Home / Fantasi / Jenius yang Disingkirkan / Bab 07. (21++) Digagahi.

Share

Bab 07. (21++) Digagahi.

Author: Zayn Z
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-14 21:05:29

Bab 07. (21++) Digagahi.

Nafas wanita bercadar mulai sedikit tidak teratur,tangannya perlahan menyentuh tubuh Tian Fan dengan gugup namun penuh keberanian.

Tak berhenti sampai sana, kini jemarinya merayap ke bawah menyentuh bagian bawah tubuh Tian Fan yang ada di selangkangannya.

Tubuh wanita bercadar  menegang dengan matanya membelalak. Bagaimana tidak? 

Senjata milik Tian Fan yang kini berada dalam genggaman satu tangannya itu begitu besar .

Bahkan dalam keadaan belum sepenuhnya bangkit ukuran senjata milik Tian Fan itu sudah membuat telapak tangannya nyaris tidak mampu menggenggamnya sepenuhnya.

Nafas wanita bercadar langsung tercekat sesaat, pipinya memerah.Namun anehnya, bukannya mundur, tatapan matanya justru semakin dalam menunjukan jika ia menginginkannya.

Lalu tanpa berkata apa-apa wanita bercadar itu kemudian menggerakan tangannya yang memegang senjata masa depan Raka untuk membuatnya berdiri tegak 

Tanpa sadar pahanya saling merapat, tubuhnya memberi reaksi yang bahkan membuat dirinya sendiri malu.

Meski begitu ia tetap maju dan tidak henti  memainkan senjata masa depan Tian Fan itu.

Tian Fan ingin berontak, namun tenaganya kalah kuat. Jika saja mulutnya tidak disumpal tentu saja ia akan memberitahu sang wanita jika ia bisa membantu menyembuhkannya.

Yaa, Tian Fan tahu jika sang wanita bercadar itu kini dalam pengaruh obat perangsang yang kuat. Namun, dibalik itu semua ia juga merasakan ada yang janggal pada tubuh sang wanita itu.

Namun sayangnya kondisinya saat ini benar benar membuatnya tidak bisa berbuat apa apa.

“Sial, bagaimana ini! Jelas wanita ini benar benar mau menggagahiku!” batinnya.

Pikiran sang wanita mulai liar, ia membayangkan bagaimana jika kepunyaan Tian Fan itu memasuki lembah surgawinya yang langsung membuat tubuhnya bergetar hebat.

wanita bercadar yang sudah menginginkan pelepasan melihat senjata Tian Fan kini sudah berdiri tegak sempurna. Ia menghentikan permainan tangannya lalu ia sedikit menarik tubuh Tian Fan ke bawah agar posisinya menjadi sedikit berbaring.

 

Dari sana ia kemudian memposisikan diri diatas tubuh Tian Fan, tangan wanita bercadar mengarahkan senjata Tian Fan pada lembah surgawinya. 

Sang wanita bercadar sedikit kesulitan untuk memasukannya karena ukuran senjatanya yang cukup besar.

Baru bagian kepalanya saja yang mulai memenuhi mulut lembah surgawinya, ia pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan sehingga senjata Tian Fan perlahan memasuki lembah surgawinya dan setelah beberapa waktu berusaha  akhirnya senjata Tian Fan memenuhi lembah surgawinya.

Tian Fan yang tak kuasa melawan hanya bisa pasrah, tidak dipungkiri, kejadian ini pun tidak bisa di antisipasinya karena jangankan untuk berpikir, melawan rasa nikmatnya saja pun sudah membuatnya sakit kepala.

Meski begitu, Tian Fan bisa merasakan jika wanita bercadar yang saat ini menyatukan tubuhnya dengannya itu adalah seorang gadis perawan karena ia bisa merasakan senjatanya menembus selaput tipis sang wanita bercadar itu.

