Compartilhar

BAB 2

Autor: Rhiana
last update Data de publicação: 2026-07-01 21:36:05

Kaki yang tadi terasa sangat kaki karena di tarik paksa oleh tantenya. Seketika langsung hilang, mengetahui jika dirinya di pindahkan kembali ke kamar miliknya di lantai dua.

Sejujurnya, Arjuna sangat merindukan kamarnya itu. Di sana banyak tersimpan kenangan bersama keluarga dan teman-teman sekolahnya dahulu. Namun, sejak dirinya kecelakaan, kamar itu tidak pernah dia datangi lagi.

“Maaa! Mama…!!! Ngapain si Lumpuh masuk kamar aku?” teriak Dimas protes ketika tukang kebunnya membawa Arjuna masuk ke dalam kamarnya.

“Ssssst, gak apa-apa sayang. Biarkan Arjuna menikmati kamarnya sebentar!” sahut tante Marisa menatap anaknya, sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.

“Tapi, ma…”

Kepala tante Marisa menggelengkan kepalanya pelan. Meminta anaknya untuk diam dan tidak banyak protes. Kemudian dia mendekati Arjuna yang tampak senang berada di kamarnya, walau ada beberapa yang di rubah. Namun, rasanya masih seperti dulu. Nyaman dan tenang berada di kamarnya.

“Juna, senang sayang? Mau kembali ke kamar ini?”

Remaja laki-laki berusia 16 tahun itu menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Iya, tante. Aku senang, nte. Terimakasih sudah mengijinkan aku tinggal di kamar ini lagi!”

“Sama-sama, sayang! Ya sudah, sekarang kamu ganti baju. Jangan sampai masuk angin yaaa?”

“Baik, tante! Terimakasih ya?”

Tante Marisa menganggukkan kepalanya, “sama-sama, sayang!”

Setelah memastikan keponakannya merasa nyaman di kamarnya sendiri, dia pun turun ke lantai satu untuk melanjutkan kembali kegiatannya yang tertunda tadi. Sementara itu, Arjuna yang terlalu senang tidak menyadari jika Dimas masih berada di kamar itu. Dia pikir, Dimas ikut turun bersama mamanya. Karena kamar itu diserahkan kembali pada dirinya.

“Aaaah, kamar ku! Kangen banget tidur di sini!” gumam Arjuna memejamkan matanya seraya merentangkan kedua tangannya, menikmati suasana kamarnya.

Puas menikmati udara kamarnya, Arjuna membuka matanya hendak mengganti bajunya. Namun, dia sama sekali tidak melihat kursi rodanya. Matanya melihat sekeliling kamar, tapi tetap saja kursi rodanya tidak tampak.

“Cari apa, Juna? Kalau cari duit, kagak ada di sini!”  celetuk Dimas yang bersandar di dinding dengan melipatkan tangan di depan dadanya.

“Dimas! Lo kenapa di sini? Bukannya lo harus turun bareng nyokap lo?”

“Turun? Kenapa gue harus turun? Ini kan kamar gue, yaaa jelas gue mau istirahat lah!”

“Ma-maksudnya? Tadi tante Marisa sudah menyerahkan kembali kamar ini ke gue, jadi ini kamar gue. Bukan kamar lo!”

Mendengar jawaban Arjuna, Dimas tertawa kencang. Tampak jelas, jika tawa itu mengejek Arjuna.

“PeDe banget lo, Juna!!! Lucu lo! Mana mungkin nyokap gue nyerahkan kamar ini buat lo? Lah lo siapa? Lo hanya anak kakak iparnya yang udah mati. Sedangkan gue,  anak kandungnya. Jadi, nyokap pasti pilih anak kandung lah!”

“Ja-jadi u-untuk apa gue di bawa ke sini?”

Dimas mengedikkan bahunya, “mana gue tahu lah! Tanya saja sama nyokap gue!” sahut Dimas cuek. “Dah, gue mau istirahat! Jangan berisik, kalau gak mau wajah lo babak belur!” sambung Dimas perjalan ke tempat tidurnya. Tanpa mempedulikan Arjuna lagi, pemuda itu langsung memejamkan matanya. Membiarkan Arjuna berbuat semaunya. Toh, pergerakan Arjuna sangat terbatas. Bisa turun dari kursi belajar saja, sudah bersyukur.

“Dim, bantu gue, Dim! Tolong ambilin kursi roda gue. Gue gak bisa gerak tanpa kursi roda!” pinta Arjuna.

“Please, Dim. Tolongin gue untuk kali ini saja. Gue mohon!”

Arjuna terus merengek untuk meminta bantuan kepada saudara sepupunya. Namun, jangankan untuk membantu dirinya. Untuk membuka matanya saja, saudara sepupunya tampak enggan.

“DIMASSSS!!! BANTUIN GUE!” teriak Arjuna yang sudah mulai putus asa.

Tubuh Dimas tersentak. Pemuda itu terkejut mendengar teriakan Arjuna. Matanya menatap saudara sepupunya dengan tajam. Tanpa banyak kata, dia berdiri dari tempat tidurnya.

“Lo mau apa sih? Berisik banget! Mau ke kamar mandi? Ayoo gue antar!” seru Dimas.

Arjuna yang masih duduk di atas kursi belajar, di tarik sangat keras. Hingga terjatuh di lantai. Tidak sampai itu saja, setelah terjatuh di lantai Arjuna bukan dibantu atau dipapah untuk berdiri. Melainkan kembali ditarik menuju kamar mandi.

 “Noh, mandi sana! Jangan berisik lagi! Emang sialan lo! Ganggu orang tidur aja!” bentak Dimas.

Braaaaak…

Pintu kamar mandi tertutup keras. Tubuh Arjuna sampai tersentak karena suara pintu tersebut.

“Dimas, bukan ini maksud gue. Gue gak mau ke kamar mandi. Gue hanya butuh kursi roda aja!” lirih Arjuna.

Tubuh dan hatinya merasa sangat sakit mendapatkan perlakuan seperti ini. Bukannya kalau mereka masih membutuhkan dirinya, mereka harus memperlakukan dirinya dengan baik. Bukan dengan cara kasar seperti ini.

“Juna, lo gak boleh nyerah. Ingat pesan papa, kalau seorang laki-laki gak boleh menyerah dengan keadaan. Lo harus bangkit! Lo harus balas semua perbuatan mereka!” tekad Arjuna dalam hati.

Perlahan, Arjuna mencoba menggapai westafel yang ada di kamar mandinya. Dia berniat berpegangan pada wetafel untuk membantunya berdiri. Namun, karena licin bukannya bisa berdiri. Dirinya malah tejerembab dengan kepala membentur keras lantai kamar mandi. Seketika pandangannya gelap, dan Arjuna  tidak sadarkan diri.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

“Ma, kenapa sih abang numpang mandi di kamar aku? Shampo aku di habisin sama abang!” gerutu seorang gadis yang berusia 15 tahunan.

“Pelit amat lo dek, Cuma shampoo doang sih! Kagak di bawa mati juga. Gue malas mandi di kamar mandi gue. Ada si lumpuh lagi tiduran. Nyenyak banger dia tidur. Betah kali tinggal di kamar mandi!”

“Loh bang Juna di kamar mandi lo, bang? Ngapain? Siapa yang bawa dia ke atas? Tumben kagak lo usir?” balas Cantika dengan wajah herannya.

“Jangan tanya gue! Tanya saja sama mama!” sahut Dimas melirik sang mama yang tengah menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

“Makan! Di meja makan jangan banyak bicara!” ucap mama Marisa tegas.

“Iya, ma!” sahut Dimas dan Cantika secara bersamaan.

Mereka bertiga menikmati makan malam tanpa bersuara lagi. Hanya dentingan sendok yang beradu pada piring saja yang kedengaran. Jika ditanya dimana sang kepala keluarga. Jawabannya, dia belum pulang. Jam-jam saat ini adalah jam yang sangat rawan akan kemacetan. Bisa saja papa mereka sedang berada di tengah-tengah kemacetan. Atau masih berada di perusahaan milik papanya Arjuna. Yang sejak kematian papanya Arjuna, perusahaan itu langsung diambil oleh Joni. Suami dari tante Marisa sekaligus papa dari Dimas dan Cantika.

