Home / Romansa / Istri Simpanan Pak Dosen / Bab 75: Peringatan Mama Intan

Share

Bab 75: Peringatan Mama Intan

Author: Devieshinta
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-14 16:00:08

Sementara konspirasi busuk antara Gladis dan Pak Subroto mulai merajut jaring penghancur di luar sana, Alana sedang berada di dalam unit penthouse Kuningan Residence. Siang itu terasa begitu sepi karena Aksa harus mengisi kelas penuh hingga sore hari di kampus. Alana duduk di sofa ruang tengah, mencoba kembali memfokuskan diri pada draf Bab 3 skripsinya. Namun, bunyi bel pintu depan yang berdering tiba-tiba memecah keheningan.

Ting tong...

Alana mengernyitkan d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Istri Simpanan Pak Dosen   BAB 110

    "Al, jangan dilihat. Ayo pergi dari sini," cetus Keira sambil merenggut bahu Alana, mencoba memblokir pandangan sahabatnya dari papan mading utama. Namun semuanya sudah terlambat. Air mata Alana sudah lebih dulu luruh membasahi pipinya yang pucat pasi. Bisik-bisik kejam dari puluhan mahasiswa di sekeliling mereka mendadak terdengar laksana dengungan lebah yang mencekik warasnya. Tanpa membalas ucapan Keira, Alana membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menembus kerumunan. "Alana! Tunggu!" teriak Elara, bersiap mengejar dengan langkah lebar. "Biar gue yang cari ke area perpustakaan atas, El. Lo cek taman belakang sekarang," instruksi Keira cepat. Mereka berdua segera berpencar dengan kecemasan yang memuncak. Alana terus berlari menyusuri koridor, menaiki anak tangga dengan napas yang memburu, hingga langkahnya membawa masuk ke dalam perpustakaan pusat fakultas. Di jam kuliah seperti ini, lorong bagian belakang yang menyimpan buku-buku a

  • Istri Simpanan Pak Dosen   BAB 109

    "Jangan menoleh, Alana. Masuk kembali ke halaman rumah," perintah Aksa, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin di tengah keheningan malam. "Tapi mereka... mereka bawa sesuatu, Mas," bisik Alana, tangannya gemetar hebat saat meremas lengan kemeja Aksa. Aksa segera menarik tubuh Alana ke belakang punggung tegapnya, mengunci pandangan tajamnya pada dua orang bermotor di seberang jalan. Namun, bukannya menyerang, pengendara motor itu justru menggeber mesinnya dengan keras sekali sebelum akhirnya berbalik arah dan melesat pergi membelah kegelapan malam. Itu murni teror mental. "Mereka cuma mau menakut-nakuti kita," ucap Aksa, mengembuskan napas panjang sembari memeriksa draf map hitam di tangan kanannya. "Ardiansyah tahu kita mencari sesuatu di sini. Hubungi sopir keluarga, kita pulang pakai mobil lain." Keesokan paginya, teror yang sesungguhnya baru saja dimulai di area kampus. Bukan berupa ancaman fisik di jalanan sepi, melainkan pembunuhan

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 108: Map Hitam Mama Intan

    Malam kian larut ketika Aksa memutar kemudi mobilnya membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Di sampingnya, Alana duduk diam seraya menatap ke luar jendela. Ingatan tentang konspirasi besar antara Pak Subroto dan Ayah Bara yang dibeberkan Elara tadi siang benar-benar menguras energi mentalnya. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang menjulang. Di baliknya, berdiri sebuah rumah bergaya kolonial yang luas namun sudah tidak ditempati sejak keluarga besar Dewantara pindah ke kawasan elit pusat kota. Walau kosong, rumah ini tetap dijaga dan dirawat dengan sangat rapi. "Ayo turun, Alana," ajak Aksa lembut, mematikan mesin mobil. Alana melangkah turun, merapatkan jaket rajutnya karena hawa malam yang menusuk. "Kita mau ambil apa di sini, Mas?" "Petunjuk dari Ibu saya," jawab Aksa singkat seraya membuka pintu utama rumah menggunakan kunci khusus. Atmosfer di dalam rumah tua itu terasa sunyi dan dingin. A

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 107: Hasutan Sang Ayah

    Sementara Aksa menerima instruksi penting dari Mama Intan di balkon apartemennya, badai emosi yang berbeda sedang berkecamuk di dalam kediaman mewah keluarga Ardiansyah. Bara duduk di ruang kerja ayahnya dengan tatapan kosong. Di atas meja kaca di depannya, beberapa lembar draf foto tercetak beresolusi tinggi tersebar berantakan. Jantung Bara serasa dihantam godam besar saat matanya dipaksa menatap bukti-bukti itu: draf foto akta nikah siri dan pakta pernikahan atas nama Aksa Dewantara dan Alana Danuarta. Ardiansyah berdiri di dekat jendela, membelakangi putranya sambil menyesap cerutu dengan tenang. Asap tebal menguar, menciptakan atmosfer yang semakin menekan di dalam ruangan. "Kamu lihat sendiri, kan, Bara? Itu fakta yang selama ini kamu sangkal," ucap Ardiansyah, suaranya terdengar berat dan sarat akan manipulasi yang terencana. "Nggak... ini nggak mungkin, Papa!" Bara berdiri dari kursinya, menyentak meja hingga beberapa kertas bergeser.

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 106: Bukti di Tangan Elara

    Elara segera menurunkan ponselnya begitu amplop cokelat tebal itu berpindah tangan. Dengan jantung yang masih berdegup kencang laksana genderang perang, ia berjalan mundur sangat perlahan, lalu berbalik dan berlari secepat mungkin menyusuri tangga darurat. Ia mengabaikan rasa lelah di kakinya sampai akhirnya berhasil keluar dari gedung fakultas dan langsung meluncur menggunakan ojek daring menuju apartemen Aksa, tempat Keira sudah menunggu. Begitu pintu unit apartemen mewah itu dibuka oleh Aksa, Elara langsung menerobos masuk dengan napas memburu dan wajah sepucat kapas. "Elara? Kamu kenapa? Seperti habis dikejar hantu," tanya Aksa, alisnya bertaut rapat melihat kondisi sahabat istrinya yang berantakan dengan rompi kebersihan yang masih melekat. "Lebih parah dari hantu, Pak Aksa! Ini... ini iblis korporat!" seru Elara terengah-engah, menjatuhkan diri di sofa ruang tamu di samping Keira. Alana yang baru saja bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar i

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 105: Plot Twist: Amplop Cokelat dari Ayah Bara

    Elara menahan napasnya rapat-rapat di balik pilar beton koridor yang remang-remang. Detak jantungnya bertalu begitu keras di dalam dada, hingga ia takut suara detaknya bisa memecah kesunyian lantai dua gedung fakultas yang telah ditinggalkan oleh para penghuninya. Dunia seolah berhenti berputar saat pria paruh baya di depan ruangan Pak Subroto itu menurunkan maskernya untuk menyeka keringat. Wajah tegas, rahang kokoh, dan tatapan mata yang penuh keangkuhan itu... Elara sangat mengenalnya dari foto keluarga yang pernah ditunjukkan oleh Alana di kosan beberapa bulan lalu. Pria berjas mewah itu adalah Ardiansyah. Pengusaha kakap pemilik Ardiansyah Group yang sangat berkuasa, sekaligus ayah kandung dari Bara, kekasih Alana. "Gila... ini bener-bener plot twist gila," bisik Elara dalam hati, seluruh tubuhnya mendadak lemas dan gemetar hebat akibat rasa syok yang teramat masif. Namun, kesadaran sebagai sahabat Alana membuat fokusnya kembali dalam sek

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 13: Makan Malam yang Panas

    Napas Alana tertahan di tenggorokan. Punggungnya yang membentur pintu kayu apartemen terasa kaku, sementara tubuh tegap Aksa mengurungnya begitu rapat. Aroma sandalwood bercampur mint yang maskulin menguasai indra penciumannya, mengikis habis aroma restoran tempat ia makan bersama Bara tadi.

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 12: Jam Malam dan Hukuman

    Alana langsung meloncat dari kasur, merebut ikat rambut merah muda itu dari tangan Aksa dengan gerakan secepat kilat. Wajahnya yang tadi memerah karena kesal, kini berubah pucat pasi. "Mampus... ini punya Keira!" gumam Alana dengan suara bergetar. Ia ingat betul kemarin sore Keira

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 9: Ancaman Keira dan Elara

    Kalimat bernada ancaman halus dari Aksa sukses membuat Alana linglung sepanjang hari di kampus. Alana bahkan sengaja memilih bangku paling belakang saat kelas bimbingan makroekonomi sore itu, melarikan diri dari sorot mata tajam suaminya yang sesekali sengaja menyapu ke arahnya. Begitu kelas buba

  • Istri Simpanan Pak Dosen   Bab 7 : Perhatian yang Terselubung

    Suara detak jam dinding di ruang kerja Aksa terdengar seperti dentuman palu di kepala Alana. Sudah pukul dua pagi. Tumpukan jurnal setebal bantal itu masih tersisa separuh, dan tangan Alana sudah mati rasa karena terus menulis esai tangan sebanyak puluhan lembar. Aksa sendiri masih duduk di kursi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status