Beranda / Romansa / Hello, Nanny! / 37. Teman-teman Lama Reyga

Share

37. Teman-teman Lama Reyga

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-03-07 17:43:37

“Kenapa kita ke sini?”

“Papa mau beli baju?”

Reyga membawa Kael dan Kalla ke salah satu Boutique and Beauty Salon yang ada di Benoa. Rekomendasi dari staf vila ketika dia bertanya.

“Papa lupa memberitahu kalau malam ini ada undangan anniversary pernikahan teman papa. Dan papa belum menyiapkan apa pun untuk kalian. Jadi kita beli outfit di sini aja ya.”

“Memang keburu?” tanya Kalla mengingat saat ini hari sudah menjelang senja.

“Usahain keburu.”

Hanya Kalla yang membutuhkan pulasan ekstra.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Iin Iin
iya ya kenapa mereka bahas ny tentang mantan ny Reyga, bukan istri ny yg sdh meninggal itu..
goodnovel comment avatar
Nyonya Juna
perempuan itu realistis rey.makany kiana milih yg masa depanny cerah..krn dl mgkin km blm sukses...
goodnovel comment avatar
Anies
kabur aja ngapa Rey, kasian Kalla loh
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Nanny!   228. Kaya Tujuh Turunan

    Di atas tempat tidur, ketika dia dan suaminya berbaring, Kalla mengacungkan tangannya yang tersemat cincin red diamond. Dilihat dari posisi mana pun cahaya yang berkilauan itu tetap memantul sempurna. “Aku masih nggak percaya mama kasih ini ke aku, Rey,” ucap wanita itu sambil tak henti memperhatikan batu mulia tersebut. “Apa itu artinya mama benar-benar sudah menerimaku?”“Mungkin.” Kalla menjauh dari pelukan sang suami, dan mencari wajah gantengnya. “Kok mungkin?” “Ya, kita nggak tau isi hati mama kan? Harapanku mama benar-benar sadar, dan mau sayang ke kamu sama seperti dia sayang ke menantu lainnya. Nggak beda-bedain lagi, dan nggak banding-bandingin lagi.”Kalla mengangguk. Reyga benar, susah mengukur kedalaman hati seseorang. Mata Kalla refleks turun ke bawah ketika tangan Reyga menyelinap ke balik daster midi yang dia pakai. “Aku emang nggak tau isi hati mama, tapi aku tau banget isi hati kamu,” ucap wanita itu dengan nada sinis. Membuat Reyga sekonyong-konyong tertawa. “N

  • Hello, Nanny!   227. Red Diamond

    Kalla duduk seraya mengulum senyum melihat Reyga yang juga ikut duduk di seberangnya. Lelaki itu memasang wajah cemberut gara-gara sengat menyengat barusan di taman. Namun tak berapa lama senyum Kalla memudar menjadi pelototan kecil ketika di bawah kursi tangan Reyga mengacungkan jari tengah padanya. Bisa-bisanya di dekat Papa dan Kael, lelaki itu berperilaku tidak sopan. Melihat wajah Kalla memerah, Reyga tersenyum puas. Ujung lidahnya terjulur keluar. Berniat mengejek. Tapi senyum puas itu tidak bertahan lama ketika suara mama terdengar memanggil istrinya. “Ya, Ma?” sahut Kalla seraya menoleh. Diyani berjalan mendekat sembari membawa sesuatu di tangannya. Dia lantas duduk di sebelah menantunya sambil meletakkan kotak persegi kayu dengan ukiran klasik yang menyita perhatian Kalla. Kotak itu mirip kotak perhiasan yang orang-orang kerajaan punya. Ya semacam itu, Kalla tidak yakin. Ada gembok kecil yang berfungsi sebagai kunci. “Mama punya sesuatu,” kata Diyani. Reyga dan Reyhan m

  • Hello, Nanny!   226. Gengsi

    Rasa malu menggerogoti hati Diyani saat melihat menantunya masih mau datang menemuinya. Ucapan Reyhan barusan seperti menampar telak dirinya. Pria itu benar, menantu mana yang tidak malas bertemu mertua menyebalkan seperti dia? Gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa Kalla sebenarnya menantu yang baik. Dan ketika membuat wanita itu kehilangan janin yang dikandung, dia masih saja terlalu angkuh untuk mengakui kesalahan. Bahkan masih mampu menuduh menantunya yang menyebabkan Reyga menjauh, tanpa berkaca lebih dulu. Seburuk itukah dirinya? “Kalla, maafin mama ya, Nak.” Bibir Diyani bergetar saat mengatakan itu. Dia tidak punya nyali menatap wajah cantik menantu yang selalu dia sia-siakan itu. “Sa-saya udah maafin mama,” balas Kalla tersenyum tipis. Kalla sama sekali tidak ekspek akan menerima permintaan maaf mama. Dari rumah dia sudah menyiapkan mental barangkali mama akan menghujatnya karena lama tidak mengunjungi rumah mertua. Saat sang mama mertua memeluknya, wajah Kalla

  • Hello, Nanny!   225. Menuntut Sempurna

    Meja makan tampak penuh dengan berbagai macam menu makanan. Diyani dan para asistennya sudah sibuk sejak sore menyiapkan menu untuk makan malam bersama yang dilakukan rutin tiap Sabtu malam. Semua menu kesukaan putranya ada, bahkan Diyani menyiapkan menu anak-anak juga untuk para cucu-cucunya. Hanya saja sudah lewat pukul enam sore belum ada satu pun dari keluarga putranya yang datang. Biasanya Cade yang paling awal datang pun belum terlihat batang hidungnya. “Mungkin kena macet, Mas,” ujar Reyhan santai ketika istrinya mengeluhkan putra-putranya yang belum datang. “Ini kan weekend mana mungkin macet.” Diyani duduk gelisah, sesekali menengok jam. “Weekend kan tetep masih ada orang yang pergi-pergi, Ma. Tunggu aja. Sebentar lagi juga datang.” Diyani yang tidak sabar mulai menelepon satu per satu putranya, tapi tidak ada yang mau mengangkat. Bahkan ketika melakukan panggilan grup semua mengabaikan. Chat yang sudah dia kirim pun tidak ada balasan. Wanita yang sudah berdandan

  • Hello, Nanny!   224. Cari Solusi

    Kalla duduk terhenyak di kursi saat luxury MPV yang membawa sang mama mertua pergi meninggalkan pelataran rumahnya. Denyut nyeri di dadanya masih belum hilang dan malah makin menjadi. Kedatangan Diyani barusan makin menjelaskan bahwa dirinya memang tidak pernah diinginkan. Kalla menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.Dia merogoh tas, meraih ponsel. Dengan tangan gemetar wanita itu mengetik pesan untuk suaminya. Dan sesaat setelah pesan itu terkirim panggilan dari Reyga masuk."Kamu nggak apa-apa?" tanya Reyga di ujung sana. Seolah tahu kedatangan mamanya bisa mengguncang sang istri."Aku nggak apa-apa." "Mama datang mau minta maaf atau apa?"Kalla tidak menjawab. Tadi di pesan dia cuma menulis dan memberitahu bahwa mama datang. Tidak memberitahu apa yang mama lakukan. "Sayang, kok diam? Mama mengatakan sesuatu?" tanya Reyga lagi. Mungkin di sana lelaki itu juga merasakan ketidak-beresan yang terjadi. "Mama nyakitin kamu lagi?" Menghela napas, Kalla pun mencoba jujur. Bukan

  • Hello, Nanny!   223. Hak Asuh

    Jam makan siang lebih sedikit, jadwal mengawasi ujian berakhir. Kalla berjalan di koridor gedung sambil sesekali membalas sapaan mahasiswa yang berpapasan dengannya. Flat shoes yang wanita itu pakai mengetuk lantai dengan mantap meskipun langkahnya tidak tergesa. Dia baru saja melewati selasar kampus ketika seorang wanita cantik tampak tengah memperhatikannya dari kejauhan. Ketika tatapannya bersirobok dengan wanita itu, dia memperlambat gerakan kakinya. “Kenapa dia di sini?” gumamnya mengerutkan dahi, tanpa menghentikan langkah. Mungkin wanita itu di sini karena sedang ada urusan lain. Dan saat benar-benar harus berpapasan dengan wanita yang mirip mantan istri Reyga itu, Kalla melewatinya begitu saja. Iya, wanita itu Ninda. Wanita yang membuat kehebohan di keluarga kecilnya. “Kalla….” Kalla menggulir pandangan saat namanya disebut. Ayunan kakinya melambat, memastikan dia tidak salah dengar. “Kamu Kalla kan? Istri Reyga?” Ternyata benar wanita itu memanggil. Kalla menghel

  • Hello, Nanny!   47. Gila Cowok

    “Kenapa Lo nggak bilang kalau Papa Reyga secakep itu?!” Begitu Reyga pergi, Moya kehebohan. BerWow-Wow ria tidak ada hentinya sampai Kalla bosan mendengarnya. “Kan gue udah cerita kalau dia itu ganteng.”“Tapi gue nggak ekspek bakal seganteng ini. Bodynya, Kaaaal. Lengannya, Kaaaaal. Ya ampuuun.

  • Hello, Nanny!   46. Melamun

    Kalla cengar-cengir begitu keluar dari mobil. Di sisi kanan, Reyga juga ikut keluar. Sementara Kael memilih duduk tenang di atas car seat, tidak mau turun. Hampir pukul lima sore ketika mereka sampai di halaman rumah Kalla. “Besok mau berangkat sendiri atau dijemput Pak Sato?” tanya Reyga. Jejak

  • Hello, Nanny!   44. Yang Kamu Suka Siapa?

    Ibu sedang berkutat di depan mesin jahit ketika mendengar suara derum mobil memasuki halaman rumah. Kepala wanita paruh baya itu lantas terjulur ke jendela, melihat siapa yang datang. Itu adalah mobil keluaran Jerman yang ibu kenali karena beberapa kali bertandang. Dia segera meninggalkan pekerjaan

  • Hello, Nanny!   42. Kita Punya Pizza!

    “Pizzaaa!” seru Cade saat Reyga membuka pintu. Lelaki berkulit pucat itu mendorong pintu lebar dan masuk begitu saja. Meninggalkan helaan napas panjang kakaknya yang merasa bete maksimal karena aktivitasnya terganggu. “Gue juga beli Mac and Cheese kesukaan Kael. Mana dia, Kak?” cerocos Cade seraya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status