LOGIN“Hanna ingatlah, jangan pernah menganggap pernikahan ini sebagai pernikahan sungguhan,” tegas Arsenio. “Kalau kamu tidak mau menganggap pernikahan ini sebagai pernikahan sungguhan, maka kita bisa membuatnya menjadi sebuah bisnis,” balas Hanna. Hanna mengambil secarik kertas kosong dari meja hotel, lalu menyodorkannya ke hadapan Arsenio. “Mari buat perjanjian secara resmi. Kau akan memberikanku ketenaran, sementara aku akan memberikanmu keturunan.” Arsenio, “Tidak ada cinta di antara kita?” Hanna mengangguk cepat. “Ya, tidak ada cinta di antara kita.” • • • Hanna Eila Hanasta, seorang penyanyi yang sangat tenar, tiba-tiba harus menikah dengan seorang presiden direktur GND Entertainment bernama Arsenio Deon Ganendra, karena tuntutan dari orang tua mereka. Di mata orang lain, pernikahan mereka tampak begitu sempurna dan harmonis. Tapi, siapa yang menyangka bila pernikahan harmonis itu hanyalah sebuah sandiwara belaka. Semua keindahan dan gemilang yang ditunjukan oleh Hanna hanyalah sebuah kepalsuan. Hanna hanya berpura-pura mencintai Arsenio, sedangkan Arsenio merasa muak karena harus menghadapi wanita yang dipenuhi kepalsuan. Akan tetapi, setelah menyelami kehidupan Hanna lebih dalam, Arsenio akhirnya sadar bahwa Hanna menyimpan banyak rahasia dan luka di dalam dirinya. Hanna tidak sempurna selayaknya boneka prancis yang ada di etalase. Karena dia sama rusaknya dengan boneka yang retak. Kira-kira, mampukah Arsenio memperbaiki boneka yang sudah retak itu? Apakah Hanna akan membuka diri supaya Arsenio bisa menyatukan kepingan-kepingan dirinya yang pecah?
View MoreYanna
The familiar musky air of the club filled my nostrils as I walked through the back rooms where all the other girls changed to ready for their performance.
I felt nervous coming back after taking a few months from taking a break. It felt like I was the new girl all over again, my palms felt clammy and I couldn’t get my heart to stop racing.
“Yanna!” Hailey called out as she rushed over to me, engulfing me in a tight hug.
“I’m so glad your back, this place hasn’t been the same without you.” she was in her pink cowgirl outfit ready for her performance.
I giggled softly “It’s good to be back.”
Hailey smiled and nodded. “I have to go right now but we’re definitely hanging out later.” She rushed out as our manager called out for her.
I quickly nodded with a smile as I watched her rush over to her waiting room.
Hailey was the first person to speak to me when I began stripping last year. She had only been in the business for a year but she helped me to know the ropes around stripping and taught me a few tricks for my performance and since then, we’ve been inseparable.
I made my way over to my vanity to get ready. Luckily, I still had time to prepare and calm my nerves a little before I went on stage.
Few minutes passed getting ready and I now sat in my matching red lingerie set, my curly hair was let out and in my strappy red platform heels. My nerves were all over the place as I constantly retouched my makeup.
“Hey Yanna, you’re up next!.” The manager called out.
I took in a deep breath, It felt like my first performance all over again. I adjusted my garter once more as I walked over backstage.
“Loosen up, you look stiff.” My manager said.
“I feel stiff..” I frowned as I tried to relax.
Sighing loudly, he moved closer to me. “Relax, and break a leg.”
On cue the flashing lights turned red indicating I was about to come on stage. Men roared as the announcer called out my name, I made a sultry pose as I knew my silhouette was in view. The roaring became louder as a sexy song came on, feeling the vibe of the song I walked on stage with confidence.
My performance was a blur, men roared as I gave them a view of my ass and climbed the pole. My skin glistened slightly with sweat as I twisted in a mid-air split, working my ass on the pole. Bills rained down on me but I couldn’t forget the feel of a pair of eyes staring intently at me.
“Girlll, you ate that up.” Hailey whistled as I came backstage from my performance.
I shook my head but laughed as I panted softly. “I definitely needed to let loose.”
“Mm hmm.” Hailey hummed in agreement.