Tanpa mereka bertiga sadari, Arjuna sudah sadar dari pingsannya. Dia berusaha sangat keras keluar dari kamar mandi. Dengan cara merayap dan menarik kakinya yang terasa sakit, Arjuna mencoba keluar dari kamar. Dia membutuhkan obatnya untuk mengurangi rasa sakit di kakinya dan juga membutuhkan makanan untuk mengisi energi.

“To-tolong…!” teriak Arjuna lemas.

Beberapa kali Arjuna berteriak, tidak ada satupun yang mendengar teriakannya. Semuanya masih tampak menikmati makanan, tanpa terganggu dengan apapun.

Arjuna yang sudah berusaha keras, baru bisa mencapai tangga. Dia hanya perlu memanggil orang agar membantu dirinya turun. Akan tetapi, satu pergerakan yang dilakukan Arjuna membuat tubuhnya tersungkur dan berguling di anak tangga.

Bruk… Bruk… Bruk…

“MA! ITU!” seru Cantika menunjuk kearah anak bawah tangga dengan mata melotot.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 7

    Dimas hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan emosi ketika para tukang merenovasi kamar yang selama ini dia tempati. Kamar yang memiliki luas lebih besar dari kamar orangtuanya, dan juga kamar yang memiliki fasilitas lebih lengkap dari yang lainnya. Bahkan view kamar tersebut langsung mengarah ke kebun bunga milik tetangga. Jika dia tidak menempati kamar itu lagi, maka dia tidak akan bisa melihat anak gadis tetangga yang selalu menyiram bunga di sore hari.“Bang, lo mau diam aja kamar kesayangan lo diambil sama si Lumpuh?” celetuk Cantika yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Usia Cantika hanya berbeda satu tahun dari usia Dimas. Sehingga tumbuh besar serta bersekolah yang sama.“Ck, lo gak tahu aja kejadian kemaren, dek. Makanya kalau pulang ya langsung pulang. Kagak usah keluyuran!”“Lah emang apa yang terjadi kemaren?”Dimas menghela napas panjang, “intinya papa dan mama minta gue biarkan dia perbuat apa saja. Biarkan dia merasa di atas sebentar, lalu kita kembali jatuhkan

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 6

    Marisa sempat melihat dari ponselnya jika Arjuna sudah bisa berjalan menaiki tangga. Dia yang terkejut dan ketakutan melemparkan ponselnya begitu saja.“Ma, kenapa?”“Di-dia, di-dia bi-bi-bisa jalan!” sahut Marisa dengan tergagap.“Siapa yang bisa jalan, ma?”“Ar-Arjuna, pa. Arjuna sudah bisa jalan!”Dahi Joni dan anaknya Dimas mengernyit. Hampir secara bersamaan, mereka mengambil ponsel milik Marisa. Namun sayangnya, layar ponsel tersebut sudah berubah menjadi gelap. Bahkan saat mereka mencoba menghidupkannya, tetap saja tidak bisa. Ponsel milik Marisa mati total.“Ma, kenapa mama lempar sih? Kan ponselnya jadinya rusak.”“Rusak? Tapi mama lemparnya pelan kok, Dim. Mana mungkin rusak?”“Ini buktinya!” tunjuk Dimas pada ponsel Marisa yang tidak bisa menyala lagi.Melihat hal itu Marisa menggelengkan kepalanya seraya menatap sang anak dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafkan mama, Dim. Mama gak sengaja.”“Sudah, sudah! Lupakan saja masalah ponsel itu. Sekarang biarkan saja Arjuna men

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 5

    Kamar yang dituju oleh Juna, bukan kamar yang berada di lantai bawah. Bukan kamar yang biasanya dia tempati. Melainkan kamar yang miliknya dahulu, yang sekarang ditempati oleh Dimas.“Sekarang kamar ini akan jadi milik gue seutuhnya. Lagian Juna sudah memberikan semuanya pada gue. Jangan kamar ini, raganya aja dia berikan sama gue. Jadi, kagak salahnya dong kalau gue manfaatkan semuanya dengan baik!” desis Juno yang sekarang menguasai tubuh Juna.“Oke, karena ini akan jadi kamar gue. Maka, gue harus buang barang-barang yang tidak penting dulu!”Juna masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika merasakan ada yang tertinggal.“Sial, kursi roda bobrok itu tinggal di bawah. Gue harus gimana yaaak? Aaah, bodoh banget sih gue. Kan gue bisa minta bantuan para perkerja di sini. Tinggal gue suap aja, pasti mereka mau bantu!”Juna mengatasi kursi rodanya dengan bantuan tukang kebunnya yang memang sejak tadi mengawasinya. Tukang kebun yang sudah berkerja di rumahnya sejak

