Share

Bab 12

Author: Musim Gugur
Chenny menunggu Sonia di lantai bawah ruangan Santo. Melihat perempuan itu keluar, dia langsung bergegas menghampirinya dan bertanya, “Gimana? Petugas konseling ada bilang mau menghukum kamu, nggak?”

Sonia yang mengenakan tas sandang hanya memegang dua tali tas yang menggantung di samping tubuhnya sambil menjawab dengan nada santai, “Kenapa harus menghukumku? Aku hanya sedang melindungi diri!”

Chenny menatapnya dengan tidak percaya dan berkata, “Melia patah tulang dan papanya datang dengan emosi yang begitu membludak. Memangnya dia bisa diam saja?”

“Pokoknya sudah beres!” sahut Sonia sambil tertawa lebar.

Walaupun Chenny masih merasa ragu dan curiga, dia juga merasa lega. Perempuan itu mengikuti langkah Sonia keluar dari area universitas sambil berceloteh ria.

“Salah aku juga, coba kalau aku nggak nempelin pangeranku, kita sudah balik dari tadi! Nggak akan ada kejadian seperti ini.”

Dengan santai Sonia berkata, “Melia sudah mempersiapkan semuanya. Siapa tahu dia menungguku di suatu tempat. Mau balik cepat atau lambat hasilnya bakalan sama saja.”

“Rasain saja kakinya patah! Dia memang pantas mendapatkannya!” marah Chenny dengan wajah kesal. Setelah itu dia menatap Sonia dengan mata berbinar sambil bertanya, “Sonia, kamu pernah latihan bela diri? Cepat ajarkan aku salah satu teknik buat kalahkan Melia!”

“Mungkin karena tendanganku kebetulan terlalu kuat,” ujar Sonia.

Chenny memutar bola matanya dan menggerutu, “Sia-sia sekali aku sudah senang nggak jelas. Aku pikir kamu memang ada latar belakang rahasia dan bisa bela diri!”

“Kurang-kurangi baca novel dan nonton drama! Nggak baik buat kesehatan otak kamu,” cibir Sonia.

Keduanya berjalan keluar dari kampus dengan langkah santai sambil sesekali bercanda. Di depan gerbang, Chenny menarik tangan Sonia dan memberikan kode pada perempuan itu untuk melihat sisi kiri depan.

“Cepat! Itu Stella sang bunga kampus!”

Sonia menoleh ke arah yang dimaksud Chenny dan melihat sebuah mobil sedan yang tengah berhenti di tepi jalan. Supir pemilik mobil tersebut turun dan membuka pintu bagian belakang untuk Stella. Orang-orang di sekeliling mereka berhenti dan menatap perempuan itu dengan penuh kagum.

Chenny bergumam, “Lihatlah, kenapa nasib Stella begitu baik. Pelajaran bagus, wajah cantik, dia juga berasal dari keluarga kaya raya. Sedikit saja bagian dari diri dia yang diberikan padaku, aku bakalan sujud syukur untuk mengucapkan terima kasih!”

Sonia membuang tatapannya dan tertawa sambil berkata, “Dua yang kamu bilang terakhir itu ditentukan oleh takdir. Tapi untuk yang pertama, kamu bisa mendapatkannya dengan usaha keras!”

“Sudahlah! IQ aku ini nggak akan bisa menandingi dia. Tapi beda ceritanya kalau orang itu adalah kamu!” balas Chenny sambil menatap ke arah Sonia.

“Sejujurnya, kalau kamu punya papa yang kaya raya, kemungkinan posisi bunga kampus bukan menjadi orang lain. Sayangnya kamu kalah di bagian ekonomi, jadi hanya bisa jadi bunga jurusan saja.”

Sonia hanya menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Kamu boleh sebut aku bunga kampus juga kok. Aku nggak masalah.”

Ucapan santai perempuan itu membuat Chenny terbahak. Dia menarik tangan Sonia ke arah kedai es yang ada di seberang sambil berkata, “Jangan mimpi! Sudah, hari ini aku akan mentraktir kamu biar nggak sakit mental!”

“Kalau gitu aku mau dua!” seru Sonia memanfaatkan kesempatan.

