Home / Urban / Hestia / Chapter 7 - Uninvited Guest

Share

Chapter 7 - Uninvited Guest

Author: Dyara
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-18 15:11:15

Patra melirik jam tangan baby blue sebelum kembali menghempaskan kembali punggungnya ke kepala sofa lobi kampus. Universitas Moonsheer terlihat sangat sepi di akhir pekan, setidaknya itu yang dikatakan satpam pada Patra. Dikarenakan ia bukan mahasiswa dengan ID card, laki-laki itu tidak bisa naik ke perpustakaan seperti usul Talia.

Sekarang laki-laki itu merasa bodoh karena terburu-buru datang sebelum pukul satu siang. Berkat suara Hesti dan Rendi yang nimbrung ketika Talia meneleponnya, tepat
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hestia   Chapter 97 - Kiss Me and I Might--

    Patra datang lima belas menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan Talia. Ia memilih duduk di bangku panjang dekat pintu masuk restoran sambil sesekali mengecek jam di ponselnya. Di luar gedung, lampu-lampu kota mulai menyala dan memantul di kaca jendela seperti kumpulan bintang yang tersesat ke permukaan bumi. Ia sebenarnya tidak keberatan menunggu. Sejak keluar dari kantor lama dan mulai mengembangkan agensi bersama Odi secara penuh, waktu terasa bergerak dengan ritme yang berbeda. Namun, menunggu Talia selalu menjadi jenis kesabaran yang paling mudah ia jalani. Pintu restoran terbuka dan suara tawa beberapa orang terdengar dari dalam. Patra mengangkat kepala tepat ketika sekelompok karyawan Intimate Beauty keluar satu per satu. Ia mengenali beberapa wajah yang pernah dilihat saat menghadiri acara kantor Talia. Lalu ia melihat Stella. Perempuan itu berjalan berdampingan dengan Talia sambil terus mengobrol. Sesekali Stella tertawa dan menyentuh lengan Talia saat bercerita sesuat

  • Hestia   Chapter 96 - Shirt That I Know is Hers

    Talia baru selesai sarapan ketika ponselnya bergetar untuk kesekian kali. Perempuan itu mendesah panjang sambil berdiri dari kursi makan, lalu menunjuk layar ponselnya ke arah Patra. “Kalau ada yang chat di grup kantor, tolong jawab dulu, ya. Aku mandi lima menit.”Patra mengangguk santai. Ia sudah cukup sering membantu Talia membalas pesan-pesan teknis yang sifatnya administratif. Terutama kalau pagi-pagi seperti ini dan Talia sedang terburu-buru mengejar jam masuk kantor.Begitu pintu kamar mandi tertutup, ponsel Talia kembali bergetar. Patra mengambilnya dan membuka grup kerja yang tadi muncul di notifikasi. Beberapa staf menanyakan jadwal rapat mingguan dan kebutuhan materi kampanye berikutnya.Dengan cekatan Patra mengetik balasan sesuai arahan yang biasa diberikan Talia. Jarinya bergerak cepat sampai sebuah notifikasi baru muncul di bagian atas layar.Stella.Patra sebenarnya tidak berniat membuka percakapan pribadi siapa pun. Namun isi preview pesannya muncul begitu saja sebelu

  • Hestia   Chapter 95 - Sweeter Date

    Sabtu pagi itu Patra mematikan alarm sebelum bunyinya sempat mengganggu Talia. Ia menoleh ke sisi kasur dan mendapati tunangannya masih tertidur miring membelakanginya. Cahaya matahari yang masuk dari celah gorden membuat ujung rambut Talia terlihat lebih cokelat dari biasanya.Patra tersenyum kecil. Sudah beberapa minggu terakhir hidup mereka terasa seperti rangkaian percakapan yang hati-hati. Tidak buruk, tetapi juga belum benar-benar ringan. Ponselnya bergetar di atas nakas. ODI: Go kart jam 10 jadi, kan? Patra menatap layar beberapa detik. Lalu mengetik balasan singkat. PATRA: Skip dulu. Mau sama Talia. Tidak sampai lima detik kemudian balasan masuk. ODI: Anjir. Budak cinta. Patra terkekeh pelan sambil mematikan layar. "Kenapa?" suara serak Talia terdengar dari balik bantal. Patra langsung menoleh. "Nggak kenapa." Talia membuka sebelah matanya. "Odi?" "Kok tau?" "Karena cuma Odi yang chat subuh-subuh." Patra tertawa. Talia ikut tersenyum tipis sebelum kembali mem

