Inicio / Urban / Hestia / Chapter 3 - Coincidence

Compartir

Chapter 3 - Coincidence

Autor: Dyara
last update Fecha de publicación: 2026-02-12 16:02:02

Sepanjang sisa waktu istirahat siang Patra di kantor habis karena terus melamun. Pikirannya justru melayang ke ekspresi lega sekaligus bahagia Talia. Perempuan itu kemarin terlihat berangsur-angsur bingung dan kecewa. Kenyataan ayah kandungnya sendiri mengetahui keanehan pada reaksi akan sentuhan pada akar rambut, sudah membuat Patra malu setengah mati. Apalagi orang asing yang baru ia kenal. 

Sebenernya, dia juga buka rahasia, batin Patra menimbang-nimbang ragu. Haruskah ia kembali ke salon. Ada perasaan mengganjal di hati—bahwa Patra ingin mereka saling mengenal lebih jauh. 

Namun, Talia bukan perempuan bernama Hestia seperti yang direkomendasikan teman kantornya. Hardi sampai sudah minta maaf dan mentraktir Patra makan agar sahabatnya melupakan insiden memalukan, serta fakta si Hesti asli sudah tidak berstatus lajang. Mungkin nggak ada salahnya temenan dulu sama Talia...?

Di tengah harapan dan ketakutannya terlalu membuka diri, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Patra. Teks dari Charissa, ibu angkatnya bertuliskan, 

from: Mama Charis

Maaf, ya, tempo hari gara-gara arisan mama, kamu jadi gabisa mampir.

Akhir pekan ini nggak ada tamu, Patra dateng, ya! Kamu belum pernah ketemu anaknya Arte dan Casey, kan?

Patra membalas pesan itu bersemangat. Ia rindu sekali dengan Artemis dan teman hidupnya, Cassandra. Padahal mereka berada di satu kota yang sama. Akan tetapi, pekerjaan dan kesibukan aktivitas lain memang menguras waktu luang yang sebenarnya bisa diambil. Setiap hari Patra biasanya antusias menunggu kelanjutan serial TV yang naskahnya ditulis Artemis. Sayangnya belakangan ini, tidak ada nama Artemis di dua episode terakhir. 

Beberapa detik kemudian, muncul seorang anak laki-laki SD. Anak itu langsung duduk tepat di samping Patra dengan pandangan kosong. Patra memandang aneh si bocah kecil dengan nama Archer De Rucci di bagian dada kiri kemeja seragamnya. Jarang sekali ia melihat anak berseragam SD naik transportasi umum. Kalau angkot masih bisa dimaklumi karena hanya perlu memberi uang kepada sopir, sedangkan bus? Penumpang biasanya harus pakai kartu akses sebagai alat pembayaran. 

“Adek biasa pulang sendiri?” tanya Patra berbasa-basi, “selalu ingat bawa kartu, ya? Keren!” lanjutnya. 

Anak bernama Archer itu gelagapan di tempat. “Iya! Aku emang biasa pulang sendiri, kok, Kak … P-A, Kak Patra!” eja mulut Archer. 

Mumpung banyak orang yang menaiki bus itu sedang berjalan pelan-pelan menjelang turun lewat anak tangga di ambang pintu, Patra memastikan sekali lagi kalau anak laki-laki di sebelahnya betul-betul bisa pulang sendiri. "Kamu beneran tau, nih, pulangnya ke arah mana?" Patra mengangkat kedua alis keheranan melihat gelagat Archie. 

"Dek?" panggil Patra ragu, sedangkan antrian orang-orang yang turun bus semakin sedikit. 

"Bus tujuan aku nanti kayaknya dateng, kok. Kakak mau pulang, ya?" 

Mendengar balasan Archer, Patra kian was-was. Kok adek ini ngomong 'kayaknya', ya? batin laki-laki itu. 