“Boleh! Orang cantik seperti kamu bebas!” jawab Chenny.

***

Stella kembali ke rumahnya lebih awal. Dia dan keluarganya bertiga duduk di meja makan dan tengah makan bersama. Hendri duduk di kursi utama dan berkata pada Reviana, “Kalau kamu ada waktu, telepon Sonia. Minta dia makan di rumah akhir pekan ini.

“Ada masalah?” tanya Reviana sambil mengangkat wajahnya.

“Kalau nggak ada masalah apa pun memangnya nggak boleh minta Sonia makan di rumah? Lagian kesalahpahaman waktu ulang tahunmu itu juga akan terselesaikan begitu ketemu,” ujar Hendri dengan kening berkerut.

Reviana tampak emosi ketika mengungkit masalah kala itu. “Kalau gitu kamu saja yang telepon,” kata perempuan itu dengan malas.

Stella menyendokkan makanan ke piring Reviana sambil tersenyum lembut dan berkata, “Benar apa yang papa katakan. Kenapa satu keluarga tapi harus musuhan? Akhir pekan nanti biar aku yang buatkan Kakak kue.”

Reviana tampak melembut mendengar ucapan Stella. Dia menatap perempuan itu dengan penuh sayang dan berkata, “Memang Stella yang paling pengertian.”

“Oh iya!” Dia meletakkan sendok dan dengan cepat kembali berkata, “Siang tadi Pak Welmus telepon aku dan bilang kalau awal Juni nanti ada pameran lukisan. Dia meminta kamu untuk menyiapkan sebuah lukisan bertema nasional yang kemungkinan bisa dipajang saat pameran nanti.”

“Benarkah?” tanya Stella dengan mata berbinar.

“Kalau gitu aku akan segera menyiapkannya!”

“Iya!” jawab Reviana sambil mengangguk dan sorot pandangan penuh sayang.

Setelah selesai makan, Stella kembali ke kamarnya untuk memikirkan tema yang akan dia lukis. Reviana mengetuk pintu kamarnya dan membawa semangkuk sup sarang burung.

“Tadi waktu makan malam kamu nggak makan banyak. Mama minta Bi Umi buatkan untukmu. Ayo dimakan mumpung masih panas.”

Stella mengeluarkan lukisannya yang lalu dan meminta Reviana bantu menilai hasil karyanya. Kedua ibu dan anak itu berbincang cukup lama hingga Stella menguap. Dia meminta ibunya untuk melihat-lihat terlebih dahulu, sementara dirinya pergi mandi.

Reviana membantunya membereskan meja belajarnya. Akan tetapi jari tangan perempuan itu menyenggol mouse yang ada di meja tanpa sengaja. Secara otomatis layar komputer yang ada di depannya menyala. Dia meliriknya sekilas dan dalam seketika keningnya berkerut.

Layar monitor menampilkan beranda internet milik Universitas Jembara. Dari judul berita yang ada di sana terlihat bertuliskan Sonia yang berantem dengan Melia karena seorang lelaki paling tampan di kampusnya.

Jari tangannya mulai menggerakkan kursor ke arah bawah dan mendapati bahwa Sonia berantem dengan perempuan lain demi seorang lelaki. Di bagian bawah halaman berita tersebut berisi komentar dari para mahasiswa-mahasiswi yang beraneka ragam.

Kening perempuan itu semakin berlipat dan jarinya bergerak tanpa henti membaca halaman-halaman yang ada di layar monitor. Setelah itu dia menutup beranda tersebut dengan wajah menggelap. Sonia adalah putri kandungnya yang salah gendong sewaktu kecil.

Ketika berusia 17 tahun baru dia datang. Reviana juga ingin menebus kesalahannya pada Sonia, tetapi dia melihat Sonia yang tidak memiliki motivasi untuk maju. Dibandingkan dengan Stella yang begitu pengertian serta cerdas, tidak mungkin dirinya tidak pilih kasih.

Mau tidak mau Reviana bersyukur karena tidak pernah mempublikasikan sosok Sonia yang merupakan salah satu putri dari keluarga Dikara. Jika tidak, dirinya pasti akan merasa malu!

Reviana keluar dari kamar Stella dengan wajah yang terlihat tidak senang. Dia masuk ke kamarnya ketika Hendri tengah mengambil ponsel dan hendak menelpon seseorang. Dengan cepat Reviana berkata, "Jangan telepon Sonia!"

“Kenapa?” tanya Hendri dengan wajah bingung.

“Aku nggak ingin melihat dia!” jawab Reviana dengan ketus.

“Ada apa? Bukannya tadi kita sudah sepakat?” tanya Hendri dengan alis tertaut.

“Nggak ada apa-apa, aku hanya nggak ingin melihat dia!” jawab Reviana singkat. Dia mengeluarkan aju tidur dari dalam lemari dan masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Hendri melempar ponselnya ke atas meja sambil menghela napas berat.

Vila Green Garden.

Sonia baru saja kembali dari lari santainya dan membersihkan dirinya. Setelah itu dia duduk di sofa sambil mengelus kepala Bibo sambil bermain ponselnya. Baru saja dia masuk ke dalam aplikasi permainan, terlihat pemberitahuan adanya permintaan pertemanan.

Dia membukanya dan terlonjak girang karena melihat nama Tandy di sana. Sonia memutuskan untuk mengirimkan pesan suara yang berisikan, “Tugasmu sudah selesai?”

“Gimana kalau kamu datang dan memeriksanya?” balas Tandy.

“Ikut aku dari belakang, biar aku buat kamu naik level!” sahut Sonia.

Tandy hanya mengirimkan ekspresi memutar bola mata untuk merespons ucapan perempuan itu. Kemampuan Sonia dalam bermain permainan sangat lemah dan Tandy selalu mencibirnya dalam hal tersebut. Akan tetapi dia juga yang gemar mengajak Sonia untuk bermain bersama.

Mungkin karena perempuan itu terlalu mudah dikalahkan, dia ingin mencari sebentuk rasa kepuasan pada sosok Sonia.

Keduanya bermain selama setengah jam lamanya. Sonia melirik jam yang sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh, sudah waktunya bocah lelaki itu untuk tidur. Tandy tidak membalas pesannya tetapi dia langsung keluar dari aplikasi permainan.

Sonia mengeluarkan buku pelajaran kelas 3 SD yang baru saja dia beli hari ini dan membacanya. Karena dia sudah menjadi guru les lelaki itu, maka dia harus melakukannya dengan baik. Sonia tidak pernah sekolah SD dan juga tidak pernah belajar pelajaran sekolah secara resmi. Oleh karena itu, dia harus mempelajarinya saat ini.

Hari sabtu supir keluarga Herdian tetap menjemputnya untuk berangkat menuju kediaman keluarga Herdian. Sonia tidak menemukan sosok Reza ketika dia naik ke lantai dua. Tidak tahu apakah lelaki itu sedang keluar rumah atau masih belum bangun tidur.

Tasya juga tidak ada di sana, kemungkinan besar sedang pergi berkencan. Sonia mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar Tandy. Bocah itu masih tengah bermain tab miliknya ketika dia masuk ke dalam. Sonia meletakkan tas ranselnya dan berkata, “Hari ini kita bahas lagi pelajaran kamu di minggu ini.”

“Iya,” jawab Tandy yang masih tetap duduk di sofa tanpa bergerak sedikit pun.

Sonia menunggunya selama lima menit, sepuluh menit hingga setengah jam kemudian. Akan tetapi Tandy tetap tidak berniat bangkit dari sana.

 
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 3076

    Tasya menoleh untuk melirik Lecy dan Tora, kemudian dia bertanya dengan nada ringan, “Apa kamu capek? Turunkan aku saja!”“Dua jam juga bukan masalah!” ucap Yandi dengan nada datar.Tasya langsung tertawa. Dia bersandar di atas pundak Yandi, dan menyandarkan kepalanya di atas lengan kokoh Yandi. Dia jadi tidak ingin bangkit lagi.Gadis yang bersandar di punggung Yandi itu terasa sangat ringan. Karena sempat berkeringat tipis tadi, kulit halusnya terasa sedikit dingin, disertai aroma wangi tubuh sang gadis.Tasya memeluk pundak Yandi. Jarak mereka pun semakin dekat lagi. Bibirnya hampir saja menempel di atas leher si pria. Dia bertanya dengan nada rendah, “Yandi, apa kamu benar-benar nggak cinta sama aku?”Langkah kaki Yandi seketika berhenti. Suaranya terdengar agak serak dan tegas. “Tidak!"Sorot mata Tasya yang semula berbinar seketika meredup. Dia menghela napas dengan perlahan. Napasnya mengembus mengenai wajah samping si pria. Tasya berbisik, “Ya sudah kalau nggak cinta. Yang pent

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 3075

    “Nggak akan kelihatan karena ketutup lengan pakaianmu.” Tasya menarik tangan Yandi dan tidak bersedia untuk melepaskannya. Dia bersikeras ingin memakaikan gelang itu.Kening Yandi berkerut. Padahal dia sedang mengenakan kaus lengan pendek, bagaimana caranya bisa ketutup?Sepertinya Tasya sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya telah salah bicara. Dia masih memasangnya di pergelangan tangan Yandi. “Jangan bergerak!”Saat Yandi ingin mendorong Tasya, dia tiba-tiba terdengar suara Tora sedang menjeritnya di depan. Alhasil, Tasya pun sudah berhasil memasang gelang di pergelangan tangannya. Tasya bahkan berkata dengan sangat serius, “Jangan dilepas. Kalau nggak, aku akan beri tahu semua orang di dunia ini … masalah aku suka sama kamu!”Mereka berdiri di sebuah tempat lapang di pegunungan. Sinar matahari yang cerah menyinari mereka, jatuh ke sepasang mata gadis itu yang begitu hidup sekaligus penuh kasih.Nada bicara Tasya terdengar seperti sedang bercanda, tetapi tatapannya begitu serius.

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 3074

    Ketika Tasya melihat Yandi kembali, dia segera berkata dengan gembira, “Bos Yandi, Tora bilang mau bawa kita ke atas gunung.”Tora berkata pada Yandi, “Pemandangan di tempat kami sangat bagus. Kalau kalian tidak ada kegiatan di sore hari, aku akan bawa kalian untuk jalan-jalan ke atas gunung.”Ketika Yandi melihat Tasya sangat berminat, dia pun tidak menolak. “Oke!”Tora membawa mereka bertiga naik ke atas gunung. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, mereka pun tiba di jalan utama pegunungan. Mulai tampak banyak wisatawan di sana.Mereka berempat berjalan sembari mengobrol. Lecy terus menggandeng lengan Tora. Pose mereka kelihatan mesra.Di kejauhan, pegunungan menjulang tinggi dan megah. Puncaknya yang diselimuti salju putih tampak samar dari kejauhan. Sementara itu, di bagian yang lebih dekat, bebatuan terjal berpadu dengan pepohonan yang rimbun. Udaranya begitu segar, membuat hati dan pikiran terasa lapang.Tasya merasa gembira. “Pemandangannya bagus sekali!”Yandi berkata, “Buka

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 3073

    Raut wajah Tasya sedikit memerah. Dia menatap Yandi dengan gusar, “Walaupun itu memang anggrek, bukankah itu cuma jenis anggrek biasa? Kenapa bisa dihargai dengan uang sepuluh juta? Bos Yandi memang kaya, ya!”Kening Yandi berkerut. “Apa hubungannya sama aku? Aku akan potong uang sepuluh juta ini dari gajimu!”Mata Tasya langsung terbelalak. Yandi tidak berhasil menahan tawanya. Dia langsung tertawa dengan suara keras.Tadinya Tasya sedang merasa sangat marah. Dia merasa kesal karena merasa dirinya sangat bodoh. Dia juga marah karena Yandi mentertawakannya. Hanya saja, ketika melihat senyuman Yandi, seluruh amarah di hatinya langsung sirna.Tasya menggigit bibir bawahnya berusaha untuk mengintrospeksi diri. “Aku nggak akan sembarangan sentuh lagi.”Yandi tidak tersenyum lagi. Dia menatap Tasya dengan datar, hendak memberi tahu Tasya bahwa dirinya tidak bersalah. Dia juga tidak merasa Tasya telah merepotkannya. Namun, dia tidak sanggup untuk melontarkan ucapan seperti itu terhadapnya.

