Share

77|

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2025-12-26 19:00:01

Semenjak Damarteja menempatkan pasukan rahasia di sekitar Balai Geliat Merah Muda, semua informasi disampaikan ke Pangeran Adipati, sekecil apa pun itu. termasuk informasi tentang pengemis yang mengais rezeki di sana.

“Apa aku harus menangani ini juga?” Damarteja menatap prajurit di ruang kerjanya dengan tatapan dingin.

“Bawa dia ke panti sosial.” Dia menyandarkan diri ke punggung kursi.

Pangeran Adipati menutup mata. Ia mengibaskan tangan menyuruh

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   211

    “Nyai Sujan ini hebat sekali ya. Tiap main selalu kalah tapi hartanya tak habis-habis.”“Iya kok bisa ya dia begitu? Padahal gaji demang kan enggak seberapa tapi kalau main taruhannya selalu banyak.”“Apa jangan-jangan dia jadi simpanan tuan tanah?”“Halah! Siapa yang mau sih sama wanita tua begitu?”Muniratri dan Damarteja terus-menerus menempel kepada orang-orang yang sedang bergosip tentang Nyai Sujan. Keduanya tak mau jauh-jauh dari para penjudi itu, hingga mereka ketahuan?“Kalian siapa? Kenapa menguping pembicaraan kami?” Salah seorang penjudi mengacungkan belati.Damarteja segera pasang badan saat istrinya diintimidasi oleh mereka. Orang-orang itu beraninya dengan perempuan yang terlihat lemah.“Maaf Kisanak, istriku sedang hamil. Tolong jangan menakut-nakutinya.” Damarteja merentangkan kedua tangan.Orang-orang yang sedang berkerumun itu tertawa ter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   210|

    “Datanya cocok semua!” Muniratri menutup buku besar milik Raden Yajnayodha.“Benarkah?”Damarteja memeriksa daftar pejabat Agratampa yang melakukan korupsi. Ia membandingkan laporan tersebut dengan buku besar yang diberikan oleh Raden Yajnayodha sebelum serah terima tahanan dengan Raden Apta.“Baguslah. Dengan ini, kita bisa menangkap mereka dan mengambil kembali uang rakyat yang dicuri.” Damarteja menatap lurus ke depan. Ia mengepalkan tangan.Setahun lebih, Pangeran Adipati Agung mencari bukti kejahatan mereka namun tak pernah menemui titik temu. Kini dia bisa menjaring mereka dalam satu waktu.“Putri, kamu sudah bekerja keras. Padahal ini bukan tugasmu.” Damarteja membelai wajah Muniratri yang lelah.“Tidak masalah, Paduka. Saya senang bisa membantu.” Muniratri memejamkan mata, menikmati belaian suaminya.Kasus korupsi pejabat Agratampa telah mengakar hingga ke sendi

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   209|

    “Kenapa Wakil Perdana Menteri hanya membawa ini? Di mana tahanannya?” Prabu Bahuwirya mengangkat salah satu alisnya.Lelaki itu melipat tangan di dada saat berdiri di depan sepuluh peti kayu yang dibawa Raden Apta dari Agratampa. Lima peti berisi emas sedangkan sisanya perak.“Hamba pantas mati, Baginda!” Raden Apta berlutut di hadapan sang Prabu.Prabu Bahuwirya balik badan menuju kursinya. Ia tak ingin menyaksikan dari dekat penyesalan formalitas yang dilakukan oleh Raden Apta.“Jelaskan apa yang terjadi!” seru Bahuwirya.“Saat kamu kembali ke Ibu Kota, kami bertemu dengan sekelompok harimau di tengah hutan. Mereka sangat ganas, Baginda,” ucap Raden Apta.Prabu Bahuwirya mengetuk-ngetuk meja menggunakan laporan yang dibungkus dengan kulit kayu tebal. Cukup kuat untuk menjaga supaya kertas yang terbuat dari daun lontar tetap rapi.‘Kenapa Baginda tidak mengucapkan sepatah kata pun

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   208|

    “Semoga sidang berjalan dengan lancar dan yang bersalah mendapat hukuman setimpal,” ucap Damarteja sebelum melepas kepergian Raden Apta dari tanah Agratampa.“Saya juga berhadap demikian, Kanjeng Pangeran.” Raden Apta menundukkan badan.Sang Wakil Perdana Menteri meninggalkan Agratampa bersama dengan sepuluh pengawal. Jumlah pengamanan yang terlalu sedikit untuk ukuran pejabat tinggi.Saat datang ke Agratampa mereka membawa tangan kosong. Namun ketika kembali ke Ibu Kota mereka membawa Raden Tumenggung Yajnayodha dan sepuluh peti berisi emas hasil sitaan dari rumah lelaki itu.“Apa kita perlu mengirim pasukan khusus untuk mengawal orang itu, Paduka?” Senapati Birawa memberikan teropong jarak jauh kepada Damarteja.“Kita lihat dulu situasinya.” Sang Pangeran menggunakan teropong sambil tersenyum tipis.Ketika rombongan Raden Apta memasuki hutan, burung-burung beterbangan secara tak wajar.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   207|

    “Ningsih, ambilkan dua baju hangat di lemariku. Pilih yang terbaik,” perintah sang Putri Hadiwangsa.Dayang itu mengangguk. Ia meninggalkan ruang makan beberapa saat dan saat kembali, ia membawa sepasang mantel yang terbuat dari rubah putih.“Dek Ayu, pakailah ini.” Muniratri mengambil satu mantel dari tangan Ningsih.Kasmirah mengulum bibirnya saat Muniratri memakaikan kain penghangat badan tersebut untuknya.“Kenapa Dek Ayu melihatku seperti melihat hantu?” tanya Muniratri saat Kasmirah menelan ludah hingga suaranya terdengar orang lain.“Tidak apa-apa, Kanjeng Putri.” Kasmirah menggeleng pasrah. Pandangannya kosong.Muniratri tersenyum saja saat Kasmirah bertindak tak sesuai dengan tata krama. Karena sesaat kemudian, wanita itu segera menyadari kesalahannya.“Maafkan saya, Kanjeng Putri. Saya tidak bermaksud membuat Anda tak nyaman,” selir yang mengenakan baju berlapis-lap

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   206|

    “Sudah terlihat seperti orang sakit apa belum?” Kasmirah menengok ke kanan dan kiri sambil memandang wajahnya di cermin.“Sempurna, Raden Ayu,” tutur Sarinem, pelayan pribadi Kasmirah.Untuk menambah kesan dramatis, selir tersebut menyuruh pelayan menjahit baju yang terbuat dari kain yang panas yang akan dia kenakan saat menemani Damarteja menyambut Raden Apta.Sayangnya, belum sempat Kasmirah memamerkan baju itu, dia sudah kepanasan duluan. Keringat deras perlahan mengucur melalui pori-pori kulit. Baju yang ia kenakan mulai basah karena air asin dan kecut itu.“Ambil kipas, cepat!” Kasmirah mengibas-ngibaskan tangan ke wajah supaya riasannya tak luntur.Sarinem mengayunkan kipas tangan yang terbuat dari bambu. Kulit yang basah karena keringat menjadi kering. Suasana hati sang selir pun kembali nyaman.“Raden Ayu, baju ini sangat tebal dan panas. Bagaimana kalau Anda menggantinya dengan kain yang dingin?” tanya pelayan yang sedang mengayunkan kipas.Kasmirah menarik napas dengan perasa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   30| Mencabut Duri Hingga ke Akar

    Untung saja Damarteja buru-buru keluar dari kamar Muniratri, hingga tak sadar meninggalkan dokumen penting. Kini, dokumen itu berada di tangan Muniratri dan siap ia gunakan sebagai alat tukar.Jemari Muniratri menari di wajah sang Pangeran. “Aku ingin merantai para pejabat busuk itu,

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   27| Tidak Mau Pulang

    Di hadapan para pejabat, Damarteja menjelma bak elang yang sedang mengintai mangsanya. Ia bersikap tenang dan berwibawa, pandangannya memancarkan ancaman.Namun di balik sorot matanya yang dingin, tak seorang pun menyadari bahwa rasa bersalah dan kemarahan tengah bergolak dalam batin sang Pangeran.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   26| Balai Adipati

    Seminggu setelah Festival Saharsa berlalu, balai adipati dibanjiri dengan ratusan petisi tentang Putri Hadiwangsa.Jika Damarteja tidak menghentikan penerimaan aduan, mungkin balai adipati sudah tenggelam ditelan oleh lautan petisi.“Huaaaaahhhhhhh ... kenapa tidak ada habisnya sih?!” Damarteja memb

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   17| Sengaja Salah Busana

    Gaya berpakaian Kasmirah dan Muniratri benar-benar bertolak belakang. Bisa dibilang seperti bumi dan langit.Kasmirah tampil sederhana, mengenakan kain biasa tanpa banyak perhiasan. Sementara Muniratri, ia justru mengenakan kain sutra berkualitas tinggi. Emas dan permata menghiasi tubuhnya, dari uju

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status