MasukTerkadang cinta menarik hati kearah yang tak kita duga. Dia menjatuhkan hatimu ketempat yang sepertinya salah. Pada awalnya terasa indah dan bersemangat mengejarnya. Tapi akhirnya saat kita telah sadar bahwa ini tidak semestinya, hanya air mata yang mengiringi hatimu berbicara. Bahkan benak pun enggan memberi kata. Aku jatuh cinta padanya dan bisa menerima dirinya yang berstatus duda. Lalu kuputuskan mengejarnya walau pun pengejaran itu ilegal karena dia adalah dosenku dan aku adalah mahasiswinya. Lebih tepatnya mahasiswi bimbingannya. Di kampusku, dosen dan mahasiswa dilarang memiliki hubungan spesial. DO menjadi salah satu alasan lainnya. Juga hubungannya dengan mantan istrinya. Dipertengahan perjalanan, aku diberi kejutan hingga mengubah perjalanan cintaku. Mungkin semua yang telah terjadi akan semakin menyakitkan bila diteruskan. Tapi apa pun yang kembali mengubah sedemikian hati, berikanlah apa pun yang menjadi kepentingan untuk menghadirkan senyum cinta. Karena semakin cinta menekan, semakin dalam air matamu semakin kau sadar cinta tidak sesederhana mencintai dan dicintai. *Cerita dalam novel ini akan di gambarkan dari berbgai sudut pandang. Sebenarnya ini terjadi karna penulis lebih menyukai tipe menulis yang bebas tanpa ada embel-embel aturan kaku apapun. Aturan natural yang terlihat saat itu saja, penulis lebih menyukai hal yang seperti itu. Intinya, mari, kita siapapun kita, menulis apapun yang kita mau tanpa SARA, dengan kebebasan yang bertanggungjawab. Thank youuu...
Lihat lebih banyak***
"Wah, ada Neng Nina. Mau belanja apa nih, biar Mamang siapkan!" Mamang Sayur tersenyum ramah di depanku. Suasana gerobak Tukan Sayur yang kebetulan sedang sepi, membuatku leluasa memilih sayuran segar untuk memasak hari ini.Jika dihitung, ini adalah kali kedua aku kembali pulang ke kampung setelah 3 tahun aku mengabdikan diri di kota seberang. Bukan tanpa alasan, aku bekerja banting tulang untuk menyokong hidup Bapak dan Ibu, serta biaya sekolah kedua adikku, Sari dan Dana.Ayah yang notabenenya hanyalah seorang tukang becak, seringkali penghasilannya tidak menentu. Apalagi sekarang Dana sudah menginjak kelas tiga Sekolah Menengah Pertama, dan Sari yang setahun lagi lulus Sekolah Menengah Atas.Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, aku berangkat ke kota untuk mengadu nasib. Terbayang wajah Ayah dan Ibu jika aku harus berdiam diri di rumah hanya menunggu jodoh datang. Sudah menjadi hal lumrah disini, perempuan tidak perlu sekolah tinggi, karena kodratnya berada di dapur, sumur dan kasur.
Namun, aku bersyukur ketika Ayah dan Ibu tidak mengekang keinginanku untuk bekerja mengadu nasib di kota sebelah. Sempat mendapat penolakan. Tentu. Orang tua mana yang rela hidup jauh dari anak-anaknya, apalagi di jaman yang sudah mulai rawan melepas anak gadis sendirian di kota orang. Ayah sempat menentang keras permintaanku untuk bekerja dengan jarak yang lumayan jauh dari rumah. Tapi aku berhasil meyakinkan Ayah dan Ibu, hingga akhirnya mereka memberikan restunya padaku."Wah mau belanja ya, Nin?" seloroh Bu Nurma.
Melihat beberapa Ibu-ibu sudah datang dan memutari gerobak Mamang Sayur, aku mengulurkan tangan pada mereka satu per satu. Di kampungku, menjadi hal yang wajib ketika kita baru saja kembali bersua dengan tetangga setelah merantau cukup lama.