The manager walked in as I was retouching my makeup. “Great performance but you’ve been requested for a private session.”
I frowned. “I told you that I won’t be taking any private sessions for the mean time.”
He sighed but nodded. “I wouldn’t have told you if it was just anyone.”
“No, I’m not doing the session. Tell him I feel sick or something.” I wasn’t in the mood to dance for any slimy guy tonight.
“You can’t say no, he’s a very dangerous man.” He stated.
I rolled my eyes, why can’t men just listen when a woman says no.
“Then I’ll go tell him no myself.” I stood up abruptly.
“Wait, if he’s the man that I’m thinking of right now, then just do the session, please.” Hailey held my hand as she pleaded.
My brows furrowed in confusion. “Its fine, I’ll just fake being sick to him.”
Hailey didn’t look so sure with my plan but she let me go. I followed my manager to the private rooms which only loaded men could book, it cost about thirteen grand to just book a room minus payment for the session.
My manager stopped in front of a door. “Be careful.” He warned lastly as he left me standing in front of the door.
My nerves got the best of me as I walked into the dimly lit room.
In the corner of the room, seated on the leather couch is an olive skinned man taking a drag from his cigar.
I froze as his eyes met mine.
His eyes raked my form as I walked over to him cautiously. He’s immaculately dressed in a black tailored suit, slightly unbuttoned collared shirt. His chain peeked from his exposed chest, he was in a very sexy man-spread as his veiny tattooed hands held his cigar.
Fuck, he’s so sexy.
“You took your time.” Even his voice was deep, gruff and don’t get me started on his Italian accent.
I gulp instinctively, all thoughts of rejecting this private session has flown out the window. I bit my lips, trying to gather myself together.
“uhh.. yeah.” What the hell is wrong with me!?
He clips off the end of the cigar rising to his full height. Damn… he’s tall.
Even with my platform heels on, he still towered over me. I’m rooted at my spot as he walked leisurely towards me.
He’s even more attractive up close, my nostrils are invaded with his expensive scent and sex appeal. My knees grows week in my seven inches platform heels.
His perfect brow raised. “Did I not request for a private session?”
My daze was broken as I blushed in embarrassment of literally eye fucking this man. I nodded slowly and cleared my throat.
“There’s a no touching rule, sir.” I state breathlessly.
He stared down at me intensely with a slight smirk on his full lips.
“Go on.”
Hanna mengangguk dengan antusias. Dia berpikir kalau ajakan kencan itu adalah kesempatan mereka supaya menjadi lebih dekat, sehingga Hanna bisa memanfaatkan Arsenio dengan lebih mudah di masa depan.Ya, Hanna hanya ingin memanfaatkan pria itu, bukannya senang karena diajak kencan.Setidaknya itu yang dia pikirkan.Namun, entah mengapa jantung Hanna berdetak dua kali lebih cepat saat mendengar ajakan Arsenio, seolah-olah dia memang sudah menantikan hal itu.“Bagaimana kalau kita pergi ke taman bermain?”Arsenio mengerutkan keningnya. “Kamu yakin? Tempat itu ramai dan mungkin aja ada banyak orang yang akan ngenalin kamu.”Sebagai artis yang wajahnya sering muncul di televisi, masyarakat pasti mampu mengenali Hanna dengan mudah dan pastinya akan berbondong-bodong ingin meminta foto serta tanda tangan.Hanna tampak berpikir sejenak, kemudian mengusulkan, “Kita bisa pakai masker dan topi untuk menyamarkan identitas kita.”Arsenio tertawa. “Bukannya kamu sering melakukan itu dan tetap terta
“Retno, aku ingin kamu caritahu semua hal tentang masa lalu istri saya. Mulai dari orang tua kandungnya sampai panti asuhan tempatnya tinggal dulu.”Arsenio menyandarkan punggungnya ke kursi sambil berkata, “Cepat hubungi saya kalau kamu nemuin sesuatu yang janggal."Setelah menutup sambungan telepon dengan orang kepercayaannya, Arsenio menghembuskan napas panjang. Bekas luka di punggung Hanna masih tercetak jelas di dalam ingatannya.Dia tidak ingin bertanya lebih jauh, karena tampaknya Hanna merasa sangat tidak nyaman saat Arsenio membawa topik tersebut. Karena itu, Arsenio lebih memilih untuk mencari tahu sendiri dan menunggu sampai Hanna siap untuk menceritakan semua masa lalunya kepada Arsenio.Usai mengetahui luka itu, akhirnya Arsenio mengerti alasan Hanna meminta perlindungan darinya. Namun, Arsenio tidak tahu apakah orang yang menyakiti Hanna masih berkeliaran atau tidak.“Arsen.” Hanna membuka pintu balkon dan langsung menghembuskan napas lega
“Kamu yakin tidak berlebihan untukmu?” tanya Arsenio memastikan.Hanna mengangguk. “Mmm … aku tidak apa-apa.”Lagipula, dia sudah biasa bermain keras dengan Arsenio, sehingga permainan lembut akan susah membuatnya mencapai puncak.Setelah mendapatkan persetujuan Hanna, Arsenio mulai menggerakan pinggulnya dengan cepat. Setiap hentakannya mampu menyentuh titik terdalam Hanna, membuat wanita itu hampir berteriak karena dilanda kenikmatan.Arsenio menekukkan kaki Hanna sampai menyentuh dada wanita itu, sehingga kini dia mampu melihat bagian inti istrinya dengan lebih jelas.Setelah Arsenio terus memompa kejantanannya dalam posisi seperti itu. Keduanya sama-sama merasa hampir mencapai puncak. Arsenio mempercepat gerakannya, sementara Hanna melingkarkan kakinya di belakang pinggul Arsenio, memaksa pria itu memperdalam penyatuan mereka.“Ahh!”Hanna mendesah keras, bersamaan dengan geraman rendah Arsenio. Mereka saling berpelu
Brak!Arsenio menutup pintu kamar hotel menggunakan kakinya, sementara kedua tangannya mengangkat tubuh Hanna dan melumat bibir wanita itu.Mereka bahkan belum melepaskan sepatu mereka, tapi keduanya sama-sama merasa tidak sabar untuk mengecap bibir satu sama lain. Ciuman yang awalnya ringan itu membawa candu dan terasa memabukkan, sehingga lama kelamaan berubah menjadi penuh lumatan penuh nafsu yang menggebu-gebu.“Kamu yakin pintunya sudah terkunci?” tanya Hanna di sela-sela ciuman mereka. Napas wanita itu masih terengah-engah, tapi dia masih memikirkan hal lain.“Ini adalah kamar suite. Walau tidak dikunci, tidak akan ada orang yang berani masuk sembarangan,” jawab Arsenio.Ketika Arsenio ingin mencium bibir Hanna lagi, wanita itu menahan kepala suaminya. “Tetap saja, lebih baik pastikan sudah terkunci. Aku tidak mau kena skandal.”Arsenio akhirnya menjawab dengan serius, “Tenanglah, pintunya otomatis terkunci saat tertutup. J
Satu minggu kemudian, manajer dan semua staff Hanna akhirnya sudah diganti dengan orang-orang baru. Saat pemilihan staff, Arsenio memperbolehkan Hanna untuk memilih orang-orangnya sendiri, sehingga wanita itu bisa mencocokkan diri dengan cepat.Hanna sesungguhnya bukanlah orang yang pemilih, jadi ket
“Apa kamu kesurupan sampai-sampai membelikanku hadiah?” tanya Hanna dengan skeptis.Arsenio mendengus kasar, kemudian menaruh kalung itu ke tangan Hanna dengan paksa. “Terserah mau kamu apakan kalung itu, kalau tidak suka buang saja.”Hanna tertawa di dalam hati, dia merasa sepe
Hanna sontak menepis tangan Arsenio begitu pria itu menyentuh keningnya. Kedua matanya menatap Arsenio dengan tajam, seakan ingin mencabik-cabik pria itu dalam hitungan detik.Ingatan akan sikap buruk Arsenio kepadanya di kantor masih terukir jelas di dalam benaknya, sehingga membuat Han
Sepanjang hari, Hanna pergi dari satu studio ke studio lainnya untuk memenuhi undangan sebagai bintang tamu di acara variety show. Kebanyakan dari pembawa acara pasti akan selalu mengajukan pertanyaan yang sama, sampai-sampai membuat Hanna menjadi muak.Hanna bahkan hanya duduk di acara tv, bukannya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews