LOGINUntuk beberapa saat Kalla terbengong mendengar pertanyaan pria sombong di depannya. Namun tiba-tiba hatinya merasa tersentil dan sedikit tersinggung.
Oke, fine! Kalla bilang dirinya tidak mempersoalkan pekerjaan apa pun, meski itu bukan dari jenis bidang yang dia pelajari di perguruan tinggi. Tapi pria itu agak songong tidak sih?
Apa pria itu mau bilang Kalla lebih pantas jadi pengasuh daripada sekretaris, begitu? Sumpah, Kalla tidak ekspek bakal dapat tawaran jadi pengasuh.
Dia meletakkan sumpit ke dalam mangkok. Lalu menatap pria tampan itu lurus-lurus.
"Saya memang tidak keberatan mendapat pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang pendidikan saya. Tapi nggak jadi nanny juga kali, Pak."
"Kenapa tidak? Apa salahnya?
Kalla membuang napas, hingga poninya ikut berkibar tertiup napasnya. "Saya yakin Anda sudah baca CV saya."
"Ya."
"Meskipun menurut Anda saya tidak layak jadi sekretaris, tapi melihat CV saya, Anda serius menawari saya jadi nanny? Yang benar saja!"
Ingin rasanya Kalla membalik meja di depannya. Ubun-ubunnya mulai panas. Tapi dia cukup sadar sedang berada di tempat umum. Harus bisa jaga image dan emosi. Terlebih ada anak kecil di sebelahnya.
"10 juta!" ucap Reyga tiba-tiba.
"Apanya yang 10 juta?!"
"Salary. Saya tawarkan 10 juta per bulan salary menjadi nanny Kael."
Bola mata Kalla melebar tanpa bisa dicegah. "Apa?"
"Itu penawaran awal. Seiring berjalan waktu bisa naik lagi. Tergantung pola asuh kamu dan juga kecocokan Kael dengan kamu."
Setelah melebar, mata Kalla mengerjap beberapa kali. Kepalanya langsung mengingat Moya yang di bulan magang pertamanya cuma dapat gaji 3 juta. Dibanding tawaran si CEO songong ini, jelas gaji Moya kalah telak.
Apa pria itu bercanda?
Diam-diam Kalla melirik Kael yang sedang asyik menikmati ebi furai sampai tepung rotinya berserakan di meja. Bocah itu ternyata sangat bernilai di mata ayahnya. Bahkan Reyga rela merogoh kantong dalam -dalam untuk gaji pengasuh.
Jika benar gajinya sebesar itu di bulan pertama, Kalla bisa foya-foya. Hiyah! Astaghfirullah. Eling, Kal!
Kepala Kalla menggeleng cepat, mengenyahkan pikiran nakalnya. Dia berdeham pelan, berusaha mengendalikan diri. Gaji gede pasti berbanding lurus dengan resikonya kan? Kalla tidak mau cepat tergiur.
"Saya tidak punya pengalaman mengasuh anak."
Jual mahal sedikit nggak apa-apa kan?
"Bukankah Anda lebih suka calon karyawan yang punya pengalaman? Saya masih single. Jangankan mengurus anak, melahirkan anak saja belum pernah. Sangat sangat non-experience."
Mendengar itu Reyga tersenyum aneh. "Saya tahu. Kelihatan kok dari muka kamu."
Sebelah alis Kalla kontan naik. Apa maksudnya nih? Memang di mukanya ada apa?
"Saya memberi kamu penawaran ini karena melihat interaksi kamu dan Kael. Sepertinya kamu bisa mengendalikan anak itu."
Lagi-lagi Kalla melirik Kael. Apa sesusah itu mengendalikan Kael? Di mata Kalla, Kael itu anak yang manis dan seru. Sepertinya yang punya masalah bukan anaknya, tapi bapaknya.
Bisa saja Reyga tipe bapak yang temperamental. Atau bapak yang lebih mementingkan pekerjaan dari pada anaknya. Ya. Itu lebih masuk akal karena lelakiku itu CEO perusahaan besar.
Tiba-tiba Reyga mendorong sebuah kartu berbentuk persegi ke dekat Kalla.
"Apa ini?"
"Kartu nama saya. Saya tidak akan memaksa, tapi kalau kamu berubah pikiran, kamu bisa menghubungi saya. Tapi saya tidak bisa menunggu lama. Saya beri kamu waktu tiga hari untuk berpikir."
Benar-benar pintar bernegosiasi. Pura-pura memberi waktu targetnya untuk berpikir. Pria itu pasti sadar dengan tampang Kalla yang terlihat ragu, tapi juga mau.
Pelan Kalla mengambil kartu itu dan membacanya sekilas. Reyga Abimanyu, B.Sc., M.Sc., jabatan CEO of Ganesha Group. Benar-benar manusia bergengsi.
Meski cuma kartu nama, kartu ini cukup sakti. Kalau sampai jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab bisa bahaya. Cepat-cepat Kalla menyimpannya di saku kemeja.
***
Moya menatap serius wanita berwajah bingung di hadapannya. Setelah mendengar cerita singkat Kalla, dia mendukung seribu persen sahabatnya itu untuk menerima tawaran itu."Lo kan udah capek nganggur. Butuh duit juga biar bisa bantu ibu. Udah lelah juga kan jadi beban keluarga?"
Kalla berdecak sebal. "Mesti disebut banget ya beban keluarganya?"
Moya terkekeh. "Sori, sori. Lagian gue gemes deh, tawaran bagus kok masih bingung."
"Moyes, gue dilamar jadi nanny, pengasuh, baby sitter. Yang benar saja!"
"Jadi maksud Lo jadi pelayan restoran dengan gaji UMR lebih baik?" Moya bersedekap tangan, menatap wajah cantik Kalla yang lama-lama membuatnya sebal.
"Ya ... eng-nggak sih."
"Ya udah! Kesempatan di depan mata sikat! Lagi pula Lo bilang anak itu manis kan? Sama Lo nurut. Makin gampang. Yakin deh kerjaan Lo nggak berat, nggak pusing kek gue. Coba! Kerja nyantai di mana yang gajinya brutal begitu? Nggak ada, Kal!"
Semua yang Moya katakan membuat Kalla makin berpikir keras.
"Nggak usah peduliin gengsi. Lo butuh duit. Ntar kalo anak itu udah gede baru deh lo mikirin kerjaan yang sesuai sama gelar lo."
Sebenarnya bukan hanya kerja yang tidak sesuai, tapi juga karena Kalla tidak ingin terlibat lagi dengan bapaknya Kael yang sombong itu. Ya meskipun pria itu sudah minta maaf, sikap menyebalkannya waktu interview masih belum bisa Kalla lupa.
"Apa sih yang Lo pikirin lagi? Ingat, Kal! Kesempatan nggak datang dua kali!" pungkas Moya, membuat Kalla makin pusing.
Tinggal besok. Sudah habis waktu yang Reyga berikan padanya. Kalla harus memutuskan.
Seperginya Moya, Kalla kembali melamun di depan jendela. Sebagian hatinya ingin menerima tawaran itu, tapi sebagian lain menyuruhnya menolak. Lama-lama Kalla frustrasi sendiri.
Tanpa sadar dia mengacak-acak rambut sambil teriak. Hanya soal terima atau tidak, tapi rasanya seperti menentukan hidup dan mati.
"Lo oke?"
Kalla terlonjak dan hampir terjengkang saat tiba-tiba seseorang muncul di depannya. Tepatnya di luar jendela kamarnya. Dia refleks mengelus dada.
"Astaga! Kira-kira dong kalau ngagetin orang!" sentaknya muncrat. Yang malah membuat orang di depannya tertawa.
"Sori." Orang itu tersenyum setelah berhenti tertawa.
Dia tetangga Kalla. Laki-laki yang kata Moya seperti oppa-oppa. Cade. Laki-laki urban yang entah kenapa malah pilih jadi penghuni rumah kampung, daripada gedung vertikal di pusat kota.
"Bentar lagi maghrib, tapi lo malah melamun. Emang nggak takut ada demit lewat terus ngerasuk?"
"Huss! Sembarangan kalau ngomong." Kalla lirak-lirik dengan pandangan ngeri. Mana ada demit yang mau merasuki jiwanya yang lagi galau.
"Ada apa? Ada masalah besar sampe rambut lo yang nggak salah diacak-acak begitu?"
"Gue lagi bingung."
Lelaki di depan Kalla tersenyum kecil. Sudah bisa ditebak. Dua tahun tinggal di kampung dan punya tetangga yang kebetulan kamarnya bersebelahan dengan rumahnya, membuat Cade cukup tahu tentang Kalla.
"Masih soal pekerjaan?" tanya Cade. Dia tahu tetangganya itu tengah gencar mencari lowongan kerja. Sebenarnya dia bisa membantu, tapi saat tahu Kalla bukan tipe yang suka pake orang dalam, Cade membuang jauh ide itu. Dia hanya membantu mencarikan info lowongan kerja beberapa kali.
Kalla mengangguk lemah. "Gue dapat tawaran kerja yang gajinya menggiurkan buat orang yang baru pertama kali kerja."
"Wah, bagus dong!" Cade sumringah. Senyumnya terkembang lebar. "Kerja apa?"
Namun senyum lebar itu perlahan surut saat Kalla menjawab.
"Jadi pengasuh balita, alias baby sitter."
“Beliin kita ini, Bang!” Kaia menunjuk gelang manik-manik dengan warna dominan biru dan pink yang tergantung di etalase. Saat ini mereka berada di tenan aksesoris. Banyak pernak-pernik yang disukai perempuan. Bukan tempat yang Kael sukai, tapi karena membawa tiga perempuan akhirnya dia pasrah saja ketika mereka menariknya ke tenan itu. “Ya udah ambil aja.”Kaia dan Lior sudah berteriak senang ketika penjaga tenan dengan sopan memberitahu bahwa gelang-gelang itu sudah ada pemiliknya. “Di etalase ini semua sudah ada pemiliknya. Kalau yang di rak itu masih free.”Kedua bocah itu terlihat kecewa. Tidak ada yang menarik hatinya di rak yang penjaga itu tunjuk. “Nggak ada model yang sama seperti ini lagi, Kak?” tanya Kael. “Belum ready lagi, Kak. Tapi kalau bahan-bahannya ada.”Mendengar itu sebuah ide terlintas di benak Rere. Gadis itu maju mendekat. “Bahannya semua lengkap kan, Kak?”“Lengkap. Kalau kakaknya mau, bisa meronce di sini juga.”Itu ide yang Rere maksud. Selain bisa menda
Jika Kael mengajak Lior ke tenan sisi kiri, Rere mengajak Kaia ke tenan sisi kanan. Mereka tidak berjalan bersama. Mengenyahkan rasa malu Kael langsung menarik tangan Lior keluar dari pusat kesehatan. Tersisa Kaia yang masih tersenyum aneh pada teman abangnya itu. “Kalau Kak Re mau ajak aku ke mana?” tanya Kaia begitu kembarannya dan sang Abang melesat pergi. “Uhm…” Rere berpikir dengan gugup hingga kata bazar muncul di kepalanya. “Kita ke bazar! Iya, kita ke sana aja.” Dia menyambar tangan Kaia dan bergegas keluar juga. Namun ketika melihat Kael ternyata ada di bazar juga, Rere mengambil jalan lain. “Ki-kita ke sebelah sana aja.” “Oke.” Kaia menurut saja. Mau lihat sampai sejauh mana mereka saling menghindar. “Kakak mau es krim!” seru Rere menuding tenan penjual es krim dan gelato. Dia butuh sesuatu yang dingin, biar otaknya yang konslet bisa lebih fresh. Kaia menyentak tangan Rere. “Ayo!” Di sisi lain, Kael dan Lior sedang berada di tenan penjual takoyaki. Sepanjang
“Ini acara pekan olahraga apa lomba 17-an?” Kael menatap sarung yang diberikan panitia. Itu adalah sarung yang akan dia dan Rere gunakan sebagai perlengkapan lomba balap sarung berpasangan. “Sama aja, kan? Anggap aja kita lagi lomba lari. Lari kan masuk olahraga,” sahut Rere. Jika Kael terlihat keberatan satu sarung berdua dengannya, dia biasa saja. Hanya untuk meramaikan apa salahnya berpartisipasi?“Beda dong, Re. Kita bakal—” Kael spontan berhenti bicara saat merasa kata-kata yang akan dia keluarkan mungkin bisa terdengar aneh. “Bakal apa?” tanya Rere mengangkat alis, menatap pemuda itu yang tiba-tiba terlihat salah tingkah. Gadis itu menarik napas panjang, mendekati lelah. Dia merebut sarung dari tangan Kael. “Udah deh, tinggal lakuin aja biar cepet selesai.”Sementara panitia sudah meminta para orangtua yang ikut lomba mengenakan sarung itu secara bersama. Kael agak kesal lantaran Rere terlihat baik-baik saja sementara dirinya gusar sendirian. Harusnya tidak begini. Serius g