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 3072

    Ketika Yandi dan anggota keluarga Torna mengobrol tak sampai setengah jam, terdengar suara jeritan dari luar. “Bu Sarah, keluar bentar. Coba lihat apa dia itu tamu keluarga kalian?”Kening Yandi berkerut dalam seketika. Dia teringat sesuatu, lalu berjalan keluar terlebih dahulu.Kedua orang tua juga segera berjalan keluar. Seorang wanita berusia 50-an tahun dengan mengenakan terusan motif bunga sedang berdiri di luar sana. Ketika melihat anggota Keluarga Torna berjalan keluar, dia segera menunjuk Tasya yang berdiri di samping sembari berkata, “Apa dia itu tamu keluargamu?”Tasya merasa canggung hingga wajahnya memerah. “Kamu jangan jerit lagi. Aku sudah bilang akan bayar kamu!”Yandi berjalan maju, lalu bertanya, “Apa yang terjadi?”Wanita berambut ikal segera mengoceh panjang, “Siapa perempuan ini? Dia malah mencabut bibit anggrekku untuk diberikan kepada kelinci! Bibit anggrekku mahal sekali. Apa kalian tidak punya etika? Apa kalian tahu betapa mahalnya anggrek-anggrek itu? Kalau aku

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 3071

    Sepertinya Tora telah berkelahi dengan mereka, wajahnya kelihatan sedikit memar. Dia sedang mengadang di hadapan orang tua Keluarga Torna, berdebat dengan orang-orang yang memaksa mereka untuk tanda tangan.Yandi masuk ke dalam. Di bawah tatapan kaget orang-orang, dia mengambil surat perjanjian tersebut dan merobeknya. Dia berkata dengan nada dingin, “Keluarga Torna tidak akan pindah. Segera tinggalkan tempat ini!”Pemimpin dari para preman segera berdiri. “Siapa kamu? Kenapa kami mesti dengar katamu?”Yandi mengangguk. “Mulai sekarang, aku mewakili Keluarga Torna!"Tasya berkata dengan dingin, “Apa kalian punya izin pembongkaran yang sah? Kalau nggak, tindakan kalian sekarang termasuk menerobos masuk ke rumah orang tanpa izin, ditambah lagi dengan merusak harta benda milik orang lain. Perbuatan itu adalah perbuatan melanggar hukum. Kami bisa menuntut kalian!”Pemimpin kelompok preman itu langsung menatap Tasya dengan dingin. “Tuntut aku? Pergi sana, dasar bocah tengik ….”Saat pria it

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 54

    Di lantai satu adalah perjamuan dengan gaya barat. Tamu yang berada di sana, rata-rata masih berusia muda. Di dalam aula utama di lantai satu, telah dipasang musik klasik. Ada tamu yang sibuk mengobrol, juga ada yang menari di tengah aula. Beberapa tamu yang sempat melihat ke arah pintu masuk, langs

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 147

    Reza berkata, “Tandy sudah mau ujian. Bisa nggak kamu beri bimbel tiap malam? Aku akan tambah gajimu jadi dua kali lipat.”Sonia menundukkan kepalanya, dan tangannya mengetuk-ngetuk pagar balkon. “Aku rasa nggak perlu. Tandy sudah cukup menguasai pelajarannya. Paling-paling aku akan perpanjang jam aj

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 28

    Sonia merasa Reza pasti sengaja mengatakan ini untuk menghancurkan harapannya sebagai bentuk pelajaran. Namun jika dipikir-pikir kembali, semua ini memang salah Sonia. Reza memutuskan untuk tidak memecat Sonia saja sudah bagus. Reza sampai bertanya-tanya pada dirinya sendiri apa yang ada di pikiran

  • Jatuh Cinta Setelah Malam Pertama   Bab 24

    Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Sonia tiba di rumahnya. Setelah mandi, Sonia bersantai di sofa sambil memberi tahu Ranty kalau dia sudah sampai di rumah dengan selamat. Sekalian dia juga ingin menanyai apakah hubungan Ranty dengan Matias berjalan baik-baik saja.Telepon terus berde

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status