Namun, ekspresi sungguh-sungguh dan gerak kepala Archer yang selalu membuang muka membuat Patra berusaha meyakinkan diri, anak ini mungkin memang sudah tahu cara pulang, tetapi jadi turut ragu karena ia meremehkannya. 

Akhirnya Patra tersenyum simpul seraya menepuk puncak kepala Archie, yang balas menatap sorot mata oranye kecokelatan teduh milik Patra. "Kalau gitu kamu hati-hati, ya! Ini bus kakak," pamit Patra. 

Baru saja Patra menaiki anak tangga bus, suara melengking sarat tangis Archer terdengar, "Aku jatuh, Pak! Aku mau baca rute bus!" 

Pria yang mencengkeram kerah kemeja seragam Archer menggeram sambil menunjuk puntung rokok yang masih sisa setengah di dekat sepatunya. "Lo kira uang jajan bisa ganti rokok gue?! Anak sialan!!" Tangan pria perokok yang tadinya menunjuk ke bawah, langsung mengepal dan bersiap melayang ke wajah Archer. 

Untung Patra berdiri di dekat pria itu, menahan lengan gempalnya, lantas menekankan selembar lima puluh ribu ke dada si perokok. "Nih, saya ganti. Kayak habis kehilangan puluhan batang aja!" Patra sengaja berteriak, sayangnya orang-orang sekitar hanya berlalu lalang. Tidak ada yang menyindir si pria perokok, paling tidak melempar tatapan sinis, supaya si perokok temperamental itu meninggalkan Patra.  

Pembelaan Patra yang lantang serta sosok kecil Archer bersembunyi di balik kedua kaki jenjangnya pria itu. Baru saja Patra melirik Archer sekilas, sebuah kepalan tangan meninju pipi kanannya. “KAKAK!” Archer berteriak panik setengah menangis. Salah satu tangan Patra mendorong tubuh bocah itu pelan ke dekat halte sebelum akhirnya turut melayangkan tinju ke hidung si perokok. 

Batang tembakau yang baru dihisap sekali jatuh, dan kedua mata si perokok menyala marah. Siap untuk ronde kedua. Patra mengusap darah yang memercik sedikit di sudut bibir. Baru saja si perokok mendekat dengan gaya sok galak, salah satu kaki Patra yang kini terayun—menendang dada si perokok sampai ia terhempas menabrak tong sampah. 

Kepala si perokok membentur tiang besi dekat tong sampah, sehingga langsung terkapar lemas di trotoar. Patra berjengit di tempatnya berdiri kala mendengar suara familiar berteriak ke arah halte. 

"Archie!!"

Saat ia dan Archer menoleh ke sumber suara, balasan bocah yang ditolong itu semakin membuat jantungnya berdebar keras. 

"Aunty Talia?"

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Hestia   Chapter 118 – Anxious Couple

    Talia memutar anak kunci rumah pelan-pelan setelah matahari benar-benar tenggelam di balik deretan bangunan Petojo. Bahunya pegal setelah seharian menghadapi rapat yang tidak selesai-selesai, sementara gerimis tipis membuat udara sore terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Begitu pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada sebuah kotak panjang yang diletakkan rapi di atas meja makan.Di atas kotak itu tertempel secarik memo kecil dengan tulisan tangan yang sudah sangat ia hafal. Tinta hitamnya sedikit miring ke kanan, seolah ditulis terburu-buru, tetapi setiap hurufnya tetap rapi seperti kebiasaan Patra selama ini. Talia mengembuskan napas pelan sebelum mengambil kertas itu.*"Maaf karena aku ceroboh. Aku tahu ini nggak akan benar-benar mengganti sweater kamu yang lama, tapi semoga bisa nemenin kamu kalau hujan lagi. Maaf ya, Tal."*Talia tidak langsung membuka kotaknya. Ia justru berdiri beberapa detik sambil memandangi memo itu, lalu tanpa sadar menggigit bibir bawahnya sendir

