تسجيل الدخول"Kalau kau ingin aku membantumu membalas dendam, maka kau harus jadi milikku. Sepenuhnya. Bukan hanya untuk semalam. Tapi selamanya. Kau tinggal bersamaku. Tidur di ranjangku. Patuh padaku. Dan tunduk pada semua aturanku. Tak ada rahasia. Tak ada nama lain dalam pikiranmu kecuali aku." ucapnya pada Kyora, posesif dan mendominasi. --- Kyora Rosebelle menyaksikan suaminya menikah lagi. Malam itu juga ia diusir dan seluruh asetnya dirampas. Satu tahun menikah sekalipun ia tak pernah disentuh suaminya. Hari-harinya hanya dipenuhi dengan siksa dan hinaan. Namun, ia tak pernah membayangkan jika malam kelam itu justru menjadi titik balik yang mengubah takdirnya, menyeretnya ke dalam pelukan Ludovic Armany, pewaris tunggal kerajaan kasino terbesar di Eropa, pria yang memiliki kuasa dan kendali atas dunia bisnis. Bersamanya, Kyora membalas dendam atas pengkhianatan suaminya. Tapi, disisi lain ia justru menemukan dunia yang selama ini tak pernah didapatkannya, kepuasan, kekuasaan, dan perlindungan tanpa batas. Ludovic bukan hanya mengobati lukanya, ia menjadikan Kyora ratu di hidupnya. Akan tetapi, di balik kesempurnaan yang Kyora dapatkan, satu pertanyaan terus menghantui, apakah di hatinya ada cinta untuk Ludovic? atau semua ini hanya permainan balas dendam yang dibungkus gairah?
عرض المزيد"Sampai kapan pun aku tak sudi dimadu!" jerit Kyora dalam isak tangisnya.
PLAK!!! Tubuh mungil itu terhempas jatuh ke lantai. Tamparan keras melayang di pipinya. Menjiplak memar merah, bahkan ujung bibir mungil itu merembes darah segar. "Kau istri yang tak tahu diri, Kyora! Kau bahkan tak tahu cara berterima kasih!" hardik Javier, suami Kyora. Suami? Masih pantaskah Javier disebut sebagai suami? Jangankan mencintainya, bahkan menyentuh Kyora pun tak Sudi ia lakukan. Baginya Kyora dan pernikahannya hanyalah alat untuk memperkaya diri dan melancarkan bisnis keluarganya. Kyora tersenyum getir, dadanya remuk lebih dari rahangnya yang kebas. "Berterima kasih? Aku yang selama ini memberikan kemewahan padamu dan keluargamu!" Ia mencoba melawan di sisa keberanian yang ia miliki. PLAKKK!! Tamparan yang jauh lebih keras dan menyakitkan. Tak hanya itu, tangan kasar Javier menjambak rambutnya. "Wanita menjijikan, kau tak lebih dari sekedar jalang bagiku. Gara-gara kau, aku hampir kehilangan Calista!" hina Javier tepat di depan wajahnya yang sudah kacau. "Jika, bukan karena terpaksa aku tak sudi menikahi wanita bodoh sepertimu. Semua kulakukan hanya untuk mendapatkan akses kekuasaan, agar mudah mendekati Calista dan merebutnya kembali ke sisisku." Javier menghempaskan tubuh Kyora dengan kasar. "Kau benar-benar kejam Javier!" ritihnya sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Javier tertawa kejam. “Seharusnya kau tahu diri sejak awal. Dunia ini bukan untuk perempuan murahan sepertimu.” "Jangan pernah berharap aku mencintaimu. Karena di hidupku hanya ada nama Calista! Jangan mencoba kabur dan merusak pernikahanku! Atau aku akan melenyapkanmu!" tandasnya penuh ancaman yang langsung pergi meninggalkan kamar dan menguncinya dari luar. Mengurung Kyora dalam penderitaan. Remuk yang tak lagi bisa digambarkan oleh Kyora. Harga dirinya sudah hancur berkeping. Ia menangis sejadinya. Javier yang notabene anak dari kaki tangan Benedict, Ayah Kyora, dipercaya untuk menjaga putri semata wayangnya. Pernikahan mereka digelar mendadak dan sangat privat. Seminggu setelah pernikahan, kedua