Share

Luapan Rindu

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-07-18 17:26:55

“Ah… Mas Banyu… jangan….” desah Bening lemah.

Namun, penolakan yang keluar dari bilah bibirnya itu sama sekali tidak memiliki tenaga untuk menghentikan keadaan.

Di saat Banyu menundukkan kepala, lalu mencium leher Bening dengan sangat dalam, seluruh pertahanan dan dinding pembatas yang mati-matian dibangun Bening sejak melangkah keluar dari rumah Tara langsung runtuh tak berbekas.

Tubuhnya yang berkhianat tak mampu menolak sentuhan demi sentuhan yang diberikan Banyu, tubuhnya lemas dan bergeta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Apalagi ini?

    “Ning, buka pintunya. Ini Mas Tara,” panggil sebuah suara dari luar pagar, disusul ketukan pelan di pintu teras.Bening terkejut. Ia menghela napas panjang untuk menenangkan diri usai pertengkarannya dengan Mas Darto dan Mbak Mira, lalu melangkah menuju pintu depan.Begitu pintu terbuka, Tara berdiri di sana dengan kemeja kasual yang digulung sampai siku. Pria itu tersenyum tipis sambil mengangkat kantong plastik berisi kotak makanan di tangan kanannya.“Mas Tara? Kok ke sini?” tanya Bening heran.“Kemarin pas Banyu diizinkan pulang, kamu kan bilang mau balik sebentar ke Desa Lurih buat beres-beres,” sahut Tara santai sambil melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. “Mas tahu kamu pasti belum makan siang. Sekalian Mas bantu kamu bersih-bersih.” “Tidak usah, Dokter. Aku bisa sendiri, lagipula tinggal sedikit lagi,” tolak Bening halus sambil mencoba mengambil kantong makanan dari tangan Tara.Tapi Tara menggeser tangannya, menatap Bening dengan sorot mata yang tak menerima bantahan.

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tekanan

    “Apa maksudmu?” bisik Tara dengan rahang mengetat kaku, matanya menatap Banyu tajam.Namun Banyu tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Ia hanya tersenyum tipis, senyuman dingin yang penuh kiasan, sebelum perlahan memutar tubuhnya. Kaki Banyu yang belum pulih sepenuhnya mulai bergetar menahan bobot tubuh, memaksanya untuk kembali duduk di atas kursi roda dengan napas sedikit terengah.“Jangan jadi pengecut, Banyu!” umpat Tara.“Kalian..sudah cukup!” Gertak Bening “Kalau kalian ribut begini, aku yang akan pergi!” Ancaman yang membuat mereka bungkam.Tara mengepalkan tangannya di samping tubuh, menatap sepupunya itu dengan kilat kemarahan yang tertahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Tara memutar tumitnya dan melangkah keluar dari kamar rawat, membiarkan pintu tertutup.Setelah hari perselisihan itu, suasana di kamar rawat berubah makin dingin dan penuh jarak. Bening berusaha sebisa mungkin bersikap netral, meski tiap kali pandangannya beradu dengan Banyu, ingatan tentang ke

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Persaingan Ketat

    “Dokter... tolong lepas,” bisik Bening setengah memohon, napasnya masih terengah-engah setelah buru-buru mendorong dada Tara menjauh.Sentuhan tangan Tara di pinggangnya memang sudah terlepas, tapi jarak di antara mereka masih sangat dekat. Terlebih saat pintu kamar rawat terbuka lebar dan memperlihatkan Banyu yang duduk di kursi roda tepat di ambang pintu, didorong oleh Nawang yang langsung mematung canggung.Tara terlihat sengaja melakukannya.Banyu menyapu pandangan dari wajah Bening yang pucat ke arah Tara. Tatapannya dingin, dan sarat akan cemburu yang coba ditahannya rapat-rapat. Roda kursi rodanya diputar sendiri oleh Banyu, bergerak masuk mendekati area sofa tanpa memutus kontak mata dengan sepupunya itu.“Ngapain kamu di sini, Tara?” tanya Banyu singkat dengan suara berat dan datar.Tara sama sekali tidak menunjukkan raut panik. Ia membetulkan posisi pakaiannya dengan tenang, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya.“Cuma memastikan Bening baik-baik

