LOGINJam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan Sintya dan ancaman pemecatan yang menggantung di lehernya.
Tiba-tiba, sebuah suara tangisan lirih terdengar dari arah kamar. Heri tegak duduk, menajamkan pendengaran.
“Mas... Mas Reno... angkat, Mas... Tolong aku...”
Heri menyalakan senter ponselnya. Ia melihat Sintya merangkak keluar dari pintu kamar. Wanita itu tidak lagi tampak seperti majikan yang angkuh. Ia gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal, dan air mata membasahi pipinya yang mulus. Ponsel di tangannya terus menunjukkan panggilan yang tidak terjawab.
“Nyonya? Nyonya kenapa?” Heri buru-buru mendekat, namun tetap menjaga jarak.
“Gelap, Heri... Sempit... Aku nggak bisa napas!” Sintya menjerit saat petir kembali menggelegar. Ia melempar ponselnya ke sembarang arah dan menutup telinganya rapat-rapat.
Heri panik saat melihat Sintya mulai mencakar lehernya sendiri, berusaha mencari udara yang seolah hilang dari paru-parunya. Ini bukan sekadar takut gelap biasa; ini serangan panik yang hebat.
“Nyonya, tenang. Ada saya di sini. Tarik napas, Nyonya,” ujar Heri berusaha menenangkan.
“Peluk aku, Heri! Tolong, peluk aku! Aku takut banget!” teriak Sintya histeris. Ia tidak peduli lagi dengan gengsi atau status sosialnya. Saat itu, ia hanya butuh perlindungan.
Heri ragu sejenak, namun saat melihat Sintya hampir pingsan karena sesak, ia langsung duduk di lantai dan menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Sintya langsung menyergap tubuh Heri, membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu.
“Jangan pergi... Tolong jangan matiin lampunya... Mas Reno jahat, dia nggak pernah ada...” isak Sintya sesenggukan.
Heri tertegun. Tubuh Sintya begitu hangat dan lembut. Aroma parfum mahal yang bercampur dengan aroma tubuh khas wanita benar-benar menyerang saraf Heri. Dekapan Sintya sangat erat, membuat dada besar wanita itu tertekan kuat pada dada bidang Heri. Heri bisa merasakan detak jantung Sintya yang liar, perlahan-lahan mulai beradu dengan detak jantungnya sendiri yang juga tidak karuan.
“Saya nggak ke mana-mana, Nyonya. Saya di sini,” bisik Heri pelan. Tangannya yang kasar perlahan mengusap punggung Sintya, berusaha memberikan ketenangan.
Namun, secara biologis, Heri tidak bisa berbohong. Posisi mereka yang sangat rapat, dengan paha Sintya yang bersinggungan langsung dengan kakinya, membuat 'burung' Heri kembali berontak. Di balik celana seragamnya, kejantanannya menegang hebat, bahkan terasa berdenyut-denyut.
Heri menggertakkan gigi, berusaha keras mengalihkan pikirannya ke hal lain, ke anaknya di kampung, ke utang-utangnya, tapi tetap saja, sentuhan kulit Sintya yang halus di lehernya membuat pertahanannya nyaris jebol.
“Nyonya sudah lebih tenang?” tanya Heri, suaranya sedikit serak menahan gejolak.
“Jangan lepasin dulu... Sebentar aja,” gumam Sintya pelan. Napasnya mulai teratur, namun ia masih enggan menjauh dari kehangatan tubuh satpamnya itu.
Heri hanya bisa menarik napas panjang berkali-kali. Ia merasa seperti sedang memeluk bom waktu. Di satu sisi, ia merasa kasihan melihat sisi rapuh Sintya, tapi di sisi lain, ia adalah pria normal yang sudah lama tidak menyentuh wanita.
Tangannya yang mengusap punggung Sintya sempat tanpa sengaja turun sedikit ke arah pinggul yang sintal, membuat Heri tersentak dan segera mengembalikannya ke posisi semula.
Waktu seolah berhenti. Selama hampir dua jam, mereka tetap dalam posisi itu di atas lantai ruang tengah yang dingin. Sintya akhirnya tertidur karena kelelahan menangis, kepalanya masih bersandar nyaman di bahu Heri. Heri sendiri tidak berani bergerak sedikit pun, meski kakinya mulai kesemutan parah.
Tepat saat fajar menyingsing, suara Ctek! terdengar. Lampu-lampu kristal di ruang tengah menyala terang seketika. Cahaya itu membuat Sintya terbangun.
Begitu menyadari dirinya sedang dipeluk erat oleh Heri di atas lantai, wajah Sintya langsung berubah drastis. Ia mendorong dada Heri dengan kasar hingga pria itu terjengkang ke belakang.
