Mag-log inAku hari ini mudik, Gaes. Jadi bakal telat update
Di atas tempat tidur, ketika dia dan suaminya berbaring, Kalla mengacungkan tangannya yang tersemat cincin red diamond. Dilihat dari posisi mana pun cahaya yang berkilauan itu tetap memantul sempurna. “Aku masih nggak percaya mama kasih ini ke aku, Rey,” ucap wanita itu sambil tak henti memperhatikan batu mulia tersebut. “Apa itu artinya mama benar-benar sudah menerimaku?”“Mungkin.” Kalla menjauh dari pelukan sang suami, dan mencari wajah gantengnya. “Kok mungkin?” “Ya, kita nggak tau isi hati mama kan? Harapanku mama benar-benar sadar, dan mau sayang ke kamu sama seperti dia sayang ke menantu lainnya. Nggak beda-bedain lagi, dan nggak banding-bandingin lagi.”Kalla mengangguk. Reyga benar, susah mengukur kedalaman hati seseorang. Mata Kalla refleks turun ke bawah ketika tangan Reyga menyelinap ke balik daster midi yang dia pakai. “Aku emang nggak tau isi hati mama, tapi aku tau banget isi hati kamu,” ucap wanita itu dengan nada sinis. Membuat Reyga sekonyong-konyong tertawa. “N
Kalla duduk seraya mengulum senyum melihat Reyga yang juga ikut duduk di seberangnya. Lelaki itu memasang wajah cemberut gara-gara sengat menyengat barusan di taman. Namun tak berapa lama senyum Kalla memudar menjadi pelototan kecil ketika di bawah kursi tangan Reyga mengacungkan jari tengah padanya. Bisa-bisanya di dekat Papa dan Kael, lelaki itu berperilaku tidak sopan. Melihat wajah Kalla memerah, Reyga tersenyum puas. Ujung lidahnya terjulur keluar. Berniat mengejek. Tapi senyum puas itu tidak bertahan lama ketika suara mama terdengar memanggil istrinya. “Ya, Ma?” sahut Kalla seraya menoleh. Diyani berjalan mendekat sembari membawa sesuatu di tangannya. Dia lantas duduk di sebelah menantunya sambil meletakkan kotak persegi kayu dengan ukiran klasik yang menyita perhatian Kalla. Kotak itu mirip kotak perhiasan yang orang-orang kerajaan punya. Ya semacam itu, Kalla tidak yakin. Ada gembok kecil yang berfungsi sebagai kunci. “Mama punya sesuatu,” kata Diyani. Reyga dan Reyhan m
Rasa malu menggerogoti hati Diyani saat melihat menantunya masih mau datang menemuinya. Ucapan Reyhan barusan seperti menampar telak dirinya. Pria itu benar, menantu mana yang tidak malas bertemu mertua menyebalkan seperti dia? Gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa Kalla sebenarnya menantu yang baik. Dan ketika membuat wanita itu kehilangan janin yang dikandung, dia masih saja terlalu angkuh untuk mengakui kesalahan. Bahkan masih mampu menuduh menantunya yang menyebabkan Reyga menjauh, tanpa berkaca lebih dulu. Seburuk itukah dirinya? “Kalla, maafin mama ya, Nak.” Bibir Diyani bergetar saat mengatakan itu. Dia tidak punya nyali menatap wajah cantik menantu yang selalu dia sia-siakan itu. “Sa-saya udah maafin mama,” balas Kalla tersenyum tipis. Kalla sama sekali tidak ekspek akan menerima permintaan maaf mama. Dari rumah dia sudah menyiapkan mental barangkali mama akan menghujatnya karena lama tidak mengunjungi rumah mertua. Saat sang mama mertua memeluknya, wajah Kalla
Meja makan tampak penuh dengan berbagai macam menu makanan. Diyani dan para asistennya sudah sibuk sejak sore menyiapkan menu untuk makan malam bersama yang dilakukan rutin tiap Sabtu malam. Semua menu kesukaan putranya ada, bahkan Diyani menyiapkan menu anak-anak juga untuk para cucu-cucunya. Hanya saja sudah lewat pukul enam sore belum ada satu pun dari keluarga putranya yang datang. Biasanya Cade yang paling awal datang pun belum terlihat batang hidungnya. “Mungkin kena macet, Mas,” ujar Reyhan santai ketika istrinya mengeluhkan putra-putranya yang belum datang. “Ini kan weekend mana mungkin macet.” Diyani duduk gelisah, sesekali menengok jam. “Weekend kan tetep masih ada orang yang pergi-pergi, Ma. Tunggu aja. Sebentar lagi juga datang.” Diyani yang tidak sabar mulai menelepon satu per satu putranya, tapi tidak ada yang mau mengangkat. Bahkan ketika melakukan panggilan grup semua mengabaikan. Chat yang sudah dia kirim pun tidak ada balasan. Wanita yang sudah berdandan
Kalla duduk terhenyak di kursi saat luxury MPV yang membawa sang mama mertua pergi meninggalkan pelataran rumahnya. Denyut nyeri di dadanya masih belum hilang dan malah makin menjadi. Kedatangan Diyani barusan makin menjelaskan bahwa dirinya memang tidak pernah diinginkan. Kalla menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri.Dia merogoh tas, meraih ponsel. Dengan tangan gemetar wanita itu mengetik pesan untuk suaminya. Dan sesaat setelah pesan itu terkirim panggilan dari Reyga masuk."Kamu nggak apa-apa?" tanya Reyga di ujung sana. Seolah tahu kedatangan mamanya bisa mengguncang sang istri."Aku nggak apa-apa." "Mama datang mau minta maaf atau apa?"Kalla tidak menjawab. Tadi di pesan dia cuma menulis dan memberitahu bahwa mama datang. Tidak memberitahu apa yang mama lakukan. "Sayang, kok diam? Mama mengatakan sesuatu?" tanya Reyga lagi. Mungkin di sana lelaki itu juga merasakan ketidak-beresan yang terjadi. "Mama nyakitin kamu lagi?" Menghela napas, Kalla pun mencoba jujur. Bukan
Jam makan siang lebih sedikit, jadwal mengawasi ujian berakhir. Kalla berjalan di koridor gedung sambil sesekali membalas sapaan mahasiswa yang berpapasan dengannya. Flat shoes yang wanita itu pakai mengetuk lantai dengan mantap meskipun langkahnya tidak tergesa. Dia baru saja melewati selasar kampus ketika seorang wanita cantik tampak tengah memperhatikannya dari kejauhan. Ketika tatapannya bersirobok dengan wanita itu, dia memperlambat gerakan kakinya. “Kenapa dia di sini?” gumamnya mengerutkan dahi, tanpa menghentikan langkah. Mungkin wanita itu di sini karena sedang ada urusan lain. Dan saat benar-benar harus berpapasan dengan wanita yang mirip mantan istri Reyga itu, Kalla melewatinya begitu saja. Iya, wanita itu Ninda. Wanita yang membuat kehebohan di keluarga kecilnya. “Kalla….” Kalla menggulir pandangan saat namanya disebut. Ayunan kakinya melambat, memastikan dia tidak salah dengar. “Kamu Kalla kan? Istri Reyga?” Ternyata benar wanita itu memanggil. Kalla menghel
Kael yang duduk di atas kasur dengan wajah mengantuk, melihat papanya keluar dari kamar mandi. Matanya mengerjap. Kepalanya celingukan. “Kakak Cantik mana, Pa?” tanya anak itu yang tidak menemukan keberadaan Kael. Biasanya jika dirinya bangun tidur, Kalla akan selalu menyambutnya. “Kakak kamu lagi
Gaji kerja sebagai nanny memang besar. Tapi konsekuensinya ternyata jauh lebih besar. Seperti sekarang, Kalla mengumpat dalam hati saat lagi-lagi gampang terperdaya oleh makhluk duda satu anak ini. Dia yakin kali ini bukan hanya terbawa suasana. Reyga dengan jelas menciumnya, menarik wanita itu dal
Entah sudah berapa jam Kalla tertidur, yang jelas ketika bangun hanya ada Kael. Itu pun anak itu tengah terlelap. Kalla menyeret langkah ke dapur ketika tenggorokannya terasa kering. Lalu ketika dia berhasil mengosongkan isi gelas, perhatiannya teralihkan. Dia mendengar kecipak air di area kolam re
Mengenalkan diri sebagai Wima Sagara pria itu terlihat ramah dan baik. Tidak seperti cerita Reyga yang katanya orang itu menjengkelkan dan sulit dihadapi. Pria itu juga mengucapkan terima kasih pada Kalla atas pertolongan semalam. Untuk hal ini Kalla mengerjap bingung. Pertolongan apa? Tapi beber







