LOGINTalia memutar anak kunci rumah pelan-pelan setelah matahari benar-benar tenggelam di balik deretan bangunan Petojo. Bahunya pegal setelah seharian menghadapi rapat yang tidak selesai-selesai, sementara gerimis tipis membuat udara sore terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Begitu pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada sebuah kotak panjang yang diletakkan rapi di atas meja makan.Di atas kotak itu tertempel secarik memo kecil dengan tulisan tangan yang sudah sangat ia hafal. Tinta hitamnya sedikit miring ke kanan, seolah ditulis terburu-buru, tetapi setiap hurufnya tetap rapi seperti kebiasaan Patra selama ini. Talia mengembuskan napas pelan sebelum mengambil kertas itu.*"Maaf karena aku ceroboh. Aku tahu ini nggak akan benar-benar mengganti sweater kamu yang lama, tapi semoga bisa nemenin kamu kalau hujan lagi. Maaf ya, Tal."*Talia tidak langsung membuka kotaknya. Ia justru berdiri beberapa detik sambil memandangi memo itu, lalu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya sendir
Pagi berikutnya datang dengan matahari yang terlalu cerah untuk rumah yang semalam dipenuhi kesunyian. Patra bangun lebih dulu dan mendapati sisi ranjang Talia sudah kosong, hanya menyisakan lipatan selimut yang mulai kehilangan hangat. Ia mengusap wajah pelan sebelum melangkah ke dapur, berharap bisa memperbaiki suasana lewat hal sederhana. Di meja makan, Talia sedang menyiapkan bekal makan siang dengan gerakan yang tenang dan teratur. Sweater yang semalam mereka perdebatkan digantung rapi di dekat jendela, masih tampak sedikit berubah bentuk setelah keluar dari mesin cuci. Patra berdiri beberapa detik di ambang pintu sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat. "Aku bikinin kopi?" tanya Patra pelan. Talia mengangguk tanpa mengangkat kepala. "Boleh." Jawaban singkat itu tetap terdengar lebih baik daripada diam sepenuhnya. Patra segera menggiling biji kopi dan menyalakan ketel, berusaha mengingat kembali ritme pagi mereka sebelum semuanya terasa rapuh seperti sekarang. Suara air
Sabtu pagi diwarnai suara lakban yang disobek, kardus yang digeser, dan langkah kaki yang mondar-mandir memenuhi lorong hunian vertikal tempat Talia tinggal selama beberapa tahun terakhir. Matahari baru naik sempurna ketika Patra sudah berkeringat mengangkat dua kardus berisi buku menuju lift, sementara Talia memastikan tidak ada barang yang tertinggal di setiap sudut kamar. Hari itu akhirnya tiba juga. Hari pertama mereka benar-benar pindah ke rumah baru di Petojo Utara."Aku masih nggak nyangka kita punya rumah sendiri," gumam Patra pelan sambil menekan tombol lift. Talia yang berdiri di sampingnya hanya mengangguk kecil, jemarinya masih menggenggam daftar barang yang semalaman ia tulis agar tidak ada satu pun yang terlupakan. Lift terbuka, lalu mereka berdua saling berpandangan sesaat sebelum tertawa kecil karena sama-sama terlihat gugup.Di lantai dasar, sebuah mobil bak terbuka sudah terparkir. Odi melambaikan tangan dari dekat bagasi sambil mengangkat satu gulung karpet di pun
Laptop Patra akhirnya tertutup tepat ketika matahari mulai turun di balik deretan ruko seberang Salon Hestia. Sejak siang ia dan Odi menyelesaikan revisi naskah terakhir untuk dua klien baru yang sama-sama akan memasuki tahap penyusunan proposal penerbitan. Satu proyek merupakan buku dongeng bergambar untuk komunitas belajar anak-anak di pesisir, sementara satu lagi berupa couple journaling series yang akan menjadi merchandise podcast pasangan suami istri terkenal di kalangan milenial dan generasi Z. "Kita tinggal rapat daring hari Senin, kan?" tanya Odi dari layar laptopnya sambil meregangkan bahu. "Dua klien itu udah minta timeline final." Patra mengangguk kecil sembari mengecek agenda di tablet digitalnya, lalu menjawab pelan, "Yang dongeng bahas ilustrasi, yang journaling bahas struktur latihan refleksinya." "Siap." Odi menguap lebar sebelum tersenyum tipis. "Kalau gitu gue cabut dulu. Jangan lupa makan." Patra hanya mengangkat tangan kecil sebagai balasan sebelum sambungan vide
Pintu hunian vertikal terbuka perlahan tanpa suara. Talia melepaskan sepatu dan tasnya di dekat rak, lalu mendapati ruang tamu masih diterangi cahaya laptop yang belum dimatikan. Patra tertidur di meja bundar dengan kepala bertumpu di atas lipatan kedua lengannya, sementara layar laptop masih memperlihatkan dokumen naskah yang belum selesai ia sunting. Talia berdiri cukup lama memandangi laki-laki itu. Rambut Patra berantakan karena beberapa kali mungkin ia mengusapnya sendiri saat berpikir, sedangkan jemari kirinya masih menggenggam pena yang tintanya mulai mengering. Entah sejak kapan tunangannya tertidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu. Ia tidak membangunkannya. Talia memilih masuk ke kamar lebih dulu, berganti pakaian rumah, lalu mencuci wajah dan mengikat rambutnya. Ketika kembali ke dapur kecil mereka, ia membuka kulkas sekadarnya dan menemukan dua kotak tupperware yang diberi label tulisan tangan Patra menggunakan spidol hitam. "Semur." "Tumis timun." Sudut bibir Ta
Keesokan paginya, Talia mengirim pesan ke grup kantor Intimate Beauty untuk meminta izin datang setelah jam makan siang. Ia beralasan perlu mengurus urusan keluarga terlebih dahulu dan akan langsung menuju Salon Hestia sore nanti, sekalian membantu operasional hingga tutup. Tidak lama kemudian Boris membalas singkat, Take your time, membuat Talia mengembuskan napas lega. Sesudah mandi dan berganti pakaian sederhana, Talia mampir ke dapur membantu Janette menyiapkan sarapan. Dua mangkuk bubur ayam, potongan buah, dan secangkir teh hangat ia tata di atas nampan kayu. Janette hanya mengusap lengan putrinya pelan sebelum membiarkannya berjalan menuju kamar yang berada di ujung lorong lantai dua. Pintu kamar Oma Claire terbuka sedikit. Perempuan tua itu sudah duduk bersandar di ranjang sambil memandangi taman melalui jendela yang dibuka separuh, seolah sengaja menunggu cucunya datang. Rambut putihnya yang tipis tersisir rapi, sementara garis-garis tua di wajahnya justru membuat senyumnya
Nero akhirnya tidur di sisi paling pinggir kasur. Bukan karena Patra menyuruhnya, melainkan karena sejak awal laki-laki itu seperti takut tidak sengaja melewati batas yang bahkan tidak lagi mereka definisikan.“Kalau gue jatuh dari kasur, lo tanggung jawab,” gumam Nero sambil menarik selimut sampai
Patra akhirnya membiarkan Nero masuk ke kamar hotelnya. Bukan karena ia sudah punya jawaban atas semua kekacauan beberapa minggu terakhir. Justru karena ia terlalu lelah untuk terus memikirkan jawaban yang tidak kunjung datang. Nero langsung melepas jaketnya begitu pintu tertutup. “Astaga,” kome
Nero tampak ragu ketika mobilnya berhenti di depan hotel kapsul tempat Patra akan menginap sementara. Mesin kendaraan itu masih menyala, tetapi tidak satu pun dari mereka buru-buru membuka pintu.“Kak,” panggil Nero.Patra mengembuskan napas panjang. Ia sudah menjawab panggilan pertama Nero tadi di
Talia menggelar handuk kecil di bahunya sendiri sebelum menepuk pinggir bathtub pelan. “Sini,” ujarnya pendek. Patra yang sejak tadi duduk di lantai kamar sambil mengecek ponsel akhirnya berdiri dan berjalan mendekat tanpa banyak bicara.Malam itu apartemen mereka terlalu sunyi. Bahkan suara kendar