orang tua Kyora meninggal dalam kecelakaan misterius. Semenjak itu, Javier berkuasa atas segala bisnis milik keluarga Benedict. Ia sama sekali tak mencintai Kyora. Ia hanya butuh sidik jari dan iris mata gadis itu untuk membuka akses perusahaan. Satu tahun pernikahan Kyora bagaikan hidup di neraka paling keji. Malam itu, hujan tak biasa mengguyur Monte Carlo. Langit seolah menangisi nasib seorang gadis yang berdiri gemetar di balik tirai balkon lantai atas Mansion Benedict, tempat pesta termewah tahun ini digelar. Gaun satin gading yang dikenakannya sudah tak sempurna lagi lembab dan kusut, seperti hatinya yang koyak. Kyora Rosebelle, nama itu hanya tinggal hiasan kosong di undangan pernikahan satu tahun lalu. Hari ini, ia hanya tamu tak diundang dalam pernikahan suaminya dengan wanita lain. Tangan Kyora bergetar hebat saat sorotan kamera menyinari pasangan pengantin di bawah. Di antara tamu-tamu penting, pria itu tersenyum bangga, Javier Alonso. Suami yang masih sah di atas kertas. Dan di sisinya, mengenakan gaun couture putih, dengan veil berhiaskan permata Moretti, Calista Moretti, puteri dari keluarga penguasa bar dan kasino di Riviera. Tepuk tangan menggema, denting gelas, dan tawa bahagia menyayat telinga Kyora. Tapi tak ada yang lebih menusuk daripada tatapan sinis dari adik iparnya, Jasmine, yang mengejeknya dari bawah. Kyora terdiam. Tubuhnya kelu. Seolah napasnya dirampas seluruhnya oleh kenyataan bahwa ia tak lagi punya tempat bahkan di rumah warisan keluarganya sendiri. Mereka membuangnya. Menelanjanginya dari martabat. Pesta pernikahan berjalan begitu meriah. Pintu kamar kembali dibuka. Javier kembali dengan sebuah surat pengalihan kepemilikan properti semua aset atas nama Javier. Rumah, saham, bahkan gelang berlian pemberian mendiang ibunya. “Aku hanya pinjam namamu, Kyora. Jangan menghalangi masa depanku dengan Calista,” Kalimat terakhir sebelum ia diseret keluar rumah seperti pelayan yang tak diinginkan. Javier berdiri angkuh di ambang pintu utama, dengan tangan yang merengkuh pinggang Calista dengan erat. Mereka berdua tertawa penuh kemenangan. Tak terkecuali Jasmine adik iparnya dan juga Madam Karla ibu mertuanya. Mereka sedang menyaksikan kemenangan yang selama ini mereka rencanakan. Kyora pergi meninggalkan kediamannya, Mansion dimana ia lahir dan dibesarkan bersama kedua orangtuanya. Mansion yang menyimpan banyak kenangan manis juga luka. Ia pergi sejauh mungkin, entah kemana. Ia tak membawa sepeserpun. Langkah Kyora goyah di tengah derasnya hujan. Ia masuk ke dalam hutan perbatasan terlarang. Menuju tebing. Berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Tak peduli pada bahaya apapun. Bahkan, jika saat ini ia mati pun lebih baik. Ia nyaris terjatuh karena kakinya yang lemah. Matanya buram. Tapi sebelum ia benar-benar tumbang, sebuah tangan kuat menangkapnya. Aroma maskulin, gelap, dan tajam langsung menusuk hidungnya. Pria itu tinggi, mengenakan jas hitam pekat dengan kerah berdiri, dan mata sekelam langit malam. “Jangan mati di tempat yang membosankan seperti ini,” suara pria itu dalam dan berat, “Aku tak mengizinkan.” Kyora terbelalak. Matanya yang sembab bertemu dengan sorot tajam penuh intensitas. “Siapa... siapa kau?” gumamnya nyaris tak terdengar. Pria itu menyentuh dagunya, mengangkatnya pelan. Mengusap bekas luka di sudut bibirnya, dan air mata yang basah bercampur hujan. Tak ada belas kasihan, hanya aura mengancam yang