ログイン"Haikal direbut Lea, dan kamu masih bisa diam saja?" Naura mendekati Alya yang sejak tadi tampak berwajah muram. Amarah gadis itu kian menumpuk, ditambah ayahnya sengaja mengenalkannya pada beberapa anak kolega bisnis yang sama sekali tidak menarik baginya."Kamu pikir aku bisa apa?!" jawab Alya setengah membentak karena merasa tertekan dan kesal setengah mati.Di sampingnya, raut wajah Naura tak kalah buruk. "Tentu saja kamu harus membalasnya! Jika tidak bisa membalasnya sekarang, kamu bisa melancarkan pembalasan itu secara perlahan-lahan!""Caranya?" Alya mencoba menahan emosi dan mulai mendengarkan apa yang hendak disampaikan Naura. Keduanya lantas tenggelam dalam perbincangan berbisik yang cukup lama.Hingga pesta berakhir, sosok Zayn memang tidak terlalu banyak terlihat di ballroom. Selain menemani Naura untuk beberapa saat di awal acara, ia lebih memilih untuk menyendiri dan menunggu hingga pesta megah itu usai.Di area parkir basemen yang temaram, pandangan Zayn menangka
"Memangnya kenapa? Tidak mungkin juga aku datang bersamamu, kan? Lagipula sejak awal kamu memang sudah berniat untuk datang bersama Naura," ucap Azalea dengan sedikit nada sindiran yang tak mampu ia sembunyikan.Zayn bungkam sesaat. Jemarinya yang mengusap leher Azalea terhenti, namun tatapan matanya tetap terkunci lekat pada manik mata gadis itu."Benar juga," sahut Zayn singkat. Sebuah senyuman miring yang dingin dan terkesan tak acuh terukir tipis di bibirnya.Jawaban santai itu seketika membuat dada Azalea berdenyut jengkel. Entah mengapa, ada rasa tak nyaman yang menyengat hatinya. Ia sadar betul akan posisinya, ia tidak boleh menampakkan rasa cemburu di hadapan Zayn. Hanya saja, terkadang perasaan semacam itu teramat sulit untuk ia kendalikan."Pulang nanti, aku yang akan mengantarmu," ucap Zayn seraya menarik kembali tangannya. Ia tak lagi mengunci tubuh Azalea di dinding, memberikan ruang bernapas bagi gadis itu."Tidak perlu repot-repot, aku bisa—""Gaun itu sangat coc
Sayangnya, Zayn tidak mau mendengar penjelasan apa pun lagi atau berhasil ditahan. Pemuda itu tetap mengayunkan langkahnya yang tegas, membelah kerumunan."Ayah—" Azalea berusaha tetap memasang raut tenang dan hangat sembari berdiri anggun di dekat Marvel yang masih mematung di tempatnya."Om Marvel, kenapa Anda terlihat sangat terkejut?" Haikal tersenyum tipis. "Apa tidak menyangka aku akan datang bersama putri baru Om ini? Bagaimanapun juga aku dan Lea sudah berdamai, dan kami memutuskan untuk tidak lagi ribut di kemudian hari.""Ah?" Marvel tersentak merespons. Ia lalu memaksakan ukiran senyum di bibirnya. "I-itu keputusan yang dewasa dan sangat baik. Om merasa ikut lega—"Marvel terpaksa menahan pemikiran rumitnya untuk sementara waktu, sembari mengalihkan pandangannya pada Ardi yang saat ini melangkah mendatangi mereka dengan raut tegang."Haikal, kenapa kamu malah datang bersamanya?""Pak Ardi," potong Marvel cepat sebelum situasi memburuk. Melihat raut wajah Ardi yang ka
Azalea melangkah makin percaya diri, menikmati dengan puas setiap detik dari ekspresi Alya yang seketika memucat dan membeku di tempat. Bukan hanya Alya, beberapa yang lainnya pun tak kalah syok. Kasak-kusuk kekagetan langsung menjalar cepat di seluruh penjuru ballroom."Haikal...?" bisik Naura dengan mata membelalak tak percaya."Bagaimana bisa Azalea datang bersama Haikal?!" celetuk lainnya yang ikut menahan napas. Bagaimana pun mereka tahu Azalea yang memiliki konflik dengan Haikal. Apa Azalea sudah gila datang dengan musuhnya? Pemuda yang sudah pernah menyusahkannya? Azalea menyunggingkan senyum miring. Ia merasa telah memenangkan ronde pertama dalam pertunjukan malam ini. Dengan dagu terangkat anggun, ia terus berjalan berdampingan bersama Haikal menuju panggung utama, menghampiri Marvel dan Marta yang turut memasang raut wajah tegang. Haikal malam itu tampil benar-benar berbeda. Postur tubuhnya kini jauh lebih tegap, berisi, dan berotot. Kulitnya menggelap matang, memanca
"Bu—bukan. Ti-tidak, kamu ini sebenarnya siapa?" Azalea menggelengkan kepalanya. Ia sempat mengira matanya sedang bermasalah hingga refleks mengucek kedua matanya. Namun, saat kembali melihat sosok di hadapannya, ia makin yakin bahwa ia tidak sedang salah lihat. "Kenapa mukamu bisa sama persis dengan teman Zayn yang di dalam tadi?""Aku?" Varan menunjuk dirinya sendiri, lalu menyunggingkan senyuman lembut. "Aku memang temannya Zayn, kok. Tapi kenapa kamu kelihatan sekaget itu melihatku?""I-itu karena...""Varan, cepatlah sedikit! Zayn sudah menunggumu dari tadi!" Ezra tiba-tiba menyusul keluar dan langsung menarik lengan pemuda itu. Melihat Azalea yang masih berdiri mematung di tempatnya, Ezra pun sempat melempar penjelasan singkat. "Jangan bingung begitu, Lea. Mereka berdua itu anak kembar. Yang kamu tarik-tarik tadi namanya Varel, nah yang ini Varan!" ujar Ezra seraya berlalu pergi."Oh..." Azalea hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham, lalu melanjutkan langkah kakinya
Zayn mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras tajam—terlihat jelas bahwa ia dikuasai oleh emosi setelah mendengarnya. "Zayn." Naura masih berdiri setia di sisi pemuda itu. "Mengenai hal itu, aku memang belum tahu secara detailnya. Namun, ada kemungkinan besar jika mereka melakukan tindakan medis—" "Aku bisa menanyakan hal itu sendiri pada Om Marvel," potong Zayn dingin, sama sekali tidak ingin lagi mendengarkan tebakan atau spekulasi Naura. Tanpa menanti respons, ia kembali melanjutkan langkah yang sempat tertahan. "Zayn! Aku belum menyampaikan apa permintaanku! Kamu sudah berjanji akan mengabulkannya, kan?!" panggil Naura dari belakang. "Tenang saja. Aku tidak akan pernah ingkar," sahut Zayn meyakinkan tanpa menoleh. Naura bergegas menyusul langkah pemuda itu dengan senyuman semringah yang merekah. "Kalau begitu, dengarkan baik-baik apa yang aku inginkan—!" Dari kejauhan, Azalea yang menyaksikan interaksi mereka berdua hanya bis
Yiyi dan temannya saling lirik lalu menelan ludah. Meski bukan mereka yang memotong rambut Azalea secara langsung, namun mereka yang memprovokasi Alya. "Zayn, tidak ... kamu salah," Azalea buru-buru menyela, takut jika masalahnya semakin melebar. "Kamu salah paham, tidak ada satu pun dari mereka--
Bruuuk! Alya mendorong tubuh Azalea sampai terbentur pintu toilet lalu tersungkur ke lantai. "Sebenarnya apa salahku? Kenapa kalian berbuat kasar begini?" tanya Azalea lagi sambil meringis perih."Jangan berlagak polos!" bentak Alya. "Kamu sengaja melakukan itu, kan? Sengaja ngilangin kertas ulan
Tatapan itu membuat Azalea gugup, ada sesuatu yang berdebar aneh. Ia langsung menyerahkan botol minum Zayn padanya. "Jawab aku. Kamu mengerti?" tekan Zayn. Azalea mengangguk cepat. "Iya… mengerti." Zayn melepas tangan Azalea, lalu menunjuk handuk kecil di tangan gadis itu dengan dagunya. "Bantu
Pemilik kontrakan itu pergi dengan langkah menghentak dan lirikan sinis. "Ibu," Azalea menghampiri ibunya. Suara sang putri membuat Dina buru-buru bangkit dan mengusap air matanya. "Lea? Kamu sudah pulang?" ucapnya gugup sambil memaksakan senyum. "Lea sudah pulang dari tadi." Lea mengus