Para Ibu-ibu yang memang masih bertetangga dekat dari rumah menyambut uluran tanganku. Wajar saja jika mereka kaget tiba-tiba aku berada di tempat Mamang Sayur mengingat baru hari ini aku bisa keluar rumah dan bertemu beberapa tetangga dekat disini. Biasanya Ibu yang berbelanja, tapi karena hari ini Ibu sedikit masuk angin, maka aku yang menggantikannya.
Bukan karena aku tidak ingin keluar rumah. Bukan. Dua hari yang lalu aku datang hampir tengah malam. Beruntung suasana terminal masih sedikit ramai hingga tidak membuatku khawatir saat menunggu jemputan dari Ayah. Ketika pagi menjelang, Ibu malah jatuh sakit, membuatku harus ekstra merawatnya. Ayah bahkan melarangku memasak, dia rela membeli lauk jadi untuk makan kami sekeluarga."Iya, Bu. Kebetulan ibu sedang masuk angin, jadi saya yang menggantikan belanja," sahutku."Makanya, makanan itu harus yang sehat. Jangan taunya tahu sama tempe doang, Nin! Bilangin tuh Ibumu, masa anak kerja di kota belanjanya suka bayem sama tempe melulu. Malu dong sama Kang Sayur," seloroh Bu Nurma dengan melirik sinis ke arahku.
"Kalau untuk belanja bahan pokok, Ibu sudah beli di pasar gede, Bu. Disini tinggal beli yang belum ada aja. Lagian tempe dan tahu juga kaya protein kok. Kenapa harus malu, kan nggak ngutang sama Mamang. Ya nggak, Mang?" Mamang mengacungkan jempolnya lalu kembali berkutat menghitung belanjaan seseibu di sampingku."Halah, sok-sokan bilang protein. Dimana-mana itu ikan yang bikin sehat, bukan tahu sama tempe. Pantes saja ayah kamu terlihat lemas. La wong makannya nggak empat sehat lima sempurna!" Pedasnya ucapan Bu Nurma menelusup ke gendang telingaku sepagi ini. Jika saja tidak menjaga unggah-ungguh, sudah kulibas mulutnya dengan ulekan cabe sekilo.
Saat hendak membalas ucapan pedas Bu Nurma, kurasakan ada tangan yang mengusap punggungku. Kulirik Bu Tari tersenyum sambil berbisik, "Ngalah aja, bisa kemana-mana nanti yang dibahas. Sabar ya!" Aku mengangguk dan tersenyum.
"Wong susah aja gayanya bikin aku eneg! Ayahnya juga cuma tukang becak tapi kalo ngomong sok bilang tempe sama tahu itu protein. Bilang aja nggak bisa beli ayam atau ikan. Gitu kan beres! Sok pinter!""Ada yang salah kalau Ayah saya tukang becak, Bu? Saya mau beli tempe, tahu atau ayam sekalipun, kenapa Bu Nurma sewot?" Tidak kuperdulikan usapan tangan Bu Tari. Jika sudah menyangkut pekerjaan Ayah, hatiku mendadak panas. "Meskipun tukang becak, tapi pekerjaan Ayah saya halal. Ibu ngiri karena melihat saya kerja di kota, iya?"
"Eh, aku ini udah pengalaman kerja di kota. Siapa bilang kerja di kota itu enak, bayaran gede. Nyatanya nih, di depan mata, pulang dari kota malah beli tempe sama tahu. Nggak ibunya, nggak anaknya, sama aja!"Tanganku terkepal mendengar cibiran demi cibiran yang keluar dari mulut Bu Nurma. Kenapa dia yang kebakaran jenggot kalau keluargaku makan tempe atau tahu? Toh, selama ini kami memang terbiasa makan seadanya meskipun emang penghasilanku cukup untuk membeli makanan enak. Bagiku, tidak melulu pakai lauk ikan atau ayam, tempe dan tahu juga kaya akan protein.Berkali-kali kurasakan usapan lembut di punggung. Aku tau, Bu Tari mungkin tidak ingin aku meladeni Bu Nurma yang memang terkenal tidak mau kalah itu. Akhirnya, dengan sekuat tenaga menutup mulut, aku berhasil meredam emosiku agar tidak memuncak saat ini juga. Bu Tari ada benarnya juga, untuk apa aku melawan ucapan Bu Nurma, yang ada dia malah mencari topik lain untuk menyudutkanku."Sudah Mang! Cepat ini hitung, lama-lama mual aku kalau ngeliat tempe sama tahu." Bu Nurma menyerahkan sekantong kresek hitam pada Mamang."Tujuh puluh lima ribu, pas nggak pake koma," ujar Mamang Sayur dengan candanya yang khas."Ini lima puluh ribu dulu, kurangnya besok. Uangku seratus ribuan semua. Malas mau bolak balik kesini," ucapnya ketus dengan kembali menyelipkan dompet di sela-sela ketiaknya."Eh, biar nanti saya ambil ke rumah Bu Nurma aja. Saya ada kok kembaliannya," sahut Mamang dengan memainkan kedua alisnya.Bu Nurma membanting seikat kangkung di depan Mamang. Aku sedikit kaget dengan tingkahnya yang tiba-tiba anarkis begini.