  • Hestia   Chapter 94 - New Romantics

    Patra mulai menyadari ada satu hal yang tidak pernah berubah dari Talia De Rucci. Perempuan itu selalu terlihat sibuk, bahkan ketika sedang diam.Hari itu pun sama.Talia mengajaknya bekerja dari kafe yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari kantor barunya. Bedanya, kali ini Patra datang lebih awal dan memilih meja di belakang area reservasi yang biasanya dipakai untuk meeting."Aku selesai sekitar jam empat," kata Talia sebelum masuk ke ruang rapat semi terbuka bersama beberapa orang lain.Patra hanya mengangguk."Pelan-pelan aja."Pekerjaan hari itu sebenarnya tidak terlalu berat. Salah satu editor sedang mengurus revisi klien politik, quality control kedua sedang membaca draft memoar pernikahan pasangan beauty creator, sementara Odi sibuk menghadiri pertemuan lain.Patra tinggal mengecek beberapa dokumen.Membalas email. Sesekali memastikan semua orang masih hidup.Karena itulah konsentrasinya mulai pecah ketika suara Talia terdengar dari seberang ruangan.Bukan sengaja mengup

  • Hestia   Chapter 93 - She's A Fan

    Archie sudah menagih kehadiran mereka sejak tiga hari lalu. Karena itulah Sabtu sore itu Patra dan Talia berakhir menginap di rumah Artemis dan Cassandra, sebuah rumah yang selalu terasa lebih hidup daripada ukurannya sendiri.Begitu mereka datang, Archie langsung menyeret Talia ke meja belajar. Anak itu membawa buku matematika, buku IPA, dan beberapa lembar tugas sekolah yang terlihat belum disentuh sama sekali sejak diberikan gurunya."Aunty Talia janji bantuin!""Aku janji bantuin, bukan ngerjain semuanya."Archie memonyongkan bibir.Artemis yang sedang menyusun camilan di ruang keluarga langsung tertawa. "Hayo, jangan sampe mama kasih tau guru kamu, ya, yang ngerjain malah aunty.... " Satu jam kemudian ruang tamu berubah cukup tenang. Archie masih berkutat dengan PR ditemani Talia dan Artemis di meja makan, sementara Cassandra duduk bersama Patra di sofa sambil melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran.Patra beberapa kali melirik ke arah Talia.Cassandra yang menangkap ger

  • Hestia   Chapter 92 - New Storm

    Dua hari setelah makan malam di kafe Athena, Talia mengirim pesan pendek yang membuat Patra langsung menghela napas panjang. “Dekat kantor baru ada rumah makan sekaligus kafe. Internetnya stabil. Mau WFC di sana?” Patra sebenarnya sudah siap menolak. Ia lebih nyaman bekerja dari kantor kecil agensi bersama Odi atau dari rumah Charlie ketika suasana memungkinkan. Namun, Odi yang membaca pesan itu dari balik bahu Patra justru menjawab lebih cepat. “Gas.” “Lo serius?” tanya Patra tidak percaya. Odi mengangguk mantap. “Internet gratis, colokan banyak, dan sekalian ngawasin Talia sama si Stella…!” Patra mendecih pelan “Gue tunangannya, ngapain lo yang parno?” “Kalau lo emang nggak parno, santai aja, dong, WFC di sana!” Patra tidak membalas sahutan Odi yang ada benarnya. *** Kafe yang dimaksud Talia berada di ruko sudut dekat kompleks perkantoran baru tempat perempuan itu mulai banyak menghabiskan waktu untuk proyek Intimate Beauty. Tempatnya cukup terang, ada area makan, area k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status