Tian Fan menatap sang wanita bercadar, tampak tubuhnya mengejang hebat sampai tubuhnya melengkung ke depan karena senjatanya benar benar memenuhi lembahnya hingga tak ada sedikitpun ruang yang tersisa.

Wanita bercadar meletakan kedua tangannya untuk menahan dada Tian Fan, dari sana  mulai menggerakan pinggulnya, ia bergerak maju mundur lalu diselingi dengan menggoyangkan pinggulnya.

Dibalik cadarnya itu sang wanita menggigit bibir bawahnya, matanya terbelalak saat tubuhnya menyesuaikan diri dengan kehadiran senjata Tian Fan yang memenuhinya hingga ke dasar.

Bahkan saking sesaknya ia merasakan jika senjata Tian Fan sampai menekan dinding rahimnya.

Nafasnya tersendat-sendat, bukan karena rasa sakit namun karena  gelombang kenikmatan yang mulai menaikkan suhu di seluruh tubuhnya. Keringat tipis membasahi dahi dan lehernya, berkilauan di bawah cahaya matahari yang menembus dedaunan.

"Ahh… Ahh…ahhh…”

Wanita bercadar terus mendesah sambil  menekan kedua telapak tangannya lebih kuat ke dada Tian Fan, merasakan detak jantungnya yang berdetak cepat,sama seperti detak jantungnya.

Tapi wanita bercadar tidak peduli. Tidak saat ini. Ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang lambat namun dalam, setiap turun membuatnya terengah, setiap naik membuat jemarinya mencakar dada Tian Fan tanpa sadar. 

Lembah surgawinya yang kini terbentang rapat mengelilingi senjata Tian Fan  berdenyut-denyut, seolah memiliki detak sendiri yang berusaha menyesuaikan dengan irama yang ia ciptakan.

"Kau… punyamu…sungguh terlalu besar…" bisiknya, suaranya serak, matanya berkabut oleh uap keinginan. 

"Aku ingin semuanya…"

Tian Fan tidak menjawab, jangankan untuk menjawab, untuk mengatur nafas pun ia sulit karena kondisi mulutnya yang tertutup bunga es.

Matanya yang sejak tadi mengamati dengan tatapan analitis, mencoba memahami mengapa terjadi perubahan pada aura sang wanita bercadar.

Disaat yang sama ia merasakan jika tubuh dingin sang wanita kini perlahan berkurang dengan pergumulan mereka.

Tak hanya itu saja, ia juga merasakan jika aliran energi spiritual sang wanita seperti diperlebar dengan hubungan intim tersebut. 

Tian Fan mengerang karena aang wanita bercadar mengangkat pinggulnya lebih tinggi, lalu menurunkannya dengan cepat, menghasilkan bunyi plap basah yang memenuhi ruangan. 

Ia mengulanginya. Dan lagi. Dan lagi. Ritmenya semakin cepat, nafasnya semakin tersengal, rambut hitam panjangnya yang tergerai menari-nari mengikuti gerakan tubuhnya.

Di batang pohon sebelahnya, sang wanita rekan wanita bercadar hanya bisa melotot melihatnya. Matanya yang sejak tadi menyaksikan  kini terbelalak, bukan karena keterkejutan, melainkan karena… sesuatu yang lebih kompleks. 

Ada rasa panas di perutnya yang tidak ia mengerti, ada denyut di antara pahanya yang membuatnya menekankan kedua kakinya rapat-rapat. Tapi lebih dari itu, ada ekspresi di wajahnya yang sulit dibaca.

Campuran antara ingin masuk, ingin melihat lebih, dan… ingin menggantikan.

Satu batang dupa berlalu.

Wanita bercadar kini benar-benar kehilangan kendali. Tubuhnya bergerak dengan naluri nafsunya, pinggulnya menggoyang dalam pola yang tidak teratur, cepat, lambat, dalam, dangkal seolah mencoba menemukan sudut yang tepat, titik yang paling dalam, tempat di mana senjata Tian Fan menekan sesuatu di dalam dirinya yang membuat seluruh dunia berputar.

"Di sana… ah, di sana…” racaunya.

Tubuhnya mengejang hebat. Lembah surgawinya berkontraksi dengan intensitas yang membuatnya membeku di posisi terendah, dengan senjata Tian Fan tertancap sepenuhnya di dalam dirinya.

Matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar tanpa suara, hanya hembusan napas panas yang keluar bersama gemetar tak terkendali.

Orgasmenya yang pertama menghantam seperti gelombang pasang, membuat jemarinya mencengkeram dada Tian Fan begitu keras hingga meninggalkan bekas merah.

Tapi wanita bercadar tidak berhenti. Sebelum gelombang pertama sepenuhnya mereda, ia sudah mulai menggerakkan pinggulnya lagi. Kali ini lebih cepat, lebih putus asa, seolah mengejar sesuatu yang lebih dari sekadar pelepasan fisik. 

Ada tekad di matanya yang berkabut, tekad untuk memastikan pemuda yang dipaksa melayaninya itu  merasakan apa yang ia rasakan.

"Lebih… aku ingin lebih…" ujar wanita bercadar sambil kedua tangannya merambat naik dari dada Tian Fan, meraih bahunya, menarik tubuhnya sedikit ke atas sehingga payudaranya yang basah oleh keringat kini menapak di pakaiannya.

Tian Fan bisa melihat jika payudara sang wanita sangat tegang  sehingga tubuhnya yang bergoyang di depan wajah Tian Fan membuat dadanya saling beradu dengan konstan.

Wanita bercadar menunduk, menekan dahi ke dahi Tian Fan, napasnya memburu begitu dekat sehingga embun dari nafasnya membasahi wajahnya.

"Milikmu benar benar luar biasa…" desisnya, ada sedikit frustrasi di sana, tapi juga takjub. 

"Biarkan aku… membuatmu… senang!” 

Ia menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan melingkar, memutar, menekan, menggesek. Setiap gerakan membuatnya mendesah, membuat lembahnya yang basah berbunyi crot crot yang vulgar namun memabukkan. Rasa hangat di perutnya menumpuk lagi, lebih cepat dari sebelumnya, lebih mendesak.

Kali kedua datang lebih keras.

Wanita bercadar mengerang panjang, tubuhnya melengkung ke belakang sehingga rambutnya menyapu paha Tian Fan. Payudaranya semakin menonjol ke depan, putingnya yang keras menonjol melalui kain  tipis. Kontraksi di lembahnya lebih kuat, lebih lama, membuatnya terengah-engah seolah baru saja berlari jarak jauh.

"Ah… ah…”

Desahannya erdengar seperti mantra. Seperti satu-satunya kata yang tersisa dalam kosakata dunia wanita bercadar saat ini.

Tapi masih belum cukup.

Wanita bercadar menarik napas dalam-dalam, matanya yang berkaca-kaca menatap Tian Fan dengan tatapan memohon yang juga menantang. 

Ia mengangkat tubuhnya, membiarkan senjata Tian Fan hampir keluar sepenuhnya. Ia membiarkan hanya ujungnya yang masih tertahan di bibir lembahnya lalu  ia menurunkan diri dengan satu gerakan cepat dan dalam.

"AHHH—!"

Orgasme ketiga menghantam tanpa peringatan, bertumpang dengan sisa gelombang kedua yang belum sepenuhnya padam. 

Tubuh wanita bercadar bergetar hebat, kakinya yang berlutut di rerumputan gemetar seolah tidak mampu menahan beban. Lembahnya berdenyut-denyut dengan kegilaan, menggigit kepunyaan Tian Fan begitu rapat seolah tidak mau melepaskannya.

Kali ini, Tian Fan tak kuasa menghindar, ia mengerang karena rasa nikmat yang ada.

Meski bukan desahan panjang. Bukan juga teriakan. Hanya satu helaan nafas yang sedikit lebih berat, namun cukup untuk memantik gairah sang wanita bercadar.

