Share

76|

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2025-12-25 19:00:50

Damarteja meletakkan undangan pernikahan ke atas meja. Dia menarik Muniratri yang berada di sampingnya dan merengkuh wanita itu dalam pangkuan.

“Kamakarna akan segera menikah,” ucapnya.

Muniratri menghela napas. “Baru juga tiga minggu yang lalu kita kembali dari keraton. Masa harus ke sana lagi?”

Wanita itu mengerucutkan bibir. “Kalau perjalanan ke sana hanya perlu satu jam sih tidak apa-apa. Masalahnya, kita harus melakukannya berhari-hari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   198|

    “Kamu? Hamil anakku?”Damarteja berdiri, mengangkat Muniratri yang ada di pangkuannya. Ia meletakkan kembali istrinya di atas kursi pelan-pelan, bak vas bunga yang rapuh.Lelaki itu melangkah ke depan. Ia mengambil cambuk di tangan Ningsih dan memecutnya ke tanah.Suara cambukkan terdengar nyaring di telinga semua orang. Suara itu memenuhi ruangan, membuat hati menjadi lemah dan ketakutan.“Tentu saja saya hamil anak Anda!” ucap Ratnawangi dengan lantang.Dada sang selir mengembang dan mengempis dengan napas yang tersengal-sengal. Wajahnya merah, antara menahan sakit dan juga amarah karena diperlakukan kasar.“Endra.” Sorot mata Damarteja mengarah kepada Ratnawangi. Tatapannya tajam seperti keris Empu Gandring.“Bukannya kamu sudah kusuruh untuk membereskannya? Kenapa bisa kebobolan?” Tatapan tajam Damarteja beralih ke arah sang ajudan.Lelaki itu memiringkan leher ke kanan dan ke

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   197|

    “Interogasi dia menggunakan cara militer!”Damarteja berdiri membelakangi Ratnawangi yang tengah terikat di kursi penjara. Di hadapannya, Muniratri berdiri dengan kaki gemetar.Ruang bawah tanah membangkitkan kembali kenangan buruk yang pernah menimpa Muniratri dan keluarganya. Ia tak bisa menghapus ingatan itu dari kepalanya sampai kapan pun.“Paduka, apa tidak sebaiknya membawa Kanjeng Putri ke luar,” bisik Ningsih.Damarteja teringat kembali kejadian di masa lalu, saat dirinya menghabisi Wulan di hadapan Muniratri. Saat itu ia melihat istrinya tersenyum samar, sebelum menyembunyikan wajahnya dalam ketakutan.“Tidak perlu. Biarkan dia tetap di sini.” Damarteja mengambil kursi yang terletak di dekat pintu.Ningsih hanya bisa menyisir permukaan rambutnya menggunakan kedua telapak tangan untuk meredakan kegugupan. Ia geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan sikap tuannya.‘Interogasi menggu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   196|

    “SELAMAT DATANG, PADUKA PANGERAN!”Sariyah, pelayan pribadi Ratnawangi yang ia bawa dari Ibu Kota memberi menaikkan volume suaranya ketika Damarteja berkunjung ke kediaman sang selir.Tak hanya mengeraskan suara, ia juga memberi lirikan kepada Wagini dan Karsinah untuk melakukan hal yang sama. Demi mengalihkan perhatian sang Pangeran.“Kenapa kalian diam saja. Cepat lakukan yang kusuruh!” bisik Sariyah.Satu hal yang Sariyah tak tahu, bahwa kedua rekannya merupakan pelayan yang Damarteja tugaskan secara khusus untuk mengawasi Ratnawangi. Praktis, mereka tak mematuhi kode yang diberikan oleh pelayan tersebut.“Apa dia ada di dalam?” tanya Damarteja kepada Wagini dan Karsinah yang berdiri di depan pintu masuk.Kedua orang tersebut mengangguk. Mereka langsung membukakan pintu ketikan Damarteja melangkah ke dalam.“Kenapa kalian membiarkan Kanjeng Pangeran masuk?” desis Sariyah.&ldqu

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   195|

    “Bagaimanapun hubungan kami, saya dan juga istri tetap akan menganggap Mustika sebagai anak kami,” tutur sang Begawan.Lelaki itu memandang jenazah Mustika cukup lama. Pandangannya kosong, namun apa yang dirasakannya tak bisa disembunyikan dengan baik. Guru Putra Mahkota itu mengepalkan tangan dengan rahang yang mengeras.“Kami akan melindungi anak itu sepenuh hati. Karena itulah Paduka ....” Begawan Prayono memejamkan mata. Suaranya tercekat di tenggorokan.“Tolong berikan keadilan kepada putri kami satu-satunya.” Lelaki itu berlutut di hadapan sang Pangeran.Damarteja tersenyum samar. Ia mendongak bersamaan dengan dada yang membusung. Merasa bahwa dirinya sudah memenangkan satu ronde.“Sesuai dugaanku, Raden pasti akan memutuskan masalah ini dengan bijak.” Damarteja membantu Begawan Prayono bangkit.“Anda tenang saja. Saya pasti akan melakukan yang terbaik agar putri kalian beristirahat

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   194|

    “BUKA GERBANGNYA!”Kereta kuda mewah dengan ukiran bermotif burung nuri memasuki wilayah Agratampa. Di dalam sana, hanya ada dua penumpang dan seorang kusir. Meski demikian, diam-diam Damarteja menyiapkan pengawalan rahasia untuk mereka.“HORMAT GRAK!!”Senapati Birawa mengentakkan pedang ke tanah, kemudian mengangkatnya hingga setengah badan sebagai tanda penghormatan kepada tamu istimewa yang diundang secara khusus oleh sang Pangeran. Mereka adalah Begawan Prayono dan juga Ismawati — istrinya.Mereka tiba di Agratampa pukul lima sore, namun sudah jarang orang yang lalu-lalang di jalan. Bahkan matahari pun enggan menampakkan hidungnya.“Sepi sekali ya, Pak. Beda jauh dengan Ibu Kota yang ramai. Padahal ini masih sore loh.” celetuk Ismawati saat membuka jendela kereta.“Namanya juga di gunung, Bu. Mungkin mereka sudah masuk rumah sejak sore demi keamanan.” Begawan Prayono menutup jendela

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   193|

    “Dari kemarin Dek Ayu Mustika tidak ikut makan bersama. Pintu kamarnya juga tertutup rapat. Apa terjadi sesuatu dengannya?” celetuk Kasmirah saat Damarteja dan tiga wanitanya menikmati makan malam bersama.Muniratri dan Damarteja bertukar pandang tanpa suara. Keduanya menunjukkan ekspresi datar, membuat orang lain tak bisa mendeteksi apa yang sedang mereka pikirkan.Nafsu makan keduanya hilang begitu mendengar ucapan Kasmirah. Padahal mereka baru makan beberapa suap.Untuk mencegah pertanyaan susulan yang tak bisa mereka jawab, Muniratri dan Damarteja memutuskan untuk meninggalkan meja makan lebih awal.“Mbakyu!” Kasmirah mencolek Ratanwangi, selir Damarteja yang diberikan oleh Ibu Suri.Tak ada respons yang positif dari selir tersebut. Ia sibuk menikmati makanan yang tersaji di atas meja.“Mbakyu!” panggil Kasmirah sekali lagi.Ratnawangi yang sedang makan dengan lahap menghentikan gerakan tanganny

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   69|

    Muniratri duduk di kursi yang berhadapan dengan milik Kamakarna. Matanya yang sembab tak menghalangi wanita itu untuk mengawasi sang Putra Mahkota Badra, meski dengan tatapan nanar.“Yang Mulia,” seru Ganendra.Muniratri menggigit bibir. Ia mengepalkan tangan, sementara ibu jarinya menggosok-gosok j

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   57|

    Satu-satunya hal yang paling berisiko di dunia ini ialah tidak mau mengambil risiko. Atas dasar itu, Muniratri mempertaruhkan dirinya pada satu tindakan yang melawan arus.“Mas Endra, tolong masukkan obat tidur ke dalam catatan resep obat, biarkan Paduka tahu bahwa beliau tidur

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   52|;

    Muniratri mengunjungi Mustika yang menginap di tenda Damarteja dan menyiram wanita yang masih tidur itu dengan air dingin.“Ah sial! Siapa yang berani menyiramku?!” pekik Mustika, tangannya sibuk menyeka wajah.Begitu membuka mata, wanita itu pun berjingkat. Di depannya

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   51| Membawa Pangeran Pergi

    Muniratri memanggil Endra dan Ningsih ke tendanya pada dini hari. Ia memberi tugas khusus pada mereka berdua.“Membawa Paduka Pangeran pergi? Itu tidak mungkin!” tolak Endra.“Kamu tidak bersedia?” Muniratri mengangkat pipi kanan.Wanita itu membuang muka ke arah lain. “Ah ucapan manusia memang tida

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status