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Dusta Bening

    “Ini... bekas apa di lehermu?” tanya Tara pelan, nadanya berubah berat dan penuh selidik saat matanya menatap tajam jejak kemerahan di ceruk leher Bening.Bening langsung diam membisu. Telapak tangannya refleks terangkat, menutupi lehernya dengan gerakan cepat yang terkesan buru-buru. Jantungnya berdegup gila-gilaan di dalam dada, berkejaran dengan rasa panik yang merayap hingga ke ujung jari.“Kelihatan ya, Mas? Tadi... tadi gatal sekali, jadi aku garuk terus,” alibi Bening terbata-bata, berusaha menyunggingkan senyum senatural mungkin meski sudut bibirnya gemetar.Bening memalingkan wajahnya sedikit ke samping, menghindari tatapan mata Tara yang menusuk. Batinnya menjerit memaki diri sendiri. ‘Duh, sejak kapan aku jadi sedemikian pandai berbohong seperti ini?’ Rasa bersalah menghantam dadanya begitu telak, terlebih saat melihat raut khawatir dan tulus yang terpancar dari wajah dokter tampan di depannya.Tara menatap telapak tangan Bening yang menutupi lehernya, lalu menghela napas p

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jejak Merah

    “Mas... j-jangan sekarang, Nawang menunggu di luar!” cicit Bening panik, tangannya menahan kedua bahu tegap Banyu dengan sisa tenaga yang ia miliki.Banyu menatap Bening yang gemetar dalam dekapannya. Bibir wanita itu basah, matanya sayu, dan napasnya masih terengah-engah usai pelepasan hebat baru saja. Banyu menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak untuk menahan dorongan gila di dalam dadanya. Ia tahu Bening benar, melanjutkannya hingga tuntas di kamar mandi saat Nawang berada hanya beberapa meter di luar adalah risiko yang terlalu besar.Dengan senyum tipis yang sarat akan janji tersembunyi, Banyu menarik kembali miliknya, lalu membetulkan celana pasiennya sendiri.“Aku simpan ini untuk nanti malam,” bisik Banyu parau di telinga Bening, memberi satu kecupan dalam di ceruk leher wanita itu sebelum merapikan rok Bening kembali ke posisi semula.Banyu melangkah keluar kamar mandi lebih dulu, membiarkan Bening menata napas dan penampilannya yang berantakan. Dari balik pintu yang sed

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Singkat Saja, Ning!

    “Mas Banyu, tolong... berhenti,” bisik Bening amat lirih. Matanya menoleh panik menuju celah di depannya. “Pintunya terbuka...”Pintu kamar mandi itu kini memang merenggang beberapa sentimeter, membiarkan seberkas cahaya terang dari luar menyusup ke ruangan yang remang. Siluet Nawang berdiri tepat di balik celah, tinggal mendorongnya sedikit lagi agar pintu itu terbuka penuh.Banyu tidak menghentikan pergerakannya sedikit pun. Dengan satu tangan menahan pinggul Bening di tepi wastafel, jemari tangannya yang lain justru makin aktif mengusap dan menekan titik peka di balik celana dalam tipis Bening yang sudah basah.“Ssst... jangan bersuara, Ning,” bisik Banyu tepat di ceruk leher Bening, merapatkan bibirnya di sana untuk menyerap lenguhan yang nyaris lolos.“Mas Banyu? Di dalam, ya?” suara Nawang kembali terdengar dari balik celah. Pegangan pintu di tangan Nawang berdetak pelan, hendak mendorongnya lebih lebar.Sensasi terlarang—campuran antara takut ketahuan dan sentuhan Banyu yang ma

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Sama, Kecuali Dia

    Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Semua Pria Sama

    Usai menjahit kancing kemeja Banyu, pria itu pamit pergi dan berjanji baru akan kembali nanti malam.Begitu pintu depan tertutup rapat, Bening menghembuskan napas panjang. Beban di bahunya mendadak menguap. Ada secercah rasa lega yang menggelitik hatinya, fakta bahwa Banyu tidak pulang untuk makan

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Jangan Dengar Apa Kata Orang!

    Tangan Bening lihai menjahit kancing yang terlepas. Bening duduk di kursi kayu rendah, posisinya membuat dia harus menunduk sedikit agar bisa menjahit kancing kemeja Banyu dengan teliti. Di hadapannya, Banyu duduk di kursi yang lebih tinggi, membiarkan kemeja itu berpindah dari tubuh. Saat Bening

  • Janda Kembang Pujaan Hati Mas Lurah   Tolong...

    "Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status