Beranda / Lainnya / Ikrar Dendam / Bab 51 - Balasan yang Setimpal

Share

Bab 51 - Balasan yang Setimpal

Penulis: Faiz Achmad
last update Tanggal publikasi: 2026-06-06 23:26:50

Tiga pasang lampu mobil itu semakin mendekat dengan cepat, membelah gelapnya jalan sepi. Suara mesin mereka terdengar keras, seolah tidak lagi berusaha menyembunyikan keberadaan. Abram langsung mengambil keputusan.

"Kita pergi sekarang."

"Bagaimana dengan dia?" tanya Edwin sambil melirik Fardan yang masih terikat. Abram menatap Fardan sesaat.

"Dia tetap di sini."

Wajah Fardan langsung pucat. Ia seolah sudah tahu apa yang akan terjadi padanya jika mereka tahu dirinya dalam keadaan seperti itu. F
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ikrar Dendam    Bab 59 - Folder Orion terbuka

    Pak Bima sontak memucat. Cangkir kopi di tangannya bergetar hingga beberapa tetes tumpah ke lantai membuat Abram mengernyitkan wajahnya. Pemandangan ini tidak pernah terjadi pada pak Bima sebelumnya."Itu..." gumamnya pelan. Abram menoleh cepat."Bapak tahu mobil itu?"Pak Bima tidak langsung menjawab. Tatapannya masih mengikuti mobil boks yang kini telah lenyap di balik gerbang kampus."Aku pernah melihat lambang itu bertahun-tahun lalu." Jawabnya."Di mana?""Di malam hari.""Ceritakan." Abram semakin serius. Pak Bima menarik napas panjang sebelum mulai berbicara."Waktu itu sekitar lima tahun yang lalu. Kampus sudah sepi. Aku sedang ronda ketika sebuah mobil boks seperti itu masuk. Tidak ada logo perusahaan, hanya tulisan 'Direktorat Orion'. Mereka membawa surat yang katanya ditandatangani rektor. Aku tidak curiga, jadi kubiarkan masuk.""Lalu?""Mereka menuju gedung laboratorium lama." Abram mengernyit."Laboratorium yang sekarang sudah ditutup?" Tanya Abram memastikan. Pak Bima m

  • Ikrar Dendam    Bab 58 - Sebuah mobil boks

    Pagi itu di tempat persembunyian, Abram, Guntur, Edwin dan dr. Maya sudah duduk di ruang tamu, tentu melanjutkan pembahasan tentang isi ponsel Fardan. Tadi malam Edwin menemukan file baru bernama Orion. Namun dia masih belum melanjutkan karena harus beristirahat. "Kira-kira apa isi file itu?" Tanya Abram. "Entahlah, Bram. Sama dengan yang lain, folder itu masih terkunci. Pagi ini aku akan mencobanya lagi." Jawabnya. "Baiklah kalau begitu. Hari ini aku akan ke kampus." Ujar Abram. "Sendirian?" Tanya Guntur. "Iya, aku akan ke sana sendiri. Terlalu mencolok jika kita semua ke sana. Lebih baik kalian tetap di sini, aku yang bergerak." "Aku mengerti. Namun aku juga punya urusan lain. Jadi aku juga akan keluar hari ini. Biarkan Edwin yang berada di sini bersama dr. Maya." Balas Guntur. "Iya, aku harus membuka file ini. Kalian berhati-hatilah. Mereka bisa berada di manapun." Tak lama kemudian mereka berdua melangkah pergi dan berangkat ke tujuan masing-masing. Setelah menempuh perja

  • Ikrar Dendam    Bab 57 - Kekhawatiran Darma

    Rudi segera keluar dari ruangan untuk menjalankan perintah; menghubungi Arman. Begitu pintu tertutup, Darma kembali berdiri di depan jendela. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya bekerja cepat.Sudah bertahun-tahun ia membangun jaringan bisnis yang tampak bersih di permukaan. Di balik perusahaan logistik, ekspor-impor, konstruksi, hingga yayasan sosial, tersimpan jalur yang menghubungkan orang-orang berpengaruh, uang dalam jumlah besar, dan berbagai operasi rahasia.Selama ini semuanya berjalan nyaris tanpa cela. Namun kematian Anita telah menciptakan satu variabel yang tidak pernah ia perhitungkan. Yaitu Abram dan kedua orang yang terus membantu."Orang yang kehilangan sesuatu sering kali lebih berbahaya daripada orang yang menginginkan sesuatu," gumamnya pelan. Tak lama kemudian, telepon satelit di atas mejanya berdering. Darma segera mengangkatnya."Ya."Suara di seberang terdengar berat dan tenang melalui ponselnya, seseorang yang memang ia nantikan suaranya."Aku sudah menerima p

