LOGINDiusir dari rumah bibinya dan dipecat dari pekerjaan, Clara Anindita nekat mengadu nasib ke Jakarta. Namun, hari pertamanya berakhir bencana saat ia tidak sengaja menabrak seorang pria angkuh di sebuah lobi mewah. Karena sedang kalut, Clara menolak minta maaf dan justru memarahi pria itu habis-habisan. Keesokan harinya, jantung Clara hampir copot saat melamar kerja di perusahaan raksasa, AXW Group. Pria yang ia semprot kemarin ternyata adalah Adrian Xavier Wijaya, CEO miliarder penguasa gedung tersebut. Bukannya memecat Clara, Adrian justru menyodorkan sebuah dokumen gila yaitu Kontrak Pernikahan. "Kau butuh uang, dan aku butuh istri pajangan. Satu tahun, dan kau bebas." Mampukah Clara bertahan menjadi istri kontrak dari bos paling dingin dan posesif? Atau justru kontrak itu yang akan menjerat hatinya selamanya?
View More"Keluar dari rumah ini! Sekarang!"
Suara cempreng Bibi Sari menggelegar di ruang tamu yang sempit itu. koper tua itu dilempar kasar hingga mendarat tepat di depan kaki Clara Anindita. Pakaian-pakaian yang sudah memudar warnanya menyembul keluar dari resleting yang rusak. Clara menatap nanar koper itu, lalu beralih pada wanita paruh baya yang berdiri berkacak pinggang di depannya. "Bibi, tolong... Ini sudah malam dan di luar sedang hujan deras. Ke mana aku harus pergi?" "Aku tidak peduli! kamu sudah tidak punya pekerjaan, kaumi hanya akan menjadi beban di rumah ini!" Bibi Sari menunjuk pintu keluar dengan telunjuknya yang terhias kuteks murah. "Kamu pikir memberi makan anak yatim piatu sepertimu itu gratis? Selama ini kamu hanya membawa sia! orang tua mu pergi dengan hutang miliaran dan sekarang kami yang harus menanggung nya!" Clara mencoba menoleh ke arah Paman kurnia yang duduk di kursi. Pria itu hanya menunduk, pura-pura sibuk memperbaiki radio, sama sekali tidak berani menatap keponakannya. "Paman... tolong Clara," rintih Clara pelan. Paman Kurnia berdehem, tapi suaranya bergetar takut. "Sari,ini keterlaluan, Dia anak mendiang kakakku..." "Diam kamu, mas! Kalau kamu mau membelanya, kamu ikut saja keluar bersama keponakan mu itu!" bentak Bibi Sari. Seketika, Paman Kurnia bungkam seribu bahasa. Dia kembali menunduk, membiarkan keponakannya diperlakukan seperti sampah. Tiba-tiba, seorang gadis seumuran Clara turun dari tangga sambil mengunyah permen karet,—Itu Sonya, anak Bibi Sari. Dia tersenyum sinis melihat pemandangan di depannya. "berisik banget sih,aku sampai nggak bisa tidur dengan tenang nih,"ucap Sonya manja. Ia berjalan mendekati koper Clara dan dengan sengaja menginjaknya dengan sandal rumahnya yang kotor. "Lagipula, Ibu memang ada benarnya.Perusahaan lamamu sudah memecatmu karena kamu ceroboh, kan? aku dan ibu tidak ingin menanggung beban anak yatim sepertimu!" "Aku tidak ceroboh!,Manajer itu yang mencoba melecehkanku, dan saat aku melapor, dia malah memfitnahku!" bela Clara dengan suara bergetar menahan tangis. Sonya tertawa mengejek disana. "Alasan klasik. Mungkin karena wajahmu yang sok polos itu memang menggoda pria. Tapi sayang, di rumah ini, aktingmu tidak laku." Sonya kemudian merogoh saku jaket yang sedang digantung di dekat pintu—itu jaket kesayangan Clara. Dengan kasar, Sonya melempar jaket itu ke lantai yang basah karena tampias hujan. "Pergilah ke Jakarta atau ke mana pun. Siapa