  • Hestia   Chapter 117 - New Hopeful Routine

    Pagi berikutnya datang dengan matahari yang terlalu cerah untuk rumah yang semalam dipenuhi kesunyian. Patra bangun lebih dulu dan mendapati sisi ranjang Talia sudah kosong, hanya menyisakan lipatan selimut yang mulai kehilangan hangat. Ia mengusap wajah pelan sebelum melangkah ke dapur, berharap bisa memperbaiki suasana lewat hal sederhana. Di meja makan, Talia sedang menyiapkan bekal makan siang dengan gerakan yang tenang dan teratur. Sweater yang semalam mereka perdebatkan digantung rapi di dekat jendela, masih tampak sedikit berubah bentuk setelah keluar dari mesin cuci. Patra berdiri beberapa detik di ambang pintu sebelum akhirnya memberanikan diri mendekat. "Aku bikinin kopi?" tanya Patra pelan. Talia mengangguk tanpa mengangkat kepala. "Boleh." Jawaban singkat itu tetap terdengar lebih baik daripada diam sepenuhnya. Patra segera menggiling biji kopi dan menyalakan ketel, berusaha mengingat kembali ritme pagi mereka sebelum semuanya terasa rapuh seperti sekarang. Suara air

  • Hestia   Chapter 116 — A House That Learns Our Names

    Sabtu pagi diwarnai suara lakban yang disobek, kardus yang digeser, dan langkah kaki yang mondar-mandir memenuhi lorong hunian vertikal tempat Talia tinggal selama beberapa tahun terakhir. Matahari baru naik sempurna ketika Patra sudah berkeringat mengangkat dua kardus berisi buku menuju lift, sementara Talia memastikan tidak ada barang yang tertinggal di setiap sudut kamar. Hari itu akhirnya tiba juga. Hari pertama mereka benar-benar pindah ke rumah baru di Petojo Utara."Aku masih nggak nyangka kita punya rumah sendiri," gumam Patra pelan sambil menekan tombol lift. Talia yang berdiri di sampingnya hanya mengangguk kecil, jemarinya masih menggenggam daftar barang yang semalaman ia tulis agar tidak ada satu pun yang terlupakan. Lift terbuka, lalu mereka berdua saling berpandangan sesaat sebelum tertawa kecil karena sama-sama terlihat gugup.Di lantai dasar, sebuah mobil bak terbuka sudah terparkir. Odi melambaikan tangan dari dekat bagasi sambil mengangkat satu gulung karpet di pun

  • Hestia   Chapter 115 - New Treatment, More Confessions

    Laptop Patra akhirnya tertutup tepat ketika matahari mulai turun di balik deretan ruko seberang Salon Hestia. Sejak siang ia dan Odi menyelesaikan revisi naskah terakhir untuk dua klien baru yang sama-sama akan memasuki tahap penyusunan proposal penerbitan. Satu proyek merupakan buku dongeng bergambar untuk komunitas belajar anak-anak di pesisir, sementara satu lagi berupa couple journaling series yang akan menjadi merchandise podcast pasangan suami istri terkenal di kalangan milenial dan generasi Z. "Kita tinggal rapat daring hari Senin, kan?" tanya Odi dari layar laptopnya sambil meregangkan bahu. "Dua klien itu udah minta timeline final." Patra mengangguk kecil sembari mengecek agenda di tablet digitalnya, lalu menjawab pelan, "Yang dongeng bahas ilustrasi, yang journaling bahas struktur latihan refleksinya." "Siap." Odi menguap lebar sebelum tersenyum tipis. "Kalau gitu gue cabut dulu. Jangan lupa makan." Patra hanya mengangkat tangan kecil sebagai balasan sebelum sambungan vide

  • Hestia   Chapter 114 - Petals of Sweet Nothings

    Pintu hunian vertikal terbuka perlahan tanpa suara. Talia melepaskan sepatu dan tasnya di dekat rak, lalu mendapati ruang tamu masih diterangi cahaya laptop yang belum dimatikan. Patra tertidur di meja bundar dengan kepala bertumpu di atas lipatan kedua lengannya, sementara layar laptop masih memperlihatkan dokumen naskah yang belum selesai ia sunting. Talia berdiri cukup lama memandangi laki-laki itu. Rambut Patra berantakan karena beberapa kali mungkin ia mengusapnya sendiri saat berpikir, sedangkan jemari kirinya masih menggenggam pena yang tintanya mulai mengering. Entah sejak kapan tunangannya tertidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu. Ia tidak membangunkannya. Talia memilih masuk ke kamar lebih dulu, berganti pakaian rumah, lalu mencuci wajah dan mengikat rambutnya. Ketika kembali ke dapur kecil mereka, ia membuka kulkas sekadarnya dan menemukan dua kotak tupperware yang diberi label tulisan tangan Patra menggunakan spidol hitam. "Semur." "Tumis timun." Sudut bibir Ta

  • Hestia   Chapter 113 - I Hope We Don't Change

    Keesokan paginya, Talia mengirim pesan ke grup kantor Intimate Beauty untuk meminta izin datang setelah jam makan siang. Ia beralasan perlu mengurus urusan keluarga terlebih dahulu dan akan langsung menuju Salon Hestia sore nanti, sekalian membantu operasional hingga tutup. Tidak lama kemudian Boris membalas singkat, Take your time, membuat Talia mengembuskan napas lega. Sesudah mandi dan berganti pakaian sederhana, Talia mampir ke dapur membantu Janette menyiapkan sarapan. Dua mangkuk bubur ayam, potongan buah, dan secangkir teh hangat ia tata di atas nampan kayu. Janette hanya mengusap lengan putrinya pelan sebelum membiarkannya berjalan menuju kamar yang berada di ujung lorong lantai dua. Pintu kamar Oma Claire terbuka sedikit. Perempuan tua itu sudah duduk bersandar di ranjang sambil memandangi taman melalui jendela yang dibuka separuh, seolah sengaja menunggu cucunya datang. Rambut putihnya yang tipis tersisir rapi, sementara garis-garis tua di wajahnya justru membuat senyumnya

  • Hestia   Chapter 87 - Cigarette Duet

    Patra akhirnya membiarkan Nero masuk ke kamar hotelnya. Bukan karena ia sudah punya jawaban atas semua kekacauan beberapa minggu terakhir. Justru karena ia terlalu lelah untuk terus memikirkan jawaban yang tidak kunjung datang. Nero langsung melepas jaketnya begitu pintu tertutup. “Astaga,” kome

  • Hestia   Chapter 78 - Throw Your Minds to My Heartless Skin

    Talia menggelar handuk kecil di bahunya sendiri sebelum menepuk pinggir bathtub pelan. “Sini,” ujarnya pendek. Patra yang sejak tadi duduk di lantai kamar sambil mengecek ponsel akhirnya berdiri dan berjalan mendekat tanpa banyak bicara.Malam itu apartemen mereka terlalu sunyi. Bahkan suara kendar

  • Hestia   Chapter 77 - How Much Have You Read?

    Talia tersenyum setengah niat ketika Patra akhirnya menghampirinya di lobby kantor. Senyum itu tetap lembut, tetapi tidak benar-benar sampai ke mata perempuan tersebut. Patra langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Shannon lebih dulu berpamitan sambil merapa

  • Hestia   Chapter 76 - Lie + Suspicion = Prejudice

    Jam makan siang baru saja selesai ketika Shannon menghampiri meja Patra. Perempuan itu berdiri sambil memeluk map tipis di dada, tetapi sorot matanya membuat Patra langsung sadar—ia datang bukan untuk urusan pekerjaan.“Pat, boleh ngobrol bentar?” tanya Shannon pelan.Patra mengangguk kecil lalu me

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status