MasukKematian Anita meninggalkan luka yang begitu dalam bagi Abram. Seminggu menjelang acara pertunangannya, Anita ditemukan tergeletak di pinggir sawah milik salah satu warga. Ia meninggal beberapa menit setelah tubuhnya dibawa ke rumah orang tuanya. Anita mati karena dibunuh. Namun yang lebih menyakitkan hati adalah dia diperkosa sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Sejak saat itu, sikap Abram mulai berubah. Dia jadi lebih pendiam dan tertutup. Dendam yang tertanam di jiwanya membuatnya gelap mata. Ia mulai memburu pelaku yang telah membunuh calon tunangannya dan berniat menghabisinya.
Lihat lebih banyakBerita kematian Anita menyebar dengan sangat cepat. Abram, yang merupakan kekasih Anita, seperti mendengar petir di siang bolong mengetahui kabar kematian wanita yang sangat dicintainya. Perasaan Abram sangat hancur, terluka seperti dihujam oleh senjata tajam dari belakang.
Bagaimana tidak, malam sebelum kematiannya. Mereka berdua masih sempat jalan, nongkrong di tempat makan kesukaan mereka, bercerita banyak hal; tentang masa kecil, tentang suka duka saat kuliah, bahkan candaan jika mereka sudah menikah. Namun kini cerita itu tak akan bisa diulang kembali. Anita sudah berbeda di alam yang berbeda. Abram terdiam melihat tubuh Anita terbaring kaku di ruang tamu rumah orang tuanya. Tubuhnya diselimuti kain bermotif batik warna cokelat. Semua anggota keluarganya sudah berkumpul di sana dengan isak tangis yang memilukan. Bahkan ibu Anita, Bu Sila, tak dapat menahan tangisnya hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri. "Apa yang terjadi, Pak?" Tanya Abram pada ayah Anita. Dia adalah pak Adam. Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Kesedihan masih menyelimuti perasaannya. Setelah melihat wajah Anita yang sudah terbungkus kain kafan, beberapa orang langsung mengangkat jasadnya untuk dimasukkan ke dalam keranda sekaligus disholati. Beberapa orang laki-laki membantu mengangkat termasuk Abram dan membawanya ke masjid. Setelah proses sholat mayit selesai, jasad Anita diantarkan ke peristirahatan terakhir yaitu liang lahat. Beberapa orang ikut mengantarkan jasadnya ke kuburan. Para petugas gali kubur sudah menunggu di sana. "Dia harus mendapatkan keadilan." Ucap kakak Anita, Eriko, yang juga merupakan sahabat Abram. "Apa yang sebenarnya terjadi, Ko?" Tanya Abram pelan. "Dia, dia dibunuh. Namun yang membuatku benar-benar tidak bisa terima adalah...." Suaranya tercekat saat ia harus mengucapkan sesuatu. "Apa, apa Ko?" Tanya Abram penasaran. "Dia diperkosa." Ucapan itu membuat tubuh Abram seketika membeku, seolah ia baru saja disambar petir. Ia hampir tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Seketika darahnya memuncak. Emosi menyelimuti dadanya. "Siapa yang melakukannya?" "Aku tidak tahu. Dia ditemukan di pinggir sawah salah satu warga sini. Tubuhnya sudah lemas saat berada di rumah. Ada beberapa bekas pukulan di wajahnya." Dugaan pemerkosaan itu diketahui oleh salah seorang yang memandikan tubuhnya. Ada darah di kemaluannya dan juga cairan kental dari pelaku. Namun hal tersebut hanya diketahui oleh anggota keluarganya saja, tidak sampai diketahui oleh banyak orang. Semua warga bertanya-tanya apa sebenarnya yang menyebabkan Kematian Anita yang begitu tiba-tiba. Namun dari wajahnya, dia meninggal karena kekerasan. Dan tidak ada yang tahu motif dari semua itu. "Kita harus laporkan kejadian ini pada polisi." Sahut Abram. "Pamanku sudah melaporkan hal itu pada pihak kepolisian dan masih dilakukan penyelidikan. Tadi juga ada pihak kepolisian yang datang ke rumah untuk melihat dan menyaksikan langsung jasad adikku." Jawab Eriko. Abram tidak bisa berbuat banyak selain menunggu