Masuk“Mana cowok yang namanya Kael? Gue harus ngomong sama dia.”Rere mengerutkan kening. Tapi kemudian menghela napas. Gini nih jadinya. Dari awal dia sudah menyarankan agar Kael tidak menampung Vianna. Repot urusannya. “Siapa yang nyari gue?”Bola mata Rere bergerak saat mendengar suara itu. Kael muncul dari arah pagar pintu gerbang bersama dengan Jaya. Dua lelaki itu membawa kelapa dan—eh kelapa? Rere mengerjap. Tapi benar Kael dan Jaya membawa kelapa. Kelapa degan. Lelaki yang mengaku kakak sepupu Vianna itu menoleh. Mata elangnya menyipit. Memperhatikan sosok Kael yang tengah berjalan mendekat, seperti sedang menilai. “Ada apa ini?” tanya Jaya melihat semua ngumpul di halaman. “Lo yang namanya Kael?” tanya sepupu Vianna agak nyolot. Jaya yang gampang terpancing, langsung melotot. “Iya, nape lo?” Dasar kompor bleduk. Dua-duanya malah kepancing. Sepupu Vianna malah hendak menerjang Jaya. Tapi tidak berhasil, karena dari belakang Rere menarik kerah bajunya. “Lo apaan sih? Ini uru
Rere bukannya tidak sadar dengan langkah kaki mendekat. Tapi dia tidak peduli. Lagi pula saat ini dirinya sedang memakai head phone. Kalau bukan si kembar yang mau iseng membuatnya kaget, paling juga Kael yang akan mengambil minuman dari kulkas. Namun selama beberapa saat tidak ada suara. Suasana tampak hening kembali. Gadis itu mengedikkan bahu, lalu lanjut mencuci jagung yang nanti bakal dia pipil. “Kamu setiap hari kesini terus?”Baru saja Rere meniriskan jagung cuciannya, dia mendengar suara lemah lembut itu. Spontan gadis itu berbalik dan menemukan Vianna sudah duduk di atas stool. “Oh, sori, gimana?” tanya Rere seraya menarik turun head phone. “Kamu … kamu tiap hari ke rumah ini terus?” Vianna mengulang pertanyaan. Jujur sejak pertama melihat gadis bernama Rere di rumah ini, dia tak suka. Tak suka ada gadis lain yang ternyata juga teman Kael. Selama ini hanya dirinya yang sering main ke rumah ini. Kehadiran Rere yang tiba-tiba muncul sedikit membuatnya terganggu. Apalagi sek
Dengan dua siku Mella menahan tubuhnya yang didorong setengah merebah ke belakang. Suara erangannya menggema, memenuhi ruang pribadi itu akibat ulah lelaki yang menenggelamkan kepala di antara dua pahanya. Cade selalu membuat Mella tidak berdaya dengan tingkahnya yang mengejutkan. Pemaksa dan tidak sabaran. Seperti sekarang. Bibir dan lidah lelaki itu menggasak area bawah sementara dua tangannya intens memainkan puncak dadanya. Mella tidak bisa menahan lagi ketika sesuatu di bawah perutnya kian bergejolak. “Cade…,” desahnya dengan kepala yang hampir melayang. Satu tangannya terulur, menekan rambut tebal Cade. “Stop, a-aku nggak kuat.” Namun alih-alih berhenti, Cade malah memberi ekstra stimulasi yang membuat tubuh Mella mengejang seketika. Wanita itu tidak bisa menahan diri lagi, dia menggeram, kembali menyerukan nama pria tangguh itu sebelum gelombang kepuasan itu meledak, meluluh-lantakan pertahanannya. Tubuh Mella ambruk di atas meja. Tidak peduli lagi apa yang Cade lakuka
Tidak seperti sebelumnya, yang semangat tiap pulang sekolah, sekarang ini rasanya Rere malas sekali ke rumah Kael. Alasannya tentu saja karena ada Vianna. Entah sampai kapan gadis itu akan menginap di sana. Rere menghentikan sepeda tepat di sebuah bakery yang bangunannya lumayan besar dan memiliki ciri khas ukiran Jawa pada setiap sudut terasnya. Hampir tiap lewat jalan ini, dia akan berhenti dan memperhatikan toko kue itu. Kadang sampai masuk ke dalamnya meskipun tidak untuk membeli apapun. Hanya melihat-lihat setiap sudut bagiannya saja. Harga roti dan kue di sana tidak sesuai dengan isi kantong Rere. Terlalu mahal untuk dirinya meski itu hanya sepotong. Seperti sekarang, gadis itu memarkirkan sepedanya di area parkir toko sebelum menaiki tangga landai menuju pintu bakeryDi depan etalase yang menampilkan menu burnt cheesecake Rere berhenti. Dia menelan ludah melihat begitu menggairahkannya kue itu. Sayang harganya lumayan mahal. Dia bisa membuat sendiri satu loyang penuh dengan j
Jaya membuang napas sebelum naik ke jok belakang motor Kael. Akhirnya dia bisa terbebas dari situasi menegangkan yang terjadi pagi ini. Untuk orang yang gemar bicara seperti dirinya terjebak di tengah keheningan pelaku cinta segitiga itu sangat tidak menyenangkan. Bicara sedikit salah, bahkan bernapas pun rasanya juga salah. Untung ada dua bocil kembar. Kehadiran mereka cukup memecah suasana menegangkan itu. Jaya tidak harus terus-terusan mati gaya selama kegiatan sarapan berlangsung. Jaya bergidik sendiri kalau ingat. Yang paling menyeramkan adalah ekspresi Vianna. Dia sama sekali tidak mengeluarkan suara. Wajahnya begitu datar, tapi juga masam di saat yang bersamaan. Jaya sampai harus menendang kaki Kael di bawah meja. Namun sahabatnya itu cuma mengangkat alis tidak mengerti. Dasar nggak peka. “Aneh, kok semua pada diem?” celetuk Lior. Bocah itu masih terlalu kecil untuk memahami situasi. Kaia bahkan sampai mengerutkan kening dan memandang satu per satu wajah-wajah para kakak
Rere melambaikan tangan pada seniornya yang sudah dijemput seseorang. Begitu mereka menjauh, kakinya melangkah ke bagian depan kafe yang masih ramai kendaraan bermotor. Dia berjalan menunduk sambil mengutak-atik ponsel hendak memesan ojek online. Dia baru akan menekan tombol pesan ketika suara sepeda motor terdengar di dekatnya. Gadis itu menoleh, dan menemukan sepeda motor yang tak asing baginya lagi. Spontan dia tersenyum lantaran tahu itu motor milik Kael.Pengendara motor tersebut membuka kaca helm. “Ayo, naik. Gue anter balik.” Tunggu! Senyum Rere raib, dan matanya menyipit. Dia mendekat. Memelotot pada sing pengendara motor, memperhatikan bentuk matanya. “Apaan sih Lo.” Spontan Rere menggeram. Motor, helm, dan jaket memang punya Kael. Namun pengendaranya bukan lelaki itu. “Nggak mau. Gue bisa balik sendiri,” ujar Rere judes. “Dih. Udah jauh-jauh gue jemput Lo malah pengin balik sendiri.” “Males gue balik sama Lo.”“Emang Lo ngarep balik sama siapa? Kael? Dia sibuk.”Rere
“Kamu masih lama di sana?” “Uhm, Kak. Boleh saya izin satu hari ini? Panas Kael belum turun, mungkin efek lukanya juga.” “Oke. Kamu bisa kabari saya kalau mau pulang.” “Iya. Sekali lagi makasih.” Kalla menutup panggilan dari Wima. Dia menyimpan ponsel sebelum masuk ke kamar Kael. Anak itu se
Ragu menyerbu ketika Wima menawarinya pulang. Kalla sadar wajahnya saat ini pasti kacau. Ibu akan bertanya ini itu kalau dia pulang dalam keadaan muka lecek. “Nggak mau pulang? Mau ke suatu tempat?” tanya Wima saat melihat keraguan di wajah wanita itu. Hidung Kalla masih agak memerah meskipun dia
Tepat ketika Kael melambaikan tangan dan pintu lift akhirnya tertutup, Reyga langsung menyambar pinggang Kalla. Dia memepet wanita itu ke dinding dan mengurungnya. Gimana Kalla nggak panik? Ini masih di luar unit meskipun mustahil orang lain bisa muncul di sini tanpa akses. “Kamu apa-apaan sih?”
“Udah nemu pengganti lo?”Itulah yang sedang Kalla pikirkan. Dua kali dirinya dan Reyga membawa Kael ke penyalur. Berharap anak itu bisa menemukan seseorang yang cocok. Namun hasilnya nihil. Anak itu malah minta papanya buat mindahin sekolah ke Jepang. Gimana Kalla nggak tepok jidat?Kalla menggel