"Aku bilang besok ya, besok, Mang!" bentak Bu Nurma. Dia kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya."Utang maneh," gumam Mamang Sayur sembari mengelap peluh menggunakan topi usang miliknya.Beberapa Ibu-ibu menertawakan Mamang yang sudah kecolongan. Mungkin bagi mereka, gumaman Mamang barusan hanyalah sebuah kelakar. Tapi tidak menurutku, ada sebuah kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya. Aku paham, berjualan seperti ini memang harus pandai-pandai memutar modal. Jika banyak pembeli yang berhutang, tidak menutup kemungkinan Mamang akan kehabisan modal dan akhirnya berhenti berjualan.Kasihan. Meskipun dipaksanya senyuman tipis terbit di bibir Mamang, aku mengerti, rasa tidak enak hati membuat dirinya harus kembali mengalah pada pembeli.Bersambung“Kalau besok-besok bapak berubah pikiran, masih bisa, loh, pak” ucapku pada pak Ferdian. Dia sedang sibuk mencari kunci motor di tas hitamnya. Setelah selesai membahas banyak hal termasuk tugas-tugasku di kampus, mas Ian pamit pulang duluan karena masih ada janji dengan mbak Hara. Kami berdua masih tinggal sebentar di kafe lalu akhirnya memutuskan untuk pulang setelah pak Ferdian sudah mulai terlalu dalam menjelaskan tugasku. Dia bahkan membuatkanku PPT. “Muffin...kamu lihat kunci motor tidak?” tanyanya tidak menghiraukan ucapanku. Aku hanya menggelengkan kepala. “Sepertinya ketinggalan di kafe. Kamu mau tunggu di sini saja. Biar aku yang kesana. Kamu pakai kipas portabel ini kalau kepanasan. Tadi baru kubeli buat kamu. Aku sering lihat kamu kepanasan kalau habis lari ke sana kemari sambill bawa-bawa makethmu” ucapnya manis sambil memberikan kipas juga permen karet. Ingin kupeluk saja rasanya pria ini tapi dia sudah keburu pergi setelah memberantakkan poniku. Melihat bagaimana ra
Bahasa-bahasa cinta tidak akan jadi penghalang untuk berita apapun, baik dan buruk ketika akan disampaikan pada kekasih. Bahasa-bahasa cinta ada dalam setiap nada dan ritme dari dua pasang insan yang tulus saling mencinta. Bahasa-bahasa cinta jadi jembatan diskusi tentang masa depan. Ferdian mencoba mencari cara mendapatkan bahasa-bahasa yang tepat untuk mengutarakan rencana masa depannya kepada Muffin. Dia sampai harus meminta bantuan mas Ian menemani agar penjelasan apapun nanti yang dia berikan, tidak melenceng, tidak membuat masalah semakin runyam. “Fer, udah tenang aja. Muffin itu termasuk dewasa untuk seumurannya. Cara berpikirnya sudah mulai matang” “Aku tau, mas” “Nah, ya udah. Apa yang kau gelisahkan? Itu kopimu sampai dingin. Seruput dulu” mas Ian menyodorkan gelas kopi Ferdian, memaksanya meminum kopi hitam kental. Ferdian menerimanya setengah hati sambil terus memeriksa pintu masuk kedai kopi modern kesukaan anak-anak muda Jakarta. Mall sore itu tidak terlalu ramai di h
