Share

BAB 200

Author: Nona Mentari
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-01 19:12:41

Dua hari kemudian, ketukan di pintu ruang kerja Heri terdengar dua kali dengan nada terburu-buru sebelum Maman melangkah masuk.

Maman langsung mengunci pintu tebal dari dalam, lalu berjalan cepat menghampiri meja kerja Heri dengan raut wajah amat serius. Ia menghempaskan sebuah map cokelat tebal tepat di hadapan sahabatnya.

"Aku dapat informasi krusial, Her," ucap Maman dengan suara setengah berbisik, lalu mengambil tempat duduk di depan Heri.

Heri yang tadinya sedang mengoreksi laporan keuanga
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 200

    Dua hari kemudian, ketukan di pintu ruang kerja Heri terdengar dua kali dengan nada terburu-buru sebelum Maman melangkah masuk.Maman langsung mengunci pintu tebal dari dalam, lalu berjalan cepat menghampiri meja kerja Heri dengan raut wajah amat serius. Ia menghempaskan sebuah map cokelat tebal tepat di hadapan sahabatnya."Aku dapat informasi krusial, Her," ucap Maman dengan suara setengah berbisik, lalu mengambil tempat duduk di depan Heri.Heri yang tadinya sedang mengoreksi laporan keuangan restoran langsung menegakkan punggung tegapnya.Sepasang mata elangnya meredup tajam, mengunci pandangan pada map di atas meja."Soal Mayang?" tanya Heri pendek dengan suara bariton rendah."Bukan cuma Mayang, tapi pria yang menampung dia selama ini," sahut Maman sembari membuka lembar pertama dokumen tersebut."Namanya Suryo. Pria paruh baya, pejabat daerah berpengaruh di kota ini. Jaringannya luas banget, dari mulai pengadaan proyek pemerintah, perizinan hukum, sampai bisnis gelap di balik l

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 199

    Dapur bersih di apartemen itu dipenuhi aroma gurih dari nasi goreng yang sedang diaduk Sintya di atas wajan.Heri berdiri bersandar pada bingkai pintu, membiarkan tubuh tegapnya yang terbungkus kemeja santai menikmati pemandangan di hadapannya.Sepasang mata elangnya menatap lembut setiap gerakan ramping Sintya yang bergerak lincah ke sana kemari.Heri melangkah maju tanpa suara.Tangan besarnya yang berurat merayap melingkari pinggang ramping Sintya dari belakang, memangkas jarak hingga dada bidangnya menempel ketat pada punggung mulus wanitanya."Pagi, Sayang," bisik Heri rendah tepat di dekat telinga Sintya, lalu memberikan kecupan halus di pelipisnya.Sintya sedikit tersentak manis, namun langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Heri. "Pagi. Kamu sudah siap? Nasi gorengnya sebentar lagi matang."Heri mengusap lembut perut datar Sintya dengan ibu jarinya. "Wangi banget. Nathan sudah bangun belum?""Sudah, lagi merapikan seragam di kamarnya," sahut Sintya sembari mematikan kom

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 198

    “Sialan! Kenapa orang-orang gampang banget meremehkan orang lain?”Umpatan kasar itu membakar dada Heri begitu ia menutup rapat pintu ruang kerja pribadinya di restoran.Pria bertubuh tegap itu melempar kunci mobilnya ke atas meja kayu mahoni dengan dentuman keras.Ia kemudian menghempaskan tubuh kekarnya ke kursi kulit ber-sandaran tinggi, lalu menghela napas kasar yang terasa panas di tenggorokan.Otot-otot di rahang tegas Heri mengetat kaku. Lalu mengepalkan kedua tangan besarnya di atas armrest kursi hingga buku-buku jarinya memutih."Mereka itu terlalu gampang meremehkan orang lain cuma karena tahu dulu aku miskin dan nggak punya apa-apa," geram Heri pada dirinya sendiri, penuh dengan nada kejengkelan yang begitu kentara."Masa lalu yang kelam itu terus-terusan dijadikan tameng buat menghina!"Tak lama kemudian, pintu ruang kerja berbunyi pelan lalu terbuka. Maman, yang kini ikut mengelola restoran, melangkah masuk membawa map laporan harian.Maman seketika menghentikan langkahny

