LOGINBukannya panik melihat Fio yang sangat cemas, Luna justru menyunggingkan senyum remeh. Luna melipat kedua tangannya di dada. Matanya masih menyorot tenang. “Lalu kenapa kalau mereka membuat klarifikasi? Takut apa? Paling mereka cuma bisa membantah soal kualitas produk mereka. Publik sudah terlanjur percaya pada video Rose, Fio. Biarkan saja mereka meronta-ronta menyelamatkan citra perusahaan mereka yang sudah hancur.” Luna bicara dengan entengnya.“Misal klarifikasi, yang kena juga Rose, bukan aku. Kenapa kamu harus sepanik ini?” Luna kembali bicara.Fio menghela napas frutasi, dia kembali menatap cemas pada Luna saat bicara.“Bukan itu, Luna! Bukan cuma soal produk!” Tangan Fio sedikit gemetar saat menunjukkan salah satu berita yang baru saja dirilis beberapa menit lalu. Itu adalah video siaran ulang konferensi pers Kian yang sudah membanjiri portal berita, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Luna. “Lihat ini! Lihat sendiri apa yang mereka tunjukkan ke media!”Luna mengerutkan
Kian memahami kecemasan Mia. Dia tersenyum kecil, lalu mencoba menenangkan.“Video yang diputar, tidak disebutkan siapa perekamnya dan juga sumbernya. Yang penting fakta itu jelas.” Kian menjeda kalimatnya sesaat, lalu kembali bicara. “Jika memang ada yang tahu, mereka tidak akan membencimu. Sebaliknya, kamu mengungkap fakta yang benar.”“Tapi ….” Tatapan Mia meragu. “Tidak semua orang berpikiran seperti itu.”“Ya, aku tahu.” Kian membalas cepat. “Justru karena itu, kamu harus siap menerima konsekuensinya. Kamu ingin jadi publik figur, dan seorang publik figur, tidak akan terlepas dari opini negatif dan positif. Jika kamu siap menjadi model maka kamu harus siap menghadapi semua itu.”“Kamu tidak menjatuhkan siapa pun. Kamu melindungi banyak orang kecil di luaran sana dari perbuatan Luna yang tak bertanggung jawab. Jika sebagian orang akan menghujatmu, sebagian lagi akan melindungimu. Begitulah dunia, jika kamu tidak siap, kamu tidak perlu melangkah sejauh ini.” Arthur ikut membuka sua
Kian mengajak Mia pergi ke ruang kerja Arthur.Kian mempersilakan Mia dan suaminya masuk lebih dulu.Begitu Kian menutup pintu ruang kerja suaminya dengan rapat, dia melangkah masuk mengajak Mia untuk duduk lebih dulu agar nyaman.Mia baru berani menurunkan tudung jaket serta melepas masker saat sudah duduk berhadapan dengan Kian dan Arthur.Kian dan Arthur awalnya bersikap biasa, sampai keduanya terkejut melihat bekas merah yang sudah agak memudar di rahang Mia.“Kenapa wajahmu?” Kian langsung bertanya.“Apa kamu baru saja mengalami kekerasan?” Arthur ikut angkat suara.Mia masih menundukkan kepalanya. Dia berusaha menenangkan dirinya dan kecemasannya.Saat tatapannya akhirnya terangkat ke arah Kian dan Arthur, mata Mia tampak berkaca-kaca.“Saya sudah tidak sanggup lagi bekerja dengan Luna, Bu Kiandra.” Mia mulai menumpahkan apa yang menyesakkan dadanya. Jemari Mia mencengkeram masker yang tadi menutup wajahnya, lalu dia kembali berkata. “Di depan kamera dia boleh saja terlihat sep
Kian dan yang lain meninggalkan panggung setelah mengakhiri sesi konferensi.Begitu langkah mereka melewati pintu pembatas dan tiba di area belakang panggung yang tertutup dari jangkauan media, Kian langsung merengkuh tubuh Sienna ke dalam pelukannya. Kian melihat dan bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana seluruh tubuh wanita itu bergetar hebat. Ketegangan, ketakutan, dan tekanan dari puluhan pasang mata serta sorot lampu kamera di dalam aula tadi ternyata benar-benar menguras seluruh energi Sienna.“Kamu hebat, Sienna. Kamu sangat hebat,” bisik Kian lembut sambil mengusap punggung Sienna untuk menenangkan.Sienna menyandarkan kepalanya di bahu Kian untuk menetralkan detak jantung yang sejak tadi berdegup sangat cepat, bahkan sampai saat ini napasnya masih terasa berat. “Kian, setelah ini, semuanya akan baik-baik saja, kan? Kaylan tidak akan dikeluarkan dari sekolah, kan?” Suara Sienna terdengar begitu berat.Kian mengurai pelukannya, lalu dia memegang kedua bahu Sienna samb