tahu ada pria kaya yang mau menampung wanita malang sepertimu," tambah Sonya dengan nada menghina. Bibi Sari yang sudah tidak sabar,Ia menarik lengan Clara dengan kasar dan menyeretnya menuju pintu depan. BRAK! Tubuh ramping Clara terdorong keluar hingga jatuh tersungkur di teras yang dingin. Hujan lebat langsung membasahi seluruh tubuhnya dalam sekejap. "Jangan pernah berani menginjakkan kaki di sini lagi!" teriak Bibi Sari sebelum membanting pintu depan dan menguncinya rapat-rapat. Clara terduduk di lantai semen yang kasar. Air matanya luruh bercampur dengan air hujan. Di tangannya, ia hanya memegang tas kecil berisi identitas diri dan sisa uang tabungan yang sangat sedikit. wanita malang itu menoleh ke arah jendela. Di balik kaca, ia bisa melihat Sonya yang sedang menertawakannya dari dalam rumah. Clara mengepalkan tangannya hingga kuku nya memutih. Rasa sakit di hatinya jauh lebih dingin daripada air hujan. "Cukup," bisik Clara pada dirinya sendiri. "Aku tidak akan pernah memohon lagi,kali ini aku harus bangkit!" Dengan sisa tenaga yang ada, ia bangkit berdiri, menyeret kopernya menjauh dari rumah bibi sari. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah jalan raya yang Clara berharap ada bus malam yang akan menuju jakarta malam ini. Clara berjalan tertatih di bawah guyuran hujan, menyeret kopernya yang kini terasa berkali-kali lipat lebih berat karena basah. Ia berhenti di sebuah halte bus yang sepi dan remang-remang. Tubuhnya menggigil hebat, giginya bergetar karena kedinginan. Dengan tangan gemetar, ia merogoh kantong tasnya, mencari ponselnya yang layarnya sudah retak. Ia ragu sejenak, menatap satu nama di daftar kontaknya. Robi. Robi adalah sahabat masa kecilnya, satu-satunya orang yang tahu betapa menderitanya Clara selama tinggal bersama bibinya. Robi baru beberapa bulan ini pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai supir pengantar barang di sebuah perusahaan logistik. Setelah tiga kali nada sambung, suara berat di ujung telepon terdengar. "Halo, Clara? Tumben telpon.Ada apa?" Mendengar suara itu, pertahanan Clara runtuh. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. "R-robi hiks..." "Clara?! Kamu kenapa? apakah kamu menangis?" Suara Robi berubah cemas. "Apa Bibi Sari berbuat sesuatu lagi padamu?" "Aku diusir,Aku tidak punya tempat tinggal lagi. aku juga sudah tidak punya pekerjaan lagi," ucap Clara terputus-putus di sela tangisnya. "Aku— aku tidak tahu harus bagaimana sekarang." Hening sejenak di seberang sana, hanya terdengar suara napas Robi yang berat. "Bisa-bisanya mereka mengusirmu saat hujan!" kata Robi marah. "Dengarkan aku, Clara. Jangan ke mana-mana. Kamu di mana sekarang? Masih di dekat rumah bibimu?" "Aku di halte bus dekat persimpangan jalan raya." "Tunggu di sana. Aku kebetulan baru saja selesai mengantar barang ke arah kotamu. Aku akan putar balik sekarang. Aku akan membawamu ke Jakarta, Clara. carilah pekerjaan disana," "Tapi Robi, aku tidak punya uang untuk membayar bensinmu, aku—" "Jangan seperti orang bodoh!" potong Robi cepat. "Kita sahabat sejak kecil. Kamu sudah seperti adikku sendiri. Tunggu aku tiga puluh menit lagi. Jangan bicara dengan orang asing!" Telepon ditutup. Clara mendekap ponselnya di dada. Setidaknya, Tuhan masih menyisakan satu orang baik