แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Mita Yoo
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-22 19:45:23

Elang menoleh, alisnya naik. “Kenapa? Kamu malu?”

“Bukan malu, Mas. Tapi …” Arumi menggigit bibir. “Takut ada yang ngomongin.”

Elang tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangan, menggenggam pergelangan Arumi, dan menariknya naik ke jok belakang.

“Biarin aja mereka ngomong apa.” Suaranya datar, tapi tegas. “Ayo.”

Arumi tidak bisa menolak. Ia duduk di belakang Elang, tangannya ragu-ragu di udara sebelum akhirnya mencengkeram pinggang Elang. Motor melaju pelan meninggalkan halaman
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 20

    “Karena …” Elang meraih koran dari tangan Arumi, melipatnya perlahan, “di sana ada sesuatu yang aku simpan. Untukmu. Tapi kamu harus menemukannya sendiri.”Arumi menatap Elang dengan tatapan bingung dan penasaran. “Apa itu, Mas?”Elang tersenyum, namun tidak menjawab. Ia berdiri, berjalan ke arah lorong menuju kamarnya. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.“Pintu perpustakaan tidak dikunci. Kamu bisa ke sana kapan saja. Tapi kalau kamu pergi,” ia tersenyum misterius, “jangan bilang sama aku.”Arumi terdiam. Berusaha mencerna kalimat itu. Matanya menatap Elang yang sudah setengah masuk ke kamar, lalu ia mengerutkan kening.“Maksudnya aku nggak boleh ke sana ya?” tanyanya bingung.Elang tertawa kecil, Arumi terperangah. Selama ia tinggal di rumah ini, Elang sangat jarang tertawa. “Boleh. Tapi jangan karena aku yang nyuruh."“Terus aku harus gimana?”“Ya itu kalau kamu p

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 19

    Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang nyaman. Angin sore berhembus melalui jendela pick-up yang terbuka, membawa aroma dedaunan dan tanah. Arumi duduk di samping Elang, sesekali melirik ke arah suaminya yang fokus menyetir.Pikirannya masih berputar. Tadi, di kebun Pak Mardi, Elang kembali mengakuinya sebagai istri.Dengan tegas dan tanpa ragu. Di depan orang yang jelas penting dalam hidupnya.Arumi menggigit bibir. Ada rasa hangat di dadanya, tapi juga kegelisahan. Apakah itu hanya bagian dari perlindungan? Atau ada sesuatu yang lebih?“Mas Elang …” Arumi akhirnya memecah keheningan."Ya?" Elang tidak menoleh, matanya tetap menatap jalan di hadapan mereka.“Yang tadi itu ... nggak apa-apa? Maksudnya, Mas bilang saya istri Mas di depan Pak Mardi.”Elang mengangkat alis, masih fokus ke jalan. “Maksudnya?”“Anu, Mas …” Arumi menunduk, memainkan ujung bajunya. “

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 18

    Mobil berhenti di pinggir jalan setapak. Di hadapan mereka, kebun sayuran membentang luas. Kentang, wortel, dan kubis tumbuh subur di lahan yang tertata rapi. Beberapa pekerja terlihat sedang memetik hasil panen, keranjang-keranjang bambu berjejer di samping mereka. “Yuk, turun,” kata Elang sambil mematikan mesin. Arumi mengangguk, membuka pintu dan turun. Udara di sini terasa lebih segar, lebih sejuk, dengan aroma tanah basah dan daun-daunan hijau. Ia mengikuti Elang yang sudah berjalan di antara pematang sawah menuju ke dalam kebun. Dari belakang, Arumi mengamati Elang. Punggungnya lebar, bahunya tegap, langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Pria itu terlihat berbeda di sini. Tampak lebih santai, lebih menjadi dirinya sendiri. Seperti sedang berada di tempat yang ia kenal dan cintai. “Pak Mardi!” panggil Elang. Seorang pria tua dengan caping bambu mendekat dari balik barisan tana

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 17

    Arumi keluar dari kamar dengan kemeja sutra krem yang ia temukan di lemari. Kainnya lembut, jatuh indah di tubuhnya. Rambutnya ia biarkan tergerai, hanya disisir rapi dengan jepit rambut sederhana. Ia mencoba sedikit memoles bedak dan alisnya digambar tipis, cukup untuk membuatnya terlihat berbeda.Elang menatapnya lama. Begitu lama hingga Arumi hampir bertanya apakah ada yang salah.“Ke-kenapa ya, Mas? Apa ada yang salah sama saya?” tanya Arumi.Elang menggeleng. “Ayo. Kita pergi.”Di halaman, sebuah mobil pick-up berwarna putih  terparkir. Arumi terkejut. Ia belum pernah melihat mobil itu sebelumnya.“Ini punya siapa, Mas?”“Pinjaman dari teman.” Elang membuka pintu penumpang. “Yuk naik.”Arumi naik ke dalam mobil. Joknya usang, tapi bersih. Bau kopi dan sedikit bensin memenuhi kabin. Elang duduk di belakang kemudi, menyalakan mesinnya.Mobil melaju pelan meninggalkan ru

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 16

    Pagi itu matahari bersinar cerah. Arumi sedang menjemur pakaian di halaman belakang, menggantung pakaian satu per satu dengan hati-hati. Angin pagi berhembus pelan, membuat kain-kain itu berkibar seperti bendera.Oren duduk di dekat kakinya, mengawasi dengan mata malas.“Kamu jangan main-main, Oren,” kata Arumi sambil tersenyum. “Nanti bajunya kotor lagi.”Oren mengeong pelan, seolah protes.Tiba-tiba, langkah kaki terdengar dari pintu belakang. Arumi menoleh. Wati datang sendirian, tanpa Sumirah.“Selamat pagi, Bu Wati,” sapa Arumi ramah. “Kok sendirian, Bu? Mbak Sumirah tidak datang?”Wati menghela napas. “Sumirah sedang sakit, Mbak Arumi. Demam. Semalaman tidak bisa tidur.”Arumi mengangguk-angguk, ekspresinya berubah lembut penuh simpati. “Oh ya? Semoga lekas sembuh ya, Bu. Kalau bagitu, nanti saya titip makanan untuk Mbak Sumirah.”“Tidak usah, Mbak Arumi. Terima kasi

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 15

    Arumi menggigit bibir. Ia menatap Elang, lalu menatap Sumirah yang tersenyum miring di belakang majikannya.“Mas Elang …” suara Arumi bergetar. “Saya tidak melakukan itu. Saya pergi ke warung membeli telur. Ketika saya kembali, berasnya sudah tumpah.”Sumirah segera menyela. “Mas Elang, Mbak Arumi bicara tidak benar. Saya lihat sendiri—”“Sumirah, diam dulu.” Elang mengangkat tangan, menghentikan Sumirah. Matanya tetap tertuju pada Arumi.“Kamu yakin tidak melakukannya?” tanya Elang pelan.Arumi mengangguk tegas. “Saya tidak pernah menyentuh karung beras itu, Mas. Saya berani sumpah.”Elang terdiam. Ia menatap Arumi lama.Elang kembali menoleh ke arah Sumirah. Matanya tajam, menatap gadis itu dengan tatapan yang membuat Sumirah bergidik.“Apa kamu punya bukti kalau Arumi yang melakukannya?” tanya Elang, suaranya tenang tapi tegas.Sumirah tidak gentar. Ia maj

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status