MasukPundak lelaki diciptakan kuat tidak hanya bertujuan untuk mengangkat beban tetapi juga menjadi sandaran bagi pasangan. Memiliki tubuh yang kokoh, membuat lelaki berkeyakinan mereka dilahirkan untuk dibutuhkan.
“Kenapa sama sekali tidak mengatakan hal ini padaku?” gumam Damarteja.
Lelaki yang sedang frustrasi itu mengusap rambutnya kasar. Berkali-kali mulutnya berdecap, membuat para prajurit di barak mengerutkan dahi.
“Kenapa Kanjeng Pangeran begitu?&rdqu
“Sudah terlihat seperti orang sakit apa belum?” Kasmirah menengok ke kanan dan kiri sambil memandang wajahnya di cermin.“Sempurna, Raden Ayu,” tutur Sarinem, pelayan pribadi Kasmirah.Untuk menambah kesan dramatis, selir tersebut menyuruh pelayan menjahit baju yang terbuat dari kain yang panas yang akan dia kenakan saat menemani Damarteja menyambut Raden Apta.Sayangnya, belum sempat Kasmirah memamerkan baju itu, dia sudah kepanasan duluan. Keringat deras perlahan mengucur melalui pori-pori kulit. Baju yang ia kenakan mulai basah karena air asin dan kecut itu.“Ambil kipas, cepat!” Kasmirah mengibas-ngibaskan tangan ke wajah supaya riasannya tak luntur.Sarinem mengayunkan kipas tangan yang terbuat dari bambu. Kulit yang basah karena keringat menjadi kering. Suasana hati sang selir pun kembali nyaman.“Raden Ayu, baju ini sangat tebal dan panas. Bagaimana kalau Anda menggantinya dengan kain yang din
Sebagai pejabat sipil, Raden Apta tak memiliki kuasa untuk memasuki barak militer tanpa membawa dekret keraton. Apalagi alasan lelaki itu datang ke sana untuk menjemput Raden Tumenggung Yajnayodha yang statusnya adalah tahanan militer.Namun atas izin Pangeran Adipati Agung, Raden Apta diizinkan pergi ke tempat suram tersebut dengan satu syarat. Ia harus didampingi oleh sang Pangeran langsung.“Silakan tunggu di sini, Raden.” Damarteja menunjuk kursi besi yang berada di ruang interogasi.“Baik, Kanjeng Pangeran.” Raden Apta mengangguk. Ia tersenyum canggung.Setelah berkuda siang dan malam selama beberapa hari membuat badan lelaki itu terasa remuk. Ia perlu istirahat, walau hanya sekadar duduk santai.Namun saat Raden Apta melihat kursi besi yang berkarat bahkan sampai berwarna coklat kehitaman, ia lebih memilih untuk berdiri saja. Lelaki itu tak mau perhiasan emas yang ia kenakan berkurang kadar karatnya karena bersentuhan
“Mereka pasti sedang menjadi cacing kepanasan sekarang.” Damarteja tersenyum menyeringai setelah membaca laporan dari mata-mata yang ia tanam di Ibu Kota.“Apa yang tertulis di sana sampai bisa membuat gigi Paduka kering?” ledek Muniratri yang hari itu sedang berkunjung ke Balai Adipati.Damarteja refleks menutup mulut dan membasahi gigi serinya menggunakan lidah. Ia rela menjadi badut komedi istrinya, hanya demi mendapatkan senyuman wanita itu.“Putri baca saja sendiri.” Damarteja memberikan gulungan kertas kecil kepada Muniratri.Wanita itu memeriksa surat tersebut kata per kata. Di sana disebutkan bahwa Prabu Bahuwirya menyetujui pemeriksaan menyeluruh terhadap kejahatan Raden Tumenggung Yajnayodha.Setiap orang yang terlibat kejahatan dengannya akan dijatuhi hukuman yang berat. Sang Prabu bahkan tak segan-segan akan menyita harta mereka serta menghukum keluarga terdakwa.“Apa informasi ini bisa dipercaya?” Muniratri menatap Damarteja seraya mengangkat kertas kecil di tangannya.“T
“Begitulah yang terjadi, Ibu Suri.”Raden Apta, keponakan Ibu Suri Tarisujana melaporkan apa yang terjadi di Aula Hutama segera setelah dirinya selesai menghadiri rapat pagi.Wanita itu tak langsung memberikan reaksi apa pun. Ia termenung untuk waktu yang tak sebentar, membuat Raden Apta bosan menunggu tanggapan sang Ibu Suri.“Ini pasti perbuatan Pangeran Hadiwangsa. Dia ingin mengguncang kedudukan kakak sepupu,” terka lelaki itu.Wajah Ibu Suri yang tadinya datar jadi memerah. Air mukanya mengeras. Meski begitu ia tak buru-buru mengutuk aksi Damarteja.Sikap gegabah dalam berbicara hanya akan membawanya pada situasi yang buruk. Terutama jika perkiraannya tak sesuai dengan yang terjadi di lapangan.‘Di permukaan, dia terlihat seperti sedang membela diri atas kekalahannya enam belas tahun yang lalu,’ ucap Ibu Suri dalam hati.‘Tapi jika tujuannya hanya itu, dia tidak perlu sampai ....” Ibu Suri tersentak.Wanita itu teringat pada kejadian buruk yang dialami oleh orang-orangnya dalam wa
“Aku penasaran bagaimana ekspresi Ibu Suri ketika tahu bahwa anak bungsunya sudah meninggal. Dan yang membunuhnya adalah kandungnya sendiri.” Damarteja mengasah pedang di hadapan Tumenggung Yajnayodha.Lelaki yang kini berstatus sebagai tahanan militer tersebut menarik rantai yang membelenggunya. Ia meronta sekuat tenaga namun yang dihasilkan hanyalah kesia-siaan.Badannya tetap terikat oleh rantai yang besar dan kuat. Jangankan lepas dari ikatannya, bahkan menggerakkannya saja tak bisa. Benda itu terlalu berat, bahkan hanya untuk bergetar.“Hm! Hm! Hm!”“Kamu bilang apa, Raden?” Damarteja melengkungkan telapak tangan di samping daun telinga.“Hm! Hm!”Tumenggung Yajnayodha sudah berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. Namun usahanya gagal.Sejak Begawan Prayono memutuskan bahwa Mustika meninggal karena dibunuh oleh Yajnayodha, lelaki itu disiksa sepanjang waktu. Ia hanya bisa beristirah
“YANG MULIA!”Ibu Suri Tarisujana jatuh setelah mendengarkan berita yang dikirim oleh Begawan Prayono.Sejak lelaki itu sampai di Ibu Kota, tempat pertama yang ia tuju adalah kediaman Ibu Suri. Ia bahkan tak menunggu hari berikutnya untuk menyampaikan kabar tersebut.“Bagaimana keadaan anak itu sekarang?” tanya sang Ibu Suri.Wanita itu berpegangan kepada dayangnya agar tetap tegar. Napasnya berat, namun ia berusaha menarik dan mengembuskannya secara teratur.“Dia sudah dikremasi di Agratampa.” Begawan Prayono menyeka wajahnya tak sedikit pun basah karena air mata.Belum juga tenang setelah mendapatkan kabar tentang Mustika, kini wanita itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak bisa berjumpa dengan putrinya lagi. Hatinya makin hancur.“Kalau begitu, kamu pasti membawa abunya, kan?” Ibu Suri tersenyum getir.Walaupun sudah tak mungkin melihat wajah sang putri, setidaknya dia
Putra Mahkota Badra tiba di Agratampa tanpa pemberitahuan resmi dan hanya membawa sedikit pengawal. Karena itu, Muniratri membawanya ke Puri Kacayagra demi keamanan.“Silakan duduk, Yang Mulia,” tutur Muniratri dengan takzim saat mengantar Putra Mahkota ke ruang tamu.“Terima kasih, Raden Ayu.” Lela
Apa yang terjadi di balai adipati membuat dunia Muniratri diselimuti awan hitam yang membuat dadanya sesak. Ia pun segera pergi dari sana untuk menghirup udara segar.“Kanjeng Putri mau ke mana?” tanya pak kusir.Tidak ada tempat yang ingin ia tuju. Dia hanya ingin berada sejauh mungkin dari mereka
Untung saja Damarteja buru-buru keluar dari kamar Muniratri, hingga tak sadar meninggalkan dokumen penting. Kini, dokumen itu berada di tangan Muniratri dan siap ia gunakan sebagai alat tukar.Jemari Muniratri menari di wajah sang Pangeran. “Aku ingin merantai para pejabat busuk itu,
Di hadapan para pejabat, Damarteja menjelma bak elang yang sedang mengintai mangsanya. Ia bersikap tenang dan berwibawa, pandangannya memancarkan ancaman.Namun di balik sorot matanya yang dingin, tak seorang pun menyadari bahwa rasa bersalah dan kemarahan tengah bergolak dalam batin sang Pangeran.







