dan Lior. “Kita kan masih kelas satu SD belum ada pelajaran IPAs dong, Pa,” seru Lior sembari memukul-mukul lengan papanya, minta lepas. “Pantes aja pengetahuan sosial kalian nol

  • Hello, Nanny!   S2.9. Gunung Es Kutub Utara

    Seperti yang Kalla bilang, Vianna memang agak pendiam. Mungkin karena segan. Tapi bukan tipe yang pemalu banget. Dan Reyga yang melihat itu merasa gadis itu lebih cocok dengan putranya. Dan gara-gara stick kentang keju itu mereka bisa makan bersama dalam satu meja. Yang paling heboh tentu saja si kembar. Tak segan-segan dia memuji kepintaran Vianna membuat kue berbahan keju dan kentang itu. “Stick keju buatan Kak Vianna the best!” Dua ibu jari si kembar teracung semua.“Bukan kakak yang bikin tapi Mama kalian,” ucap Vianna tersenyum kecil. Kendati dalam hati senang anak-anak itu menyukainya. Tidak sia-sia dirinya membawa banyak kentang. “Tante kan cuma bantu sedikit. Yang goreng dan ngadon kan kamu sama Kael.”Kael yang sejak tadi memasang wajah cemberut cuma bisa melirik malas. Masih kesal dengan mamanya yang maksa banget memintanya membantu Vianna. “Kompak ya kalian,” celetuk Reyga tiba-tiba. Dia mengambil stick yang lumayan panjang dan memakannya. “Sticknya juga enak krezzz bang

  • Hello, Nanny!   S2.8. Kentang

    “Aku udah bawa semua bahannya, Kael.” Vianna mengibaskan rambut panjang bergelombangnya. Bando berwarna pink ada di atas kepalanya. Seperti biasa, wajahnya fresh dan bersinar. Bibir tipisnya dipoles lip gloss merah muda. Cantik, imut, dan menggemaskan dengan gaun motif bunga. Matanya yang bulat bercahaya mengerjap dengan senyum merekah manis. Untuk beberapa saat Kael sempat tertegun dan menelan ludah. Namun segera mungkin dia berpaling sambil berdeham pelan. “Kita kerjakan di belakang aja,” ujar Kael. Dia bergerak dan mengambil alih bawaan teman sekelasnya itu sebelum beranjak ke halaman belakang melalui teras samping rumah. “Halaman rumah kamu udah kayak taman bermain anak-anak,” ujar Vianna seraya mengikuti langkah Kael. Saat si kembar dari tempat main meneriakan namanya, gadis itu melambaikan tangan. “Buat kamu yang suka ketenangan pasti merasa terganggu.” Kael membawa Vianna ke halaman belakang rumah. Di sana ada gazebo. Tempat yang bisa dipakai untuk apa saja, termasuk be

  • Hello, Nanny!   S2.7. Rubik

    “Mungkin karena lama nggak ketemu. Jadi canggung lagi. Kael kan emang begitu.” “Tapi tetep aja itu nggak sopan. Masa ada temen datang nggak ditemuin.”Kael meletakkan pinset dan membuang napas saat mendengar percakapan mama dan papanya. Dia mendorong kursi ke belakang lalu memutuskan beranjak keluar dari kamar. Dia tidak menyukai kehadiran Rere yang tiba-tiba seperti ini sehingga malas menemuinya. Sementara dirinya harus menyelesaikan pekerjaan dan juga belajar. Dan gadis itu bukannya pergi malah bermain bersama anak-anak kecil. Sungguh tipe cewek bebal yang pasti sangat merepotkan. Seperti orang kurang kerjaan saja.“Itu Bang Kael!” teriak Lior ketika menyadari kehadiran Kael di teras. Anak itu dan kembarannya lari menghampiri kakaknya. Dan tanpa ba-bi-bu langsung menarik tangan Kael ke arah taman.“Ayo, Kak, main. Main …!” Anak-anak lain bersorak menunggu kedatangan Kael yang diseret seperti kambing sampai ke depan Rere. Kontras dengan wajahnya yang masam, Rere malah cekikikan.

  • Hello, Nanny!   S2.6. Sore di Taman Depan Rumah

    Taman bermain di halaman rumah tampak ramai ketika mobil Reyga memasuki area parkir. Teman-teman si kembar ngumpul di sana semua. Kalla bilang tiap sore keadaan rumahnya memang seperti itu, dan Reyga tidak masalah asal anak-anaknya bahagia. Namun sore ini ada pemandangan lain yang tak biasa dia lihat. Yaitu kehadiran seorang gadis remaja di tengah-tengah mereka. Anak-anak terlihat akrab bermain dengan gadis itu. Reyga melihat keseruan di sana, dan tanpa sadar bibirnya melengkung. “Papa!!!” teriak si kembar. Membuat gadis remaja yang bersamanya ikut menoleh. Dua anak itu lari menghampiri papanya, dan langsung meloncat ke pelukan Reyga—yang sudah berdiri merunduk untuk menyambut mereka.“Mainnya seru?” tanya Reyga setelah mereka mengurai pelukannya. “Seru dong, apalagi ada Kak Rere.” Kaia menjawab sambil menunjuk gadis remaja yang berdiri tak jauh dari mereka. Dan tiba-tiba Lior mendekat ke telinga papanya. “Itu pacar barunya Abang,” bisiknya, membuat Reyga membulatkan mulut sambil

  • Hello, Nanny!   35. Jalani Saja Dulu

    Gaji kerja sebagai nanny memang besar. Tapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar. Seperti sekarang, Kalla mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gampang terperdaya oleh makhluk duda satu anak ini. Dia yakin kali ini bukan hanya terbawa suasana. Reyga dengan jelas menciumnya, menarik wanita itu dal

  • Hello, Nanny!   34. Kram

    Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re

  • Hello, Nanny!   33. Didiemin

    Mengenalkan diri sebagai Wima Sagara pria itu terlihat ramah dan baik. Tidak seperti cerita Reyga yang katanya orang itu menjengkelkan dan sulit dihadapi. Pria itu juga mengucapkan terima kasih pada Kalla atas pertolongan semalam. Untuk hal ini Kalla mengerjap bingung. Pertolongan apa? Tapi beber

  • Hello, Nanny!   24. Lo Pernah Cipokan Nggak?

    Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status