membuat Kyora menggigil entah karena takut atau terlindungi. “Kau seharusnya tidak berada di sini, Kyora Rosebelle.” Ia menyebut namanya. Sempurna. Tanpa ragu. Seolah sudah lama mengenalnya. “Apa kau datang untuk menyaksikan kehancuranmu sendiri?” tanyanya tajam. “Atau, kau sengaja datang untuk memancingku keluar?” Kyora tak menjawab. Napasnya putus-putus. Tapi ia juga tak menolak saat pria itu menggendongnya masuk ke dalam mobil mewah berlogo wanita bersayap, simbol kemewahan dan kekuasaan terbesar di dunia ini. Di kursi belakang, saat lampu kota mulai menjauh dan musik pesta menghilang, suara pria itu kembali mengisi ruang. Mobil mewah itu menembus dinding hutan terlarang yang tak pernah terjamah. Kecuali keluarga Armany. “Mulai malam ini, Kyora, mereka, tak lagi bisa menyakitimu tanpa melewati aku.” ucapnya dalam. Suaranya menekan ke dalam dada Kyora yang lemah, seolah memberi sebuah ilusi kekuatan atau justru penderitaan baru. Tubuhnya yang tak berdaya hanya membuatnya pasrah di pangkuan dan pelukan erat tangan kokoh pria asing yang tak dikenalnya. Ingin kabur? Tentu tidak mungkin. Bahkan, bernapas pun ia tersengal. Kakinya sudah lecet karena ranting kering dan batu yang menggoresnya. Mata sayunya menangkap samar tatapan tajam dengan garis wajah tegas yang menunjukkan dominasinya. Siapa dia? Entahlah. "Terima kasih, Tuan..." lirih Kyora nyaris tak terdengar. Tapi, pendengaran tajam Ludovic mampu menangkapnya dengan jelas. Ludovic menyeringai tipis. Semakin mempererat cengkraman tangannya di lengan Kyora. "Akan kuajari kau cara berterima kasih dengan benar, Kyora!"Javier melangkah meninggalkan lorong itu tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Langkahnya tetap tenang. Bekas tamparan di pipinya masih terasa panas, ulah dari wanita yang selama ini dianggap tak lebih dari bayangan di dalam mansion itu.Pintu kamar utama terbuka. Ruangan luas itu remang dengan cahaya lampu tidur. Di atas ranjang berukuran king size, Calista masih terlelap.Dress tidur merah tipis yang dikenakannya tersingkap hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambut panjangnya terurai di atas bantal sutra.Biasanya, pemandangan itu cukup membuat Javier melupakan segala urusan. Namun malam ini berbeda.Tatapannya hanya singgah sekilas, lalu mengembara entah ke mana. Yang muncul di benaknya justru wajah Kyora.Tatapan mata yang tadi menantangnya. Nada suaranya yang tidak lagi gemetar. Keberaniannya mendorong, bahkan menampar dirinya tanpa rasa takut.Javier berdiri mematung beberapa saat."Selama kau pergi, apa yang sebenarnya terjadi padamu, Kyora? Kau banyak berubah." gumamnya li
Kyora dan Ludovic saling melepaskan pelukan. Tak ada lagi kata, seolah keduanya sudah saling memahami, semakin lama mereka bersama, semakin besar pula resiko terbongkar."Jaga dirimu," bisik Ludovic pelan."Kau juga."Ludovic mengecup pelan puncak kepala Kyora sebelum melangkah mundur. Dalam hitungan detik, sosoknya menghilang di balik rimbunnya pepohonan taman paviliun timur, seolah tak pernah muncul.Kyora menarik napas panjang. Jantungnya masih berdetak cepat. Pertemuan singkat itu mengembalikan semangat yang sempat hampir padam.Ia segera menyusuri jalan setapak menuju pintu belakang mansion. Semua tampak sepi.Hanya lampu-lampu taman yang memantulkan bayangan panjang di lantai marmer. Kyora membuka pintu perlahan, lalu masuk tanpa suara.Ia tentu hafal setiap sudut mansion. Langkahnya ringan melewati tiap ruangan, kemudian berbelok hendak menuju lorong yang mengarah ke kamar para pelayan.Baru beberapa langkah, Kyora menghentikan langkahnya. Dari kejauhan, cahaya masih keluar dar