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 4

    Selama koma, Arjuno mendapatkan semua ingatan Arjuna. Dia dapat melihat jelas bagaimana Arjuna di perlakukan sangat jahat oleh satu keluarga yang memanfaatkan harta orangtua Arjuna.“Cih, hidup lo menyedihkan amat sih, Juna!” gumam Arjuno pelan. “Eh, tapi… Nasih hidup gue gimana? Masa sih gue mati lagi beol. Kan kagak banget! Atau jangan-jangan ada hal lain yang menyebabkan gue mati yaaa? Alaaah… Bodo amat lah! Yang jelas gue bisa hidup di tubuh Arjuna aja sudah bersyukur. Untuk kematian gue, biar gue selidiki setelah gue udah keluar dari rumah sakit dan setelah tubuh ini bisa jalan!” sambungnya.Arjuno yang berada di dalam tubuh Arjuna kembali melihat kearah pintu ruang ICU. Keluarga oomnya benar-benar sudah meninggalkannya. Dia yakin jika mereka tidak mempermasalah jika Arjuna masuk ke ruangan ini. Selama masih hidup, Arjuna pasti masih bisa dimanfaatkan.“Gue harus cepat sembuh!” tekad Arjuno yang sekarang akan benar-benar menjadi Arjuna. Dia akan menggunakan semua kemampuan asliny

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 3

    “ARJUNAAAAA!!!” teriak seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat terkejut melihat keponakannya berguling dari lantai dua dan berakhir tepat di bawah anak tangga yang pertama.“MAMA! DIMAS! CANTIKA! KALIAN DIMANA? AYOO, BANTU PAPA ANGKAT ARJUNA!!!”Laki-laki itu kembali berteriak memanggil anggota keluarganya. Dia tidak bisa membiarkan keponakannya terluka atau kehilangan nyawa. Keponakannya harus tetap hidup agar kehidupan dirinya dan keluarganya selalu terjamin.“Papa! Papa ngapain sih? Biar aja dia mati!”“Ma! Jangan ngomong kayak gitu! Mama lupa apa kata pengacara bang Mahen. Kita masih membutuhkan Arjuna, ma!” sentak Joni menatap tajam sang istri.“Astaga! Mama lupa, pa. Maafkan, mama! Ayoo, kita bawa Juna ke rumah sakit. Dia harus tetap hidup!” seru tante Marisa.Dengan dibantu anak dan istrinya, om Joni mengangkat tubuh Arjuna masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi, laki-laki berusia 40 tahunan itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam h

  • I'm Arjuno, Not Arjuna    BAB 2

    Kaki yang tadi terasa sangat kaki karena di tarik paksa oleh tantenya. Seketika langsung hilang, mengetahui jika dirinya di pindahkan kembali ke kamar miliknya di lantai dua.Sejujurnya, Arjuna sangat merindukan kamarnya itu. Di sana banyak tersimpan kenangan bersama keluarga dan teman-teman sekolahnya dahulu. Namun, sejak dirinya kecelakaan, kamar itu tidak pernah dia datangi lagi.“Maaa! Mama…!!! Ngapain si Lumpuh masuk kamar aku?” teriak Dimas protes ketika tukang kebunnya membawa Arjuna masuk ke dalam kamarnya.“Ssssst, gak apa-apa sayang. Biarkan Arjuna menikmati kamarnya sebentar!” sahut tante Marisa menatap anaknya, sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.“Tapi, ma…”Kepala tante Marisa menggelengkan kepalanya pelan. Meminta anaknya untuk diam dan tidak banyak protes. Kemudian dia mendekati Arjuna yang tampak senang berada di kamarnya, walau ada beberapa yang di rubah. Namun, rasanya masih seperti dulu. Nyaman dan tenang berada di kamarnya.“Juna, senang sayang? Mau k

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status