تسجيل الدخولMalam mulai larut. Rumah keluarga Wiratmadja yang sejak pagi dipenuhi pelayat akhirnya berangsur sepi. Hanya tersisa keluarga inti yang masih duduk di ruang tamu dengan wajah lelah dan mata sembab. Kehilangan Arunika masih terasa begitu nyata, sementara kenyataan tentang Nayla membuat suasana rumah dipenuhi perasaan yang saling bertabrakan.Nayla duduk diam di sudut sofa. Pandangannya kosong menatap secangkir teh yang sudah lama dingin. Sejak membaca buku harian Arunika, hatinya terasa semakin berat. Namun satu hal masih terus ia pertahankan."Aku belum bisa menganggap diriku Naura."Suara itu memecah kesunyian. Marina yang duduk di seberangnya mengangkat wajah perlahan."Nak …."Nayla menggeleng pelan."Maaf, Bu. Aku tahu semua bukti mengarah ke sana. Aku juga tahu tanda lahirku sama. Tapi aku belum bisa langsung percaya."Setelah mengucapkan kalimat itu, Nayla menarik napas panjang. Wajah Raharja dan Ina terus terbayang di pelupuk matanya."Bagiku, Papa Raharja dan Mama Ina tetap or
Rumah keluarga Wiratmadja masih dipenuhi pelayat sejak pagi. Karangan bunga berjajar memenuhi halaman, sementara lantunan ayat suci menggema pelan di setiap sudut rumah. Aroma bunga melati bercampur dengan wangi dupa menciptakan suasana duka yang begitu pekat. Satu per satu tamu datang menyampaikan belasungkawa, lalu pulang dengan mata yang tak kalah sembap.Di ruang tengah, Marina masih duduk memeluk sebuah bingkai foto Arunika. Jari-jarinya terus mengusap wajah putri sulungnya yang tersenyum manis di dalam foto itu."Kenapa kamu pergi secepat ini, Sayang?" bisiknya lirih. "Mama belum siap kehilangan kamu."Setelah mengucapkan kalimat itu, Marina kembali menangis. Bahunya berguncang hebat, hingga Mbah Sati harus berkali-kali mengusap punggungnya agar wanita itu sedikit lebih tenang. Namun kehilangan seorang anak bukan luka yang bisa sembuh hanya dengan kata-kata penghiburan.Di sisi lain, Nayla sibuk membantu menerima para tamu. Ia menuangkan minuman, mempersilahkan orang duduk, lalu
Begitu pintu ruang perawatan tertutup rapat, Nayla hanya mampu mematung di balik kaca. Tangis Marina memenuhi lorong rumah sakit, sementara Wiratmadja memeluk istrinya yang nyaris kehilangan kekuatan untuk berdiri. Dari balik pintu terdengar suara Naufal yang lantang memberi instruksi."Mulai CPR!""Siapkan defibrillator!""Cas tiga ratus joule!"Alarm monitor berbunyi semakin nyaring.Biiip... Biiip... Biiip...Nayla menutup mulut dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Air mata terus mengalir saat mengingat senyum Arunika beberapa menit lalu."Kak Arunika..." isaknya lirih.Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak. Rasa nyeri yang tadi hanya berdenyut di kepalanya kini menjalar hingga ke dada, seolah ada tangan tak terlihat yang sedang meremas jantungnya."Akh..." Nayla meringis sambil memegangi dadanya.Di dalam ruang perawatan, Naufal masih sempat melirik ke arah istrinya melalui kaca. Tatapannya dipenuhi kekhawatiran, tetapi sebagai dokter ia tak memiliki pilihan sel
Air mata masih membasahi pipi Marina. Tangannya yang gemetar perlahan terulur ke arah Nayla, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat."Nayla," suaranya bergetar lirih, dipenuhi harapan yang selama puluhan tahun terkubur. "Boleh ... boleh Mama memelukmu?"Di sampingnya, Wiratmadja ikut melangkah mendekat. Mata pria paruh baya itu memerah, tetapi tatapannya tak pernah lepas dari wajah Nayla."Nak," gumamnya serak seraya memandang lekat pada Nayla. "Kalau semua ini benar, kalau kamu memang adalah Naura, maka kembalilah pada papa dan mama. Selama ini papa memang belum yakin kalau Naura sudah meninggal. Karena itu selama bertahun-tahun, papa terus saja mencari kamu," lanjut pria paruh baya itu.Ia memohon di hadapan Nayla kini, seolah sudah tak peduli dengan nama besarnya yang selama ini sangat disegani oleh banyak tokoh penting.Namun melihat itu, Nayla justru mundur selangkah. Kepalanya terus menggeleng, sementara air mata mengalir tanpa henti."Tidak, jang
Ruangan perawatan mendadak sunyi.Semua orang mengikuti arah tatapan nenek renta yang berdiri di samping Wiratmadja. Tubuhnya memang sudah membungkuk dimakan usia, tetapi sorot matanya masih tajam ketika memandang Nayla tanpa berkedip. Bibirnya bergetar pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya."Ya Tuhan ... itu anaknya Ina dan Raharja."Ucapan itu membuat seluruh isi ruangan terdiam.Nayla yang masih memegangi pelipisnya perlahan mengangkat wajah. Rasa nyeri di kepalanya memang belum hilang, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar."Mbah ... Mbah kenal saya?" tanyanya lirih, dengan raut wajah yang kebingungan.Mbah Sati mengangguk. Dengan langkah perlahan, ia menghampiri Nayla lalu mengusap pipinya penuh kasih."Tentu saja kenal. Aku sering menggendongmu waktu kamu masih kecil. Mana mungkin aku lupa."Wiratmadja yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka langsung maju beberapa langkah. Napasnya memburu, sementara kedua matanya terus menatap wajah wanita tua i
Dimas masih berdiri di balik jeruji besi dengan rahang mengeras. Tatapannya kosong mengarah ke lorong penjara, tetapi pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada siapa pun yang berada di sana.Tak lama kemudian, langkah kaki kembali terdengar.Seorang sipir menghampiri selnya sambil melirik ke kanan dan kiri memastikan tak ada petugas lain yang memperhatikan."Sudah kubilang, Dokter Naufal mulai mencium jejakmu," gumam sipir itu pelan.Dimas menyunggingkan senyum tipis."Biar saja."Sipir membuka pintu sel tanpa banyak bicara. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya lalu menyerahkannya."Lima menit."Dimas menerimanya tanpa ragu."Kamu tenang saja. Uangnya sudah masuk ke rekening istrimu pagi tadi."Sipir itu tersenyum puas."Kerja sama kita memang selalu menguntungkan."Dimas langsung membuka aplikasi pesan. Beberapa notifikasi bermunculan dari orang-orang yang selama ini menjadi mata dan telinganya di luar penjara.Bukan hanya Revan. Tapi masih ada beberapa orang lain.Sa
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk







