MasukRavika adalah seorang janda muda berparas cantik dan mempesona yang tinggal sendiri dan mengelola rumah kos sederhana peninggalan suaminya. Di balik senyum tipis dan sikap tenangnya, Ravika menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh—dan rahasia gelap yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Hingga suatu hari, datanglah Arven, anak kos baru yang tampan, dingin, dan cerdas. Kehadirannya membawa angin segar sekaligus badai yang tak terduga. Perlahan, interaksi antara Ravika dan Arven mulai melintasi batas antara ibu kos dan penyewa. Ketegangan semakin terasa di balik dinding kamar kos yang sempit—tatapan yang terlalu lama, sentuhan yang tak sengaja, dan percakapan yang terlalu dalam. Namun Arven tak datang hanya untuk menyewa kamar. Ia punya tujuan tersembunyi... dan masa lalu Ravika mungkin lebih berbahaya dari yang terlihat. Mampukah mereka menahan godaan yang terus membara? Ataukah semuanya akan berakhir dengan kehancuran yang tak terhindarkan? ---
Lihat lebih banyakLangit sore itu mendung. Awan menggantung rendah di atas kompleks perumahan padat di daerah Cibinong. Bau hujan menggantung di udara saat Arven menarik koper hitamnya melewati jalan kecil yang dipenuhi pohon mangga, jemuran, dan suara burung murai yang dikurung di teras rumah warga.
Di ujung jalan, berdiri rumah dua lantai berwarna hijau pucat dengan pagar besi sederhana. Plang kayu kecil tergantung di sisi gerbang: “Kos Eksklusif Putra – Ny. Ravika” Arven berhenti sejenak, mengusap peluh dari keningnya. Ia mengenakan hoodie abu-abu, celana jeans pudar, dan ransel hitam. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya tetap awas. Ia menekan bel yang terdengar nyaring di dalam rumah. Tak lama kemudian, pintu kayu terbuka. Dan di sanalah ia berdiri. Ravika. Perempuan muda berambut sebahu, pirang karamel, dengan kulit bening dan tatapan yang sulit ditebak. Ia mengenakan daster abu-abu tipis dengan motif bunga samar. Daster itu menggantung longgar di tubuhnya, namun tidak sepenuhnya menyembunyikan lekuk-lekuk yang membuat Arven refleks menundukkan pandangan. Ada getaran aneh di dadanya yang belum pernah ia rasakan pada pertemuan pertama dengan siapa pun. “Arven, ya?” tanyanya lembut. “Iya, Bu.” Suaranya agak serak. “Jangan panggil saya ‘Bu’. Saya masih 29 tahun, bukan nenek-nenek,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Senyum itu seperti menyambar langsung ke dada Arven, membuatnya kehilangan kata-kata sesaat sebelum akhirnya mengangguk kaku. “Mari, saya antar ke kamar.” Mereka berjalan menyusuri lorong kecil menuju kamar di paling ujung. Rumah itu terasa sepi, hanya terdengar suara jam dinding berdetak dan angin sore yang menyelusup lewat ventilasi. Langkah Ravika yang tenang di depannya entah kenapa membuat Arven memperhatikan setiap gerakannya—daster abu-abu itu bergoyang pelan mengikuti irama langkahnya, seolah tanpa sengaja memancing pikirannya. “Kamar kamu ini agak jauh dari kamar penghuni lain. Di lantai bawah cuma ada dua kamar: satu kosong, satu lagi ini,” kata Ravika sambil membuka pintu. Ruangan itu bersih. Ada tempat tidur single, lemari kayu, meja belajar, dan jendela yang menghadap ke taman kecil di belakang rumah. Sepintas sederhana, tapi nyaman. “Kalau mau air panas, pakai pemanas di kamar mandi luar. Jangan lupa matikan setelah pakai. Dan kalau kamu dengar suara-suara aneh dari dapur malam-malam…” Ravika menatapnya agak lama, bibirnya terangkat sedikit seperti menahan senyum. “Abaikan saja.” Arven sempat menatapnya penuh tanya, tapi tak bertanya lebih lanjut. “Ada penghuni lain?” ia akhirnya bertanya. “Cuma dua lagi. Anak magang dari bengkel dekat sini, dan satunya kuliah malam. Mereka jarang di rumah. Biasanya kamu bakal sering sendirian di lantai ini.” Arven mengangguk pelan. Setelah Ravika meninggalkan kamar, ia mulai menata barangnya. Namun pikirannya belum tenang. Ada sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahunya—dan itu bukan cuma dari daster tipis ibu kosnya. --- Malamnya, Arven memutuskan keluar membeli makan. Saat kembali, rumah sudah gelap. Hanya lampu di dekat dapur yang menyala samar. Ia berjalan pelan melewati lorong menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti. Suara. Seperti kursi yang ditarik pelan. Dari arah dapur. Ia menoleh. Dapur berada di pojok rumah, hanya diterangi lampu temaram. Tak ada orang. Tapi suara itu jelas tadi. Ia berjalan pelan mendekat. Di atas meja makan, sebuah gelas tampak bergeser sendiri. Tidak jauh. Tapi cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. “Arven?” suara lembut itu mengejutkannya dari belakang. Ia menoleh cepat. Ravika berdiri tak jauh dari sana. Masih mengenakan daster abu-abu, rambutnya kini terurai lebih longgar, matanya redup. “Kamu ngapain?” tanyanya pelan. “Tadi… saya dengar suara.” Ravika tersenyum samar. “Oh. Kamu