dalam hidupnya. *** Tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil boks tua berhenti tepat di depan halte. pria itu langsung melompat turun, tidak peduli pada hujan yang masih turun dan membasahinya Ia langsung memeluk bahu Clara yang gemetar. "Ya Tuhan, Clara! Kamu basah kuyup!" Robi mengambil koper Clara dan melemparkannya ke bagian belakang mobil. "Masuk cepat, di dalam ada pemanas." Setelah berada di dalam mobil, Robi menyerahkan sebuah jaket flanel tebal miliknya kepada Clara. "Pakai ini. Kita berangkat sekarang.kita harus meninggalkan kenangan buruk mu di rumah itu!" Clara menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya melalui kaca spion. Rumah bibinya semakin menjauh dan menghilang di kegelapan malam. "Terima kasih, Robi," bisik Clara pelan. "Jangan berterima kasih sekarang. Jakarta itu sangat keras, Clara. Tapi setidaknya di sana kamu akan punya kesempatan. Besok pagi, kita cari cara agar kamu bisa dapat pekerjaan baru." ** Matahari Jakarta menyambut Clara dengan hawa panas yang menyengat. Setelah menempuh perjalanan semalam suntuk, Clara turun dari mobil boks milik Robi di depan sebuah gedung pencakar langit yang puncaknya seolah menembus awan. AXW Group. Nama itu terpampang jelas dengan huruf logam berwarna emas di dinding marmer lobi. "Ingat, Clara. Jangan gugup.perusahan besar ini sedang mencari karyawan,di bagian staf Administrasi jangan sampai kamu menyia-nyiakan kesempatan ini.mereka pasti butuh karyawan sepertimu," ucap Robi sambil menepuk bahu Clara sebelum ia kembali bekerja. "Terima kasih, Robi. Doakan aku ya!" Clara membetulkan letak kemeja putihnya yang sedikit kusut karena tidur di mobil. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Clara melangkah masuk ke dalam lobi yang sangat mewah. Lantainya begitu mengkilap hingga ia bisa melihat bayangan wajahnya sendiri. Karena terlalu sibuk merapikan tumpukan map lamaran di tangannya sambil berjalan terburu-buru, Clara tidak memperhatikan sekelilingnya. Di saat yang sama, pria berjas hitam mahal baru saja keluar dari lift khusus. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria tinggi tegap dengan aura yang sangat dingin. Adrian Xavier Wijaya. BRUAKKK! Tabrakan itu tak terelakkan. Tubuh mungil Clara terpental ke belakang hingga ia terduduk di lantai. Map-map lamarannya berhamburan ke segala arah. Namun, yang lebih parah adalah noda kopi panas yang kini mengotori kemeja putih mahal milik pria itu. Seketika, lobi yang tadinya berisik berubah menjadi sunyi senyap. Para staf yang lewat, satpam, hingga resepsionis serentak membekap mulut mereka sendiri. Wajah mereka pucat pasi, mata mereka melotot tidak percaya. Seseorang baru saja menabrak CEO mereka, dan itu adalah seorang gadis asing berpakaian lusuh. "Pak Adrian.." bisik salah satu asisten Adrian dengan suara gemetar, segera mengambil sapu tangan. Adrian berdiri mematung. Matanya yang tajam dan dingin menatap noda kopi di dadanya, lalu beralih menatap Clara yang masih terduduk di lantai. Auranya terpancar dari wajahnya yang tampan. Clara, yang sejak semalam emosinya sudah tidak stabil karena diusir, bukannya takut malah merasa kesal. Ia merasa hari ini sudah cukup sial. "kamu! Kalau jalan pakai mata, dong!" bentak Clara sambil berdiri dan menepuk-nepuk roknya yang kotor. "Jalanan ini lebar, kenapa malah menabrakku?!" Seluruh orang di lobi hampir pingsan mendengar bentakan Clara. Gadis ini tidak minta maaf? Dia malah memarahi Adrian? padahal dia yang menabraknya. Adrian menyipitkan mata, suaranya rendah dan berbahaya. "Kamu menyalahkanku?" "Ya iyalah! jalan kamu jalan aja seperti robot, nggak melihat kiri kanan!" ketus Clara tanpa rasa takut sedikit pun. Ia bahkan tidak sadar siapa pria di depannya. Tanpa menunggu balasan Adrian, Clara langsung membalikkan badan. Ia melihat seorang petugas keamanan yang berdiri mematung di dekat meja informasi. "Pak! Di mana saya bisa bertemu Sekretaris Mila? Saya ada janji wawancara di bagian HRD," tanya Clara dengan nada tidak sabar, sama sekali mengabaikan Adrian yang masih menatap punggungnya, dengan tatapan marah. Petugas keamanan itu tidak menjawab. Ia hanya menelan ludah, matanya melirik ketakutan ke arah Adrian yang kini mengepalkan tangannya. Clara mendengus. "Duh, kenapa semua orang di sini jadi bisu, sih?" Tanpa rasa bersalah, Clara mengambil map-mapnya yang tersisa di lantai dan melenggang pergi menuju lift, meninggalkan pria yang masih berdiri kaku dengan kemarahan yang mulai mendidih di dadanya. "Cari tahu siapa gadis itu," desis Adrian pada asistennya. "Dan pastikan dia tidak akan pernah keluar dari gedung ini dengan mudah." BERSAMBUNG...Suasana ruang tamu berubah mencekam.Clara masih memandangi tumpukan foto di atas meja dengan wajah pucat.Jemarinya gemetar saat mengambil salah satunya."Itu..."Foto dirinya yang sedang duduk sendirian di taman belakang mansion.Padahal hari itu tidak ada tamu.Tidak ada wartawan.Lalu...Siapa yang mengambil gambar itu?Tanpa sadar Clara merapatkan kedua lengannya sendiri.Merasa seolah ada sepasang mata yang terus mengawasinya.Adrian menyadari perubahan itu.Ia segera mengambil semua foto tersebut lalu memasukkannya kembali ke dalam amplop."Jangan lihat lagi."Nada suaranya tegas.Clara mengangkat kepala."Tapi...""Saya bilang cukup."Bukan karena marah.Melainkan karena Adrian tidak ingin Clara semakin ketakutan.Ia kemudian menoleh ke arah kepala keamanan."Panggil seluruh tim keamanan ke ruang rapat. Sekarang.""Baik, Tuan."Beberapa menit kemudian...Ruang rapat mansion dipenuhi para petugas keamanan.Adrian berdiri di ujung meja dengan wajah dingin."Mulai malam ini.""Ti
"Clara!"Wajah Adrian seketika berubah pucat.Tanpa memedulikan Zeva yang masih berdiri di belakangnya, ia langsung berlari menuju lift."Tahan liftnya!"Namun terlambat.Ting.Pintu lift telah menutup rapat."Brengsek!"Adrian memukul tombol lift berulang kali.Layar digital bergerak turun.Lantai 18...17...16...Ia tidak sanggup menunggu.Adrian segera berbalik."Tangga darurat."Pria itu berlari meninggalkan lobi, membuat para karyawan saling berpandangan bingung.Mereka belum pernah melihat CEO mereka kehilangan kendali seperti itu.Di sisi lain...Clara berdiri di dalam lift.Kotak bekal makan siang masih berada di pelukannya.Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengilap.Perlahan sudut bibirnya terangkat.Senyum kecil.Namun air mata mulai mengalir tanpa bisa ditahan."Aku benar-benar bodoh..."gumamnya lirih.Seharusnya ia tidak datang.Seharusnya ia tidak berharap Adrian akan senang menerima bekal yang dibuatnya.Bukankah mereka hanya suami istri karena kontrak?
