Share

57|

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2025-12-06 19:00:46

Satu-satunya hal yang paling berisiko di dunia ini ialah tidak mau mengambil risiko.  Atas dasar itu, Muniratri mempertaruhkan dirinya pada satu tindakan yang melawan arus.

“Mas Endra, tolong masukkan obat tidur ke dalam catatan resep obat, biarkan Paduka tahu bahwa beliau tidur panjang karena pengaruh obat,” perintah wanita itu.

Sang ajudan pun mengangguk. Tanpa kata, dia meninggalkan Muniratri dan Damarteja berdua.

“Dia mengangguk begitu saja?&rdq

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   199|

    “Bukankah itu guru Putra Mahkota dan juga istrinya?” Kasmirah menepuk pundak pelayan pribadinya ketika melihat Begawan Prayono keluar dari kamar Mustika.Pelayan itu menyipitkan mata agar pandangannya lebih fokus. “Benar, Raden Ayu. Itu memang mereka.”Kasmirah menyunggingkan senyuman. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia ingin memanggil Begawan Prayono untuk bertukar informasi demi keuntungannya.Namun belum sempat rencana itu terlaksana, Endra sudah lebih dahulu mendapatkan waktu sang Begawan.“Kanjeng Pangeran menyuruh saya untuk mengantarkan Anda ke suatu tempat,” ujarnya.“Baiklah.” Lelaki yang statusnya sebagai guru Putra Mahkota itu mengangguk.Endra membawa Begawan Prayono dan juga istrinya ke barak militer. Di sana dia diarahkan menuju penjara militer yang dijaga secara ketat.“Silakan masuk. Raden. Paduka ada di dalam.” Endra membuka pintu ruang interogasi ya

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   198|

    “Kamu? Hamil anakku?”Damarteja berdiri, mengangkat Muniratri yang ada di pangkuannya. Ia meletakkan kembali istrinya di atas kursi pelan-pelan, bak vas bunga yang rapuh.Lelaki itu melangkah ke depan. Ia mengambil cambuk di tangan Ningsih dan memecutnya ke tanah.Suara cambukkan terdengar nyaring di telinga semua orang. Suara itu memenuhi ruangan, membuat hati menjadi lemah dan ketakutan.“Tentu saja saya hamil anak Anda!” ucap Ratnawangi dengan lantang.Dada sang selir mengembang dan mengempis dengan napas yang tersengal-sengal. Wajahnya merah, antara menahan sakit dan juga amarah karena diperlakukan kasar.“Endra.” Sorot mata Damarteja mengarah kepada Ratnawangi. Tatapannya tajam seperti keris Empu Gandring.“Bukannya kamu sudah kusuruh untuk membereskannya? Kenapa bisa kebobolan?” Tatapan tajam Damarteja beralih ke arah sang ajudan.Lelaki itu memiringkan leher ke kanan dan ke

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   197|

    “Interogasi dia menggunakan cara militer!”Damarteja berdiri membelakangi Ratnawangi yang tengah terikat di kursi penjara. Di hadapannya, Muniratri berdiri dengan kaki gemetar.Ruang bawah tanah membangkitkan kembali kenangan buruk yang pernah menimpa Muniratri dan keluarganya. Ia tak bisa menghapus ingatan itu dari kepalanya sampai kapan pun.“Paduka, apa tidak sebaiknya membawa Kanjeng Putri ke luar,” bisik Ningsih.Damarteja teringat kembali kejadian di masa lalu, saat dirinya menghabisi Wulan di hadapan Muniratri. Saat itu ia melihat istrinya tersenyum samar, sebelum menyembunyikan wajahnya dalam ketakutan.“Tidak perlu. Biarkan dia tetap di sini.” Damarteja mengambil kursi yang terletak di dekat pintu.Ningsih hanya bisa menyisir permukaan rambutnya menggunakan kedua telapak tangan untuk meredakan kegugupan. Ia geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan sikap tuannya.‘Interogasi menggu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   196|

    “SELAMAT DATANG, PADUKA PANGERAN!”Sariyah, pelayan pribadi Ratnawangi yang ia bawa dari Ibu Kota memberi menaikkan volume suaranya ketika Damarteja berkunjung ke kediaman sang selir.Tak hanya mengeraskan suara, ia juga memberi lirikan kepada Wagini dan Karsinah untuk melakukan hal yang sama. Demi mengalihkan perhatian sang Pangeran.“Kenapa kalian diam saja. Cepat lakukan yang kusuruh!” bisik Sariyah.Satu hal yang Sariyah tak tahu, bahwa kedua rekannya merupakan pelayan yang Damarteja tugaskan secara khusus untuk mengawasi Ratnawangi. Praktis, mereka tak mematuhi kode yang diberikan oleh pelayan tersebut.“Apa dia ada di dalam?” tanya Damarteja kepada Wagini dan Karsinah yang berdiri di depan pintu masuk.Kedua orang tersebut mengangguk. Mereka langsung membukakan pintu ketikan Damarteja melangkah ke dalam.“Kenapa kalian membiarkan Kanjeng Pangeran masuk?” desis Sariyah.&ldqu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   195|

    “Bagaimanapun hubungan kami, saya dan juga istri tetap akan menganggap Mustika sebagai anak kami,” tutur sang Begawan.Lelaki itu memandang jenazah Mustika cukup lama. Pandangannya kosong, namun apa yang dirasakannya tak bisa disembunyikan dengan baik. Guru Putra Mahkota itu mengepalkan tangan dengan rahang yang mengeras.“Kami akan melindungi anak itu sepenuh hati. Karena itulah Paduka ....” Begawan Prayono memejamkan mata. Suaranya tercekat di tenggorokan.“Tolong berikan keadilan kepada putri kami satu-satunya.” Lelaki itu berlutut di hadapan sang Pangeran.Damarteja tersenyum samar. Ia mendongak bersamaan dengan dada yang membusung. Merasa bahwa dirinya sudah memenangkan satu ronde.“Sesuai dugaanku, Raden pasti akan memutuskan masalah ini dengan bijak.” Damarteja membantu Begawan Prayono bangkit.“Anda tenang saja. Saya pasti akan melakukan yang terbaik agar putri kalian beristirahat

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   194|

    “BUKA GERBANGNYA!”Kereta kuda mewah dengan ukiran bermotif burung nuri memasuki wilayah Agratampa. Di dalam sana, hanya ada dua penumpang dan seorang kusir. Meski demikian, diam-diam Damarteja menyiapkan pengawalan rahasia untuk mereka.“HORMAT GRAK!!”Senapati Birawa mengentakkan pedang ke tanah, kemudian mengangkatnya hingga setengah badan sebagai tanda penghormatan kepada tamu istimewa yang diundang secara khusus oleh sang Pangeran. Mereka adalah Begawan Prayono dan juga Ismawati — istrinya.Mereka tiba di Agratampa pukul lima sore, namun sudah jarang orang yang lalu-lalang di jalan. Bahkan matahari pun enggan menampakkan hidungnya.“Sepi sekali ya, Pak. Beda jauh dengan Ibu Kota yang ramai. Padahal ini masih sore loh.” celetuk Ismawati saat membuka jendela kereta.“Namanya juga di gunung, Bu. Mungkin mereka sudah masuk rumah sejak sore demi keamanan.” Begawan Prayono menutup jendela

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   141|

    Setiap Ningsih keluar keraton, Muniratri selalu menunggunya pulang di kursi panjang yang tersedia di halaman Paviliun Kantil. Ia ingin mendengar cerita di luar sana melalui mulut dayang tersebut.“NINGSIH!” Muniratri melambaikan tangan agar si dayang mudah menemukannya.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   136|

    Gendhis membuka pintu yang terbuat dari kayu jati tua berkualitas tinggi. Pintu itu diukir dengan apik dan pada beberapa bagian dilapisi dengan emas.“Silakan masuk, Kanjeng Putri.” Gendhis menunjuk ke dalam ruangan menggunakan ibu jari.Muniratri melangkah ke depan. Pan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   128|

    Dahulu Muniratri pernah menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam kasus ayahnya. Namun saat itu dia lakukan secara diam-diam. Kali ini, ia bisa melakukannya dengan leluasa karena dirinya diperbolehkan memasuki Gedhong Prabayekti secara bebas.Wanita itu boleh membaca buku apa saja. Ia men

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   127|

    Sebelum menjalankan tugas bersama Putra Mahkota, Muniratri perlu menghadap Prabu Bahuwirya di Pendopo Agung. Di sana, para pejabat berkumpul untuk menghadiri rapat pagi.Para pejabat membahas berbagai permasalahan yang terjadi di Badra. Mulai dari bencana kekeringan, gagal panen, kelaparan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status