LOGINAku merasa tubuhku sangat lemas. Kesadaranku mulai menipis dan pandanganku kian mengabur. Namun, tepat saat aku nyaris menyerah pada kegelapan, suara rentetan tembakan yang memekakkan telinga mendadak terdengar. Mataku langsung terbuka lebar.
Samuel... aku berharap itu adalah Samuel yang datang menyelamatkanku.
Suara baku hantam dan teriakan kemarahan terdengar dari balik dinding. Tak lama kemudian, ada seseorang yang berusaha mendobrak pintu kamar dengan paksa. Mungkin karena p
Setelah melewati beberapa jam yang terasa menyiksa, keheningan malam itu mendadak pecah. Suara lengkingan tangis bayi yang samar namun tajam terdengar menembus pintu ruang operasi yang kokoh.Oeeekk... Oeeekk...Seketika, jantungku bergemuruh hebat, berpacu begitu kencang hingga rongga dadaku terasa sesak. Seluruh aliran darahku seakan berhenti mengalir selama satu detik penuh. Apakah itu suara tangis Gabriel? Apakah pangeran kecilku benar-benar sudah lahir ke dunia?Sepasang mataku mendadak berkaca-kaca. Rasa haru, lega, dan tidak percaya bercampur aduk menjadi satu di dalam benakku. Aku mematung di tempat, nyaris tidak menyangka bahwa detik ini juga, statusku telah resmi berubah menjadi seorang ayah.“Papa... itu... itu suara anakku, kan?” ujarku dengan suara parau yang bergetar hebat, menoleh ke arah Papa Arturo yang juga setia menemaniku di koridor sejak beliau tiba menyusul beberapa saat yang lalu.Papa Arturo terseny
“Tuan, segera bawa Nyonya ke rumah sakit sekarang! Saya dan tim yang akan mengurus mereka semua!” teriak anak buah Papa Lucas dengan urat leher yang menegang sembari menembakkan senjatanya ke arah mobil yang menabrak kami.Aku mengangguk cepat tanpa membuang waktu satu sekon pun. Beruntung, di saat genting seperti ini, sisa pasukan cadangan dari timku dan tim Papa Lucas telah tiba di lokasi untuk memberikan bantuan.Tanpa memperdulikan gemuruh pertempuran yang kembali pecah di belakang kami, aku langsung memindahkan tubuh Emelia ke dalam dekapanku, menggendongnya dengan gaya bridal style untuk segera memindahkannya ke mobil evakuasi medis yang sudah bersiaga.“Samuel ... sakit ... hnghh, sakit sekali,” rintih Emelia lagi dengan suara yang kian melemah. Butiran keringat dingin berukuran besar kini sudah membasahi seluruh permukaan wajah pucatnya.“Sabar ya, Sayang. Tahan sebentar, kita sedang menuju rumah sakit s
“Sayang, kamu tenang, ya. Kamu tunggu di dalam sini, dulu ya,” ujarku berusaha meredam kepanikan di dalam suaraku sendiri. Gejolak amarah yang membakar dada membuatku ingin sekali keluar dari mobil, mencabut senjataku, dan ikut memburu orang di luar sana yang sudah berani mengusik ketenangan kami.Namun, Emelia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sepasang netra indahnya kini sudah berkaca-kaca menahan tangis. Aku bisa merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat di dalam dekapanku, ada ketakutan yang teramat mendalam dari sorot matanya.“Hey... lihat aku. Ada suamimu di sini, Sayang. Kamu tidak akan kenapa-napa. Aku bersumpah,” ujarku lagi, menangkup wajahnya dan mengecup keningnya berulang kali demi menyalurkan ketenangan yang gagal kurasakan sendiri.“Aku takut, Samuel ... Ayo kita pergi dari sini sekarang, kumohon ...” rengeknya dengan suara parau yang bergetar.TAARR! TAARR! DUAARR!Rentetan suar
