Short
Kala Kabut Membuyar

Kala Kabut Membuyar

By:  KrosanCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di saat kami menerima surat nikah, aku meletakkan buku nikah di samping hidangan makan malam dengan cahaya lilin, bersiap memotretnya untuk diunggah ke Instagram. Tiba-tiba Juando berkata, "Surat nikah itu palsu." Aku tertegun. Dari ponselnya terdengar suara seorang wanita berseru, "Halo! Kenapa kamu kasih tahu dia secepat ini! Jadi nggak seru lagi!" Juando mengernyit bosan. "Dia sebodoh itu, sampai sekarang saja belum sadar. Masih perlu lanjut sandiwara?" "Anggap saja kamu menang taruhan, puas sekarang, Nona Evelyn." Namun, postingan Instagram-ku sudah terlanjur terkirim. Semua orang mengucapkan selamat karena kisah cinta tujuh tahunku dengan Juando akhirnya berakhir di pelaminan. Wanita di ujung telepon itu, sama seperti dulu saat merundungku, meninggalkan komentar dengan nada menyindir, "Oh ya, ampun ... sudah resmi nikah, ya? Kapan pesta pernikahannya? Jangan lupa undang kami, ya, hehe." Aku berpikir sejenak, lalu membalas, "Minggu depan."

View More

Chapter 1

Bab 1

"Aku tutup dulu, ya. Aku masih harus merayakan hari jadi pacaran."

Evelyn di ujung telepon jelas tertegun.

"Kamu nggak putus sama dia?"

"Putus apanya? Memangnya kalau putus aku bakal sama kamu? Kamu 'kan juga sebentar lagi menikah."

Juando menutup telepon dengan bosan, lalu membuka kotak kue dan menatanya dengan saksama di tengah meja.

Seolah tak terjadi apa-apa, dia menyalakan lilin, lalu melambaikan tangan memanggilku.

"Nora, cepat sini, ucapkan harapanmu."

Seluruh tubuhku terasa mati rasa, tatapanku lurus menembus matanya.

Sorot matanya tenang tanpa riak, bahkan tak ada sedikit pun rasa bersalah.

"Membohongiku selama ini, menyenangkan, ya?"

Senyum di wajah Juando memudar.

"Ini juga nggak bisa dibilang bohong. Aku bahkan rela kalah taruhan demi menjelaskan semuanya. Bukankah itu sudah cukup membuktikan kalau aku menghargai hubungan kita?"

"Lagian cuma belum benar-benar menikah secara resmi. Aku juga nggak pernah bilang mau putus sama kamu."

Di atas kue di hadapanku tertancap tujuh batang lilin, seolah dengan terang-terangan menegaskan padaku, bahwa ini adalah tahun ketujuh aku dipermainkan.

Cahaya lilin itu hampir tak membawa kehangatan.

Namun justru membuat bekas luka di lenganku yang sudah lama sembuh kembali terasa gatal.

Seumur hidup aku tak pernah menyangka, pacar yang berjanji akan menemaniku seumur hidup, dan perundung yang dulu menyiksaku dengan alat pengeriting rambut hingga sekujur tubuhku penuh luka bakar, ternyata mereka adalah teman masa kecil.

Surat nikah palsu di atas meja begitu merah menyilaukan mata.

Pada halaman yang terbuka itu, terpampang senyum paling bahagia yang pernah kumiliki.

Padahal aku benar-benar mengira hidupku akhirnya akan dipenuhi kebahagiaan, tetapi air mata berputar di pelupuk mataku.

"Benar, kamu memang nggak membohongiku."

Akulah yang bodoh.

Begitu bodohnya hingga percaya bahwa seseorang benar-benar rela mencintai diriku yang penuh luka dengan sepenuh hati.

Aku mengangkat surat nikah palsu itu dan mendekatkannya ke nyala lilin.

Lidah api menjilatnya, dan dalam sekejap salah satu sudut sampulnya menghitam.

Juando sigap menarikku ke dalam pelukannya.

Dia meraih gelas lalu menyiramkan air untuk memadamkan api.

"Kamu ngapain! Bukannya kamu paling takut sama api?"

Dia masih ingat dampak yang masih membekas setelah aku menjadi korban perundungan.

Bahkan setiap ulang tahunku, aku selalu membisikkan permohonanku pelan di telinganya.

Dialah yang membantuku meniup lilin sambil mengucapkan harapan.

Selama tujuh tahun, aku sudah mengucapkan permohonan itu berkali-kali.

"Sanora akan bersama Juando seumur hidup."

Ibu menikah lagi, Ayah juga menikah lagi.

Tak ada yang lebih kuinginkan memiliki rumah yang tak perlu berganti alamat lagi.

Apa yang Juando pikirkan setiap kali mendengar permohonanku itu?

Apa dia diam-diam mentertawakanku?

Mentertawakan karena selama bertahun-tahun aku terjebak dalam perangkap ini tanpa pernah menyadarinya?

Pada akhirnya malah dia yang bermurah hati memberitahuku kebenarannya?

Api telah padam, tetapi sebuah luka berdarah tertinggal di jariku.

Juando mengeluarkan kotak P3K dan mengoleskan obat anti radang ke lukaku. Sekilas terlihat sorot mata yang rumit di matanya.

"Sudahlah, jangan bikin ulah. Aku benar-benar nggak ada hubungan apa-apa sama Evelyn. Kamu juga tahu dia sebentar lagi menikah. Apa pun yang kamu inginkan, akan kuganti sebagai kompensasi."

Dia mengangkat ponselnya, bersiap membuka keranjang belanja untuk menunjukkan hadiah yang sudah dipilihnya untukku.

Namun wajahnya segera membeku.

Dia mengernyit menatapku.

"Kamu sengaja, ya? Aku jelas-jelas sudah bilang jangan diposting. Kamu sengaja melukai diri sendiri cuma buat maksa aku nikah!"

"Sanora, kamu begitu ingin menikah?"

"Pacaran juga sama saja, 'kan? Tadinya aku ...."

Kata-katanya tercekat di tenggorokan, terpotong oleh dering telepon.

Evelyn yang menelepon.

Tawa berlebihan langsung meledak dari ujung sana.

"Dasar kamu, sekarang semua orang sudah tahu minggu depan kamu bakal nikah. Aku 'kan sudah bilang dari dulu, orang miskin macam dia nggak punya harga diri. Sudah dipermainkan, masih saja ngejar-ngejar mau nikah sama kamu."

"Mungkin dia tahu kamu kaya. Sayang sekali ya, dia nggak tahu kalau kamu sudah berjanji akan melindungiku seumur hidup."

Wajah pria itu menggelap saat menutup telepon, lalu memerintahku,

"Cepat hapus unggahan Instagram itu!"

"Aku nggak akan menghapusnya. Juando, minggu depan, aku akan menikah."

Penyakit Nenek sudah sangat parah.

Dia bertanya padaku, hubunganku dengan Juando sudah begitu stabil, kenapa kami masih belum juga menikah.

Ternyata, sejak lama dia sudah memberikan janji kepada wanita lain.

Tetap berpacaran denganku saja sudah merupakan kemurahan hati terbesar darinya.

Seharusnya aku bersyukur dan berterima kasih.

Namun kenapa dia mengira aku akan menerima belas kasihan yang hanya tersisa dari sela-sela jarinya?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status