MasukGianira dan kedua putranya harus mengalami berbagai hal pilu karena kemiskinan hidup yang harus mereka lakoni. Penderitaan bertambah saat Jazirah, pria yang disebut sebagai suami dan ayah tersebut menghilang tanpa kabar. “Dasar anak enggak tau diri! beraninya kamu mencuri roti di warungku?!” terdengar suara teriakan dari bude Rum, pemilik warung klontong di dekat rumahku. “Ampun, Bude, ampun,” Ya Allah, itu suara anakku, Langit. Bagaimana kelanjutan hidup Gianira dan anak-anaknya ke depan tanpa sosok pria yang selama ini menjadi pelindung mereka? Kemana sebenarnya Jazirah? Apakah Gianira dan kedua putranya mampu bertahan di tengah badai cobaan hidup?
Lihat lebih banyakAku masih merenung, bingung hendak memasak apa hari ini untuk kedua anak-anakku. Dua pekan sudah mas Jazirah tidak pulang ke rumah, tempat kerjanya yang cukup jauh dari kontrakan kami, membuatnya memutuskan untuk pulang setiap satu pekan sekali. Tapi mengapa sudah dua pekan dia tidak juga pulang? Jangankan bahan makanan, bahkan beraspun sudah tidak ada di dalam tempayan.
Aku hanya seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurus kedua putraku, si sulung, Langit Biru berusia lima tahun, dan adiknya, Bumi Bhayangkara baru saja menginjak usia tiga tahun sebulan yang lalu. Suamiku, mas Jazirah bekerja sebagai penjaga toko sembako, di pasar induk yang terletak di kota, sedang kami mengontrak rumah petakan di desa.Tidak banyak pendapatan yang mas Jazirah dapatkan dengan bekerja di sana, tapi setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan kami berempat dan untuk membayar kontrakan. Biasanya gaji mas Jazirah akan dibayarkan setiap pekan, jadi mas Jazirah pulang kekontrakan selain untuk melepas rindu kepadaku dan anak-anak, juga untuk memberikan sebagian uang gajinya untuk biaya hidup kami sehari-hari.Biasanya mas Jazirah akan memberikan uang sebesar Rp. 350.000,- kepadaku, itu adalah jumlah keseluruhan untuk semua biaya hidup kami selama sepekan, termasuk cicilan untuk membayar uang sewa kontrakan sebesar Rp. 150.000,- per pekan, dan token listrik sebesar Rp. 20.000,-. Ya, karena di kontrakan kami hanya ada tiga lampu, satu buah kipas angin dan mesin air jadi paling mahal kami harus membeli token listrik dua pulu ribu saja setiap pekannya.Sisanya sebesar Rp. 180.000,- aku belikan kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak goreng, gas tiga kiloan dan beberapa bungkus mie instan. Sementara untuk bahan lauk, aku biasanya akan berbelanja setiap hari, karena di kontrakan ku tidak ada kulkas, jadi tidak bisa menyimpan bahan makanan yang cepat busuk.“Bu, Langit lapar, apa sudah ada makanan?” tanya anakku Langit dengan suara pelan.“Nanti ya, Nak! Ibu coba ke warung bude Rum dulu, ya. Semoga bude Rum mau memberikan utangan kepada ibu. Kamu di rumah saja, jaga adikmu!” jawabku, lekas meninggalkan anak-anakku menuju warung kelontong yang menjual aneka sayur dan bahan pokok.“Maaf Bude, apa saya boleh ngutang beras sama telor? Mas Jazirah belum pulang kerja, nanti kalau dia pulang saya bayar,” ucapku takut-takut, karena ini sudah ketiga kalinya aku ngutang di warungnya pekan ini.“Ngutang aja kerjamu, Gi! Kemarin saja kamu belum bayar, ini kok ya sudah mau ngutangan lagi, di mana otak mu itu? Kamu fikir aku gak perlu modal untuk muter daganganku? Sudah sana pergi, saya gak bisa ngasi utangan ke kamu!” maki bude Rum, membuat pupus sudah harapan ku satu-satunya.Kemana lagi aku harus mencari pinjaman? Kasian Langit dan Bumi pasti kelaparan, karena dari semalam kami hanya mengganjal perut dengan sepotong singkong. Andai aku bisa menghubungimu, Mas. Kamu di mana? Anak-anak kelaparan.Setelah dari warung bude Rum, kuputuskan tidak langsung pulang ke rumah, aku mencoba mencari keberuntungan dengan menawarkan tenagaku untuk mencuci dan menggosok ke ruma-rumah warga. Satu persatu pintu rumah aku ketuk untuk menawarkan jasaku, tapi sudah hampir satu jam aku berjalan, tidak ada satupun yang mau memberiku pekerjaan.Entah kemana lagi aku harus mencari pekerjaan, rasanya kaki ku sudah cukup letih, tapi bagaimanpun aku harus mendapatkan uang untuk makan anak-anakku. Kembali aku langkahkan kaki menuju ke desa sebelah, berharap di sini aku mendapatkan seseorang yang mau menggunakan jasaku.Matahari sudah cukup tinggi, tapi tidak menggoyahkan langkahku untuk terus mencari pekerjaan, sampai pada rumah terakhir di desa ini yang aku datangi, ku ketuk pintu rumah berwarna biru muda tersebut, tidak lupa aku ucapkan salam agar orang di dalam mengetahui keberadaanku. Tidak lama pintupun terbuka, timbul seorang wanita paruh baya yang melongokan kepalanya.“Iya, Nak, ada perlu apa, ya?” sapa nya ramah.“Maaf, Bu. Mungkin jika ibu berkenan, saya sedang mencari pekerjaan sebagai kuli cuci dan gosok baju, apa ibu mau menerima saya untuk bekerja di sini? Saya sedang butuh sekali uang untuk membeli makan untuk anak-anak saya di rumah, Bu.”“Sebenarnya ibu tidak ada cucian kotor, Nak. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa bantu ibu bersih-bersih rumah ini dan memasak makan siang, karena sebentar lagi anak-anak ibu akan datang dan ibu belum sempat memasak,” jawab wanita baya tersebut, membuatku seperti menemukan mata air di padang sahara yang gersang.“Alhamdulillah, terima kasih. Saya mau, Bu. Saya bisa memasak dengan baik dan membereskan rumah ibu sampai bersih dan rapi,” cicitku dengan semangat.“Syukurlah kalau begitu, nama saya Ibu Rosmalia, namamu siapa, Nak?”“Saya Gianira, Bu. Saya punya dua anak di rumah, Langit dan Bumi namanya.”“Nama yang bagus, Langit, Bumi dan Gianira? Peri laut, kan?” tanyanya memastikan.“Benar, Bu.”“Yaudah, yuk masuk, kamu bisa langsung memasak di dapur, setelah itu baru beres-beres rumah, ya!” perintahnya seraya membimbingku masuk ke dalam rumahnya.Sekilas aku terpana melihat isi rumah ini, meski tampak sederana di luar, tapi isi rumah ini cukup mewah untuk ukuran rumah di desa seperti di sini. Di ruang tamu ada sofa panjang berwarna biru muda yang kontras dengan warna dinding rumah, dibawahnya juga di sediakan karpet berbulu rafsur, yang terlihat sangat tebal dan lembut. Ada juga telivisi berlayar datar yang ukurannya cukup besar, selain itu di pojok-pojok ruangan berdiri kokoh guci-guci yang terlihat mahal.Terdapat pula lukisan dan foto-foto keluarga yang ku taksir adalah keluarga ibu Rosmalia, masuk ke ruang tengah, ada sebuah meja makan besar yang di kelilingi kursi berjumlah delapan buah, sepertinya bu Rosmalia memiliki keluarga yang besar, terbukti dari jumlah kursi makannya.Saat sampai di dapurnya, aku cukup terkejut dengan pemandangan yang kulihat. Sebuah dapur modern beserta panci dan wajannya yang tertata apik di kabinet-kabinet penyimpanan, selain itu berdiri apik sebuah lemari es yang memiliki dua pintu yang bisa digeser, dan sebuah oven berukuran besar, yang diletakkan di salah satu kabinet yang sepertinya memang di desain mengikuti ukuran oven.Dipojok dapur ada wastafel untuk mencuci piring dan sayuran, aku terpana, sungguh berbanding terbalik sekali dengan dapur di kontrakanku, yang hanya ada meja kayu yang di buatkan mas Jazirah ketika kami pindah ke kontrakan itu, diatasnya diletakkan kompor gas bekas pemberian mertuaku yang catnya bahkan sudah terkelupas.“Gianira, ini coba kamu cuci dulu ikan gurame dan ayam nya, ya! Tolong kamu buatkan gurame asam manis dan sop ayam bisa, ya? Nanti ibu kasih tau bumbunya, anak-anak dan cucu ibu suka sekali makan gurame dan sop ayam,” kata Bu Ros menghapuskan lamunanku.“Baik, Bu, saya cuci dulu sebentar, ya.”Aku mencuci tiga ekor ikan gurame yang ukurannya lebih besar dari telapak tanganku, ku taksir beratnya mencapai satu kilogram untuk seekor ikan gurame ini, setelah mencuci ikan dan ayam, aku lanjutkan dengan membuat bumbu untuk membuat sayur sop dan gurame asam manis, sebelum melanjutkan memasak lauk, aku terlebih dahulu mencuci beras dan memasaknya di megicom.Selain gurame asam manis, bu Rosmalia juga memintaku membuatkan urap sayur , tahu dan tempe goreng, lengkap pula dengan sambal terasinya. Sementara itu, aku melihat bu Ros tengah mengaduk aduk cairan berwarna coklat di atas panci, setelah ku tanya, itu adalah pudding cokelat kesukaan cucunya.Setelah semua masakan siap, aku langsung mengambil sapu dan lap pel untuk membersihkan seluruh rumah ini, sebenarnya rumah ini sudah bersih, tapi bu Rosmalia bilang, anaknya sangat teliti sekali dengan kebersihan, dan akan marah kalau ada sedikit saja ruangan yang kotor. Selain menyapu dan mengepel, aku juga harus mengelap semua jendela rumah ini, mengusap-usap guci dengan kemoceng, dan menyedot debu di karpet menggunakan vacuum cleaner.Tidak terasa semua kerjaan sudah selesai, aku terkaget ketika jam sudah menunjukan hampir pukul dua siang, aku teringat anak-anakku yang belum makan di rumah kontrakan. Akhirnya dengan tergesa akupun pamit kepada bu Rosmalia, berharap beliau segera memberikan upahku, sehingga aku bisa membeli makanan untuk Langit dan Bumi di perjalanan pulang.Gianira AzizahTidak pernah terbayangkan sebelumnya aku bisa memiliki suami siaga yang begitu mencintai dan menyayangiku. Di kehamilanku yang menginjak sembilan bulan, Mas Riza semakin bertambah perhatian terhadapku. Hampir setiap saat Mas Riza menanyakan bagaimana keadaanku dan calon anak kami yang berada nyaman dalam rahimku.Sebisa mungkin Mas Riza akan menemani kemanapun aku akan pergi, termasuk hari ini, saat akhirnya cabang kedua dari Rumah Makanku berhasil dibuka dan diresmikan. Mas Riza senantiasa mendampingiku yang sudah mulai kepayahan dengan kondisi perut yang semakin membuncit.Sesuai prediksi yang mas Dhanis katakan saat terakhir kali kami berlibur di Bali, ketika itu Mas Dhanis mengatakan jika tidak sampai dua perkan dari pertengkaranku dan Mas Riza, aku akan segera hamil, dan benar saja semua itu terbukti dengan naik turunnya emosiku kala itu.Aku yang curiga karena sering sekali merasa pusing dan mual, selain itu kondisi psikisku yang naik turun sehingga sering sekali
Aku suka saat Mas Riza membelaku di hadapan wanita tersebut. Aku semakin mengeratkan pegangan tanganku di lengan Mas Riza yang sudah pasti telihat olehnya. Biarlah, aku tidak pernah mencari masalah dengan orang lain, tapi jika ada yang memulainya lebih dulu, aku pastikan diriku tidak akan diam saja.============= Aku tersenyum senang kala Gianira memberikan perkataan yang mampu membuat seorang Niryala terdiam dan tidak dapat membalikannya kembali. Terlihat sekali Gianira bukan sembarang wanita, dirinya memang pendiam dan lembut, tapi dia akan bertindak di saat yang tepat, sama seperti yang dirinya lakukan tadi saat membela harga dirinya sebagai seorang istri. Aku memang tidak salah memilihnya dan bertahan bersamanya.Niryala pergi setelah akhirnya Gianira membuatnya tidak berkutik sedikitpun, begitupun dengan Tiara yang saat itu tiba-tiba datang menghampiri kami. Di saat itu Gianira langsung memperkenalkannya sebagai saudara kembar bundanya. Tiara sempat menangis karena akhirnya bisa
“Gi, Sayang, mas minta maaf, Ya! kamu mau kan kasih kesempatan buat, Mas?” bisikku di sela-sela suara tangisnya.Gianira tidak menjawab, tapi kurasakan tangannya merespon, dia balik memelukku begitu erat. Aku bersorak dalam hati, mengucapkan syukur tiada henti, karena ini adalah kemajuan yang amat baik. Gianira sudah bersedia memelukku, tandanya dia bersedia memaafkanku, bukan?============= Cukup lama kami berada pada posisi ini, saling memeluk tanpa bicara apapun, hanya deru nafas dan sesekali isakan tangis Gianira yang terdengar. Aku tau hal ini tidaklah mudah bagi Gianira, cobaan yang dirinya alami sangat berat untuk ukuran awal pernikahan. Aku yakin wanita lain juga akan melakukan hal yang sama seperti Gianira lakukan ketika mengalami hal sulit ini, atau bahkan mungkin bisa lebih parah dari yang dia lakukan, mengumbar aib rumah tangganya di media sosial contohnya.Tapi Gianira-ku adalah wanita sholehah, seberat apapun dirinya kecewa terhadapku, Gianira akan tetap berusaha menjag
Gianira hanya diam, tidak melakukan apapun. Tiba-tiba aku teringat perkataan bijak yang pernah kubaca, jika titik lelah seorang wanita adalah saat dirinya diam seribu bahasa. Dia tidak akan lalgi meminta apalagi menuntut kamu melakukan sesuatu seperti yang dia mau. Dia memili diam membebaskanmu melakukan apa saja demi mengindari perdebatan yang sia-sia, dan itu artinya dia sudah pada level terserah yang paling parah.============== Buru-buru aku melepas pelukanku, memegang wajahnya dengan kedua tanganku. Aku telisik wajahnya yang basah dengan air mata, netranya yang terlihat enggan menatapku balik. Aku mencari-cari yang kubutuhkan dari matanya, cukup lama, hingga akhirnya aku tersadar jika yang kuharapkan masih ada di sana. Aku melihat masih ada cinta di mata Gianira untukku, tandanya jika aku berusaha dengan keras untuk membuktikan jika tidak ada yang lain di hatiku selain dia, kuyakin Gianira pasti akan mau memaafkanku.“Gi, Sayang, tolong bicaralah! Kamu boleh marahin aku, maki-m
Kami sampai ke rumah dan mas Jazi langsung dipersilahkan masuk untuk menemui bapak mertua, sedangkan aku dan anak-anak? Disuruh masuk pun kami tidak. Aku dan anak-anak memutuskan untuk menunggu mas Jazi di teras rumah.Sungguh perih, setidaknya biarkan anak-anakku masuk. Mereka kepanasan menunggu d
Aku dan anak-anak segera masuk ke dalam rumah, canggung karena bingung apa yang harus kulakukan, kemana bu Rosmalia pergi? Apa beliau lupa jika menyuruhku untuk datang hari ini. Aku masih berdiri di ruang tamu ketika tidak tau apa yang harus ku lakukan. Hingga akhirnya pria tadi menyadari keberadaa
Ku peluk erat tubuh sulungku itu, kasian sekali dia, hanya karena keterbasan ekonomi yang kami sandang, membuatnya harus menerima perlakuan buruk dari orang lain. Hati ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya disakiti orang lain yang bakan tidak ikut andil dalam memberikan nafkah.“Langit enggak m
Kusiapkan makan malam untuk Bumi dan juga untukku, karena tadi akupun belum sempat makan karena sibuk beres-beres rumah. Bumi makan dengan lahap, walaupun tadi sore sudah makan, tapi pengaruh tidak makan dari pagi sampai siang membuat dia cepat lapar lagi sepertinya. Setelah selesai makan, aku men






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak