Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 12. Pria yang Sebenarnya

Share

Bab 12. Pria yang Sebenarnya

Author: juskelapa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-05 15:31:52

Arga menepuk bahu Satria. “Ingat, ya. Kalian bisa buat kesepakatan apa pun. Nggak harus memaksakan apa pun dulu. Dan Sheza ….” Arga kini memandang Sheza. “Satria ini adalah … satria terbaik kami.”

Sheza hanya mengangguk bingung.

Satu per satu, empat pria itu keluar.

Roman paling terakhir. Ia berhenti sebentar di pintu, menatap punggung Sheza, lalu pergi tanpa suara.

Kini rumah itu tinggal memuat dua orang. Dua orang yang belum pernah benar-benar berbicara sejak hari kecelakaan Prabu.

Kehen
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (24)
goodnovel comment avatar
revita dian
nyesel kan mas satria,,,makannya jngn asal ngomong kan dah di titipin sama Prabu jg
goodnovel comment avatar
Larose
iya ih blm jg nikah dah mau dilepas aja bang
goodnovel comment avatar
Indarini Rini
satria mungkin sudah lama ada rasa sama zee
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   284. Demi Hidup Baru

    Bagi Ratri, tak ada hari yang lebih menyakitkan daripada hari itu. Belum genap sehari sejak ia mengetahui Calvin telah meninggal dunia. Luka itu bahkan belum sempat mengering.Namun pagi itu, untuk pertama kali dalam hidup, ia meninggikan suara kepada ayahnya.Pria yang selama ini paling ia hormati. Pria yang membesarkannya seorang diri setelah kepergian sang ibu. Kenangan demi kenangan bermunculan tanpa diminta.Seorang Hendra yang menggandeng tangannya pada hari pertama masuk sekolah. Hendra yang menungguinya demam semalaman. Hendra yang tak pernah absen menghadiri pembagian rapor. Hendra yang selalu mengatakan bahwa selama ia masih hidup, tak akan ada seorang pun yang menyakiti putrinya.Ratri tahu … ayahnya telah mengorbankan begitu banyak hal untuk membesarkannya.Ia tidak pernah meragukan kasih sayang itu.Justru karena itulah ...Meninggalkan Hendra dalam usia yang tak lagi muda dan kondisi kesehatan yang mulai menurun terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang sanggup ia ungk

  • KAMAR KEDUA   Bab 283. Tangisan Terakhir

    Tangis Ratri semakin pecah. Tubuhnya sampai berguncang. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangann, berusaha meredam isak yang tak lagi bisa ditahan.Hendra menatap putrinya lama. Wajahnya mulai memerah. Nada bicaranya pun berubah."Kamu begini karena masih membela Calvin?"Ratri tidak menjawab."Kamu lupa apa yang dia lakukan ke kamu?" Suara Hendra meninggi. "Kamu pernah ditampar sama dia, Ratri. Kamu ingat nggak?""Papa yang dari kecil ngebesarin kamu … apa pernah main tangan sama kamu?"Ratri mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah. Pipinya basah."Aku nggak pernah ngebenerin apa yang Mas Calvin lakuin ke aku, Pa." Suaranya bergetar. "Itu salah. Kasar."Ratri mengusap wajahnya. "Aku tahu.""Tapi ….” Ia menggigit bibirnya sendiri. "Apa Papa nggak pernah sadar … kalau Papa juga menghancurkan Mas Calvin sedikit demi sedikit?"Hendra terdiam."Papa terus menghina Mas Calvin. Selalu melecehkan Mas Calvin dengan kata-kata tajam. Papa selalu … selalu masuk dalam masalah rumah tangg

  • KAMAR KEDUA   Bab 282. Percakapan Terakhir

    __________Memang sepertinya aku harus pindah dari sini.Aku mulai merasa seperti tahanan.Takut keluar. Takut pulang. Takut setiap orang asing yang menatapku.Kalau mereka memang menginginkan uang itu … kenapa tidak ada satu pun yang menghubungiku untuk membicarakannya?__________Ratri ...Apa kabar? Raka sekarang sudah suka pisang? Atau masih lebih suka apel sama mangga seperti dulu?Aku baru saja menandatangani kontrak kerja. Aku diterima sebagai akuntan di sebuah perusahaan. Sepertinya jalan hidupku mulai terbuka di sini.Andai kita masih bersama … aku pasti minta kamu dan Raka menyusul ke Swiss.Kita mulai dari nol. Nggak perlu rumah besar. Nggak perlu mobil mahal.Yang penting ... kita tinggal serumah lagi.__________Hari ini aku cuma keluar dua jam. Waktu pulang … rumah sudah berantakan.Ada orang yang masuk dengan kunci. Pintu tidak dibobol tapi semuanya berantakan.Semua laci dibuka. Isi lemari diacak-acak.Aku bahkan nggak sempat membereskannya. Besok pagi aku harus berangk

  • KAMAR KEDUA   Bab 281. Semua Pasti Berujung

    Ratri mengusap dadanya yang tiba-tiba saja sesak. Ungkapan hati seseorang yang sudah tiada membuat paru-parunya kekurangan oksigen.Air matanya sudah mengalir dan ia mengusapnya cepat-cepat sebelum melanjutkan.…Kamu nggak pernah tahu kan kalau Papa minta aku jadi salah satu direktur perusahaan cangkangnya?Iya. Aku memang nggak pernah minta izin sama kamu. Aku salah.Tapi kali ini alasannya jelas. Aku mau berguna buat Papa. Kupikir apa susahnya mengurus arus keuangan satu perusahaan. Aku lagi-lagi mengikuti semua yang Papa inginkan. Berharap kalau Papa berhenti mengata-ngataiku, ‘Menikahi putriku karena berharap cepat kaya tanpa usaha?’Namun, rupanya itulah awal siksaan batin yang lebih mengerikan.Papa memang tidak pernah bicara dengan nada tinggi. Tidak pernah menggebrak meja. Ucapannya halus, tapi terbukti membuatku rusak dari dalam.Kata-kata Papa semakin jahat.Sekali dua kali aku melakukan kesalahan ringan, Papa menegurku dengan sangat tajam.“Apa kamu benar-benar setolol it

  • KAMAR KEDUA   Bab 280. Menunggu Pengakuan

    Belasan jam kemudian, pesawat yang membawa Ratri dan Raka akhirnya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Perjalanan panjang dari Swiss itu nyaris tak diisi percakapan.Raka lebih banyak tertidur sementara Ratri memandangi langit di balik jendela pesawat tanpa benar-benar melihat apa pun.Pikirannya masih tertinggal di sebuah pemakaman di Jenewa.Di sebuah batu nisan yang bertuliskan nama pria yang selama ini ia kira telah meninggalkan mereka.__________Mobil memasuki halaman rumah tepat menjelang sore.Belum sempat sopir mematikan mesin, pintu utama telah terbuka. Hendra Kusuma Wijaya berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampak lega."Raka!"Bocah itu langsung berlari kecil menghampiri kakeknya."Opa!”Hendra memeluk cucunya erat, lalu mengusap puncak kepalanya beberapa kali."Kangen, ya?" Raka melompat ke pelukan kakeknya saat pria itu berjongkok."Iya.""Kata Mama liburannya nggak bisa lama.”Hendra tersenyum tipis. "Nanti bisa liburan lebih lama lagi dengan Opa.”“Iya! Ak

  • KAMAR KEDUA   Bab 279. Menunggu Ditemukan

    Tangisan Ratri tidak bisa berlangsung lama. Cepat atau lambat, Raka pasti akan bertanya.Dan kantor polisi bukanlah tempat yang tepat untuk menjelaskan kepada bocah delapan tahun itu bahwa ayah yang selama ini mereka kira hidup damai sambil melupakan mereka ternyata telah meninggal bertahun-tahun lalu.Dengan mata yang masih sembap, Ratri mengusap sisa air matanya.Seorang opsir polisi menghampirinya sambil membawa secarik kertas kecil."Kami menemukan lokasi pemakamannya," ucap opsir polisi itu dengan bahasa aslinya.Ratri menerima kertas itu dengan tangan yang masih gemetar.Di sana tertulis sebuah alamat.Cimetière de Saint-GeorgesChemin François-Dussaud 121205 GenevaDi bawahnya terdapat nomor petak dan nomor makam yang ditulis tangan.Ratri menatap kertas itu lama.Hari itu … Raka tidak jadi ke museum. Hanya sebuah pemakaman yang menunggunya.___________Mobil yang ditumpangi Ratri berhenti perlahan di depan sebuah kompleks pemakaman.Mesinnya masih menyala.Namun sang sopir ti

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status