hasil penyelidikan dari pihak kepolisian. Semua orang juga masih bertanya-tanya tentang siapa pelaku dari perbuatan keji ini. *** Dua minggu telah berlalu setelah kematian Anita. Namun belum ada kabar dari pihak kepolisian dari kasus tersebut. Pihak keluarga Anita masih menunggu tak terkecuali Abram. Mereka ingin para pelaku mendapatkan hukuman yang seadil-adilnya. "Belum ada kabar?" Tanya Abram. "Belum, Bram. Kita juga masih menunggu." Jawab Erico. "Lama banget. Biasanya kasus-kasus seperti ini cepat penanganannya. Bahkan ada yang lebih parah dari ini, hanya perlu tiga hari polisi sudah menemukan pelakunya. Ini udah dua minggu gak ada kabar." Respon Abram. "Entahlah, Bram. Kita tunggu saja." Jawab Erico pasrah. Namun Abram tidak sama seperti Erico. Dia mulai tidak sabar dengan tindakan polisi yang berjalan lamban. Ia pun berniat untuk mendatangi kantor polisi. "Aku akan pergi ke kantor polisi. Aku ingin menanyakan kelanjutan kasus ini. Apa kamu mau ikut, Ko?" "Aku ikut, Bram." Jawabnya. Abram langsung menuju sepeda motornya diikuti oleh Erico di belakangnya. Saat sore hari, jalanan di kota Gresik begitu padat. Ditambah lagi saat pergantian sift para pekerja di pabrik-pabrik besar. Hal itu akan memakan waktu yang sangat panjang. Belum lagi udara yang panas, membuat perjalanan kurang menyenangkan. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menitan, mereka pun tiba di kantor polisi. Abram langsung memarkirkan sepeda motornya. Tanpa basa-basi lagi dia berjalan menuju sebuah ruangan yang sudah diketahuinya untuk menanyakan kasus tentang kematian kekasihnya. "Silahkan duduk. Ada perlu apa Mas?" Tanya seorang polisi. "Saya mau menanyakan tindak lanjut dari kasus kematian calon tunangan saya pak yang dua minggu lalu meninggal. Namanya Anita." Ucap Abram. "Oh, gadis itu ya. Kami masih berusaha menemukan pelakunya. Sampai saat ini pihak kepolisian belum menemukan bukti-bukti yang mengarah pada para pelaku." Jawab polisi tersebut. "Apa sesulit itu pak?" "Iya mas. Kebetulan kasus ini agak rumit. Jadi butuh waktu lama dan harus lebih sabar," ujar polisi tersebut. Namanya Santo. "Kasus sebulan yang lalu kok sudah beres pak? Itu hanya butuh waktu tiga hari," tanya Abram yang meragukan keterangan polisi di hadapannya. "Kebetulan buktinya kuat Mas, jadi bisa dengan cepat selesainya. Tapi kasus tunangan masnya beda, barang buktinya agak susah. Jadi bersabar aja dulu." Jawabnya. "Ya sudah pak kalau gitu. Saya tunggu kabar baiknya." Balas Abram yang tidak puas dengan jawaban tersebut. Mereka bedua kembali melangkah keluar menuju sepeda motor yang terparkir di sana. "Aku merasa ada yang tidak beres, Ko." Ucap Abram. "Aku juga merasakan hal itu. Seperti ada yang aneh. Tapi kita gak bisa berbuat apa-apa, lebih baik kita tunggu dan ikuti saja prosesnya." Jawab Eriko. Namun Abram geram dan tak bisa tinggal diam dengan cara kerja mereka. Ia pun berniat untuk menyelidiki dan mencari tahu sendiri tentang kematian kekasihnya yang telah direnggut dari tangannya oleh orang yang tak memiliki hati. Padahal bulan depan sudah direncanakan sebuah lamaran yang akan memperkuat hubungan mereka sebelum benar-benar duduk di kursi pelaminan. Namun mimpi itu harus kandas karena Anita sudah tidak berada di dunia yang sama dengan Abram. Dia sudah tenang di alam yang berbeda. Tapi perasaan Abram begitu sakit dan terluka. Sampai saat ini dia seolah tidak percaya bahwa Anita sudah tiada. Dia masih menaruh dendam pada siapapun yang telah menghabisi nyawa Anita. "Kamu harus dapat keadilan, sayang." Gumamnya. Tak terasa malam hari sudah kembali hadir menyapa dunia dan seisinya. Abram sedang berada di rumahnya, duduk santai di kamar sambil memikirkan kasus kematian Anita. Ia mulai berfikir untuk menyelidiki dan mencari tahu sendiri tentang kasus yang sudah berjalan dua minggu tanpa kejelasan dari pihak kepolisian. Ia pun melangkah keluar menggunakan jaket sambil memegang kunci motor matic yang terparkir di depan rumah. Ia hendak menuju lokasi di mana tubuh Anita ditemukan. Abram tak dapat menunggu terlalu lama lagi. "Mau keana Bram malam-malam begini?" Tanya ibunya yang duduk santai menikmati acara televisi. "Keluar bentar Bu, ngopi," Jawabnya. Ia tak memberitahukan rencananya pada siapapun saat ini. "Jangan malam-malam." "Iya, Bu." Jawabnya singkat. Abram sudah berada di jalan menuju lokasi di mana Anita ditemukan. Angin malam berhembus mencoba menembus kulit Abram. Namun jaket tebal melindunginya sehingga angin malam yang dingin tak mampu menyentuh tubuh Abram, kecuali wajah, tangan dan kakinya. Tidak lama kemudian dia sudah sampai di lokasi tersebut. Di sana keadaan sangat sepi. Hanya ada beberapa lampu jalan raya yang sedikit memberikan sinar terang di tempat itu. "Ini dia lokasi. Aku harus mencari sesuatu, siapa tahu ada barang atau apa yang tertinggal di sini milik pelaku." Ucapnya di tengah kegelapan yang hanya dapat cipratan sedikit sinar dari lampu jalan. Abram mulai turun dengan hanya bermodalkan senter yang berasal dari hp Androidnya. Ia mulai mengarahkan cahaya itu ke area di mana tubuh Anita ditemukan. Tiba-tiba Abram menemukan sebuah kalung titanium berwarna perak dengan liontin berbentuk kapak. Ia pun mengambil kalung tersebut dengan menggunakan sarung tangan dan dimasukkan ke dalam plastik berwarna hitam. "Sepertinya ini milik pelaku. Kemungkinan Anita mencoba berontak dan melawan. Mungkin dia tak sengaja mencengkram kalung ini dan putus." Ucapnya yang semakin emosi mengingat kejadian itu. Abram tak dapat membayangkan bagaimana takutnya dia. Bagaimana sakitnya mencoba lepas dan melawan dari pelaku yang telah menodai dirinya hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir di kediamannya. "Kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal." Gumam Abram dengan penuh amarah.Malam semakin larut. Hujan rintik-rintik terdengar membasahi atap rumah persembunyian yang ditempati Abram, Guntur, dan Edwin. Lampu ruang tamu sengaja dibuat redup.Di atas meja tergeletak laptop, beberapa map cokelat, foto-foto hasil penyelidikan, serta ponsel milik Fardan yang berhasil mereka amankan.Abram duduk bersandar sambil memperhatikan layar laptop. Guntur membuka satu per satu dokumen yang telah mereka kumpulkan selama beberapa minggu terakhir, sedangkan Edwin sibuk mencoba menembus data yang tersimpan di ponsel Fardan.Ruangan itu dipenuhi keheningan. Hanya suara ketikan keyboard yang sesekali memecah suasana."Ada sesuatu yang aneh," gumam Edwin."Apa?" tanya Abram tanpa mengalihkan pandangan. Edwin memutar layar laptopnya."Di ponsel Fardan hampir semua percakapan tentang operasi besar sudah dihapus. Tapi ada satu folder yang gagal terhapus sempurna."Ia membuka sebuah file terenkripsi. Setelah beberapa menit mencoba memecah sandinya, muncul sebuah dokumen dengan judul
Malam itu, hujan turun perlahan membasahi kaca gedung tua yang berdiri megah di tengah kawasan industri yang sepi. Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang biasa yang sudah lama tidak digunakan. Namun di balik pintu baja tebalnya, tempat itu menjadi salah satu pusat operasi Kapak Hitam.Raven melangkah menyusuri lorong panjang dengan wajah tanpa ekspresi. Sepatu kulitnya memantulkan suara langkah yang bergema di ruangan kosong. Dua pria bersenjata yang berjaga di depan sebuah pintu besi segera menundukkan kepala saat melihatnya."Beliau sudah menunggu," kata salah satu penjaga.Raven tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu itu dan masuk. Ruangan di dalam cukup luas, namun penerangannya redup. Di ujung ruangan terdapat meja panjang dari kayu hitam. Seorang pria paruh baya duduk di sana sambil menikmati secangkir teh hangat.Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis. Ia mengenakan setelan sederhana, jauh dari kesan seorang pemimpin organisasi kriminal. Namun semua orang di Kapak Hit
Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti jalanan pinggiran kota ketika sebuah mobil patroli berhenti mendadak di tepi jalan yang sepi. Dua orang polisi yang sedang melakukan patroli rutin turun setelah melihat sesuatu tergeletak tidak jauh dari bahu jalan."Pak... ada seseorang di sini!" seru seorang polisi muda dengan nada tegang.Mereka segera mendekat. Tubuh seorang pria terbaring tak bergerak dengan pakaian berlumuran darah. Dari kondisi luka di tubuhnya, jelas terlihat bahwa pria itu menjadi korban penembakan."Hubungi tim identifikasi dan ambulans. Cepat!" perintah polisi yang lebih senior.Beberapa menit kemudian, lokasi itu dipenuhi garis polisi. Tim identifikasi mulai bekerja, memotret setiap sudut tempat kejadian perkara dan mengumpulkan barang bukti yang tersisa."Korban laki-laki, usia sekitar tiga puluh lima hingga empat puluh tahun," ucap salah satu petugas forensik."Terdapat tiga luka tembak. Dugaan sementara, korban meninggal beberapa jam yang lalu."Seorang pe
Setelah melalui kejadian yang cukup menegangkan, akhirnya mobil yang dikendarai Guntur tiba di sebuah rumah yang terletak di tempat yang sepi, jauh dari kerumunan. Rumah itu adalah milik teman Edwin yang kini mereka tinggali secara gratis. "Kita sudah sampai." Ucap Guntur. "Dimana ini?" Tanya dokter Maya. "Ini adalah tempat persembunyian kami." "Apa kalian dapat dipercaya?" Sejenak dokter Maya Ragu. "Selama berpihak pada kami, kami akan menjaga Bu dokter. Ingatlah, aku tunangan Anita. Aku sudah sejauh ini hanya untuk membalas kematian kekasihku." Jawab Abram dingin tanpa basa-basi. Ia kemudian masuk ke rumah itu. "Jangan diambil hati. Semenjak Anita mati, sifatnya berubah drastis. Dia hanya ingin menemukan orang yang membunuh kekasihnya, tidak lebih." Edwin menjelaskan. "Baik. Aku percaya pada kalian." Jawabmya pada akhirnya. Semua sudah berada di dalam rumah yang sebenarnya cukup besar, hanya saja tidak ditempati dan dibiarkan begitu lama hingga membuat warna temboknya mulai
Keesokan harinya, Abram duduk di meja kerja kamarnya menatap berkas laporan itu untuk kesekian kalinya. Setiap kata di dalamnya terasa ganjil, seolah disusun terburu-buru. Keterangan saksi tak lengkap, hasil autopsi tertutup sebagian, dan laporan kronologi berubah dari versi pertama yang ia terima.
Keesokan harinya, Abram sudah berada di depan gudang yang dimaksud Agha. Gudang tua di pinggir kota itu tampak kumuh, berkarat, dan dikelilingi rumput liar. Hujan masih menetes dari atap seng yang bocor, menimbulkan suara gemericik yang bergema di dalam ruangan. Lampu gantung tua menjadi penerang.
Di sebuah saung yang terletak di salah satu kampus di kota Gresik, Agha sudah duduk bersama Hendrik dan beberapa temannya. Dia ingin menepati janjinya pada Abram untuk menyelidiki kecurigaan Abram padanya. Dari saku depan kemejanya, ia mengambil satu bungkus rokok dan mengambilnya. Lalu dinyalakan
Abram melangkah dengan berat menuju kantor polisi. Sejak kematian Anita, kekasih yang dicintainya, hari-harinya terasa kosong. Rasa duka bercampur dengan amarah, membuatnya tak bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan ini. Di meja penerimaan, seorang petugas polisi menyambutn






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan