تسجيل الدخول"Ini benar-benar pemandangan yang menyenangkan," bisik Lie Mei pelan.Xiu Jie hanya mengulum senyum.Tanpa mengatakan apa pun, ia melangkah maju dengan anggun.Rok panjangnya bergesekan lembut dengan lantai batu, sementara jepit rambut giok di kepalanya berayun mengikuti langkahnya.Dengan tenang ia melewati Ye Jinjing dan para nona bangsawan yang masih membeku dalam kebingungan.Seolah-olah semua keributan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.Dan justru sikap tenang itulah yang membuat Ye Jinjing merasa semakin terhina.Xiu Jie tersenyum lembut, begitu lembut hingga sulit bagi siapa pun untuk menemukan cela dalam sikapnya.Namun mereka yang mengenalnya cukup lama tahu bahwa senyum seperti itu biasanya menjadi pertanda bahwa seseorang akan dipermalukan tanpa sempat membalas.Ia melirik Ye Jinjing sekilas sebelum kembali menatap para nona bangsawan yang masih kebingungan."Kalian memang salah paham."Xiu Jie menghela napas pelan seolah merasa kasihan."Nona ini bukanla
Ketika Xiu Jie dan Ye Jinjing turun dari kereta pada waktu yang hampir bersamaan, perhatian banyak orang seketika tertuju kepada mereka. Aula perjamuan yang semula dipenuhi suara tawa dan percakapan ringan perlahan berubah menjadi lautan bisikan. Tatapan para tamu, terutama para nona bangsawan, bergerak bolak-balik mengamati kedua wanita itu dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan.Kabar mengenai Jenderal Tian Ming yang membawa seorang wanita pulang dari medan perang telah lama beredar di kalangan bangsawan. Namun, tidak banyak yang benar-benar mengetahui wajah Ye Jinjing. Sebagian besar hanya mendengar desas-desus, lalu merangkainya menjadi berbagai spekulasi.Bagi beberapa gadis bangsawan yang gemar mencari perhatian dan memanfaatkan gosip sebagai hiburan, kesempatan seperti ini tentu tidak akan mereka lewatkan."Menurut kalian, yang mana istri Jenderal Tian?" bisik salah seorang gadis sambil menutupi mulutnya dengan kipas sutra."Menurutku yang di depan itu," jawab gadis la
Pesta Seribu Bunga akhirnya tiba.Sejak fajar menyingsing, Istana Giok Bulan telah dipenuhi kesibukan. Para pelayan hilir-mudik membawa baki berisi perhiasan giok, jepit rambut emas, serta gulungan kain sutra terbaik yang telah disiapkan untuk perhelatan besar tersebut. Aroma dupa cendana yang lembut memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi bunga peoni yang menghiasi setiap sudut istana.Sebagai permaisuri, Shen Jin telah bersiap sejak pagi bersama ibu mertuanya. Namun, di balik penampilannya yang megah dan sempurna, wajah cantiknya tampak sedikit muram.Ia berdiri di depan cermin tinggi berbingkai emas, menatap pantulan dirinya dengan tatapan pasrah. Jubah kebesaran berlapis-lapis yang dikenakannya menjuntai hingga menyapu lantai. Sulaman burung phoenix berbenang emas berkilauan setiap kali terkena cahaya matahari yang masuk melalui jendela.Shen Jin menghela napas panjang. Dada rampingnya naik turun perlahan, sementara jemarinya tanpa sadar menarik sedikit kerah pakaian kebesaran ya
Selama bertahun-tahun terakhir, Xiu Jie jarang pulang ke kediaman keluarga Xiu setelah menikah dengan Tian Ming. Akibatnya, perhatian Perdana Menteri Xiu sebagian besar tertuju kepada Xiu Lian. Semua orang di kediaman bahkan hampir menganggap Xiu Lian sebagai satu-satunya nona keluarga Xiu yang tinggal di rumah. Jika Xiu Jie kembali... Maka semuanya akan berubah. Dan perubahan itu bukan sesuatu yang mereka sukai. "Nona, pelankan suaramu." Nyonya Kedua Xiu menarik putrinya menjauh dari jendela. Baru setelah mereka berjalan cukup jauh, wanita itu kembali berbicara. "Kau terlalu panik." "Bagaimana aku tidak panik?" Xiu Lian menghentakkan kaki kecilnya. "Wanita itu adalah putri sah Ayah." Semakin dipikirkan, semakin tidak nyaman perasaannya. Dari kecil hingga sekarang, satu-satunya orang yang selalu membuatnya merasa kalah adalah Xiu Jie. Xiu Jie lebih cantik darinya. Lebih berbakat darinya. Bahkan statusnya jauh lebih tinggi. Putri sah seorang perdana menteri. Sedangka
Sementara itu, di sisi lain ibu kota. Kediaman Perdana Menteri Xiu yang megah dan luas tampak sibuk seperti biasa. Para pelayan berlalu-lalang membawa dokumen, sementara para pejabat bawahan keluar masuk ruang kerja sang perdana menteri untuk melaporkan berbagai urusan pemerintahan. Di ruang baca utama yang dipenuhi rak-rak kayu cendana dan gulungan dokumen berharga, Perdana Menteri Xiu tengah memeriksa laporan resmi dari beberapa wilayah kekaisaran. Pria paruh baya itu dikenal sebagai salah satu pilar utama Kekaisaran Agung. Wajahnya tampak tenang dan berwibawa. Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai seorang pengawal kepercayaan memasuki ruangan dengan ekspresi ragu-ragu. "Yang Mulia Perdana Menteri." Perdana Menteri Xiu mengangkat kepala. "Ada apa?" Pengawal itu berlutut. "Hamba menerima kabar dari istana." "Katakan." Pengawal tersebut menelan ludah sebelum melanjutkan. "Persiapan pernikahan antara Jenderal Tian Ming dan Putri Jinghe telah memasuki tahap akhir." S
Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan dimulai, wajah Xiu Jie kembali bersinar. Ia mengacungkan kedua jempolnya tinggi-tinggi. "Kau benar-benar yang terbaik!" Shen Jin tertawa kecil sambil mengangkat dagunya dengan bangga. "Tentu saja." "Kalau semua ibu mertua di dunia seperti dirimu, jumlah tragedi percintaan pasti berkurang setengahnya." "Hanya setengah?" "Baiklah, mungkin tujuh puluh persen." Mendengar itu, Shen Jin tertawa semakin keras. Sementara Xiu Jie mengangguk penuh keyakinan. Setidaknya, untuk urusan membersihkan harem, Shen Jin memang pantas mendapatkan penghargaan tertinggi. "Kak Shen Jin, untuk masalah putramu..." ucap Xiu Jie tiba-tiba dengan nada lebih serius. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang. Shen Jin yang melihat perubahan ekspresinya ikut memasang wajah tenang. "Kenapa?" Xiu Jie menundukkan suara, seolah khawatir ada orang lain yang mendengarnya. "Sebaiknya jangan beritahu Kakak Ipar terlebih dahulu." Shen Jin memahami
Langkah kaki Xiu Jie terdengar ringan menyusuri lorong panjang menuju kamarnya. Begitu pintu kayu itu terbuka, ia menoleh ke belakang, menatap Tian Ming yang mengikutinya sejak dari aula utama."Ada apa kau mengajakku kemari?" tanyanya datar, sembari menutup pintu perlahan.Tian Ming berdiri di amb
Aroma dupa kayu manis dari aula istana masih melekat di udara ketika Xiu Jie melangkah keluar. Langkahnya berat dan sedikit terhentak, seolah ingin meluapkan kekesalan yang ia tahan sejak pertemuan itu. Baru saja ia menginjak batu marmer di teras luar, tangan hangat menarik lengannya—erat, tergesa.
Semua orang telah meninggalkan aula istana. Yang tersisa hanyalah Xiu Jie dan Kaisar Jinyulong. Suasana berubah sunyi, menekan. Xiu Jie menunduk, tak berani mengangkat wajahnya. Matanya terpaku pada lantai marmer yang dingin."Kenapa aku masih di sini?" pikirnya gelisah. Ia bahkan tak sadar saat Ka
Langit sore menggantung kelabu di atas paviliun utama kediaman Jenderal Tian. Angin membawa aroma bunga plum yang gugur, namun suasana di dalam ruangan jauh dari damai. Suara lantang Tian Ming memecah keheningan, tapi justru dibalas dengan ketenangan yang menusuk. “Tian Ming, kenapa kau berteriak







