LOGINKalla tidak percaya stres karena mencari pekerjaan bisa reda hanya dengan main bersama anak kecil di Wonderland.
Bukan hanya Kael yang bahagia bisa lari ke sana ke mari, tapi Kalla juga. Rasanya benar-benar luar biasa. Mungkin karena sejak kecil Kalla tidak pernah punya cukup waktu untuk bermain, sehingga ketika bertemu arena bermain, dia akan jadi seheboh ini.
"Kael! Di sana! Tangkap!" seru Kalla yang langsung ditanggapi Kael.
Anak itu berlari dan segera mengambil harta karun tersembunyi. Begitu berhasil, keduanya melakukan high-five.
"Kita main pasir, Kak!" ajak Kael antusias.
Namun, Kalla tidak langsung menjawab dan melirik anak itu dengan alis berkerut. Seolah tengah berpikir. Tapi sejurus kemudian dia membuka tangan sambil tersenyum lebar.
"Ayo, siapa takut!"
Kael tertawa lalu menyambut tangan Kalla. Keduanya kembali berlarian, kali ini menuju bak besar berisi pasir buatan warna-warni.
Wajah ceria mereka sangat kontras dengan wajah seorang pria yang menunggu di luar arena bermain. Siapa lagi kalau bukan Reyga.
Beberapa kali dia menengok pergelangan tangan. Sudah satu jam lebih, tapi belum ada tanda-tanda mereka akan keluar dari arena bermain.
Gelas kopinya sudah kosong, dia memutuskan mengutak-atik ponsel meskipun tidak ada hal menarik yang bisa dia lihat.
Kembali dia melihat ke arena bermain. Alisnya berkerut melihat putranya dan wanita asing itu naik banana boat besar di tengah kolam bola. Reyga menarik napas, lalu menggeleng. Tidak menyangka waktunya akan dihabiskan dengan sangat membosankan.
Dua jam lebih! Gila! Dua jam Kalla dan Kael baru keluar. Itu pun lantaran Reyga melambaikan tangan tanda menyerah.
"Kakak, lain kali kita main lagi ya?"
Alis Reyga naik sebelah mendengar pertanyaan putranya. Tidak. Tidak ada lain kali. Reyga tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Uhm, kita lihat nanti ya," sahut Kalla, mengacak gemas rambut Kael.
Reyga cuma menonton keduanya sambil bersedekap tangan. Sangat jarang Kael betah berlama-lama dengan orang asing. Apalagi baru dua kali ini mereka bertemu.
"Papa!"
Reyga tersentak saat Kael menarik ujung kemejanya. "Ya?"
"Aku lapar."
Bagus! Sungguh enak jadi anak-anak, habis main tinggal minta makan.
Reyga tersenyum. "Oke, mau makan apa, Boy?"
"Uhm, chiken katsu!" seru Kael bersemangat. "Kita ajak Kakak Cantik juga!"
Disebut namanya Kalla terperanjat. Dia mengibaskan tangan segera. "Enggak usah, Kael. Kakak harus pulang. Ini sud—"
"Kakak pasti juga lapar. Ini ucapan terima kasih papa, karena kakak udah mau nemenin aku main."
Ya?
Reyga menatap tak percaya putranya? Tidak menyangka Kael bisa mengucapkan hal seperti itu. Siapa yang mau berterima kasih?
"Iya kan, Pa?"
Ditodong anaknya sendiri, mau tak mau Reyga mengangguk. Dia memaksa melengkungkan bibir dengan alis terangkat. "Iya. Kamu bisa ikut kami makan."
"Tapi—"
Seperti tidak mau terima penolakan, Kael langsung menarik tangan Kalla. "Ayo! Aku tahu tempatnya!"
"Kael...tapi..."
Demi apa pun. Bukan begini rencana Kalla. Dia enggan berlama-lama dengan CEO bedebah itu. Tapi dia hanya bisa pasrah ketika Kael menemukan tempat menarik untuk mereka makan bersama.
Kalla hanya memesan ramen tanpa toping. Dia cukup tahu diri untuk tidak memesan makanan mahal karena ditraktir. Namun coba apa yang Kael lakukan? Dia memesan banyak snack yang katanya untuk Kalla."Itu terlalu banyak, Kael," ucap Kalla merasa tak enak. Dia melirik pria di depannya yang terlihat santai.