Pov SamuelSebenarnya, ada keraguan yang teramat besar di dalam dadaku untuk mengiyakan permintaan Emelia kali ini. Mengunjungi tempat yang jauh dari jangkauan pengawasan utamaku, jadi aku sedikit takut. Namun, setiap kali melihat binar sarat harapan di sepasang netra indahnya, aku selalu berakhir tidak sanggup untuk mengucapkan kata penolakan. Terlebih lagi, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menuruti dan mewujudkan semua hal yang diimpikan oleh istri cantiku itu.Oleh karena itu, sehari sebelum keberangkatan, aku langsung memerintahkan tim garis depan anak buahku untuk bergerak lebih dulu. Mereka bertugas menyisir dan memastikan bahwa area taman bunga terpencil itu benar-benar steril dan aman dari potensi bahaya apa pun.Aku tidak ingin kecerobohan sekecil apa pun merusak hari bahagia wanitaku.Pagi harinya, kami sudah bersiap untuk pergi piknik bersama. Emelia terlihat begitu menakjubkan dengan gaun hamil berwarna pastel y
“Nanti cucu pertama kita akan Papa beri nama Albert!” seru Papa Arturo lantang, memecah keheningan ruang tengah begitu kami semua sudah sampai di rumah setelah kepulangan dari rumah sakit.“Enak saja! Mana bisa begitu?” sahut Papa Lucas, tidak mau kalah gesit. Beliau langsung berdiri dari sofa dengan berkacak pinggang. “Nanti anaknya akan aku kasih nama Maxim! Terdengar jauh lebih gagah dan berwibawa!”“Ya tidak bisa begitu dong, Lucas! Itu kan cucuku!” ujar Papa Arturo tidak suka, melayangkan tatapan protes atas keputusan sepihak yang diambil oleh besannya.“Lah, kamu lupa, kalau dia itu juga cucuku?” balas Papa Lucas sengit, menatap Papa Arturo dengan dahi berkerut dalam.Aku hanya bisa tersenyum manis mendengar perdebatan sengit namun jenaka di depanku. Jemariku bergerak lambat, mengelus perutku yang kini sudah tampak membuncit dengan perasaan bahagia. Tatapanku kemudian beralih ke arah Samuel
POV EmeliaAku merasa diriku sekarang benar-benar layaknya seorang ratu. Apapun yang aku inginkan, apapun yang aku minta, Samuel, Papa Lucas, dan Mama Melissa pasti akan selalu bergegas memenuhinya tanpa terkecuali.Mulai dari impian masa kecilku untuk belanja bersama Mama, pergi ke pantai dengan pasangan impianku, hingga sekadar makan malam santai bersama—semuanya diwujudkan dengan begitu sempurna. Ah, aku selalu merasa diselimuti kebahagiaan yang meluap-luap setiap harinya.Tanpa terasa, hari-hari berlalu begitu cepat hingga usia kandunganku kini sudah resmi memasuki bulan keempat.Cepat sekali, bukan? Samuel, suamiku yang protektif itu, bahkan selama ini tidak pernah menginjakkan kakinya ke kantor lagi. Ia selalu beralasan kalau dirinya masih tidak bisa berada jauh dariku karena efek bawaan bayi. Padahal, belakangan ini aku sudah tidak pernah lagi melihatnya mual-mual atau mengeluh sak
Kami baru saja menginjakkan kaki di rumah, bahkan baru beberapa menit memasuki kamar utama kami yang luas dan familier. Namun, saat aku berbalik untuk membantunya melepaskan jaket, aku menyadari sesuatu yang salah. Warna kulit di wajah Samuel tiba-tiba berubah drastis menjadi teramat pucat, nyari
Setelah selesai mengenakan kembali pakaianku serta membantu Samuel memakai kemeja rumah sakitnya, aku melangkah cepat menuju pintu. Dengan jantung yang masih berdegup agak kencang, aku memutar selot kunci. Baru saja daun pintu terbuka beberapa senti, pintu itu langsung didorong kasar dari luar.
Begitu bunyi selot pintu yang mengunci terdengar, ruangan VVIP ini mendadak terasa begitu sunyi, menyisakan deru napas kami yang mulai memburu. Aku berbalik lambat-lambat, menjatuhkan pandangan pada Samuel yang masih menatapku dengan sorot mata elangnya—tatapan mendamba yang selalu sukses membua
"Sayang, sudah ya," ucap Samuel lembut.Aku langsung menghentikan gerakanku. Aku menatap mangkuk yang baru saja disentuh Samuel, isinya nyaris tidak berkurang, hanya beberapa suap saja yang ia telan. Aku tidak tahu persis komposisinya, yang jelas itu adalah bubur spesial yang dibuat Ma