  • Ikrar Dendam    Bab 56 - Merasa Terancam

    Abram menatap satu per satu wajah yang ada di ruangan itu; Guntur, Edwin dan dr. Maya. Semua tampak serius dengan informasi yang sedang mereka dalami. "Masih ada orang yang terlibat di kampus." Kalimat itu membuat mereka saling berpandangan. "Maksudmu masih ada kaki tangan Kapak Hitam di sana?" tanya Guntur. Abram mengangguk pelan. Dia sebenarnya sudah memiliki prasangka itu sebelum Fardan mati. Hanya saja Abram ingin fokus pada informasi dan keadaan Fardan. Kini sangkaan itu mulai ia utarakan dan mungkin akan segera ia cari tahu. "Hilmi sudah mati. Kalau memang dia satu-satunya penghubung, seharusnya semua jejak berhenti di situ. Tapi kenyataannya Anita tetap diawasi sampai hari terakhir hidupnya. Artinya ada orang lain yang terus mengirim informasi." Edwin membuka kembali folder berisi jadwal kuliah Anita yang ia dapatkan dari Abram. Semuanya tidak ada yang kebetulan, tampak sudah terencana dengan sangat matang. "Aku juga sempat berpikir begitu." Jawab Edwin. Lalu ia memperb

  • Ikrar Dendam    Bab 55 - Paket Alpha

    Malam semakin larut. Hujan rintik-rintik terdengar membasahi atap rumah persembunyian yang ditempati Abram, Guntur, dan Edwin. Lampu ruang tamu sengaja dibuat redup.Di atas meja tergeletak laptop, beberapa map cokelat, foto-foto hasil penyelidikan, serta ponsel milik Fardan yang berhasil mereka amankan.Abram duduk bersandar sambil memperhatikan layar laptop. Guntur membuka satu per satu dokumen yang telah mereka kumpulkan selama beberapa minggu terakhir, sedangkan Edwin sibuk mencoba menembus data yang tersimpan di ponsel Fardan.Ruangan itu dipenuhi keheningan. Hanya suara ketikan keyboard yang sesekali memecah suasana."Ada sesuatu yang aneh," gumam Edwin."Apa?" tanya Abram tanpa mengalihkan pandangan. Edwin memutar layar laptopnya."Di ponsel Fardan hampir semua percakapan tentang operasi besar sudah dihapus. Tapi ada satu folder yang gagal terhapus sempurna."Ia membuka sebuah file terenkripsi. Setelah beberapa menit mencoba memecah sandinya, muncul sebuah dokumen dengan judul

  • Ikrar Dendam    Bab 54 - Proyek Kabut

    Malam itu, hujan turun perlahan membasahi kaca gedung tua yang berdiri megah di tengah kawasan industri yang sepi. Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang biasa yang sudah lama tidak digunakan. Namun di balik pintu baja tebalnya, tempat itu menjadi salah satu pusat operasi Kapak Hitam.Raven melangkah menyusuri lorong panjang dengan wajah tanpa ekspresi. Sepatu kulitnya memantulkan suara langkah yang bergema di ruangan kosong. Dua pria bersenjata yang berjaga di depan sebuah pintu besi segera menundukkan kepala saat melihatnya."Beliau sudah menunggu," kata salah satu penjaga.Raven tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu itu dan masuk. Ruangan di dalam cukup luas, namun penerangannya redup. Di ujung ruangan terdapat meja panjang dari kayu hitam. Seorang pria paruh baya duduk di sana sambil menikmati secangkir teh hangat.Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis. Ia mengenakan setelan sederhana, jauh dari kesan seorang pemimpin organisasi kriminal. Namun semua orang di Kapak Hit

  • Ikrar Dendam    Bab 6 - Pertemuan dengan Guntur

    Keesokan harinya, Abram sudah berada di depan gudang yang dimaksud Agha. Gudang tua di pinggir kota itu tampak kumuh, berkarat, dan dikelilingi rumput liar. Hujan masih menetes dari atap seng yang bocor, menimbulkan suara gemericik yang bergema di dalam ruangan. Lampu gantung tua menjadi penerang.

  • Ikrar Dendam    Bab 5 - Menyewa Penyelidik

    Di sebuah saung yang terletak di salah satu kampus di kota Gresik, Agha sudah duduk bersama Hendrik dan beberapa temannya. Dia ingin menepati janjinya pada Abram untuk menyelidiki kecurigaan Abram padanya. Dari saku depan kemejanya, ia mengambil satu bungkus rokok dan mengambilnya. Lalu dinyalakan

  • Ikrar Dendam    Bab 4 - Kembali ke Kantor Polisi

    Abram melangkah dengan berat menuju kantor polisi. Sejak kematian Anita, kekasih yang dicintainya, hari-harinya terasa kosong. Rasa duka bercampur dengan amarah, membuatnya tak bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan ini. Di meja penerimaan, seorang petugas polisi menyambutn

  • Ikrar Dendam    Bab 3 - Informasi dari Elvira

    Tampak semua mata masih memasang rasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Elvira, sahabat Anita. Abram begitu antusias mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Elvira. "Apa yang dia katakan?". Tanya Abram. "Dia bilang bahwa ada orang yang menaruh perasaan pada dia.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status