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 197

    Langkah tegap Heri membimbing Sintya berjalan menyusuri koridor area parkir khusus orang tua murid.Tangan berurat Heri masih melingkar protektif di pinggang ramping Sintya, menyalurkan kehangatan dan rasa memiliki yang begitu dominan.Namun, ketenangan yang baru saja mereka rasakan seusai mengantar Nathan seketika buyar saat sebuah suara wanita bernada miring menyapa dari arah samping."Lho? Heri? Ngapain kamu ada di sini?"Heri menghentikan langkahnya.Sepasang mata elangnya bergulir dingin, menatap sesosok wanita berpenampilan serba mencolok dengan riasan tebal dan pakaian bermerek yang berdiri di dekat sebuah mobil sedan putih.Wanita itu adalah Mayang—rekan satu sekolahnya semasa SMA dulu.Mayang melangkah mendekat sembari mengamati penampilan Heri dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang tidak ditutup-tutupi. Sudut bibirnya terkerek membentuk senyuman sinis."Oh... iya, aku baru ingat. Kamu kan punya anak ya?" celetuk Mayang dengan nada meremehkan yang amat kental, dise

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 196

    Pelukan erat di atas tempat tidur malam itu akhirnya bermuara pada komitmen penuh yang mengikat.Pagi harinya, suasana apartemen megah terasa berbeda, penuh dinamika dan semangat baru. Hari ini adalah hari pertama Nathan melangkah ke sekolah barunya di ibu kota.Sejak subuh, Sintya sudah sibuk berkutat di dapur bersih.Wanita itu mengenakan pakaian santai namun tetap terlihat elegan, secara telaten menyiapkan menu sarapan bergizi sekaligus mengemas bekal makan siang untuk Nathan ke dalam tempat makan berwarna cerah.Heri berdiri bersandar pada bingkai pintu dapur, memperhatikan pergerakan jemari halus Sintya dari belakang.Otot-otot dada bidang Heri yang terbungkus kemeja polo gelap mengetat halus.Ada rasa hangat yang membakar dadanya melihat bagaimana wanita yang kini resmi bertunangan dengannya itu begitu tulus mengurus putra kandungnya, persis seperti seorang ibu kandung yang penuh kasih.Satu jam kemudian, SUV hitam milik Heri membelah jalanan kota, membelok masuk menelusuri area

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 195

    Ruangan yang hening itu seketika dipenuhi oleh desiran haru yang memuncak.Di atas tempat tidur, Sintya terdiam mematung sejenak, menatap kotak bludru hitam di tangan Heri dan wajah maskulin pria itu yang menatapnya penuh kepastian.Kelopak mata cantik Sintya berkaca-kaca, memperlihatkan binar kebahagiaan murni yang tak lagi sanggup ia bendung.Tanpa ragu sedikit pun, Sintya menganggukkan kepalanya kuat-kuat. "Iya, Heri... Aku mau! Tentu saja aku mau!" seru Sintya dengan suara parau yang bergetar hebat oleh rasa bahagia.Mendengar jawaban spontan nan tegas dari bibir wanitanya, seolah ada beban raksasa yang terangkat dari atas dada bidang Heri.Pasokan udara yang sempat tertahan di paru-parunya meluncur keluar dalam satu embusan napas lega.Otot-otot wajah tegas Heri yang biasa kaku seketika meleleh, menyunggingkan senyuman lega nan tulus, sebuah senyuman langka yang hanya ia persembahkan khusus untuk wanita di hadapannya.Heri memajukan posisinya, berlutut makin rapat di tepi tempat

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 6

    “Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 5

    Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status