"Nggak apa-apa. Kan ada papa, nanti papa yang bantu kakak habisin semuanya."
Kalla hanya nyengir. Tidak ingin berdebat lagi. Atau akan ada musibah lain yang lebih besar.
"Nanny kamu libur, Kael?" tanya Kalla mengisi waktu menunggu pesanan datang.
Anak itu menggeleng. "Suster pulang kampung."
Jawaban yang cukup mengejutkan. "Kok bisa?"
"Dipecat papa."
Kalla bisa melihat Reyga melirik putranya dengan tajam dan kening berkerut.
"Dia keluar karena kamu, Kael," bantah Reyga, seakan meluruskan. "Kalau kamu bersikap baik, dia nggak akan pergi."
"Aku udah baik kok. Iya kan, Kak?"
Dimintai pendapatnya, Kalla hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Namun decakan kecil dengan segera mengundang perhatiannya.
"Baik darimana? Anak baik nggak akan suka tantrum dan kabur tanpa izin orang tua."
"Aku nggak kabur. Aku cuma main!"
"Ya, main di luar tanpa izin. Kamu tau kan aturan dasar di rumah kita?"
Bocah empat tahun itu mengerucutkan bibir. Pipinya memerah dan sangat menggemaskan. "Iya, Pa."
"Sekarang papa bingung di mana harus mencari pengasuh buat kamu. Bi Ina pasti nggak mau dititipin kamu lama-lama," ujar Reyga seperti tengah mengeluh. Tapi bocah yang diajak keluh kesah tampak tak peduli.
Saat pesanan makanan akhirnya datang, fokus mereka segera teralihkan.
"Kamu bisa makan sendiri?" tanya Kalla membantu Kael membuka sendok.
"Bisa dong, Kak. Aku kan udah besar. Udah sekolah," sahut anak itu antusias. Dia langsung meraih garpu sendok yang Kalla berikan dan langsung memamerkan kemampuannya makan sendiri.
"Wah, Kael hebat! Makannya dihabisin ya, dan hati-hati."
"Siap!"
Reyga yang duduk di seberang keduanya, mengerutkan kening melihat interaksi itu. Agak takjub karena selain Kiana, ternyata ada wanita lain yang bisa akrab dengan putranya. Ajaibnya, Kael tampak begitu patuh dan tidak ada tanda-tanda ingin membantah. Sangat beda jika sedang ditangani beberapa pengasuhnya.
"Eham!" Reyga berdeham untuk meminta perhatian. Dengan ragu mata legamnya menatap Kalla. "Kamu sudah dapat pekerjaan?"
Kalla menggulirkan pandang pada pria di depannya. Tidak mungkin pria itu bertanya soal pekerjaan pada Kael kan? Jadi pertanyaan itu pasti ditujukan untuk dirinya. Tumben.
"Belum, Pak."
Reyga mengangguk sambil mengaduk makanannya pelan. Entah bagaimana caranya sebuah ide tiba-tiba melintas di benaknya.
Dia membenarkan posisi duduk, dan memasang wajah serius. "Kalau ada pekerjaan yang tidak sesuai dengan pendidikan kamu, apa kamu tertarik?"
Sambil mengunyah makanannya, Kalla mengedik. "Saya sudah tidak peduli itu. Yang penting bisa kerja. Saya sudah cukup lama menganggur."
"Good."
Sontak mata Kalla melirik tak suka. "Apanya yang good?"
Sialan sekali. Orang lagi susah malah dibilang good.
"Maksud saya pemikiran kamu yang good."
Apa pria itu bercanda? Kalla mengangkat sebelah alis. Sepertinya ayah Kael memiliki kepribadian ganda.
"Bukannya waktu itu Anda bilang otak saya kosong?"
Diingatkan soal itu Reyga agak terkejut. Wanita itu ternyata tidak lupa.
"Ah satu lagi. Anda juga bilang saya manja. Padahal Anda belum mengenal saya."
Kalla sukses membuat Reyga tidak bisa berkata-kata.
"Itu..." Reyga menarik napas panjang. "Sori buat waktu itu."
"Lupakan. Saya juga udah lupa," ujar Kalla tak acuh lalu fokusnya berpindah pada anak kecil di sebelahnya. "Wah, makanannya hampir habis. Hebat kamu, Kael."
Reyga sukses melongo. Kalau lupa kenapa tadi diungkit? Pria itu segera mengatupkan bibir rapat-rapat. Kenapa harus wanita menyebalkan ini yang dekat dengan putranya?
Tapi Reyga benar-benar butuh bantuannya. Dia menarik napas panjang, dan berusaha menekan gengsinya. Demi keberlangsungan hidup dirinya dan Kael.
Dalam satu tarikan napas dia melempar sebuah penawaran.
"Apa kamu mau jadi nanny-nya Kael?"
“Gimana menurut Lo?” Jaya menunjukkan pekerjaannya pada Kael. Sejenak laptopnya pun berpindah ke tangan Kael. “Belum final. Jadi harus lo lihat udah sesuai belum?” Kael memperhatikan dengan seksama pekerjaan Jaya. Dia bahkan mengecek tools dan algoritma yang temannya itu pakai. Tidak berapa lama sudut bibirnya berkedut. “Kemampuan lo di JavaScript kayaknya naik pesat. Lanjutkan,” komen Kael sebelum mengembalikan laptop itu ke Jaya. Kontras saat dirinya mengomel satu jam lalu, sekarang Jaya bisa menyunggingkan senyum lebar. “Pasti dong. Kan terus dilatih. Dan proyek-proyek yang lo kasih ini bikin skill gue tiap hari nambah.” “Gue bisa ajuin lo ikut Coding Bootcamp Le Wagon kalau lo mau.” “Heh, serius?” “Ya. Om Cade biasanya ngirim salah satu pelajar terbaik yang punya potensi kayak lo.” “Jelas gue maulah. Kapan lagi gue bisa ikut berkumpul dengan para programer hebat?” Belum apa-apa Jaya sudah membayangkan keseruan itu. Pengalaman, sharing ilmu, dan mental akan terlatih d
“Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.” Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.” Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.” Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?” “Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.” Itu ide yang Rere maksud. Selain
Jika Kael mengajak Lior ke tenan sisi kiri, Rere mengajak Kaia ke tenan sisi kanan. Mereka tidak berjalan bersama. Mengenyahkan rasa malu Kael langsung menarik tangan Lior keluar dari pusat kesehatan. Tersisa Kaia yang masih tersenyum aneh pada teman abangnya itu. “Kalau Kak Re mau ajak aku ke mana?” tanya Kaia begitu kembarannya dan sang Abang melesat pergi. “Uhm…” Rere berpikir dengan gugup hingga kata bazar muncul di kepalanya. “Kita ke bazar! Iya, kita ke sana aja.” Dia menyambar tangan Kaia dan bergegas keluar juga. Namun ketika melihat Kael ternyata ada di bazar juga, Rere mengambil jalan lain. “Ki-kita ke sebelah sana aja.” “Oke.” Kaia menurut saja. Mau lihat sampai sejauh mana mereka saling menghindar. “Kakak mau es krim!” seru Rere menuding tenan penjual es krim dan gelato. Dia butuh sesuatu yang dingin, biar otaknya yang konslet bisa lebih fresh. Kaia menyentak tangan Rere. “Ayo!” Di sisi lain, Kael dan Lior sedang berada di tenan penjual takoyaki. Sepanjang
“Ini acara pekan olahraga apa lomba 17-an?” Kael menatap sarung yang diberikan panitia. Itu adalah sarung yang akan dia dan Rere gunakan sebagai perlengkapan lomba balap sarung berpasangan. “Sama aja, kan? Anggap aja kita lagi lomba lari. Lari kan masuk olahraga,” sahut Rere. Jika Kael terlihat keberatan satu sarung berdua dengannya, dia biasa saja. Hanya untuk meramaikan apa salahnya berpartisipasi?“Beda dong, Re. Kita bakal—” Kael spontan berhenti bicara saat merasa kata-kata yang akan dia keluarkan mungkin bisa terdengar aneh. “Bakal apa?” tanya Rere mengangkat alis, menatap pemuda itu yang tiba-tiba terlihat salah tingkah. Gadis itu menarik napas panjang, mendekati lelah. Dia merebut sarung dari tangan Kael. “Udah deh, tinggal lakuin aja biar cepet selesai.”Sementara panitia sudah meminta para orangtua yang ikut lomba mengenakan sarung itu secara bersama. Kael agak kesal lantaran Rere terlihat baik-baik saja sementara dirinya gusar sendirian. Harusnya tidak begini. Serius g
Kael merasa kesal pada diri sendiri karena sepanjang acara berlangsung, tatapnya tidak berhenti memantau keberadaan Rere. Mulai ketika senam bersama, alih-alih memperhatikan tim pemandu senam, dia malah mengawasi Rere. Sehingga gerakan yang dia buat asal-asalan. Tidak seperti Rere yang begitu lincah dan energik. Kaia dan Lior kebagian lari estafet bersama tiga temannya. Sementara orang tua harus menyemangati anak-anak mereka. “Kael, pake ini.” Rere membentangkan pita merah. Di kepalanya sudah terikat pita yang sama. Kael mengernyit, terlihat ogah memakainya. “Harus banget pake ini?” tanya dia tampak enggan. Rere berdecak, tidak peduli dengan keengganan Kael dia membalik tubuh laki-laki itu dan maksa memakaikan pita. Namun gadis itu agak kesulitan lantaran tubuh Kael yang terlalu tinggi. Alih-alih menutupi dahi, dia menutupi mata laki-laki itu. “Gue nggak bisa lihat ini,” protes Kael. Alih-alih menutup dahi, Rere malah menutup matanya. Gadis itu tergelak ketika melihat hasilnya
Meskipun Kael janji akan datang untuk menggantikan orang tuanya, Kaia dan Lior tetap saja memasang wajah masam tiap kali melihat anak lain digandeng mesra oleh kedua orang tua mereka. Rasa irinya melambung sebagai seorang anak. Tidak menangis saja sudah untung. “Mama sama Papa kalian nggak ke sini?” Dua bocah itu menoleh ketika Tasya—salah satu teman sekelasnya—menghampiri. Lanjut anak lain, dua sampai tiga yang datang. Nadia dan Sasha.Si kembar menggeleng lemah. “Abang yang datang,” ujar Lior. Suasana sekolah sudah mulai ramai. Tenan, tenan bazar juga sudah full terisi. Dekorasi meriah di area lapangan juga sudah maksimal. Dan para wali murid sudah mulai berdatangan. Hanya Kael, yang belum tampak batang hidungnya. “Abang kalian udah gede ya? Kok bisa datang? Soalnya kalau Abang aku mah masih SMP.” Tasya terkikik sambil menutup mulutnya. Kaia menoleh dan mengangguk. “Abang udah kelas sebelas.”Dan tiga bocah yang mengelilingi si kembar langsung berwah-wah ria. “Terus mana? Kok
Ini udah kembali ke setting setelah syukuran ya============%Hening. Sepanjang perjalanan pulang suasana terasa mencekam. Sejak keluar dari rumah besar keluarga Abimanyu tak sepatah katapun keluar. Baik dari Kalla ataupun Reyga. Kalla tahu, lelaki itu sedang marah padanya, perkara pernikahan yang
Napas lega berembus pelan ketika Kalla berhasil keluar dari toilet dengan perut kosong. Sejak dirinya belum turun dari mobil, perutnya mendadak mules. Efek rasa gugup campur takut membuat bakteri di dalam usus bergejolak. Dia membuka pintu sambil mengusap perut. Kakinya melangkah ringan keluar, s
Kael yang duduk di atas kasur dengan wajah mengantuk, melihat papanya keluar dari kamar mandi. Matanya mengerjap. Kepalanya celingukan. “Kakak Cantik mana, Pa?” tanya anak itu yang tidak menemukan keberadaan Kael. Biasanya jika dirinya bangun tidur, Kalla akan selalu menyambutnya. “Kakak kamu lagi
Gaji kerja sebagai nanny memang besar. Tapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar. Seperti sekarang, Kalla mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gampang terperdaya oleh makhluk duda satu anak ini. Dia yakin kali ini bukan hanya terbawa suasana. Reyga dengan jelas menciumnya, menarik wanita itu dal