Kael merasa kesal pada diri sendiri karena sepanjang acara berlangsung, tatapnya tidak berhenti memantau keberadaan Rere. Mulai ketika senam bersama, alih-alih memperhatikan tim pemandu senam, dia malah mengawasi Rere. Sehingga gerakan yang dia buat asal-asalan. Tidak seperti Rere yang begitu lincah dan energik. Kaia dan Lior kebagian lari estafet bersama tiga temannya. Sementara orang tua harus menyemangati anak-anak mereka. “Kael, pake ini.” Rere membentangkan pita merah. Di kepalanya sudah terikat pita yang sama. Kael mengernyit, terlihat ogah memakainya. “Harus banget pake ini?” tanya dia tampak enggan. Rere berdecak, tidak peduli dengan keengganan Kael dia membalik tubuh laki-laki itu dan maksa memakaikan pita. Namun gadis itu agak kesulitan lantaran tubuh Kael yang terlalu tinggi. Alih-alih menutupi dahi, dia menutupi mata laki-laki itu. “Gue nggak bisa lihat ini,” protes Kael. Alih-alih menutup dahi, Rere malah menutup matanya. Gadis itu tergelak ketika melihat hasilnya
Meskipun Kael janji akan datang untuk menggantikan orang tuanya, Kaia dan Lior tetap saja memasang wajah masam tiap kali melihat anak lain digandeng mesra oleh kedua orang tua mereka. Rasa irinya melambung sebagai seorang anak. Tidak menangis saja sudah untung. “Mama sama Papa kalian nggak ke sini?” Dua bocah itu menoleh ketika Tasya—salah satu teman sekelasnya—menghampiri. Lanjut anak lain, dua sampai tiga yang datang. Nadia dan Sasha.Si kembar menggeleng lemah. “Abang yang datang,” ujar Lior. Suasana sekolah sudah mulai ramai. Tenan, tenan bazar juga sudah full terisi. Dekorasi meriah di area lapangan juga sudah maksimal. Dan para wali murid sudah mulai berdatangan. Hanya Kael, yang belum tampak batang hidungnya. “Abang kalian udah gede ya? Kok bisa datang? Soalnya kalau Abang aku mah masih SMP.” Tasya terkikik sambil menutup mulutnya. Kaia menoleh dan mengangguk. “Abang udah kelas sebelas.”Dan tiga bocah yang mengelilingi si kembar langsung berwah-wah ria. “Terus mana? Kok
“Maafin mama sama papa ya, Sayang.” Lior dan Kaia bisa melihat jelas raut menyesal mama di layar laptop. Di sebelah sang mama, tampak papanya mengusap lengan wanita itu sekilas sebelum balik sibuk lagi dengan gadget. Dua anak itu sebenarnya menginginkan kedua orang tuanya hadir di acara pekan olahraga. Tapi mereka teringat lagi ucapan abangnya. “Jangan bikin mama merasa bersalah karena nggak bisa hadir di pekan olahraga. Nanti mama berantem sama papa, terus pekerjaan papa di sana kacau. Makin lama nanti mereka di sana.” Itu yang Kael ucapkan sebelum mereka melakukan panggilan video. Dan belum apa-apa Kalla beneran terlihat sedih padahal si kembar cuma memberi tahu acara tersebut, tidak meminta mama harus hadir. Bahkan sekarang mereka melihat mamanya itu menyeka sudut matanya yang basah. Hadeehhh. “Ih, mama lebay deh,” celetuk Kaia dengan wajah yang tetap menampilkan senyum ceria. Padahal di bawah meja, tangannya sedang berpegangan erat dengan tangan Lior. “Iya ih, mama apa-a
Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re
Mengenalkan diri sebagai Wima Sagara pria itu terlihat ramah dan baik. Tidak seperti cerita Reyga yang katanya orang itu menjengkelkan dan sulit dihadapi. Pria itu juga mengucapkan terima kasih pada Kalla atas pertolongan semalam. Untuk hal ini Kalla mengerjap bingung. Pertolongan apa? Tapi beber
Lembut dan kenyal. Ini bukan kali pertama Kalla merasakan ciuman. Hanya sudah lama tidak merasakan lagi setelah tiga tahun menjomblo. Tapi tetap saja bikin dadanya ingin meledak. Bibirnya dan bibir Reyga saling menempel, bahkan lelaki itu melumatnya di saat dia masih membeku saking syoknya.
Gaji kerja sebagai nanny memang besar. Tapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar. Seperti sekarang, Kalla mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gampang terperdaya oleh makhluk duda satu anak ini. Dia yakin kali ini bukan hanya terbawa suasana. Reyga dengan jelas menciumnya, menarik wanita itu dal