Pagi itu, dapur sudah sibuk sejak langit masih pucat. Kyora berdiri di depan kompor, menggulung lengan bajunya dengan rapi. Tangannya bergerak tenang, seolah ia benar-benar hanya seorang pelayan yang terbiasa dengan rutinitas ini.Bubur kacang merah mengental perlahan di panci, aromanya harum dan familiar. Ia mengaduk dengan pelan. Takaran gula. Sedikit garam. Semua persis seperti dulu.Di meja samping, susu almond sudah dipanaskan, kopi hitam diseduh dengan gula secukupnya. Kyora mencicipi sedikit bubur itu, sebelum mematikan kompor.Ia menata semuanya di meja makan. Setelah itu, Kyora mundur beberapa langkah dan berdiri bersama pelayan lain. Kepala sedikit menunduk, tangan terlipat di depan perut. Peran itu kembali ia lakukan.Langkah kaki terdengar dari tangga. Sepatu kulit beradu dengan marmer, Javier turun dari kamar utama. Kemeja putihnya rapi, dasi sudah terpasang, rambutnya tersisir sempurna. Jas hitam ia bawa di tangan kiri.Refleks Kyora melangkah mendekat dan mengulurkan ta
Pagi datang begitu cepat. Ketukan keras di pintu kamar Kyora memecah sunyi.Ia bangkit perlahan, menahan nyeri di pergelangan tangan. Bekas ikatan masih membiru. Kyora mengusapnya pelan, lalu menarik napas panjang. Bertahan. Itu satu-satunya kata yang harus ia ingat hari ini.“Bangun!” suara perempuan terdengar dingin. “Nyonya Calista memanggilmu.”Kyora menarik napas panjang lalu berdiri, merapikan rambutnya seadanya. Pintu dibuka dari luar. Dua pelayan wanita yang tak pernah ia lihat mengapitnya tanpa bicara. Langkah mereka cepat, seolah Kyora bukan pemilik rumah, melainkan lebih rendah dari seorang pelayan.Ruang makan sudah penuh hidangan. Calista duduk di ujung, anggun dengan gaun pagi berwarna krem. Javier berdiri di dekat jendela, menyesap kopi, sengaja memunggungi Kyora.“Cepat kemari!” perintah Calista tanpa menoleh.Kyora berjalan mendekat. Ia menunduk, memainkan ujung jemarinya, persis seperti peran yang harus ia mainkan.“Mulai hari ini,” kata Calista, suaranya manis tapi
"Sampai kapan pun aku tak sudi dimadu!" jerit Kyora dalam isak tangisnya. PLAK!!! Tubuh mungil itu terhempas jatuh ke lantai. Tamparan keras melayang di pipinya. Menjiplak memar merah, bahkan ujung bibir mungil itu merembes darah segar. "Kau istri yang tak tahu diri, Kyora! Kau bahkan tak tahu c
Ketukan lembut terdengar di pintu kayu yang menjulang setinggi hampir setara dengan atap. Kyora sontak tersentak, reflek ingin berdiri, seperti kebiasaannya membukakan pintu, namun Ludovic menahan pergelangan tangannya.“Diam di situ. Jangan kemana-mana,” bisiknya pelan tapi pasti.Lelaki itu bangk
Angin malam menyusup dari balkon, membawa aroma malam yang bercampur kabut tipis. Namun suhu tak seberapa dingin dibanding gejolak yang kini membakar di dalam ruang luas itu.Kyora berdiri terpaku di balik gaun basahnya, rambut acaknya meneteskan air hujan terakhir yang belum mengering, seperti sis
Langkah sepatu kulit Ludovic berdentum di lantai marmer hitam ketika ia membawa Kyora yang masih menggigil dalam pelukannya.Rambut basah Kyora meneteskan sisa hujan, menodai jas pria itu, namun Ludovic tak peduli. Ia membuka pintu besar berukiran emas menuju kamar utama kastil Armany, ruang luas d


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.