Home / Urban / Hestia / Chapter 104 - What Do You Call Home?

Share

Chapter 104 - What Do You Call Home?

Author: Dyara
last update publish date: 2026-06-23 05:29:04

Chapter 104 — What Do You Call Home?

Sabtu pagi itu, Talia dan Patra berangkat lebih awal dibanding biasanya. Matahari bahkan belum terlalu tinggi ketika mereka sudah duduk berdampingan di atas motor, membawa dua botol minum dan map berisi catatan rumah-rumah kontrakan yang ingin mereka lihat.

Sebelum keluar rumah, Patra sempat memotret hampir seluruh sudut hunian vertikal milik Talia. Ia juga membuka folder lama berisi foto-foto apartemen yang sudah lama ia tinggalkan dan menyusun keduanya d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hestia   Chapter 115 - New Treatment, More Confessions

    Laptop Patra akhirnya tertutup tepat ketika matahari mulai turun di balik deretan ruko seberang Salon Hestia. Sejak siang ia dan Odi menyelesaikan revisi naskah terakhir untuk dua klien baru yang sama-sama akan memasuki tahap penyusunan proposal penerbitan. Satu proyek merupakan buku dongeng bergambar untuk komunitas belajar anak-anak di pesisir, sementara satu lagi berupa couple journaling series yang akan menjadi merchandise podcast pasangan suami istri terkenal di kalangan milenial dan generasi Z. "Kita tinggal rapat daring hari Senin, kan?" tanya Odi dari layar laptopnya sambil meregangkan bahu. "Dua klien itu udah minta timeline final." Patra mengangguk kecil sembari mengecek agenda di tablet digitalnya, lalu menjawab pelan, "Yang dongeng bahas ilustrasi, yang journaling bahas struktur latihan refleksinya." "Siap." Odi menguap lebar sebelum tersenyum tipis. "Kalau gitu gue cabut dulu. Jangan lupa makan." Patra hanya mengangkat tangan kecil sebagai balasan sebelum sambungan vide

  • Hestia   Chapter 114 - Petals of Sweet Nothings

    Pintu hunian vertikal terbuka perlahan tanpa suara. Talia melepaskan sepatu dan tasnya di dekat rak, lalu mendapati ruang tamu masih diterangi cahaya laptop yang belum dimatikan. Patra tertidur di meja bundar dengan kepala bertumpu di atas lipatan kedua lengannya, sementara layar laptop masih memperlihatkan dokumen naskah yang belum selesai ia sunting. Talia berdiri cukup lama memandangi laki-laki itu. Rambut Patra berantakan karena beberapa kali mungkin ia mengusapnya sendiri saat berpikir, sedangkan jemari kirinya masih menggenggam pena yang tintanya mulai mengering. Entah sejak kapan tunangannya tertidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu. Ia tidak membangunkannya. Talia memilih masuk ke kamar lebih dulu, berganti pakaian rumah, lalu mencuci wajah dan mengikat rambutnya. Ketika kembali ke dapur kecil mereka, ia membuka kulkas sekadarnya dan menemukan dua kotak tupperware yang diberi label tulisan tangan Patra menggunakan spidol hitam. "Semur." "Tumis timun." Sudut bibir Ta

  • Hestia   Chapter 113 - I Hope We Don't Change

    Keesokan paginya, Talia mengirim pesan ke grup kantor Intimate Beauty untuk meminta izin datang setelah jam makan siang. Ia beralasan perlu mengurus urusan keluarga terlebih dahulu dan akan langsung menuju Salon Hestia sore nanti, sekalian membantu operasional hingga tutup. Tidak lama kemudian Boris membalas singkat, Take your time, membuat Talia mengembuskan napas lega. Sesudah mandi dan berganti pakaian sederhana, Talia mampir ke dapur membantu Janette menyiapkan sarapan. Dua mangkuk bubur ayam, potongan buah, dan secangkir teh hangat ia tata di atas nampan kayu. Janette hanya mengusap lengan putrinya pelan sebelum membiarkannya berjalan menuju kamar yang berada di ujung lorong lantai dua. Pintu kamar Oma Claire terbuka sedikit. Perempuan tua itu sudah duduk bersandar di ranjang sambil memandangi taman melalui jendela yang dibuka separuh, seolah sengaja menunggu cucunya datang. Rambut putihnya yang tipis tersisir rapi, sementara garis-garis tua di wajahnya justru membuat senyumnya

  • Hestia   Chapter 112 - Tale as Old as Time

    Hujan masih mengguyur ketika Talia memarkirkan motornya di halaman rumah keluarga De Rucci. Rambutnya menempel di pipi, jaketnya basah kuyup, sementara napasnya masih berantakan akibat pertengkaran yang belum benar-benar selesai bersama Patra. Gerald yang baru hendak mematikan lampu ruang keluarga langsung bangkit dari sofa begitu melihat putrinya berdiri gemetar di depan pintu. "Talia?" seru Gerald kaget. Janette yang sedang membawa secangkir teh dari dapur ikut menoleh dan buru-buru menghampiri anak bungsunya. "Ya Tuhan... kenapa kamu hujan-hujanan begini?" Talia memaksakan senyum tipis. "Aku cuma... pengin pulang sebentar." Janette tidak bertanya apa-apa lagi. Ia hanya menggenggam tangan putrinya yang sedingin es lalu mengajaknya masuk, sementara Gerald mengambil handuk besar dari lemari dekat ruang tamu dan menyampirkannya ke bahu Talia. "Ayah bikinin air hangat dulu." "Nggak usah, Yah." Gerald tetap berjalan ke dapur. "Boleh kuat di kepala, tapi badan jangan diajak keras ke

  • Hestia   Chapter 111 - Our Reds and Blues

    Hujan turun tidak lama setelah pintu rumah menutup di belakang Talia. Patra berdiri cukup lama di dekat rak sepatu, memandangi payung hitam yang biasa mereka pakai bergantian ketika salah satu lupa membawa jas hujan. Jemarinya sempat bergerak hendak mengambil gagangnya, tetapi suara Talia beberapa jam lalu menggema lagi di kepalanya—cukup tunggu di rumah saja. Ia terduduk di sofa ruang tamu yang belum lama mereka beli, sementara air hujan memukul genting dan jendela tanpa jeda. Rumah yang beberapa hari lalu terasa seperti permulaan hidup baru kini terdengar terlalu luas hanya karena satu orang keluar. Patra baru sadar, suara napas Talia rupanya selama ini memenuhi banyak sudut rumah yang tidak pernah ia sadari. Patra membuka ponselnya, menatap nama Talia beberapa detik sebelum akhirnya menekan ikon panggilan. Nada sambung pertama berbunyi panjang, lalu berhenti begitu saja tanpa jawaban. Ia menarik napas, mengusap wajahnya sendiri, kemudian mencoba sekali lagi. Nada sambung kedua t

  • Hestia   Chapter 110 - Fight Like A Re Couple

    Pagi itu, apartemen terasa terlalu sunyi. Talia sudah bersiap berangkat kerja sejak subuh, tetapi tidak sekali pun mengucapkan selamat pagi atau sekadar bertanya apakah Patra sudah sarapan. Patra hanya mendengar bunyi lemari dibuka, laci ditutup, lalu langkah kaki yang bergerak dari kamar menuju ruang tamu.Biasanya Talia akan mampir sebentar ke meja makan, mengusap rambut Patra sebelum berangkat. Hari itu tidak ada apa-apa selain bunyi gelas yang diletakkan pelan di wastafel. Patra tahu, diam seperti ini jauh lebih menakutkan dibandingkan pertengkaran.Sampai menjelang siang, mereka tetap berada di bawah atap yang sama tanpa benar-benar hidup di ruang yang sama. Patra mencoba menyibukkan diri membalas revisi naskah klien, sedangkan Talia berkali-kali keluar masuk kamar sambil memeriksa dokumen kantor. Tidak ada percakapan, bahkan ketika mata mereka sempat bertemu.Menjelang sore, Talia akhirnya menghampiri meja kerja Patra. Tanpa duduk, perempuan itu menyodorkan ponselnya begitu saja

  • Hestia   Chapter 54 - Stolen Glances, and Closer Distance

    Dada Patra seketika bertalu nyeri mendengar nama orang yang paling ia hindari. Apalagi cerita Shannon yang perempuan itu lanjutkan tanpa sadar seberapa takut lawan bicara di depannya. “Dia jelas banget ngasih alesan putus karena orang lain! Tapi, dia nggak mau kasih tau orangnya siapa…!” Patra ha

  • Hestia   Chapter 53 - Missing Him

    Jam bergulir cepat setiap Patra bersama Talia. Perkataan terakhir Talia tentang pernikahan Hesti dan Rendi terdengar terlalu tenang. “Hesti juga baru ngasih tau kemarin. Masih bulan September nanti, sih, kamu bisa?” Ditambah binar bersemangat dan senyum lebar Talia. Reaksi santai perempuan itu me

  • Hestia   Chapter 52 - Couple Look-Alike

    Bercakap dengan Janette memakan waktu hampir setengah jam lamanya. Akan tetapi, begitu Talia membuka pintu kamar tamu, kasur sudah rapih. Tidak ada Patra. Akhirnya Talia menuruni tangga dan kembali bertemu ibunya di anak tangga terakhir. Wanita yang melahirkan dan masih berbalut piama itu melirik

  • Hestia   Chapter 51 - Another Men

    Keesokan paginya, Patra terbangun sendirian. Tidak ada Talia tempatnya terlelap. Setelah tiga jam mengalami insomnia parah. ‘Jelaslah dia pergi, gue harus jaga sikap sampe kita punya rumah dan keluarga sendiri,’ ucap Patra menghibur dirinya sendiri sambil mengenakan sandal tidur. Laki-laki itu te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status