 

Tian Fan, Matanya  yang sejak tadi mengamati dengan jarak emosional  kini menyipit, fokusnya beralih dari aliran energi spiritual di dalam tubuhnya ke wanita yang sedang mengguncang di atasnya.

Wanita bercadar jelas merasakannya. Ia merasakan perubahan kecil itu, dan itu membuatnya tersenyum, senyum yang lelah, basah keringat, namun puas.

Tapi wanita bercadar belum selesai.

Dengan sisa tenaga yang masih menyala, api yang entah dari mana itu kini seperti memberi energi baru ke tubuhnya dan  terus menyuplai dirinya.

Wanita bercadar memulai kembali. Gerakannya kini lebih lambat, lebih sensual, setiap turun disertai putaran pinggul yang membuatnya sendiri mengerang. Tapi ada keanggunan di dalam keputusasaannya, seperti penari yang tahu ini adalah pertunjukan terakhirnya dan bertekad membuatnya tak terlupakan.

Empat. Lima. Enam.

Setiap puncak datang lebih cepat, lebih bertumpang-tumpang, hingga wanita bercadar kehilangan hitungan. Tubuhnya menjadi satu denyut panjang yang tidak pernah sepenuhnya turun sebelum naik lagi. 

Lembahnya begitu basah hingga cairan  kenikmatannya membasahi paha Tian Fan, mengotori pakaian mereka berdua.

Di suatu titik  mungkin yang ketujuh atau kedelapan, siapa yang masih peduli — wanita bercadar mengejang hingga air matanya keluar.

Pelepasannya kali ini benar benar terlalu hebat seakan lembahnya mengeluarkan air terjun panas yang terus menyirami senjata Tian Fan.

Disaat yang sama, Tian Fan pun mencapai puncaknya, pelepasannya membuatnya tanpa sadar menaikan pinggangnya sehingga lembah surgawi sang wanita kini terhujam kembali dengan senjatanya hingga ujungnya menabrak dinding rahimnya yang seketika itu membuatnya bergetar hebat.

Cairan kental Tian Fan memenuhi seluruh rongga rahim sang wanita. Disaat yang sama, sang wanita membanjiri senjata Tian Fan dengan air terjun panas tanpa pelepasannya yang terakhir.

Sang wanita menjatuhkan tubuhnya di dada Tian Fan.

Nafasnya terdengar sangat memburu yang menunjukan kelelahannya. Ia mengangkat wajahnya sedikit lalu berbisik pelan di telinga Tian Fan. 

"Terima… kasih…" ujarnya di tengah gemetar dengan tubuhnya terkulai ke depan. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
sinamyang Indonesia
Jangan mau baca novel penulis ini , banyak cerita yg lama gk dihabisan bikin buang diit aj beli koin tp ceritanya gk dilanjutin sampai tamat Yg lama gk tamat loncat lagi ke sini
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 109. Padang Seratus Jebakan

    Bab 109. Padang Seratus JebakanPerdebatan di antara para gadis masih berlangsung tanpa tanda-tanda akan berakhir. Yue Qing’er tetap bersikeras ingin bergabung, Han Yue terus mengajukan alasan yang sulit dibantah, Su Lian berusaha menjadi penengah, sementara Mu Xueyan sama sekali tidak bergeming dari pendiriannya. Gu Chen yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa mengusap wajahnya berulang kali, sedangkan Tian Fan akhirnya berdiri perlahan lalu melangkah ke tengah lingkaran mereka.Ia mengangkat satu tangan sebagai isyarat agar semua berhenti, lalu berkata dengan nada tenang, “Cukup. Kalau terus seperti ini, kita mungkin akan menghabiskan satu hari penuh hanya untuk berdebat di tepi sungai.”Keempat gadis itu akhirnya terdiam dan menoleh kepadanya.Tian Fan memandang Yue Qing’er, Han Yue, dan Su Lian bergantian sebelum berkata, “Kalian boleh bergabung.”Kalimat sederhana itu langsung membuat wajah ketiga gadis Sekte Bulan berubah cerah. Yue Qing’er bahkan tampak hampir melangkah maju,

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 108. Retakan Ruang?

    Bab 108. Mereka yang Datang dari Retakan RuangSetelah tawa yang sempat menghangatkan suasana di tepian Sungai Cermin perlahan mereda, pembahasan mengenai aroma kacang akhirnya benar-benar ditinggalkan. Keenam orang itu duduk melingkar di atas hamparan rumput yang tidak jauh dari tepi sungai, sementara angin lembah bertiup perlahan membawa aroma air dan ilalang yang bergoyang tenang.Tian Fan memandang Yue Qing’er, Han Yue, dan Su Lian bergantian sebelum berkata dengan nada santai namun lebih serius.“Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kalian. Retakan ruang tadi jelas bukan sesuatu yang muncul secara kebetulan.”Yue Qing’er mengangguk pelan, lalu menatap kedua rekannya sejenak sebelum mulai berbicara. “Sebenarnya sejak awal kami bertiga bergerak bersama kelompok Pangeran Shui Feng dan Tang Bohu. Mereka mengaku memiliki petunjuk mengenai makam kuno ini, sehingga cukup banyak cultivator yang memilih mengikuti mereka.”Han Yue melanjutkan penjelasan itu dengan nada yan

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 107. Membahas kacang.

    ​Bab 107. Membahas kacang.Suasana di tepian Sungai Cermin berubah menjadi sangat aneh. Tidak lama setelah gelombang retakan ruang mereda, Tian Fan dan Gu Chen akhirnya duduk berdampingan di atas tanah dengan posisi seperti sedang berlutut, sementara di hadapan mereka Mu Xueyan duduk bersama tiga gadis dari Sekte Bulan. Keempat gadis itu duduk berjajar dengan posisi yang hampir sama, menatap Tian Fan dan Gu Chen dengan sorot mata tajam yang masih dipenuhi rasa kesal akibat kejadian memalukan beberapa saat lalu.Tian Fan mengusap pelipisnya pelan lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka suara. “Kenapa kalian masih menatap kami seperti itu? Lalu kenapa kami harus duduk seperti ini? Bukankah kejadian tadi murni kecelakaan? Kalau terus dipandangi begini, orang yang tidak tahu bisa mengira kami berdua telah melakukan kejahatan besar pada kalian.” Gu Chen yang duduk di sampingnya segera mengangguk cepat seolah menemukan sekutu. “Benar sekali. Aku bahkan tidak melakukan apa-a

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 106. Kacang.

    ​Bab 106. Kacang.​Sama seperti fenomena magis yang sebelumnya terjadi di Hutan Seribu Ilusi pada Lin Yuer, kubah formasi kekkai yang melingkupi area pertarungan kini perlahan menyamarkan dan membiaskan keberadaan Jian Mu dari alam nyata. Hanya dalam beberapa tarikan napas, aura pedang yang tajam beserta sosok tubuhnya benar-benar lenyap dari pandangan, membuat Tian Fan, Mu Xueyan, dan Gu Chen tak lagi mampu menangkap keberadaannya maupun struktur rumit dari formasi tersebut. ​Mu Xueyan yang menyaksikan raibnya Jian Mu mendadak diliputi rasa cemas. Ia menoleh dengan raut khawatir lalu bertanya." Saudara Tian Fan, apa yang sebenarnya akan terjadi pada Jian Mu di dalam sana? Apakah bayangan itu akan benar-benar membunuhnya jika ia lengah?" ​Tian Fan menghentikan pandangannya pada riak air sungai yang perlahan memudar, lalu membalas dengan nada yang amat tenang. "Sama seperti yang terjadi pada Lin Yuer sebelumnya yang menerima warisan, ia akan bertarung melampaui batas dirinya di

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 105. Lembah Neraka?

    Bab 105. Lembah Neraka?Petunjuk yang diberikan Tian Fan bagaikan cahaya yang menembus kabut. Jian Mu, Mu Xueyan, dan Gu Chen tidak lagi berusaha mengalahkan bayangan mereka dengan cara lama. Mereka mulai memaksa diri keluar dari kebiasaan yang selama ini menjadi fondasi teknik masing-masing.Jian Mu perlahan mengubah ritme ayunan pedangnya. Tebasan yang biasanya lurus kini tiba-tiba berhenti di tengah jalan sebelum berubah menjadi tusukan dari sudut yang sama sekali berbeda. Gerakan itu bahkan terasa asing baginya sendiri. Bayangan di hadapannya sempat mengikuti pola lama, lalu terlambat sepersekian tarikan napas. Kesempatan kecil itu langsung dimanfaatkan Jian Mu untuk memaksa lawannya mundur.Di sisi lain, Mu Xueyan tidak lagi membiarkan tarian pedangnya mengalir mengikuti naluri yang telah terlatih selama bertahun-tahun. Ia sengaja memutus irama setiap beberapa jurus, kemudian menyambungnya dengan teknik yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. Bayangan di depannya beberapa kali

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 104. Pikiran sang jenius.

    Bab 104. Pikiran sang jenius. Tian Fan tidak segera mendekati tepian sungai. Ia berdiri sekitar belasan meter di belakang ketiga rekannya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, sementara tatapannya tenang mengamati setiap perubahan yang terjadi di permukaan air. Ia sama sekali tidak terlihat terburu-buru. Dibandingkan mencoba melewati ujian, yang jauh lebih menarik baginya adalah memahami prinsip di balik ujian itu sendiri. Di tengah sungai, Jian Mu telah berhadapan dengan sosok yang benar-benar menyerupai dirinya. Tinggi badan, wajah, pakaian, bahkan bekas luka kecil di sudut alis pun tidak berbeda sedikit pun. Yang paling menggetarkan adalah aura yang dipancarkan bayangan itu. Kekuatan Qi, tekanan pedang, hingga niat bertarungnya benar-benar identik. Jian Mu mengayunkan pedangnya lebih dulu. Cahaya pedang melesat bagaikan bulan sabit yang membelah udara. Namun hampir pada saat yang sama, bayangannya melakukan gerakan yang persis sama. Dua cahaya pedang bertabrakan

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 05. Dimulai.

    Bab 05. Dimulai.Dua tahun berlalu.Lembah Kematian tak lagi seperti dahulu yang penuh dengan kematian dan penyakit aneh. Semua telah berubah sejak kemunculan dua kelompok baru.Dari sekian banyak kelompok dan klan yang lahir dan tenggelam di tanah penuh darah itu, dua nama baru muncul dan langsung

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.

    Bab 04. Klan Pengadilan Hitam.Bulan masih menggantung tinggi,Sun Li terdiam oleh ucapan terakhir Tian Fan.“Racun ini buatan manusia.”Namun setelah itu, Tian Fan tak berkata lagi. Ia hanya berdiri memandangi bulan yang mulai tertutupi awan.Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ujung kain

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 03. Tamu?

    Bab 03. Tamu?Dua tahun berlalu.Di dalam gua yang ada di tepian jurang.Tian Fan yang kini telah berusia 16 tahun dengan tenang menyelesaikan sayatan terakhirnya pada satu sosok mayat di depannya.Tampak mayat kultivator dari Sekte Harimau terbang itu hanya menyisakan tulangnya saja dengan semua o

  • Jenius yang Disingkirkan   Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.

    Bab 02. Tangan yang menyelamatkan.Tian Fan membuka matanya perlahan karena hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat.“Aku…belum mati,” ujarnya pelan dan terbata bata.Matanya terbelalak saat menatap ke bawah, dirinya kini tergantung di tepian jurang yang tak berujung.Ia menoleh ke kiri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status