Ruangan kembali riuh.Pernyataan yang baru saja Sienna lontarkan benar-benar sukses membuat semua wartawan tersentak.“Maksud Anda disetting bagaimana, Bu? Bisa dijelaskan lebih detail?” cecar salah satu wartawan di baris depan.Sienna menggenggam mikrofonnya lebih erat, tatapannya kini lurus berani menantang kamera meski tangannya sedikit gemetar. “Sebelum rekaman dimulai, tim dari model Luna berjanji akan memberikan saya uang bantuan sebesar lima juta rupiah untuk modal usaha. Di depan kamera, mereka memang memberikan amplop tebal itu kepada saya. Saya diminta berakting menangis terharu agar terlihat menyedihkan dan menarik simpati.” Sienna menjeda kalimatnya untuk mengambil napas.Setelahnya, Sienna kembali bicara. “Tapi, begitu kamera dimatikan, amplop tebal berisi lima juta itu langsung diambil kembali secara paksa oleh timnya. Mereka menukarnya dengan uang lima ratus ribu.”Semua wartawan dibuat terkejut kedua kalinya setelah mendengar penjelasan Sienna yang begitu detail hingg
Suara bisik-bisik yang tadinya pelan langsung meledak menjadi gemuruh riuh. Lampu kilat kamera kembali berkedip-kedip dengan cepat, menyambar-nyambar di seluruh area konferensi pers. Di saat yang lain menggambil gambar ke arah depan, wartawan yang lainnya saling pandang dengan ekspresi syok yang luar biasa. Luna, model papan atas yang dikenal memiliki citra bersih dan berjiwa sosial, terseret dalam pusaran konspirasi ini?“Bu Kian! Ini tuduhan yang sangat berat!” seru wartawan lain, ikut berdiri dengan panik. “Luna adalah figur publik dengan reputasi yang sangat baik! Bagaimana mungkin Anda menuduh beliau tanpa bukti? Apa dasar Anda mengatakan dia terlibat?!”Kian mempertahankan ekspresi tenangnya, tidak terpancing sedikit pun oleh reaksi emosional para pencari berita yang ada di hadapannya saat ini.“Ini bukan sekadar tuduhan, rekan-rekan media sekalian. Ini adalah fakta yang sudah kami validasi,” jawab Kian, suaranya terdengar begitu tenang tapi sarat akan ketegasan yang tak terb
Arthur tersentak mendengar apa yang sang kakek katakan.Dia menatap kakeknya yang bicara sangat serius. Arthur diam sejenak, lalu pandangannya kembali tertuju ke arah Kaylan dan Kian.Andai Kaylan tidak memiliki ibu, sudah pasti Arthur akan percaya kalau Kaylan mungkin saja putranya.Tapi, Arthur in
Kian pergi ke kamar untuk melihat Kaylan setelah meminta pelayan menyiapkan makan malam lengkap.Kian sudah berdiri di depan pintu kamar bayinya tempat Kaylan membersihkan diri.Tapi sebelum Kian meraih gagang pintu, ternyata pintu kamar di depannya sudah lebih dulu terbuka.Kian tatap pelayan dan
Kian dan Arthur saling pandang sejenak setelah melihat kebingungan di wajah Arron.“Nanti aku jelasin, Kek. Aku akan minta pelayan buat bantu dia mandi dan ganti baju.” Kian menggandeng Kaylan pergi ke kamar milik bayinya.Kian memanggil seorang pelayan. Saat pelayan datang, Kian langsung menjelask
Kian memperhatikan gadis berusia dua puluh lima tahun yang sedang memunguti barang-barang yang menimpa kaki Kian.Kian ikut berjongkok, dia mengambil botol sunscreen yang ada di samping kakinya.“Ini,” kata Kian sambil mengulurkan ke gadis ini.“Terima kasih.” Gadis ini, tak lain Mia, mengangguk pe







