LOGINKamar yang dituju oleh Juna, bukan kamar yang berada di lantai bawah. Bukan kamar yang biasanya dia tempati. Melainkan kamar yang miliknya dahulu, yang sekarang ditempati oleh Dimas.
“Sekarang kamar ini akan jadi milik gue seutuhnya. Lagian Juna sudah memberikan semuanya pada gue. Jangan kamar ini, raganya aja dia berikan sama gue. Jadi, kagak salahnya dong kalau gue manfaatkan semuanya dengan baik!” desis Juno yang sekarang menguasai tubuh Juna.
“Oke, karena ini akan jadi kamar gue. Maka, gue harus buang barang-barang yang tidak penting dulu!”
Juna masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika merasakan ada yang tertinggal.
“Sial, kursi roda bobrok itu tinggal di bawah. Gue harus gimana yaaak? Aaah, bodoh banget sih gue. Kan gue bisa minta bantuan para perkerja di sini. Tinggal gue suap aja, pasti mereka mau bantu!”
Juna mengatasi kursi rodanya dengan bantuan tukang kebunnya yang memang sejak tadi mengawasinya. Tukang kebun yang sudah berkerja di rumahnya sejak dirinya masih kecil. Dan sekarang, dia sudah membawakan kursi rodanya dengan mata berkaca-kaca. Bahkan sesekali dia tampak mengusap matanya agar airmatanya tidak keluar.
“Lain kali hati-hati ya, Den. Amang cuma bantu ini, amang tidak bisa membela Aden jika tuan dan nyonya marah. Amang hanya…”
“Makasih ya, mang. Makasih sudah baik dengan Juna. Juna bilang, amang salah satu orang yang sangat baik dan sudah banyak membantu dia. Kebaikan dan ketulusan amang tidak akan dilupakan sama Juna,” ucap pemuda itu dengan tatapan penuh terimakasih dengan laki-laki paruh baya itu.
Dahi tukang kebun itu mengernyit sejenak, lalu dia menganggukkan kepalanya. Walau ucapan majikan kecilnya terasa aneh, tapi dia memakluminya. Dia merasa jika ucapan majikan kecilnya agak melantur karena efek luka yang ada di kepalanya.
“Sama-sama, Den. Ayoo, Aden masuk. Nanti ketahuan tuan dan nyonya. Kalau nanti Aden butuh bantuan, kabari amang aja ya?”
“Iya, mang. Sekali lagi makasih ya mang?”
Sepeninggalan mang Asep, tukang kebun di rumah itu. Juna masuk ke dalam kamar yang sudah tidak lama dia tempati. Terakhir dia tempati, berujung dia celaka sendiri. Seolah memang keluarga oomnya menginginkan dirinya celaka dan mungkin juga mati.
Melihat kamar yang dipenuhi dengan barang Dimas, tangan Juna mengepal erat. Dalam ingatannya, banyak barang Juna yang penuh kenangan dibuang atau dipindahkan ke gudang oleh Dimas maupun tantenya.
“Kalau lo bisa melakukan itu, kenapa gue gak bisa juga!” desis Juno tersenyum licik. “Tenang lo Juna, sepupu lo yang kurang ajar itu akan merasakan hal yang sama seperti yang lo rasakan. Dia akan kehilangan benda-benda kesayangan dia juga.”
Dengan pintu yang tertutup rapat, kaki dan tangan Juna yang sudah dilatih di rumah sakit bergerak dengan cepat. Tidak ada lagi gerakan kaku atau gerakan penuh ketakutan. Semuanya gerakan yang keluar dari tubuh Juna sangat pasti dan penuh keyakinan.
Hampir semua barang milik Dimas telah dikumpulkan oleh Juna. Tinggal dia buang satu per satu ke lantai bawah. Dia sama sekali tidak peduli jika barang yang akan dilemparkan itu akan pecah ataupun hancur.
“Saatnya pertunjukan! Gue pengen liat reaksi suami istri yang kagak tahu diri itu!”
Praaaak…
Bruuukh…
Praaang…
Bunyi barang berjatuhan mencuri perhatian semua orang. Termasuk dari om Joni dan tante Marisa yang masih duduk di sofa ruang tamu.
Ketika mereka melihat asal bunyi tersebut, mata mereka langsung melotot. Tanpa perlu dicari tahu, mereka sudah mengetahui jika barang-barang yang berjatuhan itu milik anak laki-lakinya yang sekarang masih berada di sekolah.
“ARJUNAAAA!!!” teriak sepasang suami istri saat melihat pelaku yang melemparkan barang anaknya dari lantai atas.
“KURANG AJAR KAMU, JUNA! KAMU DIKASIH HATI MALAH MINTA JANTUNG. DASAR ANAK DURHAKA, SAMA SEKALI TIDAK BISA DIBAIKI! BERHENTI MELEMPAR BARANG-BARANG ANAK SAYA!” teriak tante Marisa.
Teriakan-teriakan dari lantai sama sekali tidak dipedulikan oleh Juna. Sambil tetap berada di atas kursi roda, dia melemparkan barang-barang milik Dimas hingga selesai.
Om Sanjaya yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Menaiki dengan cepat anak tangga yang menuju ke lantai atas.
“Arjunaa! Kamu sudah membuat oom emosi. Sepertinya kamu sudah tidak sabar menyusul kedua orangtua kamu!” desis laki-laki paruh baya itu.
“Arjuna mungkin sudah berada di sisi orangtuanya. Jadi, buat apa dia nyusul lagi? Atau oom yang pengen menyusul orangtua Juna buat minta maaf?” balas Juna dengan memiringkan kepalanya serta senyum yang penuh ejekan.
Om Sanjaya memicingkan matanya. Lalu mendekati Juna cepat, dengan tangan terangkat keatas. Gerakan Om Sanjaya itu sudah diprediksi oleh Juna. Barang terakhir yang berada di tangan Juna, sekaligus barang kesayangan Dimas dilemparkan cepat kearah om Sanjaya.
Tangan yang hendak memukul Juna tidak jadi dilayangkan. Om Sanjaya memilih menangkap barang tersebut. Barang yang bagi anaknya sangat berharga itu.
“Yaaah, gak jadi jatuh deh! Sayang sekali…!” ujar Juna. “Eh, tapi itu om!” seru Juna menunjuk ke barang yang di pegang om Sanjaya.
Braaaak…
“Gotcha!”
“ARJUNAAAA!!!”
“Kaburrr!!!” teriak Juna masuk ke dalam kamarnya. Tidak lupa dia mengunci kamar tersebut dari dalam. Membuat Om Sanjaya tidak bisa masuk apalagi menyentuh.
“ARJUNA, KELUAR KAMU!!!”
Juna tersenyum penuh kemenangan. Dia melangkah menuju kasur dan merebahkan tubuhnya dengan tenang.
“Untuk hari ini cukup sampai di sini, besok tunggu kejutan dari gue lagi!” gumam Arjuna.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
“Pa, Ma… Ini kenapa? Kenapa barang-barang aku kayak gini? Siapa yang udah melakukan ini semua?”
Dimas yang baru pulang dari sekolah sangat terkejut melihat barang-barang kesayangannya telah hancur berantakan. Tidak ada satupun barang-barang yang bisa dia selamatkan. Bahkan laptop yang sering dia gunakan pun sudah terbelah dua.
“Arjuna! Arjuna keponakan papa kamu yang kurang ajar itu yang merusaknya, Dimas! Sekarang anak kurang ajar itu malah sembunyi di kamar kamu. Memang tidak tahu diri sekali!” sahut tante Marisa dengan wajah penuh kekesalan. Dia bahkan melirik sinis sang suami yang tidak bisa melakukan apa-apa.
“Arjuna? Emang dia sudah sembuh, Ma? Dan gimana caranya dia naik keatas sana? Dia masih lumpuh kan, Ma?”
Deg…
Perkataan Dimas membuat Sanjaya dan istrinya saling tatap. Lalu mereka memeriksa rekaman kamera CCTV yang bisa diakses melalui ponsel mereka masing-masing.
Dahi mereka mengkerut karena untuk mengakses rekaman CCTV sangat susah. Berulang kali muncul kata eror di ponsel keduanya.
“Aneh! Kenapa kayak gini?” lirih Sanjaya melihat kamera yang terpasang di penjuru rumah itu. Dia ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Dan memang terlihat baik-baik, tanpa ada keanehan sedikit pun.
“TI-TIDAK MU-MUNGKIN!!!” seru Marisa melemparkan ponselnya dengan wajah ketakutan.
“MAMA…?”
Dimas hanya bisa mengepalkan tangannya, menahan emosi ketika para tukang merenovasi kamar yang selama ini dia tempati. Kamar yang memiliki luas lebih besar dari kamar orangtuanya, dan juga kamar yang memiliki fasilitas lebih lengkap dari yang lainnya. Bahkan view kamar tersebut langsung mengarah ke kebun bunga milik tetangga. Jika dia tidak menempati kamar itu lagi, maka dia tidak akan bisa melihat anak gadis tetangga yang selalu menyiram bunga di sore hari.“Bang, lo mau diam aja kamar kesayangan lo diambil sama si Lumpuh?” celetuk Cantika yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Usia Cantika hanya berbeda satu tahun dari usia Dimas. Sehingga tumbuh besar serta bersekolah yang sama.“Ck, lo gak tahu aja kejadian kemaren, dek. Makanya kalau pulang ya langsung pulang. Kagak usah keluyuran!”“Lah emang apa yang terjadi kemaren?”Dimas menghela napas panjang, “intinya papa dan mama minta gue biarkan dia perbuat apa saja. Biarkan dia merasa di atas sebentar, lalu kita kembali jatuhkan
Marisa sempat melihat dari ponselnya jika Arjuna sudah bisa berjalan menaiki tangga. Dia yang terkejut dan ketakutan melemparkan ponselnya begitu saja.“Ma, kenapa?”“Di-dia, di-dia bi-bi-bisa jalan!” sahut Marisa dengan tergagap.“Siapa yang bisa jalan, ma?”“Ar-Arjuna, pa. Arjuna sudah bisa jalan!”Dahi Joni dan anaknya Dimas mengernyit. Hampir secara bersamaan, mereka mengambil ponsel milik Marisa. Namun sayangnya, layar ponsel tersebut sudah berubah menjadi gelap. Bahkan saat mereka mencoba menghidupkannya, tetap saja tidak bisa. Ponsel milik Marisa mati total.“Ma, kenapa mama lempar sih? Kan ponselnya jadinya rusak.”“Rusak? Tapi mama lemparnya pelan kok, Dim. Mana mungkin rusak?”“Ini buktinya!” tunjuk Dimas pada ponsel Marisa yang tidak bisa menyala lagi.Melihat hal itu Marisa menggelengkan kepalanya seraya menatap sang anak dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maafkan mama, Dim. Mama gak sengaja.”“Sudah, sudah! Lupakan saja masalah ponsel itu. Sekarang biarkan saja Arjuna men
Kamar yang dituju oleh Juna, bukan kamar yang berada di lantai bawah. Bukan kamar yang biasanya dia tempati. Melainkan kamar yang miliknya dahulu, yang sekarang ditempati oleh Dimas.“Sekarang kamar ini akan jadi milik gue seutuhnya. Lagian Juna sudah memberikan semuanya pada gue. Jangan kamar ini, raganya aja dia berikan sama gue. Jadi, kagak salahnya dong kalau gue manfaatkan semuanya dengan baik!” desis Juno yang sekarang menguasai tubuh Juna.“Oke, karena ini akan jadi kamar gue. Maka, gue harus buang barang-barang yang tidak penting dulu!”Juna masuk ke dalam kamarnya, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika merasakan ada yang tertinggal.“Sial, kursi roda bobrok itu tinggal di bawah. Gue harus gimana yaaak? Aaah, bodoh banget sih gue. Kan gue bisa minta bantuan para perkerja di sini. Tinggal gue suap aja, pasti mereka mau bantu!”Juna mengatasi kursi rodanya dengan bantuan tukang kebunnya yang memang sejak tadi mengawasinya. Tukang kebun yang sudah berkerja di rumahnya sejak
Selama koma, Arjuno mendapatkan semua ingatan Arjuna. Dia dapat melihat jelas bagaimana Arjuna di perlakukan sangat jahat oleh satu keluarga yang memanfaatkan harta orangtua Arjuna.“Cih, hidup lo menyedihkan amat sih, Juna!” gumam Arjuno pelan. “Eh, tapi… Nasih hidup gue gimana? Masa sih gue mati lagi beol. Kan kagak banget! Atau jangan-jangan ada hal lain yang menyebabkan gue mati yaaa? Alaaah… Bodo amat lah! Yang jelas gue bisa hidup di tubuh Arjuna aja sudah bersyukur. Untuk kematian gue, biar gue selidiki setelah gue udah keluar dari rumah sakit dan setelah tubuh ini bisa jalan!” sambungnya.Arjuno yang berada di dalam tubuh Arjuna kembali melihat kearah pintu ruang ICU. Keluarga oomnya benar-benar sudah meninggalkannya. Dia yakin jika mereka tidak mempermasalah jika Arjuna masuk ke ruangan ini. Selama masih hidup, Arjuna pasti masih bisa dimanfaatkan.“Gue harus cepat sembuh!” tekad Arjuno yang sekarang akan benar-benar menjadi Arjuna. Dia akan menggunakan semua kemampuan asliny
“ARJUNAAAAA!!!” teriak seorang laki-laki yang baru masuk ke dalam rumahnya. Dia sangat terkejut melihat keponakannya berguling dari lantai dua dan berakhir tepat di bawah anak tangga yang pertama.“MAMA! DIMAS! CANTIKA! KALIAN DIMANA? AYOO, BANTU PAPA ANGKAT ARJUNA!!!”Laki-laki itu kembali berteriak memanggil anggota keluarganya. Dia tidak bisa membiarkan keponakannya terluka atau kehilangan nyawa. Keponakannya harus tetap hidup agar kehidupan dirinya dan keluarganya selalu terjamin.“Papa! Papa ngapain sih? Biar aja dia mati!”“Ma! Jangan ngomong kayak gitu! Mama lupa apa kata pengacara bang Mahen. Kita masih membutuhkan Arjuna, ma!” sentak Joni menatap tajam sang istri.“Astaga! Mama lupa, pa. Maafkan, mama! Ayoo, kita bawa Juna ke rumah sakit. Dia harus tetap hidup!” seru tante Marisa.Dengan dibantu anak dan istrinya, om Joni mengangkat tubuh Arjuna masuk ke dalam mobil. Dengan kecepatan cukup tinggi, laki-laki berusia 40 tahunan itu melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam h
Kaki yang tadi terasa sangat kaki karena di tarik paksa oleh tantenya. Seketika langsung hilang, mengetahui jika dirinya di pindahkan kembali ke kamar miliknya di lantai dua.Sejujurnya, Arjuna sangat merindukan kamarnya itu. Di sana banyak tersimpan kenangan bersama keluarga dan teman-teman sekolahnya dahulu. Namun, sejak dirinya kecelakaan, kamar itu tidak pernah dia datangi lagi.“Maaa! Mama…!!! Ngapain si Lumpuh masuk kamar aku?” teriak Dimas protes ketika tukang kebunnya membawa Arjuna masuk ke dalam kamarnya.“Ssssst, gak apa-apa sayang. Biarkan Arjuna menikmati kamarnya sebentar!” sahut tante Marisa menatap anaknya, sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir.“Tapi, ma…”Kepala tante Marisa menggelengkan kepalanya pelan. Meminta anaknya untuk diam dan tidak banyak protes. Kemudian dia mendekati Arjuna yang tampak senang berada di kamarnya, walau ada beberapa yang di rubah. Namun, rasanya masih seperti dulu. Nyaman dan tenang berada di kamarnya.“Juna, senang sayang? Mau k