“Ngapain kamu?! Lepasin!” bentak Sintya sambil berdiri dengan terburu-buru, merapikan kimononya yang sedikit tersingkap.
Heri mengucek matanya yang lelah, mencoba mengimbangi perubahan sikap yang mendadak itu. “Nyonya... tadi Nyonya yang minta tolong. Nyonya kena serangan panik.”
Sintya menatap Heri dengan tatapan dingin dan penuh penghinaan, seolah kejadian semalam adalah sebuah kesalahan fatal yang harus dihapus. “Lupakan soal semalam. Aku cuma lagi capek, dan jangan sekali-kali kamu berpikir bisa lancang sama aku cuma karena kejadian tadi!”
“Tapi Nyonya, soal laporan ke kantor—"
“Cepat keluar dari sini! Bau badan kamu bikin pusing. Sana balik ke pos!” potong Sintya tanpa ampun. Lalu berjalan masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Heri berdiri perlahan, meratapi kakinya yang kaku dan 'perasaan' yang masih menggantung. Ia menggelengkan kepala, merasa bodoh karena sempat mengira Sintya akan luluh.
“Gila... Benar-benar wanita bermuka dua,” gumam Heri sambil berjalan gontai keluar rumah.
Dua hari kemudian, ketukan di pintu ruang kerja Heri terdengar dua kali dengan nada terburu-buru sebelum Maman melangkah masuk.Maman langsung mengunci pintu tebal dari dalam, lalu berjalan cepat menghampiri meja kerja Heri dengan raut wajah amat serius. Ia menghempaskan sebuah map cokelat tebal tepat di hadapan sahabatnya."Aku dapat informasi krusial, Her," ucap Maman dengan suara setengah berbisik, lalu mengambil tempat duduk di depan Heri.Heri yang tadinya sedang mengoreksi laporan keuangan restoran langsung menegakkan punggung tegapnya.Sepasang mata elangnya meredup tajam, mengunci pandangan pada map di atas meja."Soal Mayang?" tanya Heri pendek dengan suara bariton rendah."Bukan cuma Mayang, tapi pria yang menampung dia selama ini," sahut Maman sembari membuka lembar pertama dokumen tersebut."Namanya Suryo. Pria paruh baya, pejabat daerah berpengaruh di kota ini. Jaringannya luas banget, dari mulai pengadaan proyek pemerintah, perizinan hukum, sampai bisnis gelap di balik l
Dapur bersih di apartemen itu dipenuhi aroma gurih dari nasi goreng yang sedang diaduk Sintya di atas wajan.Heri berdiri bersandar pada bingkai pintu, membiarkan tubuh tegapnya yang terbungkus kemeja santai menikmati pemandangan di hadapannya.Sepasang mata elangnya menatap lembut setiap gerakan ramping Sintya yang bergerak lincah ke sana kemari.Heri melangkah maju tanpa suara.Tangan besarnya yang berurat merayap melingkari pinggang ramping Sintya dari belakang, memangkas jarak hingga dada bidangnya menempel ketat pada punggung mulus wanitanya."Pagi, Sayang," bisik Heri rendah tepat di dekat telinga Sintya, lalu memberikan kecupan halus di pelipisnya.Sintya sedikit tersentak manis, namun langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Heri. "Pagi. Kamu sudah siap? Nasi gorengnya sebentar lagi matang."Heri mengusap lembut perut datar Sintya dengan ibu jarinya. "Wangi banget. Nathan sudah bangun belum?""Sudah, lagi merapikan seragam di kamarnya," sahut Sintya sembari mematikan kom
“Sialan! Kenapa orang-orang gampang banget meremehkan orang lain?”Umpatan kasar itu membakar dada Heri begitu ia menutup rapat pintu ruang kerja pribadinya di restoran.Pria bertubuh tegap itu melempar kunci mobilnya ke atas meja kayu mahoni dengan dentuman keras.Ia kemudian menghempaskan tubuh kekarnya ke kursi kulit ber-sandaran tinggi, lalu menghela napas kasar yang terasa panas di tenggorokan.Otot-otot di rahang tegas Heri mengetat kaku. Lalu mengepalkan kedua tangan besarnya di atas armrest kursi hingga buku-buku jarinya memutih."Mereka itu terlalu gampang meremehkan orang lain cuma karena tahu dulu aku miskin dan nggak punya apa-apa," geram Heri pada dirinya sendiri, penuh dengan nada kejengkelan yang begitu kentara."Masa lalu yang kelam itu terus-terusan dijadikan tameng buat menghina!"Tak lama kemudian, pintu ruang kerja berbunyi pelan lalu terbuka. Maman, yang kini ikut mengelola restoran, melangkah masuk membawa map laporan harian.Maman seketika menghentikan langkahny
Langkah tegap Heri membimbing Sintya berjalan menyusuri koridor area parkir khusus orang tua murid.Tangan berurat Heri masih melingkar protektif di pinggang ramping Sintya, menyalurkan kehangatan dan rasa memiliki yang begitu dominan.Namun, ketenangan yang baru saja mereka rasakan seusai mengantar Nathan seketika buyar saat sebuah suara wanita bernada miring menyapa dari arah samping."Lho? Heri? Ngapain kamu ada di sini?"Heri menghentikan langkahnya.Sepasang mata elangnya bergulir dingin, menatap sesosok wanita berpenampilan serba mencolok dengan riasan tebal dan pakaian bermerek yang berdiri di dekat sebuah mobil sedan putih.Wanita itu adalah Mayang—rekan satu sekolahnya semasa SMA dulu.Mayang melangkah mendekat sembari mengamati penampilan Heri dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang tidak ditutup-tutupi. Sudut bibirnya terkerek membentuk senyuman sinis."Oh... iya, aku baru ingat. Kamu kan punya anak ya?" celetuk Mayang dengan nada meremehkan yang amat kental, dise
Pelukan erat di atas tempat tidur malam itu akhirnya bermuara pada komitmen penuh yang mengikat.Pagi harinya, suasana apartemen megah terasa berbeda, penuh dinamika dan semangat baru. Hari ini adalah hari pertama Nathan melangkah ke sekolah barunya di ibu kota.Sejak subuh, Sintya sudah sibuk berkutat di dapur bersih.Wanita itu mengenakan pakaian santai namun tetap terlihat elegan, secara telaten menyiapkan menu sarapan bergizi sekaligus mengemas bekal makan siang untuk Nathan ke dalam tempat makan berwarna cerah.Heri berdiri bersandar pada bingkai pintu dapur, memperhatikan pergerakan jemari halus Sintya dari belakang.Otot-otot dada bidang Heri yang terbungkus kemeja polo gelap mengetat halus.Ada rasa hangat yang membakar dadanya melihat bagaimana wanita yang kini resmi bertunangan dengannya itu begitu tulus mengurus putra kandungnya, persis seperti seorang ibu kandung yang penuh kasih.Satu jam kemudian, SUV hitam milik Heri membelah jalanan kota, membelok masuk menelusuri area
Ruangan yang hening itu seketika dipenuhi oleh desiran haru yang memuncak.Di atas tempat tidur, Sintya terdiam mematung sejenak, menatap kotak bludru hitam di tangan Heri dan wajah maskulin pria itu yang menatapnya penuh kepastian.Kelopak mata cantik Sintya berkaca-kaca, memperlihatkan binar kebahagiaan murni yang tak lagi sanggup ia bendung.Tanpa ragu sedikit pun, Sintya menganggukkan kepalanya kuat-kuat. "Iya, Heri... Aku mau! Tentu saja aku mau!" seru Sintya dengan suara parau yang bergetar hebat oleh rasa bahagia.Mendengar jawaban spontan nan tegas dari bibir wanitanya, seolah ada beban raksasa yang terangkat dari atas dada bidang Heri.Pasokan udara yang sempat tertahan di paru-parunya meluncur keluar dalam satu embusan napas lega.Otot-otot wajah tegas Heri yang biasa kaku seketika meleleh, menyunggingkan senyuman lega nan tulus, sebuah senyuman langka yang hanya ia persembahkan khusus untuk wanita di hadapannya.Heri memajukan posisinya, berlutut makin rapat di tepi tempat
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri
Heri menekan Baskoro dengan suara baritonnya yang mengintimidasi, mengunci pandangan pria paruh baya itu agar tidak bisa mengelak lagi.Sembari menumpu kedua tangan kekarnya di atas meja marmer, Heri menyorongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak psikologis hingga Baskoro terpaksa bersand
Sintya sekuat tenaga menggigit bibir bawahnya hingga memutih, menahan hantaman nikmat yang mendadak menyerang pusat sarafnya. Kedua tangan wanita itu meremas sprei hotel dengan kuku-kukunya yang terawat hingga kain katun premium itu berkerut parah.Di bawah selimut tebal, Heri tidak member
Heri tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Ia terus melangkah mendekat hingga posisinya kini berdiri tepat di samping sofa, menatap lurus ke bawah ke arah tubuh Sintya.Pada detik itulah, kedua mata Heri langsung menggelap sempurna. Seluruh fokus di isi kepalanya mendadak buyar, digantikan o







