INICIAR SESIÓNMuniratri tak dapat mengabaikan para selir di taman depan vila milik damarteja di Ibu Kota. Mereka bertiga asyik cekikikan, apalagi saat Muniratri lewat di depan mereka, suara itu makin keras, dan terkesan disengaja.
“Kanjeng Putri baru pulang?” tegur Kasmirah.
Wanita itu bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Muniratri. “Pasti asyik sekali jalan-jalan ke luar. Saya jadi iri.”
Bagi kebanyakan orang, jika mereka ditegur dengan ramah oleh o
“Ningsih, ambilkan dua baju hangat di lemariku. Pilih yang terbaik,” perintah sang Putri Hadiwangsa.Dayang itu mengangguk. Ia meninggalkan ruang makan beberapa saat dan saat kembali, ia membawa sepasang mantel yang terbuat dari rubah putih.“Dek Ayu, pakailah ini.” Muniratri mengambil satu mantel dari tangan Ningsih.Kasmirah mengulum bibirnya saat Muniratri memakaikan kain penghangat badan tersebut untuknya.“Kenapa Dek Ayu melihatku seperti melihat hantu?” tanya Muniratri saat Kasmirah menelan ludah hingga suaranya terdengar orang lain.“Tidak apa-apa, Kanjeng Putri.” Kasmirah menggeleng pasrah. Pandangannya kosong.Muniratri tersenyum saja saat Kasmirah bertindak tak sesuai dengan tata krama. Karena sesaat kemudian, wanita itu segera menyadari kesalahannya.“Maafkan saya, Kanjeng Putri. Saya tidak bermaksud membuat Anda tak nyaman,” selir yang mengenakan baju berlapis-lap
“Sudah terlihat seperti orang sakit apa belum?” Kasmirah menengok ke kanan dan kiri sambil memandang wajahnya di cermin.“Sempurna, Raden Ayu,” tutur Sarinem, pelayan pribadi Kasmirah.Untuk menambah kesan dramatis, selir tersebut menyuruh pelayan menjahit baju yang terbuat dari kain yang panas yang akan dia kenakan saat menemani Damarteja menyambut Raden Apta.Sayangnya, belum sempat Kasmirah memamerkan baju itu, dia sudah kepanasan duluan. Keringat deras perlahan mengucur melalui pori-pori kulit. Baju yang ia kenakan mulai basah karena air asin dan kecut itu.“Ambil kipas, cepat!” Kasmirah mengibas-ngibaskan tangan ke wajah supaya riasannya tak luntur.Sarinem mengayunkan kipas tangan yang terbuat dari bambu. Kulit yang basah karena keringat menjadi kering. Suasana hati sang selir pun kembali nyaman.“Raden Ayu, baju ini sangat tebal dan panas. Bagaimana kalau Anda menggantinya dengan kain yang dingin?” tanya pelayan yang sedang mengayunkan kipas.Kasmirah menarik napas dengan perasa
Sebagai pejabat sipil, Raden Apta tak memiliki kuasa untuk memasuki barak militer tanpa membawa dekret keraton. Apalagi alasan lelaki itu datang ke sana untuk menjemput Raden Tumenggung Yajnayodha yang statusnya adalah tahanan militer.Namun atas izin Pangeran Adipati Agung, Raden Apta diizinkan pergi ke tempat suram tersebut dengan satu syarat. Ia harus didampingi oleh sang Pangeran langsung.“Silakan tunggu di sini, Raden.” Damarteja menunjuk kursi besi yang berada di ruang interogasi.“Baik, Kanjeng Pangeran.” Raden Apta mengangguk. Ia tersenyum canggung.Setelah berkuda siang dan malam selama beberapa hari membuat badan lelaki itu terasa remuk. Ia perlu istirahat, walau hanya sekadar duduk santai.Namun saat Raden Apta melihat kursi besi yang berkarat bahkan sampai berwarna coklat kehitaman, ia lebih memilih untuk berdiri saja. Lelaki itu tak mau perhiasan emas yang ia kenakan berkurang kadar karatnya karena bersentuhan dengan besi yang bau darah itu.BRAK!Raden Apta tersentak saa
“Mereka pasti sedang menjadi cacing kepanasan sekarang.” Damarteja tersenyum menyeringai setelah membaca laporan dari mata-mata yang ia tanam di Ibu Kota.“Apa yang tertulis di sana sampai bisa membuat gigi Paduka kering?” ledek Muniratri yang hari itu sedang berkunjung ke Balai Adipati.Damarteja refleks menutup mulut dan membasahi gigi serinya menggunakan lidah. Ia rela menjadi badut komedi istrinya, hanya demi mendapatkan senyuman wanita itu.“Putri baca saja sendiri.” Damarteja memberikan gulungan kertas kecil kepada Muniratri.Wanita itu memeriksa surat tersebut kata per kata. Di sana disebutkan bahwa Prabu Bahuwirya menyetujui pemeriksaan menyeluruh terhadap kejahatan Raden Tumenggung Yajnayodha.Setiap orang yang terlibat dengan kejahatannya akan dijatuhi hukuman berat. Sang Prabu bahkan tak segan-segan akan menyita harta mereka serta menghukum keluarga terdakwa.“Apa informasi ini bisa dipercaya?” Muniratri menatap Damarteja seraya mengangkat kertas kecil di tangannya.“Tentu s
“Begitulah yang terjadi, Ibu Suri.”Raden Apta, keponakan Ibu Suri Tarisujana melaporkan apa yang terjadi di Aula Hutama segera setelah dirinya selesai menghadiri rapat pagi.Wanita itu tak langsung memberikan reaksi apa pun. Ia termenung untuk waktu yang tak sebentar, membuat Raden Apta bosan menunggu tanggapan sang Ibu Suri.“Ini pasti perbuatan Pangeran Hadiwangsa. Dia ingin mengguncang kedudukan kakak sepupu,” terka lelaki itu.Wajah Ibu Suri yang tadinya datar jadi memerah. Air mukanya mengeras. Meski begitu ia tak buru-buru mengutuk aksi Damarteja.Sikap gegabah dalam berbicara hanya akan membawanya pada situasi yang buruk. Terutama jika perkiraannya tak sesuai dengan yang terjadi di lapangan.‘Di permukaan, dia terlihat seperti sedang membela diri atas kekalahannya enam belas tahun yang lalu,’ ucap Ibu Suri dalam hati.‘Tapi jika tujuannya hanya itu, dia tidak perlu sampai ....” Ibu Suri tersentak.Wanita itu teringat pada kejadian buruk yang dialami oleh orang-orangnya dalam wa
“Aku penasaran bagaimana ekspresi Ibu Suri ketika tahu bahwa anak bungsunya sudah meninggal. Dan yang membunuhnya adalah kandungnya sendiri.” Damarteja mengasah pedang di hadapan Tumenggung Yajnayodha.Lelaki yang kini berstatus sebagai tahanan militer tersebut menarik rantai yang membelenggunya. Ia meronta sekuat tenaga namun yang dihasilkan hanyalah kesia-siaan.Badannya tetap terikat oleh rantai yang besar dan kuat. Jangankan lepas dari ikatannya, bahkan menggerakkannya saja tak bisa. Benda itu terlalu berat, bahkan hanya untuk bergetar.“Hm! Hm! Hm!”“Kamu bilang apa, Raden?” Damarteja melengkungkan telapak tangan di samping daun telinga.“Hm! Hm!”Tumenggung Yajnayodha sudah berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. Namun usahanya gagal.Sejak Begawan Prayono memutuskan bahwa Mustika meninggal karena dibunuh oleh Yajnayodha, lelaki itu disiksa sepanjang waktu. Ia hanya bisa beristirahat dari hukuman ketika petugas penjara bertukar jaga.“Hm! Hm!” Tumenggung Yajnayodha menarik rantai
‘Jangan percaya pada anggota keluarga keraton.’Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Muniratri. Kata demi kata tak bisa ia lupakan, karena ucapan tersebut merupakan amanat terakhir sang ayah, sebelum meninggal di tempat eksekusi.“Putri! Buka pintunya!” Dam
Damarteja meletakkan undangan pernikahan ke atas meja. Dia menarik Muniratri yang berada di sampingnya dan merengkuh wanita itu dalam pangkuan.“Kamakarna akan segera menikah,” ucapnya.Muniratri menghela napas. “Baru juga tiga minggu yang lalu kita kembali dari ke
Pemerintahan Badra masih kental dengan magis. Mereka menghitung tanggal baik dan buruk untuk menghindari waktu sial. Lembaga yang menangani masalah tersebut ialah Kawedanan Reripta.“Bulan depan?” Kamakarna membelalak saat membaca laporan yang diberikan langsung oleh pemimpin K
Endra meletakkan kepalanya sejajar dengan tanah. “Mohon Kanjeng Putri berkenan melakukan penyatuan dengan Paduka.”Sejak hari pertama menjadi istri Damarteja, Endra menaruh benci yang tak bertepi pada Muniratri. Alasannya tak perlu dipertanyakan lagi, karena Raden Lawana, ayah Muniratri merupakan te






