LOGINMama telat nggak seeeh
Taman bermain di halaman rumah tampak ramai ketika mobil Reyga memasuki area parkir. Teman-teman si kembar ngumpul di sana semua. Kalla bilang tiap sore keadaan rumahnya memang seperti itu, dan Reyga tidak masalah asal anak-anaknya bahagia. Namun sore ini ada pemandangan lain yang tak biasa dia lihat. Yaitu kehadiran seorang gadis remaja di tengah-tengah mereka. Anak-anak terlihat akrab bermain dengan gadis itu. Reyga melihat keseruan di sana, dan tanpa sadar bibirnya melengkung. “Papa!!!” teriak si kembar. Membuat gadis remaja yang bersamanya ikut menoleh. Dua anak itu lari menghampiri papanya, dan langsung meloncat ke pelukan Reyga—yang sudah berdiri merunduk untuk menyambut mereka.“Mainnya seru?” tanya Reyga setelah mereka mengurai pelukannya. “Seru dong, apalagi ada Kak Rere.” Kaia menjawab sambil menunjuk gadis remaja yang berdiri tak jauh dari mereka. Dan tiba-tiba Lior mendekat ke telinga papanya. “Itu pacar barunya Abang,” bisiknya, membuat Reyga membulatkan mulut sambil
Dari sejak motor yang ditungganginya memasuki halaman rumah, Kael sudah melihat Kalla menungguinya di teras sambil senyum-senyum tak jelas. Kalau sudah begini Kael paling males. Dia sudah tahu apa yang terjadi setelah ini. Yakin bakal sama seperti waktu Vianna—teman satu sekolahnya datang ke rumah. Dengan langkah ogah-ogahan Kael memasuki teras rumah. Pura-pura tidak melihat ibu sambungnya di sana, dia melewatinya begitu saja. Namun tidak semudah itu, Ciripa. Tangan panjang Kalla langsung menghadang langkahnya. Wanita itu tersenyum lebar menatap putranya dengan jenaka. Seperti tidak punya pilihan, Kael pun akhirnya cuma bisa menghela napas dan mengikuti isyarat yang wanita itu berikan. “Cuma anter sampe depan rumah neneknya lalu pulang. Udah gitu doang,” ucap bujang itu sebelum ditanya. Jawaban datar putranya membuat Kalla tampak kecewa. “Kok cuma gitu doang?” “Emang mama berharap apa?” tanya Kael dengan muka lelah. “Ya apa kek. Basa-basi mampir sebentar ketem
Seingat Kael, satu-satunya teman yang bernama Rere itu sok imut, bawel, menyebalkan karena selalu menempel dengannya, dan juga suka memakai pita rambut aneh. Satu lagi yang Kael ingat, Rere suka mengklaim dirinya cantik padahal menurutnya tidak ada cantik-cantiknya sama sekali. Hanya saja, cewek itu sekarang cukup berbeda. Ehem! Kael akui, Rere … cantik. Intinya Kael tidak pernah menganggap cewek itu teman akrab. Namun demikian, cewek itu selalu menjadi pembela dirinya ketika ada anak lain yang mengganggunya. “Demi apa jadi selama ini lo tinggal di kampung ini?” tanya Rere takjub dan tidak percaya. “Tapi kenapa gue baru liat lo sekarang?” “Emang lo tinggal di sini juga?” tanya Kael heran. Ternyata cewek itu sama saja seperti dulu. Bawel. Rere menggeleng. “Enggak, sih. Tapi nenek gue tinggal di kampung sebelah. Gue sering ke sini kalau liburan.” Bibir cewek itu mencebik. Tapi detik berikutnya tersenyum. “Meskipun telat. Tapi gue seneng banget bisa ketemu lo lagi.” Bersamaan dengan
“Lior, Kaia!”Dengan langkah cepat Kalla mencari kedua putrinya. Beberapa menit lalu dua anak itu masih bermain di taman rumahnya, tapi tahu-tahu sudah menghilang. Dia mencari di setiap penjuru rumah tapi belum juga menemukan batang hidung mereka. “Mereka nggak ke sini kok,” ujar ibu ketika Kalla mendatangi rumah ibunya. Ah, sudah tiga tahun Kalla dan keluarganya pisah rumah dengan ibu. Tidak jauh, masih di sebelah rumah ibu. Reyga memutuskan membangun rumah karena merasa butuh banyak ruang untuk anak-anaknya. “Duh, ke mana mereka itu.”“Tenang. Ibu yakin mereka nggak jauh-jauh mainnya. Nanti ibu tanya tetangga. Sekarang kamu pulang dulu, barang kali mereka sudah ada di rumah.”Kalla menurut dan kembali ke rumahnya. Dia masih tetap mencari dari depan hingga belakang rumah. Memanggil nama si kembar berulang-ulang. Mendengar suara Kalla yang terus memanggil adik-adiknya, Kael yang masih sibuk di kamar keluar. Kening Kael mengerut melihat sang ibu berjalan lunglai dengan bahu merosot
Kalla meninggalkan kamar putri-putrinya setelah mereka jatuh tertidur. Satu dongeng bahkan belum sempat dia selesaikan. Tidak seperti biasanya yang tiap dibacakan dongeng ada saja pertanyaan yang mereka lontarkan. Kali ini mereka langsung pulas.Untuk hari ini berbeda. Mungkin mereka masih sedih karena belum mendapat maaf dari sang kakak. Bahkan sebelum tidur tadi, mereka masih sempat mengatakan penyesalannya. Bertolak dari kamar si kembar, Kalla membuka pintu kamar Kael yang berada tepat di seberangnya. Kael juga sudah terlelap. Wanita itu bergerak mendekat, mengusap kepala sang putra lalu membenarkan selimut. “Sayang, mama tahu kamu kesal banget sama adik-adik kamu. Tapi seharian ini mereka menyesali perbuatannya. Mama harap kamu masih punya maaf yang luas buat mereka,” ucap Kalla pelan, yang mungkin tidak bisa putranya itu dengar.Ketika Kalla akan mematikan lampu kamar, tatapnya menangkap keberadaan maket bricks yang ada di meja. Benda itu yang membuat si kembar hampir menangis s
Bunyi brakkk terdengar sampai ke dapur. Bunyi familiar yang sekonyong-konyong bisa mematahkan hati seseorang karena usahanya hancur seketika. Kalla yang sedang mengaduk adonan refleks berhenti dan menatap putranya yang berdiri di depannya. Wajah remaja 16 tahun itu spontan memerah sambil memejamkan mata. Kalla tahu betul Kael sedang menahan marah. Dia bahkan melihat tangan putranya itu meremas kuat tangkai hand mixer yang digenggamnya. “Uhm, Sayang. Na-nanti mama bantu kamu merangkainya lagi, oke?” ucap Kalla dengan raut was-was. Perlahan dia melepas spatula. “Jangan marah ya. Mam pastikan adik-adik kamu mendapat hukuman.”Kalla buru-buru lari ke arah kamar. Demi Tuhan dia berharap weekend kali ini aman tanpa keributan. Tapi sepertinya itu hanya angan-angan saja. “Kaia…!!! Lior…!!!”Langkah Kalla berhenti mendadak. Dia meringis seraya menutup telinga mendengar teriakan Kael dari dapur, sebelum lanjut lari ke kamar putranya. Pintu kamarnya terbuka sehingga dia bisa melihat langsung
Helaian rambut Reyga beterbangan tertiup angin laut. Dengan backsound suara debur ombak di sore hari, Kalla merasa seperti sedang berada di adegan-adegan film roman yang sering Moya tonton. Wanita itu masih menunggu jawaban. Menatap lekat-lekat Reyga dari samping dengan wajah penasaran. Dari lau
“Sayang, sayang, sabar dulu, oke?” Reyga panik dan langsung menenangkan wanita itu. Dia meringis ngeri mendapati muka Kalla yang sudah seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Hidung wanita itu sudah mengeluarkan asap. “Aku ini—maksudnya begini tuh, nggak mau bikin kamu pusing. Kan kamu lagi sibuk
Matahari Canggu sudah cukup tinggi, tapi Kalla masih betah tengkurap di atas kasur dengan mata yang masih terkatup rapat. Selimut hanya menutupi bagian bawah tubuhnya. Sementara punggung putihnya dibiarkan terbuka. Melihat itu, Reyga yang baru saja masuk menggeleng dan tersenyum. Dini hari hingga s
“Selamat atas kesuksesan kita semua. Tanpa kalian pameran ini tidak akan berjalan sempurna!” Wima mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi. “Dinasty…?!” “Jaya! Jaya! Yes!” sambut para stafnya dengan yel-yel kompak. “Cheers, untuk kita semua!” “Cheers!” Closing pameran berjalan lancar dua hari