"Jangan pernah ikut campur lagi dalam rumah tangga saya." Suara Adrian terdengar dingin dari balik sambungan telepon. Di seberang sana, Victoria hanya terkekeh pelan. "Rumah tangga?" ulangnya santai. "Adrian, kalian hanya menikah karena kontrak. Ibu hanya mengembalikan semuanya ke jalur yang seharusnya." Rahang Adrian mengeras. "Kontrak atau bukan, Clara tetap istri saya." Victoria terdiam beberapa detik. "Lalu sampai kapan kamu mau mempertahankan pernikahan itu? Satu tahun? Setelah itu dia tetap akan pergi." Kalimat itu membuat Adrian terdiam. Ia tahu. Itulah isi kontrak yang ia buat sendiri. Namun entah sejak kapan, ia tidak pernah lagi menginginkan kontrak itu berakhir. "Saya akan mengurus rumah tangga saya sendiri." "Tidak perlu Ibu ikut campur." Tanpa menunggu jawaban, Adrian langsung memutus sambungan telepon. Tut. Ia melempar ponselnya ke atas meja dengan kesal. Beberapa detik kemudian, ia mengusap wajahnya kasar. "Pak..." Sekretarisnya kembali bersuara hati
Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar, menyinari ruangan yang sejak semalam dipenuhi keheningan.Clara masih terduduk di atas ranjang.Tatapannya kosong mengarah ke dinding.Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata.Perkataan dokter.Sikap Adrian.Semuanya terus berputar di dalam kepalanya.Perlahan ia menoleh ke arah jam digital di atas nakas.08.00."Sudah pagi..."Clara mengusap wajahnya pelan.Ia mengira semua orang masih berada di bawah.Dengan langkah pelan, ia turun dari ranjang dan berniat keluar kamar untuk sarapan.Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu...Tok... tok..."Permisi, Nyonya."Seorang pelayan mendorong troli makanan masuk ke dalam kamar.Di atasnya tersaji sarapan hangat lengkap dengan teh dan buah potong.Clara tampak bingung."Untukku?"Pelayan itu mengangguk sambil tersenyum sopan."Ya, Nyonya.""Nyonya Clara, Tuan Adrian sudah berangkat ke kantor sejak pagi."Clara terdiam.Pelayan itu melanjutkan,"Dan Nyonya Besar juga sedang pergi kelua
Langkah kaki Clara di atas karpet beludru merah itu terasa begitu ringan namun pasti. Setiap pasang mata di ruangan itu tertuju padanya, namun Clara hanya fokus pada satu titik,Adrian. Pria itu berdiri tegak di ujung altar, mengenakan setelan tuksedo hitam yang sangat pas, menatap Clara dengan tata
"Pernikahan ini tidak boleh terjadi! Adrian dengarkan Ibu! Dia bukan wanita baik, kamu harus menikah dengan orang yang setara dengan kita!" teriak Victoria histeris. Suasana di dalam gedung yang tadinya tenang dan khidmat seketika pecah menjadi kekacauan. Suara teriakan Victoria menggema, memantul
Suasana lobi penthouse mendadak sunyi setelah kepergian Nyonya Victoria. Pelayan telah membereskan sisa-sisa perjamuan yang tegang itu. Clara berdiri mematung di dekat tangga, merasa energinya habis terkuras hanya untuk menghadapi calon ibu mertuanya itu. "Kemasi barang-barangmu se
Lampu kristal di atas meja makan panjang itu memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun suasana di sekitarnya terasa lebih dingin daripada es di dalam gelas wine. Clara duduk di sisi kanan Adrian, sementara Victoria duduk di ujung meja. Pelayan mulai berdatangan, menyajikan hidangan pembuka berup












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews