Compartir

BAB 42

Autor: Nona Mentari
last update Fecha de publicación: 2026-06-06 11:16:19

Heri terkekeh pelan melihat guratan cemas yang bercampur jengkel di wajah Sintya. Ia tahu betul bagaimana cara menjinakkan wanita sosialita yang sedang terbakar cemburu seperti ini.

Dengan gerakan lambat yang sengaja menggoda, Heri meraih jemari Sintya yang mencengkeram dadanya, lalu mengecup ujung-ujung jari itu dengan lembut sebelum menarik tubuh Sintya agar semakin merapat ke pelukannya.

Heri mendekatkan bibirnya ke telinga Sintya, lalu berbisik dengan nada rendah yang meyakinkan.

"Kamu ngga
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 155

    Suara denting pintu kulkas yang ditutup kasar menggema di keheningan dapur apartemen mewah mereka.Sintya berdiri di depan kitchen island, dadanya naik-turun menahan sisa-sisa amarah yang belum juga reda sejak kepulangan mereka dari kantor polisi.Dengan tangan yang sedikit bergetar karena emosi, ia membuka tutup sebotol bir dingin, lalu langsung meneguknya dalam satu kali tenggakan panjang sampai menyisakan setengah botol.Cairan alkohol pahit itu mengalir melewati kerongkongannya, namun sama sekali tidak mampu mendinginkan kepalanya yang mendidih.Sintya mengempaskan botol kaca itu ke atas meja marmer dengan bunyi brak yang cukup keras."Reno sialan! Pria berengsek, keparat gila, nggak tahu diuntung!" maki Sintya, suaranya melengking frustrasi, meludahkan segala sumpah serapah yang sejak tadi menyumbat dadanya.Kemudian memandang ke arah ruang tengah dengan mata yang memerah menahan tangis kemarahan."Bisa-bisanya dia maling propertiku sendiri! Tiga bulan dia nipu aku, gadaikan ruma

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 154

    Sintya langsung melaporkan Reno atas dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen, penipuan, dan penggelapan aset berupa rumah mewah milik Sintya yang digadaikan secara ilegal sebesar satu miliar rupiah.Kini, mereka bertiga—Sintya, Heri dan Pak Adit sudah berada di kantor polisi."Pokoknya saya nggak mau tahu, Pak! Polisi harus menemukan pria bajingan itu sampai ketemu dan menjebloskannya ke penjara seumur hidup!" seru Sintya, suaranya melengking tinggi hingga membuat beberapa petugas di kubikel sebelah menoleh.Tangannya kemudian menggebrak meja kayu penyidik dengan gusar. "Dia itu penjahat, Pak! Dia memalsukan tanda tangan saya, mencuri identitas saya, dan merampok rumah saya!"Pak Adit yang menyadari bahwa emosi kliennya bisa mempersulit pencatatan berita acara pemeriksaan (BAP), langsung menyentuh pundak Sintya perlahan."Ibu Sintya, tolong tenangkan diri Anda dulu. Biarkan penyidik mencatat kronologinya dengan runtut agar pasal yang kita ikatkan ke Reno tidak memiliki celah untuk lolo

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 153

    Pagi harinya, suasana distrik perumahan elite tampak begitu tenang saat mobil yang dikemudikan Heri memasuki gerbang klaster.Hari ini Sintya memutuskan untuk mendatangi rumah lama yang pernah ia tinggali bersama Reno.Ada beberapa berkas penting di ruang kerja lama serta perhiasan peninggalan ibunya yang harus segera diambil. Selain itu, Sintya berniat menempelkan plang pengumuman bahwa rumah mewah tersebut akan segera dijual.Heri menghentikan laju mobil tepat di depan pagar besi menjulang rumah berlantai dua tersebut. Namun, belum sempat Heri turun untuk membukakan pintu, pandangan mata elangnya langsung menangkap sesuatu yang tidak beres.Di balik pagar, persis di halaman depan yang luas, sudah berdiri kokoh sebuah plang besi berukuran besar dengan tulisan merah mencolok: RUMAH INI DISITA OLEH BANK."Sintya, lihat itu," ujar Heri mendadak berubah serius penuh kewaspadaan taktis.Sintya mengikuti arah pandangan Heri. Begitu matanya menangkap tulisan di plang tersebut, darahnya seke

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 152

    Mendengar pengakuan binal dari bibir Sintya, Heri tidak lagi mampu menahan geraman yang tertahan di tenggorokannya.Gairah liarnya tersulut hingga ke titik didih yang paling ekstrem.Di bawah tatapan elang Heri yang menggelap pekat, Sintya kembali merunduk, melahap batang keras nan besar itu ke dalam mulut hangatnya dengan kepala yang bergerak naik-turun secara konstan.Sintya memainkan lidahnya dengan sangat lihai, meniru ritme penetrasi yang biasa Heri lakukan padanya.Selain melumatnya dengan hisapan-hisapan yang vakum dan ketat, dia juga menjilatnya dari pangkal hingga ke ujung sensitif yang berurat tegap tersebut.Sensasi hangat, basah, dan jepitan dari rongga mulut Sintya benar-benar membuat pertahanan mental Heri runtuh berkeping-keping."Ahh... bajingan, Sintya! Nghh... pelan-pelan, sayang!"Heri mendesah berat dengan suara bariton yang pecah, seraya tangannya bergerak menjambak rambut panjang Sintya dengan remasan yang cukup kuat namun sarat akan gairah, menuntun pergerakan k

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 151

    Sintya langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat, menyetujui setiap bait kalimat pembuktian yang baru saja meluncur dari bibir tegap Heri.Rasa kagum dan cintanya yang membuncah membuat wanita itu tidak bisa lagi menahan gejolak di dalam dadanya.Ia segera melingkarkan kedua tangan halusnya di ceruk leher pria itu, menarik kepala Heri dengan paksa untuk kembali menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang jauh lebih panas dan liar dari sebelumnya.Tautan bibir mereka tidak lagi menyisakan kelembutan; itu adalah pergulatan rasa lapar yang menuntut tuntasan instan.Di bawah kuasa gairah yang membakar, tangan kekar Heri bergerak taktis menyusuri lekuk tubuh Sintya.Jemari kasarnya menyambar kemeja putih tipis yang dikenakan oleh Sintya, merenggut kancingnya hingga terbuka sebagian, lalu menyusup ke dalam untuk meremas gundukan besar dan montok yang tersembunyi di balik kain tersebut.Remasan Heri yang kuat dan penuh penekanan seketika membuat Sintya melenguh keras di sela-sela

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 150

    Mereka berdua kembali ke apartemen mewah setelah menyelesaikan seluruh administrasi pengadilan yang melelahkan.Begitu pintu unit penthouse tertutup rapat, mengunci mereka dari hiruk-pikuk ibu kota, Sintya langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa beludru yang empuk.Ia menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa, memejamkan mata erat-erat, lalu menghela napas lega yang teramat panjang.Seolah-olah seluruh beban beton yang selama bertahun-tahun menggelayuti pundaknya kini luruh tanpa sisa."Akhirnya..." gumam Sintya, suaranya terdengar bergetar di antara rasa lelah dan kebahagiaan yang meluap."Akhirnya aku resmi bercerai dengan Reno, si keparat gila itu. Aku bener-bener bebas sekarang, Heri."Heri yang sejak tadi berjalan di belakangnya tersenyum tipis. Ia melepas jaket kulitnya, menyisakan kaos hitam ketat yang mencetak jelas lekuk dada bidang dan lengan berototnya.Heri kemudian duduk di samping Sintya, mencondongkan tubuhnya sedikit untuk menatap wajah cantik wanitanya dengan lekat

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 4

    Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 3

    Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 2

    Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n

  • Jatah Malam Nyonya Besar   BAB 1

    “Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status