memang bisa dengar, ya…” Arven mematung. “Maksudnya?” Ravika tidak menjawab. Ia hanya berjalan pelan ke arah dapur, mengambil gelas, dan mencucinya di wastafel seolah tak terjadi apa-apa. “Kamar kamu cukup hangat?” tanyanya sambil membelakangi Arven. “Iya,” jawab Arven, meski kini tengkuknya terasa dingin. “Bagus. Tidurlah. Besok kamu pasti lelah.” Ia menoleh sebentar. Senyumnya tetap ada, tapi tatapannya mengarah ke luar jendela dapur. Kosong. Diam. Arven berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah hati-hati. Setiba di kasur, ia merebahkan diri, tapi matanya tetap terbuka menatap langit-langit. Ibu kos ini… bukan perempuan biasa. Bukan hanya karena misterinya, tapi juga karena setiap senyumnya seolah menyimpan rahasia yang membuat Arven ingin memecahkannya—meski itu berarti ia harus semakin dekat dengannya. ---Pagi itu, matahari bersinar lebih hangat dari biasanya.Udara yang masuk melalui jendela membawa aroma bunga melati dari halaman kos.Ravika membuka pintu depan lebih awal dari biasanya.Ia menyapu teras seperti yang selalu ia lakukan setiap pagi.Tidak ada yang berbeda.Namun kini, setiap kali ia menoleh ke arah halaman, selalu ada seseorang yang sedang membantunya.Arven."Biar aku saja."katanya sambil mengambil sapu dari tangan Ravika.Ravika tersenyum."Kalau semua kamu yang kerjakan, aku ngapain?""Duduk.""Temenin aku."Ravika tertawa kecil."Kamu ya..."Hari-hari kembali berjalan seperti semula.Arven kembali bekerja di kantor cabang di kota mereka.Ravika kembali mengurus kos dengan semangat.Namun ada satu perbedaan besar.Kini mereka tidak lagi dipisahkan oleh jarak.Tidak ada lagi panggilan video hingga larut malam.Tidak ada lagi hitungan mundur menuju kepulangan.Setiap pagi mereka bisa menikmati sarapan bersama.Setiap sore mereka duduk di teras sambil berbincang.Dan s
Pagi pertama setelah Arven kembali terasa begitu berbeda.Tidak ada lagi suara alarm yang terburu-buru.Tidak ada lagi jadwal panggilan video sebelum berangkat kerja.Yang terdengar hanyalah kicauan burung dari halaman kos dan aroma teh hangat yang dibuat Ravika di dapur.Arven membuka jendela kamarnya.Sinar matahari pagi masuk perlahan, menerangi ruangan yang sudah sangat ia rindukan.Ia menarik napas panjang.Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, ia benar-benar bangun di tempat yang ia anggap sebagai rumah.Di dapur, Ravika sedang menyiapkan sarapan."Nasi gorengnya jangan gosong, ya."godanya ketika melihat Arven masuk.Arven tertawa."Tenang.""Aku kan sudah belajar masak selama di luar kota.""Oh ya?""Iya.""Lihat nanti hasilnya."Tak lama kemudian Bima muncul sambil menguap lebar."Wah...""Hari pertama Mas Arven pulang udah langsung pamer.""Aku cuma bantu masak.""Boleh."kata Bima."Asal jangan lupa jatah tester."Suasana dapur kembali dipenuhi tawa.Setelah sarapan ber
Malam mulai turun perlahan.Suasana kos yang sejak pagi dipenuhi tawa akhirnya kembali tenang.Lampu-lampu hias yang dipasang para penghuni masih menyala, memberikan cahaya hangat di sepanjang teras. Bekas acara penyambutan mulai dirapikan bersama-sama. Piring-piring kotor dibawa ke dapur, kursi dikembalikan ke tempat semula, sementara balon-balon yang masih utuh dibiarkan menghiasi ruang tengah.Arven ikut membantu membereskan semuanya."Udah, istirahat aja."kata Bima."Baru sampai juga.""Nggak apa-apa."jawab Arven sambil mengangkat kardus bekas."Kalau semuanya kerja, aku masa cuma nonton.""Masih aja nggak enakan."celetuk Bima."Tiga bulan di luar kota ternyata nggak ngubah sifatmu."Semua orang tertawa.Setelah semuanya selesai, para penghuni satu per satu berpamitan kembali ke kamar masing-masing."Mas Arven, besok ngobrol lagi ya.""Siap.""Jangan kabur lagi.""Insyaallah nggak."Tak lama kemudian halaman kembali lengang.Hanya tersisa Arven, Ravika, Bima, Pak Hendra, dan Bu
Mobil yang dikendarai Pak Hendra melambat ketika memasuki jalan kecil menuju kos.Jalan itu tidak berubah sedikit pun.Warung kopi di sudut gang masih buka sejak pagi.Penjual gorengan yang dulu sering didatangi Arven masih sibuk melayani pembeli.Bahkan pohon mangga di depan rumah warga masih berdiri kokoh, hanya saja kini daunnya tampak lebih rimbun.Arven memandangi semuanya tanpa berkedip.Rasa rindu yang selama ini hanya menjadi bayangan kini benar-benar berubah menjadi kenyataan."Masih ingat semua?"tanya Pak Hendra sambil tersenyum."Masih, Pak.""Jangankan lupa.""Sampai lubang di jalan depan warung itu juga masih hafal."Pak Hendra dan Bu Sari tertawa."Berarti memang sudah seperti rumah sendiri."Arven mengangguk pelan."Iya.""Karena memang rumah."Beberapa meter sebelum gerbang kos, Pak Hendra sengaja menghentikan mobil."Kenapa berhenti, Pak?"Pak Hendra mematikan mesin mobil."Kita jalan kaki saja.""Biar lebih terasa."Arven tersenyum.Ia mengambil koper dari bagasi, s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.