“Grace, ini semua sudah tidak bisa diselamatkan lagi” “Aku masih belum rela, bu Nilam” Bu Nilam menghempaskan nafas sabar sambil mengelus rambut Grace yang sedang menangis di pangkuannya. Di ruang tamu rumah bu Nilam, Grace menangis tersedu-sedu. “Beberapa dosen dan mahasiswa sudah mulai curiga, bu. Kalau sampai hubungan mereka benar-benar terpublish, aku semakin tidak siap untuk berpisah dengan Ferdian” “Apa Ferdian benar-benar sudah memikirkan keputusannya itu?” Grace mengangguk, bangkit duduk berlinang air mata. “Ferdian akan mengalah” “Dia benar-benar mengatakan itu?” “Dia akan mengejar impiannya lagi. Jadi Arsitek. Dia akan meninggalkanku sendirian, bu” Grace menumpahkan lagi tangisnya di pangkuan bu Nilam. “Kenapa baru sekarang kamu mengakui semua ini, Grace? Dulu kamu selalu mengeluh ini itu tentang Ferdian, saya sampai bingung sendiri hubungan kalian itu sebenarnya apa. Saya bukannya memihak mereka, tapi Ferdian juga berhak menentukan kebahagiaannya sendiri begitu juga
Langit mendung menggelayut. Jalanan sepi. Hanya ada aku dan Miss Grace berdiri sejajar di depan halte busway tempat biasa aku dan Mr. Brewok bertemu. Lewat bu Nilam, tiga hari setelah Promise Ring, Miss Grace bermaksud ingin bertemu denganku. Berdua saja. Aku tidak tahu apa yang akan kami bicarakan disini, tapi aku tahu pasti Mr. Brewok sedang mengintai dari kejauhan sana. Mobilnya itu sangat ketara meski dari jarak jauh. Meski Miss Grace meminta agar Mr. Brewok tidak diberitahu mengenai pertemuan ini , aku yakin bu Nilam tidak akan tahan menyimpan informasi ini darinya. Angin sore melewati kami berkali-kali, dihempas orang-orang yang sesekali berlalu-lalang. Sudah 30 menit berlalu, belum ada pembicaraan apapun setelah sapaan selamat sore yang sama-sama kami ucapkan tadi. AKu mulai merasa dia sedang mengulur-ulur waktu. Awalnya aku kikuk berada di samping miss Grace, menebak-nebak dan mengira-ngira kapan ini semua akan dimulai. Sudah pasti Promise Ring akan masuk ke dalam pembahasan i
"Ck!! Ayolah, Fer. Dia itu mahasiswimu. Bahkan belum genap 20 tahun" batin dan otak Ferdi saling beradu pendapat membuat dirinya hanya terpaku. Sementara tangannya mengendalikan setir mobil. Dia tidak menyangka pelukan yang tidak disengaja di perpustakaan tadi bisa mengacaukannya. Dia hanya ingi men
Ada panggilan masuk dari bu Nilam saat aku mengantar Ariana ke pagar kosan. Dia menginap di kosanku lagi setelah kami pergi ke Dufan kemarin. Untung saja Ojek online Ariana sudah menunggu sedari tadi dan tidak perlu menunggu lama aku pun mengangkat panggilan itu. Oh ia aku dan bu Nilam sudah saling
"Dia itu duda, Fin. Duda tanpa anak" ujar Ariana. Dia menginap di kosanku. "Ah serius lo? Tau dari mana?" tanyaku tak percaya pada Ariana. "Ya elah semua penghuni kampus juga tahu kali, kecuali elu kayanya" "Ia, tah? Apa karna aku udah terlanjur bete sama dia kali, ya?” “Maybe” “Trus istrinya k
Ada 3 unsur wajib dalam merancang bangunan. Unsur keindahan, unsur kekuatan dan unsur fungsi bangunan. Simple sekali memang. Seharusnya begitu. Tetapi bila yang menjelaskan itu adalah dia, si Mr. Brewok itu, semuanya memantul setelah menyentuh kulit jidatku. Belum sempat penjelasannya itu di proses












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan